Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Keluarga Wafa

Qale masih menata napasnya setelah membaca notifikasi di ponselnya.

"Ngapain Ayah telpon jam segini?" gumamnya seraya meletakkan gawainya asal.

Dia lalu kembali merebahkan badannya, mencoba tertidur meski pikirannya berisik.

Pagi itu, udara terasa lebih tenang dari biasanya. Qale duduk di meja makan bersama Wafa, semangkuk bubur ayam di hadapannya hanya disentuh beberapa sendok. Pikirannya masih dipenuhi mimpi semalam—tentang ibunya, tentang Lea, dan kalimat singkat yang menggores hatinya.

"Aku mau bicara dengan Ayah hari ini," ucap Qale tiba-tiba.

Wafa menoleh, sendok di tangannya berhenti di udara. "Kamu yakin? Soal apa?"

Qale menatapnya lurus. "Aku harus tahu dari mulut Ayah langsung. Soal Ibu. Soal semuanya."

Wafa menunduk sebentar, lalu mengeluarkan sebuah map dari bawah meja. Ia menyodorkannya perlahan. "Tapi aku nggak bisa nemenin, gapapa?" ujarnya sedikit kuatir.

Qale mengangguk. "Gak apa, udah biasa sendiri, kan?" celotehnya sedikit tersenyum.

Wafa lalu menyerahkan sebuah kertas di map bening. "Salinan ... Ibumu titipkan padaku, meski tidak secara langsung bilang ingin dibantu mencari tahu, tapi sorot matanya menyiratkan begitu. Rumah ini hanya persinggahan, tidak banyak barang-barang milik beliau yang tertinggal di sini," sambungnya.

Qale membuka map itu. Tangannya gemetar saat menemukan tanda tangan ibunya dan Ayahnya di halaman akhir. Air matanya nyaris jatuh.

"Kenapa ibu percaya padamu, Kak?" tanya Qale masih membaca tulisan di atas kertas itu.

"Entah. Mungkin aku pasrah menyerahkan hidupku pada beliau, dulu," balas Wafa.

"Keluargamu?" Qale menatap suaminya lurus. Banyak hal yang dia ingin tanyakan. Tapi, masalah keadilan untuk ibunya lebih penting.

Wafa tak menjawab, dia hanya diam tapi sorot matanya teduh memandang wajah imut di hadapannya.

Tanpa banyak kata, ia bangkit. Tapi saat akan meninggalkan meja makan, suara Wafa menahannya beberapa detik.

"Nanti aku ajak pulang," jawabnya. "Aku pergi dulu, ya. Jaga diri, Sya," kata Wafa tenang seperti biasanya.

Qale mengangguk lalu beranjak menjauh dari sana. Dia akan ke peternakan bukan sebagai anak, tapi sebagai pewaris yang menuntut hak ibunya.

***

Hasan ada di depan peternakan saat ojol Qale berhenti. Ia tahu pertemuan ini akan terjadi cepat atau lambat.

"Ayah," sapa Qale datar.

"Lesa..." Hasan berdiri, tapi tak melangkah mendekat.

"Aku mau tanya satu hal. Apakah Ibu nggak pernah menerima bagi hasil dari peternakan ini?" katanya tanpa basa-basi.

Hasan diam. Hanya suara sapi-sapi di kandang yang terdengar samar.

Dia lantas berjalan masuk ke kantor. "Waktu itu belum jelas pembagiannya," jawab Hasan akhirnya.

"Lalu kenapa ada perjanjian tertulis yang Ibu simpan?"

Hasan mulai goyah. Ia menatap tanah di kakinya, seolah jawaban ada di sana.

"Ibumu ... pernah bilang dia nggak butuh. Dia cuma ingin semuanya diserahkan ke kamu. Tapi Ayah memang tidak pernah menyebutkan dan mentransfer nominalnya."

Qale mengepalkan tangan. "Jadi Ayah tahu ... dan diam?"

Hasan tak menjawab. Ia hanya menunduk, dan meminta Qale masuk ke kantor.

Qale mengikuti permintaan ayahnya. Dia menunggu kepastian dari sang ayah. 

