Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Halo, Pak Bakar

Rumah bercat putih itu berdiri anggun di balik pagar kayu, bergaya Eropa klasik dengan jendela besar dan tirai linen yang tertata rapi. Dua jam dari kota, tapi terasa seperti dunia lain, lebih tenang, lebih jujur.

Qale turun lebih dulu, berdiri terpaku di halaman. Baru kali ini dia puas menatap bangunan itu dari luar. Wafa di kursi rodanya menatap istrinya dari sisi mobil.

“Masuk, Sya. Angin mulai dingin,” katanya pelan, hampir seperti bisikan angin.

Langkah pertama Qale terasa lebih ringan. Rumah itu wangi kayu tua, dengan lukisan kecil di dinding juga bunga gantung di sisi teras.

Dia mendorong kursi roda suaminya masuk, mendekati meja bundar dekat jendela di ruang tengah. Di atasnya, ada sebuah map biru dan secangkir teh melati mengepul pelan.

"Aku pengen kamu lihat ini sebelum kita makan." Wafa meminta Qale duduk sambil mendorong map ke hadapannya.

Qale membuka map. Matanya tertumbuk pada serangkaian surat rujukan medis, pengantar dokter, hingga dokumen perjalanan rumah sakit luar negeri.

"Ini?" tanyanya dengan sorot mata berbinar.

Wafa menatapnya lembut. "Kan aku janji, mau obatin itu," balasnya menunjuk ke arah mata kanan Qale.

“Aku bahkan belum punya paspor…” cicitnya pelan, menunduk malu.

“Nah, itu bagian si Kayu,” ujar Wafa, menoleh ke arah belakang. Jarinya menekan tombol panggilan cepat di handphonenya.

Dari arah belakang, muncul seorang pria bersetelan casual. Badannya tegap, rambut klimis dengan belahan samping. Kumis tipis ala Zorro menghiasi wajahnya yang kalem.

Qale mengerjap, siapa pria ini. Dia baru melihatnya pertama kali.

Dia mendekati Wafa. Seperti biasa, ekspresi netral, napas pendek, dengan earphone menggantung di salah satu telinga.

“Hadir, Tuan Tata ... Eh!" katanya saat berdiri di samping Wafa, sambil memberi hormat.

Qale mengerutkan dahi mendengar sapaan 'Tata'. Itu kan sebutan spesial yang cuma diketahui mereka berdua. Senyumnya muncul tapi dia tahan. Ragu-ragu melirik ke arah Wafa, ingin tahu ekspresi suaminya.

"Nggak usah mulai. Kar Damkar!" sebut Wafa asal. Sambil menunjuk ke arah Qale. "Istriku, Nyonya Qalesya," sambungnya.

Pria itu menunduk sejenak lalu mengenalkan diri. "Halo, Nyonya Kue. Saya Bakar tanpa abu apalagi kayu ... just Bakar," katanya tersenyum sambil memamerkan giginya.

Wafa memutar bola mata malas, asprinya kumat lagi. Sementara Qale senyam senyum mendengar ucapan Bakar.

"Hai, Pak Bakar ... Jus bakar itu dari buah apa saja?" jawab Qale menggantung senyumnya.

"Buah bernama mantan terindah sampai lupa indah karena apa," kekehnya melirik Wafa. "Ehm, just artinya hanya, Nyah, bukan jus," lanjutnya lagi. 

Wafa menepuk lengannya dengan gulungan map. Lelaki itu menoleh cepat.

"Kerjain ini!" kata Wafa singkat. "Sana!" usirnya.

"Sensi itu biasanya karena cemburu," seloroh Bakar mulai mundur sebab tahu Wafa bakalan kesal.

“Damkar…” Wafa menghela napas.

“Maaf, Tuan Tata. Saya hanya berkata jujur. Lagi pula yaaa ... emang sejujurnya mulai ada cintrong kan.” Bakar lari ke belakang saat Wafa mengangkat vas meja hendak dilemparkan kepadanya.

Qale tak kuasa menahan tawa, suaranya renyah, apalagi gigi gingsulnya sampai terlihat. Wafa mematung, tak bisa berpaling.

Gingsul itu ... sama persis seperti sepuluh tahun lalu. Saat pertama kali dia melihat Qalesya kecil tertawa karena menjatuhkan kue di lantai.

Dan sekarang, ia menatap lagi. Dengan perasaan yang masih sama. Tapi Qale sudah bukan gadis kecil lagi. Dia duduk di depannya sebagai istri.

“Kalau kalian punya anak nanti,” lanjut Bakar melongok dari pintu dapur, “mohon kasih nama anaknya, cookies.”

“DAMKAR!” Wafa nyaris berdiri sedikit dari kursinya—refleks. Lalu sadar. Ia duduk lagi, merapikan rambutnya.

Qale masih tertawa. “Jangan marah, Kak. Dia lucu ... kayak lagi podcast sendirian.”

Wafa memalingkan wajah. Tapi senyum kecil itu tak bisa ditahan.

