Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Kecurigaan Qale
Malam mulai menua. Tapi toko Anak Lipat belum sepenuhnya lengang. Wafa duduk di kursi panjang depan toko, memangku buku catatannya, sementara Qale duduk di sebelahnya, mendongakkan wajah menatap langit.
“Aku pengen pastikan, Kak,” gumam Qale akhirnya.
Wafa menoleh. “Soal Lea?”
“Ya. Dan Deni. Semua ini terlalu rapi. Seperti disusun biar kita nggak sempat curiga.”
Wafa mengangguk pelan. “Kamu harus masuk dengan cara luwes, Sya ... Ada ide?" katanya, masih melihat istrinya.
Dia lalu membuka halaman buku catatannya. “Akhir-akhir ini aku sering nginep di sini, aku pikir kita harus beli sofa bed custom. Jangan tidur di lantai.”
Qale tak menanggapi, baginya itu tak penting. Jika badan lelah pun akan terlelap dengan sendirinya. Lagipula ini bukan pertama kali dia tidur di lantai. Sudah sejak 4 tahun lalu, ketika memutuskan keluar dari rumah itu.
Wafa menyodorkan gambar sederhana ke hadapan Qale. Namun, Qale hanya mengangguk, setuju dengan designnya.
"Dinding dilapis pakai MDF, ya. Biar nggak lembab.”
Qale melirik, tersenyum kecil. "Iya, aku ikut gimana baiknya."
Wafa mengangguk pelan. Tapi wajahnya segera kembali serius saat Qale berniat pulang rumah itu lagi.
“Aku mau ke rumah besok. Bawa ‘senjata’. Kita liat apa reaksi dia.”
Tatapannya berbinar saat menoleh ke Wafa. Pria itu hanya mengusap punggungnya pelan sebelum mengajak Qale masuk ke toko.
Angin malam mulai menusuk, debu beterbangan, membuat badan terasa tidak fit, kiranya pertanda kemarau tiba.
***
Esok sore, Qale membawa dua croissant andalan tokonya : Croissayang dan Croissantrik.
Croissayang : isian Strawberry compote, Cream cheese dan Saus karamel. Cita rasa manis, lembut, dan sedikit asam
Croissantrik : Isian Sambal terong, Cincangan ayam, dan scramble egg. Paduan pedas dan gurih, rasa nyeleneh tapi bikin melek.
Kedua menu ini diam-diam menjadi favorit Lea sejak diluncurkan. Selain croissant rasa original yang buttery.
Qale masuk dari belakang. Akhir-akhir ini dia jarang melihat Mbak Mun. Apakah ARTnya itu masih dikucilkan?
Setelah tanya ke ART lainnya, ternyata Mbak Mun ditugaskan di dapur peternakan. Ketika Qale tanya alasannya, dia bilang karena perintah sang ayah.
Qale lantas ke ruang tengah, memanggil riang Lea yang sedang latihan piano. Lea menyambutnya dengan ekspresi datar.
“Latihan piano terus, Kak, hebat,” ujar Qale sambil menaruh kotak croissant di meja. “Aku bawa sesuatu," sambungnya masih berdiri.
“Taruh aja di situ,” jawab Lea singkat.
“Rehat dulu, itu kesukaan Kakak.” Qale menarik Lea agar menyudahi latihannya.
Lea luluh. Qale mengambilkan untuknya dan dia menggigit kecil. Qale menunggu, lalu perlahan mendekat. Tangannya terangkat, lalu...
Plak!
Dahi Lea ditepuk ringan.
“Hei!” seru Lea, kaget. Kacamatanya sampai miring, menggantung di wajahnya.
“Ada semut, Kak. Di dekat matamu,” ucap Qale cepat, sambil menjentikkan ujung jari ke sisi wajah kakaknya.
Lea refleks menggerakkan kepala, pupil matanya menatap tajam ke arah kanan—ke arah ‘semut’ yang tak pernah ada.
“Ini nih!” Qale pura-pura menunjukkan semut kecil itu di depan wajah Lea.
Tubuh Lea refleks menunduk, menjauh.
Hening.
Qale berpura membuangnya lalu berniat membenarkan posisi kacamata Lea. Namun, Lea menepis ... tapi Qale tetap memakaikan.
