Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Obat Kuat vs Diare

Bakar menelan ludah kasar. Dia berpura merapikan kacang yang berantakan. Wafa melewati mereka, lirikannya tajam saat sejajar dengan Bakar.

"Baru keselek air minum, belum keselek formalin," kata Wafa saat melintas disamping Bakar.

"Uhuuukkkk." Bakar menunduk sambil terbatuk. 

Sementara Winda, kembali menepuk lengan Bakar. "I-ii apa tadi, Kar?" desaknya.

Bakar menoleh ke arah belakang, Wafa sudah masuk kamar. "I-iya kali, Nyah," ucapnya sambil cengengesan. "Kan saiyah baru dipanggil ke sini setelah tugas mengintai si Deni selesai," sambung Bakar. 

Winda menghela napas. Ada yang aneh dengan sikap anak dan menantunya. Jangan-jangan memang ini kali pertama mereka satu kamar.

Dia lalu menyenggol lengan Bakar, sambil berkata, "Kar, belum login keknya ya."

Bakar mengernyit. "Login?" ujarnya heran.

Winda cengengesan, dia menguncupkan semua jemari tangannya, lalu menempelkannya, beradu. Simbol orang berciuman.

Bakar ikut tertawa, dia menepuk lengan sofa beberapa kali.

"Oohh ituuu?" gelaknya. "Dari gaya jalan nyonya kue sih belum keknya," kelakar Bakar.

"Nyonya kue?" 

"Qalesya. Kan kayak kue, lucu, berlapis, parfumnya bau mentega dan susu," ucap Bakar masih tertawa lepas.

Winda ikut terkekeh. Wangi Qale memang smooth, powdery, vanilla, menyatu dengan pembawaannya.

Sementara di kamar. 

Setelah sekian lama hanya tidur berjarak di ruang sempit belakang toko, kini Wafa dan Qale harus berbagi ranjang.

Qale memilih pojok ranjang, setengah berbaring dengan tangan terlipat di perut. Matanya terpejam tapi pikirannya berkelana. Rasa gugup mengerumuni hatinya—malam pertama yang selama ini ia takutkan kini di depan mata.

Di sisi lain, Wafa berbaring miring, memejamkan mata pelan. Tapi sebenarnya dia tak tidur, hanya berusaha menenangkan diri dan Qale. Suara nafasnya yang tenang menjadi semacam sandaran agar Qale tak merasa sendirian.

“Tapi ... ini beneran, ya, kita tidur satu ranjang?” Qale akhirnya berbisik, suaranya nyaris gemetar.

Wafa tersenyum samar, dia mendengar ocehan istrinya ini.

Qale tersenyum kaku. Melirik ke arah Wafa yang memunggunginya. “Aku cuma takut ... katanya malam pertama itu serem…”

Wafa membuka mata, menahan tawa, wajahnya dia benamkan ke bantal agar suara kekehan halusnya tak terdengar Qale.

Qale menarik napas dalam, tapi ketegangan di dadanya makin besar. Dia pun menata bantal agar nyaman berbaring.

Tiba-tiba, Wafa miring mendekat dan mengalungkan lengan, hampir melingkar di dada Qale.

Qale kaget dan spontan memekik, buru-buru menutup mulutnya. "Aahh!" 

“Sssttt,” bisik Wafa sambil tertawa kecil.

“Kak,” ucap Qale ragu. Dia menepuk lengan Wafa yang melingkarinya.

“Sssst, tidur aja,” Wafa membalas lembut, mengeratkan pelukannya.

Namun Qale tetap tak bisa tidur. Dia pelan-pelan menyingkirkan lengan Wafa, tapi Wafa malah menariknya mendekat, menempelkan pipinya ke wajah Qale.

“Aku ngantuk,” katanya dengan suara serak. “Bobok, Sya.”

Suara dari ruang tamu tiba-tiba terdengar.

"Nyaaahh, kenapa? Tata garang?” suara Bakar menggema, disambut tawa ringan Winda.

“Damkar, hati-hati besok pagi?” Winda menegur sambil tertawa geli. "

Mama cuma mau tahu … udah pada ‘login’ atau masih pending? Kan penting biar gak punah.”

Bakar menutup mulut, kelepasan menggoda majikannya itu. Dia lalu berbisik ke Winda, soal rencana login tadi. Keduanya lantas tos, cekikikan sebelum meninggalkan ruang keluarga.

