Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Sidang
Wafa melihat berkas itu. Dia tidak terkejut, seolah sudah menduga bahwa otak pelakunya sama.
Qale bertanya pada Wafa, tapi lelaki itu memintanya fokus pada dirinya agar lekas pulih.
Saat kunjungan dokter, Wafa meminta agar Qale bisa diizinkan pulang. Tak lupa surat keterangan sehat agar Qale bisa hadir dipersidangan pekan depan.
***
Ruang sidang lumayan penuh. Beberapa di antaranya wartawan yang siap mencatat setiap kejadian. Di barisan depan, Qale duduk dengan tubuh tegak, wajahnya pucat tapi sorot matanya tak lagi rapuh. Perban di pelipisnya belum dilepas, dan luka di lengannya masih terasa nyeri jika disentuh. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan daripada rasa ingin tahu yang tak kunjung terjawab.
Sementara di kursi pesakitan, Lea duduk dengan rambut tergerai, berhias pita di sisi kanan. Wajahnya tampak tenang, tapi suaranya ketika menjawab pertanyaan jaksa terdengar rapuh dan terbata.
"Saya ... saya tidak tahu apa-apa. Saya buta saat itu. Mana mungkin saya bisa melihat kejadian beragam?"
Jaksa menoleh ke arah hakim, lalu kembali mengajukan pertanyaan. "Tapi Anda mengatakan bahwa saudara Wafa pernah mendekati Anda. Apa maksud Anda?"
Lea menelan ludah. Kepalanya sedikit serong ke arah Deni yang duduk di barisan meja pengacaranya.
"Mungkin dia punya motif ... ingin jadi menantu Ayah saya. Memilih Qale karena saya buta. Saya menduga dia juga ... yang membuat Ibu saya meninggal. Saya tidak tahu pasti, tapi semua terasa aneh sejak dia datang."
Bisik-bisik terdengar dari bangku penonton. Wajah Qale mengeras.
Hakim mengangguk pelan, mencatat.
Berikutnya, Mbak Mun dihadirkan sebagai saksi. Perempuan paruh baya itu berjalan pelan menuju kursi, tangannya gemetar saat bersumpah.
"Apakah Anda mengenali terdakwa Deni?"
"Iya, Yang Mulia. Tapi saya takut," ucap Mbak Mun pelan, menunduk. "Waktu itu aku melihat dia ... katanya mau ajak main anak-anak," sambungnya dengan suara berat.
Jaksa bertanya pelan. "Malam ketika Bu Rahayu meninggal?"
Mbak Mun mengangguk, napasnya memburu. "Iya. Saya ... saya dengar suara teriakan. Tapi pintu belakang terkunci dari luar."
Deni yang duduk di sisi kanan Lea tampak tetap tenang. Tapi wajahnya menegang saat jaksa meminta barang bukti dihadirkan : sebuah boneka kecil dengan jejak lumpur yang telah dikeringkan, dan beberapa aksesoris yang ditemukan di belakang rumah.
"Kami menemukan ini dalam kondisi tercecer, seperti disengaja. Tapi hari ini, semua telah dirangkai dan menunjukkan bahwa benda ini milik Nona Qale."
Deni mengangkat alis. Seolah heran mengapa benda itu ada di sana.
Jaksa bertanya dimana saja Mbak Mun melihat Deni.
"Saya pernah lihat beliau di peternakan ... beberapa tahun lalu. Waktu itu masih muda. Tapi saya ingat, sebab saya ikut mengantar pesanan keluarganya," beber Mbak Mun, kali ini lebih tegas.
Sidang semakin tegang. Jaksa mengangguk, lalu beralih pada Wafa yang bersiap bersaksi.
Wafa masuk dengan didampingi asistennya. Ia duduk tenang, mata kanannya tajam meski yang kiri tertutup samar.
"Saudara Wafa, Anda punya keterkaitan dengan keluarga Hasan bahkan sebelum Ibu Rahayu meninggal. Apa alasan Anda?"
Wafa mengangguk pelan. "Saya diminta menyelidiki arus uang penggemukan sapi milik Pak Hasan. Keluarga angkat Ibu Rahayu pernah menanam modal pada beliau," kata Wafa sambil menunjuk ke arah pengacaranya soal dokumen.
"Berdasarkan apa? Cerita?" Cecar jaksa.
"Iya, juga janji saya soal balas budi pada beliau. Beliau mengkhawatirkan sesuatu," sambung Wafa tetap tenang.
"Apa itu?"
"Keberadaan Qale dianggap ancaman bagi beberapa pihak yang ingin menguasai warisan. Termasuk kemungkinan bahwa kejadian tragis itu bukan kecelakaan biasa." Wafa menatap tegas pada JPU.
Qale menunduk. Napasnya tercekat.
Wafa menoleh padanya sebentar, lalu kembali pada hakim. "Saya tidak punya motif menjadi menantu siapapun. Tapi saya punya alasan melindungi orang yang pernah menyelamatkan hidup saya."
Suasana ruang sidang hening.
Hakim mengetuk palu satu kali. "Sidang dijeda. Istirahat 15 menit."
Saat semua orang mulai bangkit, Qale masih terpaku di tempat duduknya. Kepalanya mendongak pelan, menatap Wafa dari jauh. Tatapan itu tak lagi bingung.
Beberapa menit berlalu cepat. Sidang pun berlanjut.
Deni dihadirkan sebagai saksi. Jaksa lalu memanggil saksi ahli forensik. Pria berkacamata itu menjelaskan tentang jejak tato yang telah dihapus Deni.
"Kami menemukan bekas jaringan luka bekas laser. Jejak ini konsisten dengan hasil rekonstruksi tato di pergelangan, sebelah kiri."
"Tapi saya mengenal Lea setelah semua itu. Bagaimana mungkin saya tahu tentang Rahayu atau Qale?" Deni bersikukuh.
Ruangan sidang mulai riuh lagi. Debat demi debat, saksi demi saksi telah dihadirkan. Bukti-bukti fisik, forensik, hingga kronologi telah diurai.
Hakim bersiap menutup sesi hari itu. Tapi sebelum palu diketuk, Wafa mengangkat tangan.
“Saya ingin menambahkan satu hal, Yang Mulia.”
Hakim mengangguk. Jaksa tampak terkejut. Semua mata kembali tertuju pada Wafa yang duduk di kursi saksi bagian depan.
Wafa menoleh ke arah Qale. Lalu ke arah Lea, yang duduk dengan wajah datar dan mata kosong.
Wafa menahan napas. Tangannya menggenggam roda kursinya erat-erat.
“Orang yang paling tahu semua ini mungkin meleset dari praduga kita semua,” kata Wafa. “Bisa jadi pelakunya adalah yang selama ini ada di samping Qale, sejak kecil.”
Bisik-bisik langsung menyambar dari bangku penonton.
Qale menoleh perlahan. Sorot matanya berubah.
Wafa menatap lurus ke arah hakim. Nadanya tenang, tapi cukup untuk menusuk udara yang membeku.
"Aku dan Qale hanya ingin satu hal. Keadilan untuk Ibu Rahayu."
Tangan Wafa menangkup pelan di depan dada. Membungkuk sedikit.
Hasan yang sedari tadi duduk diam, perlahan menoleh ke arah putri sulungnya. Sementara Mbak Mun hanya menunduk dalam, meremas jari di atas pangkuannya.
Qale membeku di tempat duduknya.
Dan Lea—yang sedari tadi terlihat tenang—akhirnya bergerak. Kepalanya pelan menengok ke arah Wafa. Senyum samar melintas, tapi tak ada kehangatan di sana.
“......”
.
.