Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Diagnosa Mata Qale

Qale kembali ke belakang hanya mengambil ponsel, tanpa menyapa Wafa. Dia langsung masuk ke kamar dan tidak keluar lagi meskipun Wafa memanggilnya untuk makan malam.

"Kayaknya Iran kalah, Bos. Di sini dah perang dunia 3," celetuk Bakar melewati Wafa yang mengetuk pintu kamar Qale.

"Perang sama kamu, yok!" kesal Wafa. Asprinya ini makin lama makin berani nyeletuk.

Bakar menoleh. Tangannya terangkat ke atas. "Ampun, Bos. Saya masih normal ... masa perang pedang-pedangan," katanya diikuti bola mata yang mendelik ke atas. 

Wafa melotot, Bakar tertawa lepas sambil lalu ke dapur. Akhirnya, Wafa batal makan malam dan masuk ke kamarnya.

Dua hari berlalu sejak pemotretan itu. Pagi ini Qale kembali ke rutinitasnya—kuliah, mengurus pesanan, dan membereskan toko Anak Lipat. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Wafa selalu datang. Menemani. Tapi kini menjadi pendiam. Mereka duduk bersebelahan di toko, Wafa di meja sudut, sementara Qale di kasir.

Lagu D'Masiv ~jangan menyerah menemani kesunyian mereka. Sesekali terdengar gumaman Ria yang mengikuti lirik lagu.

Qale diam-diam menoleh, tapi Wafa tetap fokus pada layar laptop di meja. Tangannya sibuk membuka email. 

“Paspor selesai dua hari lagi. Jalur cepat,” ujar Bakar siang itu, sambil mendorong pintu toko.

"Halo, selamat datang," sapa Ria saat Bakar masuk.

"Nggak usah disapa, Ria. Kalau dia datang bacakan saja ayat sajdah," balas Wafa. Ria bengong sementara Qale senyam senyum. "Ayat dibaca, sajadah dijebretin ke dia, biar bersyukur masih kerja sama aku."

Bakar merengut. Tapi seketika beralih ke Ria. "Hai, Kakak manis. Saya Bakar tanpa sate apalagi ikan," selorohnya tersenyum lebar. 

Ria melambaikan tangan, tersenyum canggung. Bakar lantas menarik kursi di depan Wafa lalu menyodorkan formulir sambil nyomot croissant. 

“Kapan hunting koper, Bos?”

Wafa menoleh ke Qale. “Sya ... mau beli baju dan perlengkapan? Sekalian hari ini?”

"Untuk?" tanyanya pelan.

"Berangkat ke sana," sahut Wafa sejenak menatap istrinya.

Qale hanya mengangguk. Wafa lalu memintanya bersiap. Sementara Bakar mendorong kursi roda tuannya menuju mobil.

Tapi di dalam mobil menuju mal, awalnya Qale hanya diam. Tapi beberapa menit kemudian, dia membuka pembicaraan.

“Nanti pas di Malaysia … bisa sekalian periksa, kan?” cicitnya melihat ke arah kaki Wafa.

Wafa menahan napas. “Periksa?”

“Tata. Kalau ... masih bisa sembuh kan--” Qale menggantung kalimatnya, lalu menatap lurus ke depan.

Hening. Lama.

Wafa akhirnya menjawab pelan, “Aku masih berusaha, Sya. Kita coba. Tenang saja.”

Qale menoleh, tapi hatinya tahu. Ketika Wafa berkata “tenang saja”, itu justru pertanda dia menyimpan gundah yang tidak dibagikan.

***

Tiga hari kemudian, mereka duduk di ruang konsultasi rumah sakit swasta di Petaling Jaya. Pemeriksaan dilakukan cepat, hasilnya esok hari baru akan keluar.

Setelah keluar dari ruangan dokter, Wafa mengajak Qale jajan dan jalan-jalan tapi Qale menolak, dia merasa lelah dan ingin tidur saja. Hari pertama mereka di Malaysia, dihabiskan hanya di hotel.

Keesokan harinya, di jam yang sama, mereka datang kembali ke rumah sakit.

Dokter menjelaskan dengan bahasa yang tak ingin menyakitkan, tapi tetap terasa pedih di telinga Qale.

Kelumpuhan parsial di wajah kiri membuat otot sekitar mata kanan bereaksi kompensatif. Efeknya, mata kanan tampak menyipit. Karena kerusakan jaringan saraf sudah menetap lebih dari 12 bulan, kemungkinan sembuh total sangat kecil.

