Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Ide Wafa Favorit Qale

Glek. 

Qale kesulitan menelan coklat panasnya, tenggorokan mendadak tercekat. Entah karena gugup ditatap Wafa setelah membaca sebuah nama tadi, atau karena dia sedang menjadi topik pembicaraan.

Meski obrolan Wafa tak terdengar. Kalimat ~lagi sama dia, yang diucap ringan, tapi sukses bikin wajah Qale merona.

Qale pura-pura sibuk mengecek ponselnya. Gelas cokelat hangat di tangannya sudah tak beruap, tapi ia tetap menyeruput, sekadar punya alasan menunduk.

Bakar tiba-tiba bersuara, memecah hening yang menggantung. “Dia itu … saya, ya?” tanyanya sambil menunjuk dada sendiri, ekspresi penuh harapan yang jelas dibuat-buat.

Qale menoleh cepat, menatapnya dengan tatapan datar. “Masa?” sahutnya ragu.

Ria yang sejak tadi mengatur onbitjkoek dan croissant di etalase langsung cekikikan. “Pede amat sih, Pak Kayu.”

Wafa tanpa mengubah ekspresi, memutar kursi rodanya pelan menuju meja pojok. Obrolan dengan seseorang di telepon membuatnya harus menepi. 

“Ngode,” gumam Bakar lirih tapi cukup keras untuk bikin Ria dan Elan yang duduk di pojok melirik penasaran ke arah Qale, apakah ~dia yang dimaksud Wafa.

“Damkar." Nada suara Wafa datar, tapi ujung bibirnya tertarik tipis, seperti sedang menahan senyum.

Bakar hanya mengangkat bahu. “Ya Bos.” Dia mendekat lalu langsung keluar toko menuju mobil.

Tak lama. Bel pintu berbunyi. Seorang perempuan masuk, menenteng map berlogo sekolah dasar dan selebaran berwarna merah putih.

Seperti biasa, Ria menyapa ramah. "Halo, Selamat datang."

“Kak, mau pesan croissant toping merah putih, bisa?" ujarnya begitu sampai di kasir. “Buat lomba hias kue saat jelang tujuh belasan nanti,” bebernya pada Ria, sambil membuka map. Foto anak-anak dengan wajah belepotan krim tertempel rapi di sana.

Qale mengangguk, kuota pesanan masih bisa dia penuhi. Toh, ada Ria yang siap lembur jika membludak.

Wafa mendekat lagi ke meja. Dia berkata, “Jangan sampai memaksakan diri. Ini penting untuk image Anak Lipat ke depannya,” kata Wafa sambil memberi catatan di buku agenda Qale.

Qale mengangguk dan mulai menjumlahkan semua total pesanan di tgl 16-17 itu. Disela itu, dia juga harus menyiapkan menu andalan untuk di bawa ke stand UMKM nanti.

“Dekorasi stand nanti kamu yang handle,” sambung Wafa ke Elan. "selain dokumentasi yang emang sudah jadi tanggung jawabmu juga," sambungnya.

“Kak…” cicit Qale. Ia ingin Wafa ikut menata dekor. Selera Wafa selalu seperti yang ia mau.

Wafa menoleh, diam, hanya memandangi istrinya. 

“A-ku?” Qale menunggu respon Wafa, menatapnya sejenak, gugup karena ditatap balik.

Wafa tahu maksud Qale. Dia hanya menggodanya. “Siapa lagi? Nggak mungkin Damkar, nanti stand-nya mirip tenda camping,” jawab Wafa tanpa nada bercanda, tapi cukup untuk memancing tawa Ria.

"Oke, aku bisa, kok," jawab Elan membuat Qale lesu, dia menyandarkan punggung ke kursi. 

Wafa terkekeh, dia mengusap kepala istrinya lembut, mengacak pelan rambut Qale yang tersisir rapi.

"Iya," ucapnya mengangguk diikuti senyum tipis. 

Senyum pemilik gigi gingsul itu terbit. Wajah mungilnya kembali cerah. Qale lalu bangkit, meraih cangkir coklat hangat yang habis karenanya.

Elan, yang tadi sibuk di laptop, mengangkat kepala.

“Pak Wafa, kalau kita bikin behind the scene Qale ikut dekor tenda, itu bakal nyambung sama vibes hari kemerdekaan. Pasti viral. Apalagi sekarang tren support local brand lagi naik.”