"Jadi totalnya berapa? Ayah utang sama ibuku?" ucapnya tegas. 

"Nanti dihitung." Hasan menatap putrinya, wajah Rahayu semakin jelas terlihat. Namun, mata kanan Qale yang menyipit membuatnya kembali bersalah. "Itu, mau diobati nggak?" tanyanya pelan sambil menunjuk wajah Qale. 

"Nanti, setelah semua beres." Qale bangkit, pamit. Rasanya cukup tahu sampai di sini. 

Dia lantas pamit, begitu saja membuat Hasan mencelos. Berkas kekecewaan masih tergambar jelas di wajah Qale. 

"Lesa!" sebut Hasan saat Qale nyaris mencapai depan peternakan.

Qale menoleh, tak menjawab. 

"Masih sakit?" tunjuknya ke pelipis dan lengan Qale, yang masih diperban.

Hanya anggukan samar yang Qale berikan sebelum dia pergi dengan ojol yang sama tadi. Meninggalkan Hasan yang berdiri kaku menatapnya, merasa jarak antara ayah dan anak kian jauh.

***

Di tempat berbeda, Wafa bertemu pria yang ada di map biodata. Namanya Elan. Seorang jurnalis lepas yang kini fokus pada fotografi dan pengembangan akun jejaring sosial.

Mereka bertemu di sebuah kedai kecil. Wafa menyerahkan berkas milik toko Anak Lipat, memperlihatkan kondisi katalog seadanya dan akun media sosial yang tak tersentuh.

"Saya ingin Anda bantu toko Anak lipat," ucap Wafa pelan. "Dia butuh seseorang yang ngerti cara kerja visual dan menyusun semua ini."

Elan membaca lembar demi lembar. "Konsepnya bagus. Cita rasa rumahan tapi unik. Bikin katalog cantik sih gampang. Yang susah itu, ngajarin algoritma buat sayang sama toko kecil." Dia sesumbar.

Wafa hanya tersenyum tipis. "Dan sosmed-nya juga. Tolong bantu hidupin lagi. Sekarang dia nggak punya tenaga buat urus semuanya."

"Siap. Saya bisa bantu buat kontennya, katalog, bahkan banner promo," jawab Elan sambil menepuk map itu. "Kita mulai kapan?"

"Segera. Karena saya mau pergi beberapa waktu," pungkas Wafa sambil berjabat tangan sebagai tanda kerjasama dimulai.

Sementara itu.

Qale memutuskan pulang ke rumah. Tidak ada siapapun di rumah. Mbak Mun bilang, pasangan pembohong itu sedang menginap di rumah Deni.

Dia menatap lemari tua di depan ruang keluarga. Qale menarik laci-laci kecil, mencari sesuatu yang entah apa. Sampai akhirnya, ia menemukan buku lusuh dengan tulisan tangan yang dikenalnya, Rahayu.

Tangannya menyentuh lembut halaman-halaman itu. Isinya kumpulan resep lama ala pedesaan. Qale tersenyum, seolah menemukan jejak ibunya.

Sebuah lembar jatuh.

Isinya tulisan tangan lain. Lebih rapi. 

"Onbitjkoek dan Leker Holland-Resep Otentik Keluarga Aditya Jansen."

Qale membacanya dengan mata berkaca. Ia mengusap kertas itu, lalu berdiri dengan semangat baru. Kepalanya dipenuhi ide. Dia baru tahu nama lengkap keluarga angkat ibunya, sebab Rahayu tidak pernah bercerita apapun soal latar belakangnya.

"Selama ini, aku terlalu sibuk meraka kehilangan, sampai lupa kalau Ibu tidak pernah benar-benar pergi."

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ria, karyawan baru yang selama ini mendampingi di Anak Lipat, menelepon.

"Mbak Qale, ada yang mau ketemu."

"Siapa?"

"Katanya ... malaikat penyelamat toko ini. Tapi, kok bawa kamera ya, bukan tongkat ajaib atau jubah hitam," kekeh Ria di ujung telepon.

Qale ikut tertawa kecil meski dahinya mengernyit. Dia buru-buru bangun. Merapikan rambutnya, lalu tersenyum—bukan karena lega, tapi karena siap bangkit.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!