Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Mimpi dan Tato
Dalam perjalanan pulang, Qale terus mencuri pandang ke arah suaminya.
Sampai akhirnya, saat mobil berhenti, fokusnya teralihkan. Dia membantu kursi roda Wafa turun lalu mendorongnya hingga ke depan pintu toko.
Sebelum membuka kunci, Ia berjongkok di depan kursi roda Wafa, mengangkat tangan dan melambaikannya ke arah mata kiri Wafa.
"Kak, mata yang beneran buta tuh … begini, ya?"
Seketika Wafa menunduk, meniup wajah Qale pelan—membuat poninya berkibar, dan pipinya memanas.
“Eehh!” Qale menunduk, malu sendiri. "Maaf..."
Wafa tersenyum kecil. “Kenapa tiba-tiba ngetes mataku?”
Qale pun menceritakan semua keganjilan tadi.
Tentang Deni. Soal sorotan matanya, juga gerak-geriknya.
Wafa mendengarkan serius, sambil mengangguk perlahan.
“Aku nggak tahu pasti ... tapi feeling kamu, bisa jadi benar. Kita harus cari tahu lebih lanjut, Sya.”
Malam itu, Qale tak bisa tidur. Bukan hanya karena tubuh lelah—tapi karena ada yang mengganggu di benaknya.
Bukan mengenai acara tunangan. Apalagi soal kue croissantnya yang buttery, dan jadi perbincangan hangat di antara para tamu.
Melainkan … tentang pria itu. Deni.
Sosok tunangan Lea yang katanya buta. Tapi geraknya ... terlalu luwes.
Terlalu sadar ruang. Terlalu presisi.
Dia ingat saat sesi foto terakhir, sepatu Lea terlepas. Deni membungkuk dan tanpa ragu memakaikannya kembali. Lincah. Tangannya cekatan.
Dan saat itu, Qale iseng menyenggolnya, sampai kacamatanya jatuh.
Sekilas, Qale menangkap iris mata yang merespons cahaya. Bergerak halus, menyipit. Reaksi refleks.
Dan itu ... bukan ciri mata yang kehilangan penglihatan sepenuhnya.
Qale jadi teringat mata kiri Wafa—yang memang buta sejak lama.
Tak bereaksi, bahkan saat diberi cahaya.
Sebetulnya malam itu, Lea meminta mereka untuk menginap di rumah besar, tapi Qale menolak.
“Ada rasa nggak enak,” bisiknya pada Wafa.
Suaminya itu yang menjelaskan pada Hasan dan Lea bahwa mereka ingin menghabiskan malam berdua, mumpung masih rapi.
Akhirnya Qale lolos dari paksaan keluarganya. Bukan hal besar, tapi perasaan mengatakan untuk menjauh.
Wafa mengajaknya tidur di toko. Tapi bukannya istirahat, ia justru terlihat sibuk di meja kerja, laptopnya menyala, suara jari mengetik bergema di ruang toko yang sepi.
“Aku sedang mengerjakan sesuatu,” katanya singkat saat ditanya. “Tidur duluan, ya.”
Satu jam kemudian.
Qale akhirnya tertidur dalam posisi duduk selonjoran.
Tapi tidurnya gelisah. Kepala terayun ke kiri dan ke kanan. Peluh mengalir di keningnya.
Mimpi itu datang.
Gelap.
Hening.
Lalu suara.
“Syaa ... Lesaa!”
Dia berjalan di sebuah pekarangan luas. Suara bocah-bocah kecil terdengar, seperti teman bermainnya.
“Ayo sembunyi! Nanti nggak dikasih permen sama Om!”
"Sembunyi di sana!" ajak lainnya sambil menarik lengan kanan Qale.
Qale mengangguk dan berlari ke balik pohon. Ia duduk diam, menurut. Tapi dari jauh, ia melihat sosok ibunya. Mondar-mandir di dekat kandang sapi. Wajahnya cemas di antara remang cahaya lampu.
“Ibu...” bisiknya dalam mimpi.
Qale ingin keluar dari persembunyiannya, tapi teman-temannya menariknya kembali.
“Jangan keluar dulu, nanti gagal dapet permen!”
“Permennya dari kota, lho. Enak banget,” bujuk salah satunya sambil menekankan telunjuk ke bibirnya.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah kolam.
Jeritan. Teriakan. Dan ... suara seseorang memohon, “Tolong... Tolooonnng—”
Teman-temannya kabur, ketakutan. Qale pun ingin lari, tapi seseorang menariknya dari belakang.
Tangan orang dewasa. Kuat. Menekannya ke tanah.
“Diamn... atau kamu mati.”
Qale membeku. Tubuh kecilnya gemetar. Ia mencoba mengintip ... tapi semuanya gelap.
Tiba-tiba jeritan itu berhenti. Terdengar teriakan serak dan lengkingan tangisan. Di susul suara air yang bergolak.
Hening. Qale celingukan. Dia sempat melihat wajah sosok di belakangnya, tapi kemudian semuanya gelap.
Pipinya terasa sakit, Qale membuka mata, dia melihat Mbak Mun, wajahnya cemas bercampur sedih.
"Non, ngapain di sini?" tanyanya serak dan pelan sambil menarik lengan Qale agar bangun.
Tapi tubuhnya lemas sehingga Mbak Mun memapahnya keluar semak di samping pohon besar tadi.
Qale bingung, kenapa banyak sekali orang di sekitar kolam. Sinar lampu-lampu besar membuatnya terang benderang. Dia mendesak ingin mendekat tapi Mbak Mun malah menariknya paksa.
"Mau liat!" rengek Qale sambil berusaha melepas cekalan Mbak Mun.
Teriakan. "Tariiikkkk!" Membuat Qale kian penasaran. Dia berontak tapi tenaganya kalah. Kepalanya juga terasa sakit, entah mengapa.
"Becek, Non," jawab Mbak Mun, masih menarik paksa Qale.
Langkah kecil itu terseret, tapi dia bisa melihat dari sisi badan Mbak Mun. Tubuh seseorang diangkat dari kolam.
Wajah itu...
“Ibuuuuuuu!!” Qale menjerit. Suaranya seolah terlempar ke langit malam yang sunyi. Semuanya membeku—hingga...
~
“SYA!”
Suara Wafa memanggil, mengguncang bahunya. Keringat dingin membanjiri pelipis Qale.
“Sya ... bangun. Kamu mimpi buruk.”
Qale membuka mata perlahan. Ruangan toko itu kini terang oleh lampu gantung. Wafa menggenggam tangannya erat.
Tubuhnya gemetar. Dadanya sesak. Napasnya memburu naik turun seakan udara tak mampu dia hirup.
"Sya." Wafa memandang sendu.
Qale terdiam, matanya berkaca-kaca.
“Aku ... a-ku ingat semuanya, Kak.” Suara Qale lirih. Isakan halusnya terdengar menyayat.
“Aku ingat ... ada yang membekap aku malam itu. Aku melihat tubuh ibu diangkat dari kolam. Aku ingat ... semuanya.”
Tangannya gemetar di genggaman Wafa. Matanya membesar, seolah baru saja keluar dari lubang waktu yang gelap dan dingin.
"... dan pergelangan tangan itu ... ada tato, kayak yang di tangan…”
.
.