“Maaf ya,” gumamnya sambil menyentuh bingkai itu perlahan ke pelipis Lea. “Nggak sengaja nyentuh mukamu.”
“Maksud kamu apa dari kemarin?” tukas Lea akhirnya.
Qale memundurkan duduknya sambil menghela napas.
“Aku inget semuanya, Kak.” Qale menatap lurus. “Malam itu ... suara pria yang narik aku. Tempat Ibu ditemukan. Dan—tanda di pergelangan tangannya.”
Mata Lea membelalak sejenak. Tapi cepat-cepat ia kembalikan ekspresi dinginnya.
“Penyelidikan baru katanya mencurigai salah satu penghuni rumah ini,” ucap Qale pelan.
Sunyi. Qale menunduk.
“Gimana rasanya kalau orang yang selama ini kita percaya ... ternyata cuma pemain sandiwara?” ucapnya pelan, penuh rasa cemas.
Lea terdengar menggeram, saat menjawab adiknya. “Ngaco kamu. Memang siapa tersangkanya?”
Qale mendongak, menatap wajah Lea. “Menurut Kakak?”
Lea mendengus dan berdiri. “Jangan bikin ulah. Nikahanku tinggal hitungan minggu.”
“Nggak bikin ulah, Kak,” balas Qale santai. “Paling ... bikin kejutan.” Pemilik anak lipat ini malah terkekeh.
Lea tak lagi menanggapi tapi Qale sudah cukup punya praduga baru. Dan akan dia simpulkan kala berunding dengan Wafa nanti.
"Dan saat mataku menyala, pupilmu mengerut, Kak. Cahaya ... bukan sekadar bayangan." Batin Qale.
Dia lalu melangkah ke dapur, membawa sisa croissant dan membagikannya pada ART rumah. Mbak Mun menerima paling akhir, dia baru pulang dari peternakan.
“Enak, Non,” katanya sambil mengunyah.
“Mbak Mun ... Kak Lea pernah ke dokter mata belakangan ini? Atau dulu?”
Mbak Mun mengernyit. “Nggak dengar kabarnya. Seingat saya, dia jarang keluar rumah. Paling main piano, dengerin podcast, jalan pagi. Itu juga selalu ditemani si Sri.”
Qale mengangguk. Dia lalu menyambangi sopir dan tukang kebun—keduanya memberi jawaban serupa.
Pukul 8 malam, Wafa datang menjemput. Di halaman, mereka berpapasan dengan Hasan yang baru keluar dari dalam.
Wafa hanya menunduk singkat. Tapi Qale ... berhenti.
“Ayah,” panggilnya.
Hasan menoleh.
“Deni sudah bisa lihat, loh. Kenapa nggak bawa Kak Lea berobat juga?”
Hasan mengernyit. “Masa? Katanya dia permanen?”
Qale mengangkat alis, lalu tersenyum jahil. “Jangan beli kucing dalam karung, Yah.”
“Qale!” panggilnya dengan suara meninggi.
Dia berhenti. Hasan menghampiri, raut wajahnya berubah.
“Jangan ngaco! Iri kamu, ya?” tuduhnya, matanya tersirat kebencian. “Jatahmu sudah ada. Jangan usik kebahagiaan Lea!” sentak Hasan.
Tapi sebelum Qale bisa menjawab, Wafa bicara, nadanya tegas. “Lesa aman denganku. Dia nggak butuh apapun.” Wafa sempat melirik Qale, seolah ingin bilang : Kamu gak sendiri kali ini.
“Lesa-lesa... Qale!” Hasan menunjuk ke arah Wafa. “Jangan racuni otak anakku!”
Hasan hendak pergi, tapi suara Qale menahannya.
“Yah ... kalau kebenaran membawa kita pada hal yang paling Ayah takuti, gimana?”
Langkah Hasan terhenti. Pundaknya tegang. Dia hanya menoleh, memandangi putri bungsunya seolah ada rasa takut dan cemas.
“Ayah tahu yang sebenarnya, kan?” lanjut Qale, pelan, tapi menohok. “... padahal aku nggak bilang soal Lea...”
Deg!
Hasan membeku. Tangan di sisinya mengepal. Napasnya tertahan. Tapi tak berkata apa-apa.
Dan Qale tahu. Ada yang patah di dalam mata ayahnya barusan.
.
.