Qale yang masih setengah terjaga hanya bisa menggeleng-geleng. Dekapan Wafa terasa sesak, apalagi posisi lengan sang suami nyaris menempel di daerah sensitifnya.

Keesokan paginya, Winda datang membawa ramuan tradisional—minuman hangat beraroma herbal.

“Ini buat kalian berdua, biar sehat. Kata Bakar mau ada acara kan di Jakpus,” ucapnya penuh percaya diri.

Qale menerima gelasnya tapi wajahnya langsung berubah pucat, tiba-tiba mual dan dia berlari, muntah ke wastafel.

“Syaaaa,” cemasnya segera menyusul.

Winda ikut menghampiri sang menantu, memijat tengkuknya lembut. "Hamil?”

Qale menggeleng cepat. Dia hanya masuk angin, gegara semalam nyaris tidak tidur.

Winda menghela napas, lalu mengajak Qale ke klinik untuk periksa. “Coba deh, siapa tahu hamil,” goda Winda sambil tertawa kecil.

Qale panik, “Ih, Mamaaaa.”

Wafa memutar kursi rodanya perlahan. Malas dengan ibunya yang mulai membahas soal momongan. Dia memilih meminum jamu, badannya memang terasa tak enak sejak kemarin.

Tapi saat selesai sarapan, Wafa merasa wajahnya berubah merah dan berkeringat dingin. Dia melirik Bakar yang baru saja bangkit, selesai makan.

"Kar!" sebut Wafa curiga.

Bakar menoleh, "Apa, bos?" 

Hawa panas itu mulai menjalar, ada sesuatu yang bangkit di tubuhnya, tapi bukan kebangkitan massa demo kenaikan UMR.

“Uggh ... aku ke kamar dulu ya!” katanya buru-buru mendorong kursi rodanya dan mengunci pintu kamar.

Winda lantas mengajak Qale ke kamar, tapi pintu dikunci dari dalam.

Dia meminta Bakar mencari kunci serep tapi tak ditemukan. Winda menggedor kamar Wafa, dengan alasan Qale keringat dingin dan butuh istirahat.

"Gatot Subroto," kata Bakar, terkekeh-kekeh sambil menuju depan rumah.

"Apa itu?" tanya Winda. Sementara Qale duduk menyandar di sofa.

"Gagal total, suasana bradu tenogo." Bakar berbisik, rencana mereka untuk membuat pasangan itu bercinta.

Winda terbahak, lalu mengambil minyak gosok dan menghampiri menantunya.

Qale terpaksa tidur di kamarnya yang dulu, dengan Winda. Menjelang sore, Wafa keluar kamar duduk di teras belakang dengan tatapan dingin ke arah Bakar yang sedang duduk di lantai.

Winda mendekat, membawa kudapan untuk putranya. “Qale mual muntah sampe lemas. Dia baru tidur setelah mama balur.”

Wafa menatap tajam keduanya bergantian, “Aku yakin kalian yang buat ramuan itu biar aku ~pusing, panas dan on.”

Bakar membalas dengan senyum licik, “Teroooosss teroooos, aku mulu ... wajahku emang papan sasaran tembak, banyak lubang dosa.”

Winda tertawa, "Ya emang wajahmu kek jalan rusak, berlubang." 

Bakar mendengus kesal. Meskipun itu adalah idenya. Wafa masih menatap lurus ke arah asprinya itu, membuat Bakar salah tingkah dan kabur ke dalam.

Makan malam tiba. Menu favorit Bakar dan Wafa tersaji rapi—ayam goreng kremes, nasi hangat, sambal terasi, dan lalapan segar.

Suasana damai sampai makan malam berakhir.

Tiba-tiba Bakar panik dan berlari ke toilet belakang, sambil berteriak, “Booosss! Tolong!”

Wafa tertawa terbahak, sementara Winda menatap penuh curiga.

“Kenapa sih? Kamu jailin dia, Fa?” tanya Winda sambil merapikan meja.

Bakar keluar dari toilet dengan muka pucat, “Astaga, teganya kau, Bos!”

Wafa masih memasang wajah sisa tawa, “Kok nuduh?" 

"Pasti balas dendam, kan?" 

"Oh, sekarang ngaku brati, ya?" 

Glek. Bakar menelan ludah kasar, dia meringis dan buru-buru balik ke toilet.

"Ada apa, sih?" tanya Qale pada Wafa yang terus menyimpul senyum.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!