Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Kisah Rahayu

"Ayah!" sebut Qale tak suka ayahnya membentak Wafa. 

Hasan menoleh ke arah putrinya. Menunjuk Wafa sambil berucap, "Dia bohongi Ayah."

Qale menggeleng. "Biarkan Kak Wafa bicara dulu," pintanya pelan bergantian menatap ayah dan suaminya.

"Beliau tidak seperti dugaan Anda, Pak. Tapi aku tidak ingin mengatakan apapun tentangnya," jelas Wafa memandang Hasan dengan tatapan datar.

Hasan bergeming, tangannya mengepal erat. "Kalian selingkuh, kan!" 

"Terserah Anda," balas Wafa, tenang seperti biasanya.

Qale hanya menghela napas, meminta ayahnya pulang sebab dia ingin bicara dengan Wafa. 

Awalnya Hasan enggan pergi, tapi panggilan telepon dari supirnya bahwa ada yang ingin melihat sapi, membuatnya gegas beranjak dari sana.

Cahaya sore menembus jendela rumah sakit, menyentuh wajah Qale yang perlahan tampak lebih segar. Kepalanya masih terasa berat, pelipisnya berdenyut, dan perban terasa menyesakkan. Ia menggeliat pelan, menoleh ke sisi kanan tempat tidurnya.

Wafa masih di kursi roda, tubuhnya sedikit miring, kepala bersandar ke sandaran kursi, dan tangan terlipat di pangkuannya. Napasnya tenang, tetapi garis kelelahan terlihat jelas di wajahnya.

Qale menghela napas pelan.

“Apa Tata nggak mau cerita juga ke aku, ya?”

Suara lirihnya membuat Wafa menegak seketika. Ia mendongak pelan, matanya langsung menatap Qale dengan sorot cemas.

“Kamu mau dengar?" Suaranya berat, tapi lembut. “Pusingnya masih?”

“Sedikit,” jawab Qale. “Tapi gak parah. Cuma agak berat aja.”

Wafa mengangguk. Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku khawatir banget.”

Qale tersenyum tipis. “Aku juga. Aku pikir tadi aku … bakal mati.”

Mereka terdiam sesaat. Hanya suara mesin infus dan detak jam dinding yang mengisi udara.

Lalu, Qale berkata pelan, “Tata … kamu kenal Ibu dari kapan?” dia mengulang pertanyaan sebab Wafa mengabaikannya tadi.

Wafa menatapnya. Diam sesaat. Lalu dengan suara pelan, ia mulai bercerita:

“Beberapa tahun lalu … aku kecelakaan di tikungan tajam, sebelum gerbang desa. Malam gelap. Aku sedang touring sendirian. Motor oleng sebab dipepet beberapa motor lainnya dan aku jatuh … keras.”

“Aku ingat samar-samar … ada suara perempuan panik, lalu aku digendong, dibopong ke mobil. Tapi bukan ke rumah sakit—hanya klinik desa. Karena darurat, katanya. Saat sadar … mataku sudah tidak sama.”

“Dokter bilang … retina kiriku rusak. Serpihan kaca menghantam wajahku, dan helmku rusak—ada yang menyiramkan cairan keras.”

"Tindakan operasi menunggu aku sadar sebab tidak ada identitas diri yang kubawa ... Ibu Rahayu panik saat itu. Dia menangis saat bilang ‘Maaf, maaf, saya salah’. Tapi dia tidak pergi. Dia tetap menunggu.”

“KTP, ATM, semua di dompet yang jatuh entah ke mana. Aku hanya punya tubuh yang rusak dan nama yang samar.”

“Setelah mataku dioperasi, dan aku mulai pulih, aku bilang aku bisa bayar semua biaya. Meminta tolong Bu Rahayu menjual jam tanganku ... Satu-satunya harta yang melekat di badan. Ponselku mati total. Tapi aku gak mau pulang. Aku bilang … ‘Bu, bisa carikan aku panti jompo? Aku enggak punya siapa-siapa lagi.’”

Wafa menunduk. Suaranya bergetar, tapi masih terkendali.

“Beliau gak tega. Dia bilang ada rumah yang bisa aku tinggali. Warisan dari keluarga angkatnya. Rumah putih itu. Lalu, dia rawat aku ... Diam-diam aku jatuh hormat dengan beliau.”

“Setelah agak sembuh, aku meminta beliau siapkan ART. Aku jaga rumah itu sementara. Dia akhirnya nitipin itu padaku. Katanya … ‘kalau aku gak ada, tolong rawat rumah ini. Bukan buat aku. Tapi buat kamu. Buat kamu pulang.’”

Wafa memandangi istrinya dengan tatapan sendu. Wajah Qale sesekali mirip Rahayu membuat Wafa merasa rindu pada sosoknya yang lembut.

Qale terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya mencelos.

“Jadi … semua karena itu?”

Wafa mengangguk. “Beliau merasa bersalah. Tapi aku merasa … malah beliau yang menyelamatkan hidupku.”

“Pertunangan ini … Kak Wafa yang rencanain sama Ibu?”

Wafa menggeleng. “Bukan kamu yang dipilih.”

“Lea?” tanya Qale, nyaris berbisik.

Wafa tak menjawab. Hanya senyum miring yang melintas di bibirnya.

Qale memalingkan wajah. Entah kenapa ada rasa sesak yang sulit ia uraikan. Ia mencoba tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas pendek.

“Tata lebih pilih dia?”

Wafa memandang Qale lama. Matanya tak menyimpan jawaban kecuali ucapan, "Awalnya begitu...”

“Kamu gak pernah suka aku?” lanjut Qale pelan.

"Bukan begitu ceritanya, Sya,” jawab Wafa datar.

Qale terdiam. Ia ingat saat mereka pertama kali bertemu. Ingat bagaimana Wafa menggoda, membalas candaan cadelnya, bagaimana Wafa selalu muncul saat ia main sendirian. Tapi sekarang, kenyataan itu menyentaknya. Ia bukan pilihan utama.

Namun sebelum perasaan itu menjelma jadi marah, pintu kamar diketuk. Seorang pria berpakaian formal masuk membawa map cokelat.

“Maaf mengganggu,” ujarnya sopan, melihat ke arah Wafa. “Ada perkembangan, Tuan.”

Wafa mengangguk. “Silakan.”

Qale menoleh pelan, mengikuti pembicaraan mereka.

“Pelaku tabrak lari sudah diamankan. Dia orang—” Pengacara terdiam, tatapan Wafa menegang.

Wafa langsung duduk tegak. “Siapa?”

Sang pengacara membuka map. Matanya menatap Wafa.

“Ini. Dia orang.…”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!