Bakar berteriak dari belakang, tapi cukup terdengar. “Tuh, Nyonya Kueh senyum daritadi. Nggak usah ngintip, curi-curi pandang, ngelirik lagi ... Tata kenyang kaaaaann tudei.”

"Kar, nggak ada cuti sampai tahun depan," pungkas Wafa diikuti teriakan minta ampun. 

Wajah lucu ala pahlawan jadul itu muncul lagi dari balik pintu dapur, memohon agar Wafa jangan baper tapi Wafa pura-pura tak mendengar.

Wafa memandangi Qale, tapi istrinya hanya menatap map itu dengan sorot mata berbinar.

“Kamu selalu gitu ya, Kak. Nunjukin pedulu tanpa ngomong.”

Wafa tersentak. Sekilas ingin membantah, tapi tak ada kata yang cocok. Hanya jemarinya yang saling bertaut di atas lututnya.

“Aku kira pergi waktu itu karena menyerah,” gumam Qale lirih. “Ternyata nyiapin semua ini.”

“Aku nggak pernah benar-benar pergi,” ujar Wafa pelan. “Cuma ... nunggu kamu siap dan percaya sama aku.”

Qale tersenyum. “Berarti sekarang udah boleh percaya lagi, Kak?” wajah imutnya meneleng ke kanan, melihat Wafa.

Wafa diam. Tapi tatapan itu—ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan.

Bakar batuk dua kali. “Maaf. Saya mau pesen katering resepsi dari sekarang boleh?”

“DAMKAR, KELUAR!”

Bakar terbahak sambil berlari kecil melewati mereka ke arah depan.

***

Malamnya, makan malam mereka terasa hangat. Sup jagung, nasi hangat, dan lekker Holan buatan Qale tersaji sederhana tapi hangat.

Qale sempat memotonya dan mengirimkan ke Ria, sekalian memberi tahu bahwa dia tidak ke toko esok pagi.

Wafa merasa canggung sebab Qale meladeninya. Membantu menuangkan lauk ke pinggan, mengisi gelas minum bahkan memasangkan napkin.

“Buka tangan, Kak,” katanya sambil meletakkan serbet makan di pangkuan Wafa, lalu menyelipkannya perlahan.

Wafa hanya bisa diam, matanya mengikuti gerak lembut jemari Qale.

Ketika Qale membungkuk sedikit untuk membetulkan posisi piring, poni panjangnya jatuh menutupi pipi. Wafa tak tahan untuk tidak menyentuh.

Jemarinya menyibak poni itu ke belakang telinga Qale dengan pelan.

“Biar aku bisa lihat wajah kamu ... sedekat ini,” bisiknya hampir tak terdengar.

Qale tercekat. Matanya bertemu manik mata Wafa. Lama.

Lalu buru-buru mengalihkan pandangan. “Nggak usah sok romantis deh. Nanti makanan asin,” celetuknya gugup seraya menarik piring kue.

“Aku bisa,” gumam Wafa saat Qale akan menyuapkan sepotong lekker ke mulutnya.

“Cobain, kali lebih enak kalau aku suapin," goda Qale, menyimpul senyum.

Wafa membuka mulutnya dan mengunyah pelan. Namun, Bakar tiba-tiba duduk dengan enteng.

"Permisi ... maaf di sini butuh obat nyamuk, kan?” kata Bakar langsung menyendok lauk buatan Qale.

Wafa menggebrak meja pelan. “Kamu mau saya lempar ke kolam?”

“Kalau itu artinya ajakan halus buat liburan, saya siap,” jawab Bakar dengan wajah serius.

Qale tertawa lagi. Kali ini lebih lepas. Dan Wafa, dalam diamnya, menyadari satu hal, suara tawa itu ... lebih manjur dari semua obat yang pernah ia beli.

Wafa akhirnya diam sebab Qale memintanya berbagi makanan dengan sang asisten. Wajahnya datar tapi hatinya entah mengapa berubah kesal.

Setelah menikmati makan malam. Keduanya duduk di teras belakang, membahas soal keberangkatan akhir bulan nanti.

Baru saja mereka akan masuk beristirahat. Pintu depan terdengar diketuk. Si Mbak buru-buru ke depan. Tak lama, Elan muncul dengan ransel kamera dan tripod.

“Maaf, ganggu malam-malam. Tadi Ria share story soal lekker Holan. Dan aku pikir ... rumah ini punya vibes kuno yang pas banget buat konten ‘Resep Warisan Bu Rahayu’.”

Qale langsung berseri-seri. “Serius? Apa konsepnya nyambung?”

Elan mengangguk. “Kalau kamu mau, aku bisa bantu wujudkan besok pagi.”

Wafa melengos, mendorong kursi rodanya pergi. “Aku istirahat dulu.” Dia melaju menuju kamar dibantu Bakar, lalu menutup pintu kamarnya pelan.

Bakar berbisik ke Wafa, “Hati-hati ... rival datang.”

Qale lalu menyilakan Elan untuk istirahat di kamar belakang, diantar Bakar.

Di balik pintu kamar, Wafa mendengar suara samar Qale. Tangannya menyentuh dada. Jantungnya berdetak pelan tapi jelas.

"Kenapa aku takut kehilangan?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!