“Tidak," kata Wafa tegas. Satu kata itu langsung menutup ide Elan.

Ria menimpali. “Tapi kan—”

“Sekali lagi ... Anak Lipat jualan kue, bukan pemiliknya,” potong Wafa cepat melihat ke arah Ria dan Elan. “Ambil angle dapur, stand, produk, dan nuansa merah putih. Jangan Qalesya-nya.”

Elan menghela napas, meski matanya buta satu tapi keinginan Wafa tidak bisa dia ganggu gugat. Dia punya selera sendiri.

Qale menunduk pura-pura mencatat, tapi hatinya campur aduk. Ada yang berbeda di balik protektifnya Wafa kali ini. Rasanya seperti … ingin menyimpannya untuk diri sendiri.

Ria menatap ke arah Qale, lalu mengerling ke Elan. “Nih bosnya nggak bisa dibantah. Kecuali sama—”

“Diam, Ria,” sahut Qale cepat, pipinya memanas.

Elan mengangguk. "Iye, pawang bicara," kekehnya.

Wafa tak menggubris sindiran mereka. Dia sedang membalas pesan. Bibirnya mengulas senyum tipis. Qale melihat ekspresi suaminya dari samping, penasaran siapa yang bisa membuat Wafa bahagia seperti ini.

Sore mulai turun. Bau croissant yang baru keluar oven memenuhi toko.

Qale menghitung stok bahan di dapur sambil bergumam, “Toping merah putihnya siap ... Ria, onbitjkoek kita ketahanannya berapa lama ya, tolong dicatat,” pinta Qale ke Ria. 

Ria mengangguk. Dia bakal lembur menyiapkan pesanan. Toko tutup selama 3 hari sebab dia ikut ke Jakarta.

Tiba-tiba terdengar suara dari depan, memanggil Qalesya. Keduanya pun muncul.

"Tolong buatkan info part-time untuk tanggal 15-18, dua orang wanita, ambil yang paham soal tata hidang atau marketing ... untuk bantu Sya di event," lanjut Wafa. 

Qale mengernyit. "Kak?" 

"Kita butuh tenaga bantuan, Sya. Aku nggak mau kamu capek. Ria tetap di sini, toko harus buka ... Kamu di sana. Dua orang tadi bisa bantuin produksi sejak sehari sebelumnya dan nemenin di stand. Owner kudu tetep chill," jelas Wafa. 

Ria mengangguk. “Setuju.” Sementara Elan hanya mengacungkan jempol.

"Iklan siap," ujar Elan kemudian, menyodorkan design ke Wafa.

"Ok. Share," timpal Wafa pada Elan.

Qale mendekati Wafa. “Nggak too much?”

Wafa menggenggam tangannya yang terasa hangat. "Maaf ya aku ikut campur. Cuma pengen waktumu efektif," ucapnya lembut.

Qale mengangguk, tersenyum manis. Hari ini dia merasa Wafa berbeda dari kemarin. Lebih hangat dan dia suka Wafa versi ini.

Tak lama Bakar muncul lagi, senyum jahilnya muncul. “Dia, siap." 

Qale mendongak. Degup jantungnya tiba-tiba berubah ritme. “Dia … itu dia, siapa?” tanyanya hati-hati ke arah Wafa.

Wafa hanya tersenyum tipis, sambil menggenggam erat dua tangan Qale.

“Tenang,” ucapnya pelan, menatap dalam ke mata kanan Qale yang sipit sebelah. “Dia bakal suka sama kamu.”

Kata-kata itu melayang di udara seperti bau bunga lavender dari buket onbitjkoek yang masih tertata rapi di sudut kasir.

Qale menelan ludah, tak sanggup mengalihkan pandangan.

Wafa berbalik, meminta Ria menyiapkan parcel onbitjkoek juga menata croissant original dan varian best seller ke sebuah kotak untuk hantaran.

Dada Qale berdegup kencang. Otaknya penuh tanda tanya.

"Mau kemana?" tanyanya lirih, sedikit serak. 

"Ketemu Dia." Wafa meraih jemarinya, mengecup pelan di sana sebelum senyum tipis itu muncul lagi.

"Sia-pa?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!