Penyebabnya bisa karena trauma tulang orbital kanan atau kelumpuhan parsial pada otot levator palpebrae superioris. Itu membuat kelopak matanya tak bisa terbuka sempurna. Bukan kondisi memburuk, tapi sisa cedera lama.

(Diagnosis : ptosis neurogenik ringan akibat trauma kepala.)

Wafa mengangguk. Menunduk. Tangan kanannya mengepal di atas paha. Tapi hanya satu kata singkat yang keluar darinya. “Saya paham.” 

Qale terdiam. Dadanya sesak. Ia tidak bertanya apa-apa lagi setelah keluar dari ruangan dokter. Di dalam mobil, Wafa memecah hening.

“Sya ... ini bukan soal mata. Bukan soal wajah.”

Qale menoleh.

“Tapi soal kamu … soal hati. Bukan fisik. Kata ibu ... Cantik itu seperti Qalesya.”

Kalimat itu terdengar manis dan lembut tapi tak membuat hati Qale ringan. Pujian itu malah membuatnya getir.

Qale hanya menatap ke luar jendela. Langit mulai mendung, seperti hatinya. Ternyata, harapan untuk terlihat wajahnya simetris itu nihil.

***

Sepulang dari Malaysia, mereka melanjutkan konsultasi dengan dokter di Jakarta. Foto wajah Qale yang dikirim Wafa beberapa waktu lalu ditunjukkan dokter pada keduanya.

Qale kaget, kapan Wafa mengambil gambar dirinya. Tapi bukan itu yang jadi fokus Qale. Penjelasan dokter sama persis dengan dokter di Malaysia kemarin. 

"Aku tidak minta dia terlihat sempurna ... hanya ingin istriku tak terganggu dengan efek sakitnya selama ini, Dok."

"Mau simetris atau nggak, bukan itu tujuanku ... Qalesya tetap Qalesya, apapun wujudnya, aku bersyukur atas semuanya," kata Wafa membuat Qale menoleh padanya.

Dokter manggut-manggut. "Iya, pasti kurang nyaman bila terlalu lama menatap layar atau menunduk, otot mata menegang, perih, sakit dan lainnya," beber sang dokter. 

Qalesya menunduk, menyembunyikan senyumnya. 

Dokter mengatakan Qale bisa memulai pengobatan pekan depan. Wafa setuju dan mereka sepakat membuat jadwal.

Setelah dari rumah sakit, mereka kembali ke toko. Wafa memilih tidur di mobil meski lelah. Tapi satu ruangan dengan Qale di kamar belakang takut membuatnya terlihat kaku.

Besok launching produk baru—Onbitjkoek. Semua sudah siap. Qale sibuk mengecek satu-satu hingga larut malam.

Keesokan harinya. Wafa mendekor toko saat Qale ke pasar. Di tangannya ada toples kaca berisi potongan tester, dihias dengan kain putih renda, dan bunga lavender—warna kesukaan Qale.

“Semuanya udah siap,” kata Wafa, menyodorkan daftar rundown pada Ria. 

Qale mematung di pintu toko, melihat Bakar membantu Wafa menata ruang. Matanya berbinar cerah.

"Hai," kata Wafa semringah. 

"Kak, ini--" Qale masuk. Netranya memendar sekeliling. Tapi langkahnya terhenti di pojok ruangan. Ada satu meja kecil dengan alas anyaman dan vas dari botol kaca daur ulang. Simpel, cantik, tapi berbeda.

“Bagus,” gumam Qale.

Wafa menoleh, bicara datar. “Yang itu Elan yang atur. Katanya belum selesai."

“Oh.” Hanya itu komentar Qale. Tapi senyumnya ... terlalu lama menempel di wajah. Dia berdiri lama di sana, mengagumi ide Elan.

Wafa menatapnya sekilas. Dada Wafa seperti diremas. Usahanya kalah dengan meja pojokan. Lelaki itu memutuskan mendorong kursi rodanya keluar.

“Mau ke mana?” tanya Qale cepat.

“Pulang.”

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah. Tanpamu.”

Qale melangkah cepat, mengejar. Bakar menyusul di belakangnya. Langsung mendorong cepat kursi roda Wafa.

Bakar berbisik, "Nggak jadi launching kue malah launching patah hati,” kekehnya tapi tak Wafa tanggapi.

Qale memanggil. “Kak, rumah mana?” suaranya cemas.

“Rumahku,” jawab Wafa dingin, sebelum mencapai parkiran dan pergi begitu saja.

Qale terpaku. Nafasnya tertahan. Ia menatap pintu mobil yang baru saja tertutup. "Kamu kenapa sih, Kak?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!