Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Qalesya Galau
Bakar seketika diam, menunduk patuh jika Wafa dalam mode serius. Dia melajukan mobil pulang ke kediaman Winda.
Setelah kepergian Wafa, Qale bangkit menutup tirai pintu, menguncinya lalu mematikan lampu. Tidak adalagi tenaga tersisa, dia menjatuhkan tubuhnya di sofa pojok, meringkuk, berharap penat mereda.
Keesokan pagi.
Semenjak sebelum subuh, Qale sudah bangun. Dia hanya tidur dua jam dan langsung menata varian croissant ke beberapa box untuk dibawa ke event.
Mendengar suara gaduh, Ria bangun dan membantu Qale. Setelah itu keduanya sibuk di dapur membuat adonan baru untuk stok di toko juga.
Tepat jam 7, Qale sudah rapi. Rambut ikalnya diikat, diberi jepit dan membiarkan poninya menjuntai alami. Ria mendandani Qale, agar wajahnya terlihat lebih segar.
"Siap!" kata Ria semangat, meski dirinya masih berantakan.
Qale menggenggam tangan Ria, mengajaknya berdoa bersama. Lalu mereka berpelukan. "Doain semua baik dan lancar ya, Ria."
Ria mengangguk, menepuk kedua bahu Qale. "Aamiin."
Qale memutuskan pergi tanpa menunggu Wafa. Dia hanya mengirimi pesan singkat dan ponsel suaminya masih belum aktif.
"Jangan mikirin dia mulu. Dia aja gak mikirin kamu," gumamnya saat masuk ke ojol car.
Sesampainya di event, langkah Qale terhenti di ujung lorong.
Di sana, Elan sedang berdiri dekat meja kasir, berbicara dengan seorang wanita berambut panjang yang mengenakan dress pastel sederhana. Wajahnya manis, auranya teduh. Ada tawa kecil di ujung bibirnya yang entah kenapa bikin dada Qale sesak.
Qale tak sadar jemarinya meremas tali tas jinjing berisi croissant. Langkahnya berat, wajahnya mendadak kaku. Dia tak memedulikan Elan, langsung menyapa dua gadis part-time yang menyambutnya.
Tak lama berselang, dari sisi lain, Wafa muncul dari belakang, dia mematung sejenak. Matanya mengerjap, seolah ingin memastikan penglihatannya.
Winda mendahului langkah Wafa, menyapa wanita itu dengan senyum ramah seolah mereka kawan lama. “Kamu makin cantik, Nak,” ucapnya hangat. Tidak ada ketegangan. Justru, Winda terlihat tulus menyambut.
Qale berdiri di belakang, merasa sedikit terpinggirkan. Matanya secara refleks mengikuti tiap gerakannya. Rasa ingin tahunya entah kenapa setinggi ini.
'Mungkinkah dia hampir jadi menantu?' Ada rasa membandingkan yang Qale benci akui, apalagi mengingat perjanjian pernikahannya dengan Wafa yang masih menggantung seperti awan gelap di kepala.
Elan menyelip di antara mereka, memperkenalkan Danisha secara formal, tapi melewatkan Qale. “Pak Wafa ... aku dan Danisha, teman lama.”
Qale menelan ludah. Tidak diperkenalkan. Rasanya aneh, seperti jadi figuran di kisah orang lain.
“Teman lama?” Wafa tersenyum tipis, tapi tatapannya singkat saja. Hatinya berdebar aneh, tidak sepenuhnya senang, tidak pula sepenuhnya marah.
Ketika semua kembali sibuk mengobrol, Qale memilih mundur selangkah, pura-pura melihat rak pajangan. Ia tidak mau Wafa—atau siapa pun—melihat bagaimana pikirannya berputar.
'Kenapa rasanya aku yang justru cemburu?'
Bakar yang berdiri tak jauh, menatap Qale sambil mengangkat alis. “Meski Anda melihat pintu keluar, saya harap Anda tak pernah membukanya.” Nada suaranya pelan, tapi terasa dalam.
“Pak Bakar!” tegur Qale lirih, tapi pria itu hanya tersenyum memamerkan giginya.
“Ya siapa tahu, kan, orang dari masa lalu itu bisa bikin hati yang di masa sekarang kebingungan," ujarnya sebelum pergi meninggalkan Qale yang terdiam.
Obrolan mereka selesai. Danisha pamit, Elan mengantarnya keluar. Winda menepuk lengan Wafa, entah memberi dukungan atau sekadar basa-basi.
Tatapan Wafa sempat melirik Qale sebelum mendekat ke arahnya, tapi ada sesuatu di mata itu—campuran bingung dan waspada—yang membuat Qale tak nyaman.
Tahu Wafa akan mendekat, Qale berjalan maju keluar stand agar lebih jelas melihat pertunjukan saat event dibuka. Qale mengalihkan fokusnya pada sederet orang di depan sana.
Wafa ingin bergabung dengan Qale. Namun, Elan muncul lebih dulu dan berdiri di sisi Qale, membawa dua cup minuman.
“Buat lo,” ucapnya sambil menyodorkan.
“Terima kasih.” Qale menerimanya, meski matanya masih mengikuti gerakan penari di atas panggung.
Elan menghirup minumnya santai sebelum berkata pelan, “Lo tahu siapa wanita tadi?”
Qale menoleh sekilas. “Wafa bilang bagian dari masa lalu.”
“Bagian dari masa lalu…,” Elan mengulang, seakan menikmati nada kata itu. “Belum move on, tepatnya.”
Qale terdiam, cup di tangannya mendadak terasa berat. Tenggorokannya menahan laju minuman yang baru dicecapnya. Glek.
"Namanya Danisha ... Dia pernah jadi model produk temanku,” lanjut Elan dengan nada seolah sekadar gosip santai. “Dia idaman semua pria. Tapi, katanya memilih single ... mungkin, karena masa lalunya belum benar-benar selesai.”
Qale mengerjap, mencoba membaca maksud tersirat.
Elan menyesap minumnya lagi, lalu menatap lurus ke arah Qale. “Orang baru biasanya punya keunggulan semangat. Tapi orang lama … dia sudah hafal semua sisi. Susah saingannya.”
“Kenapa kamu bilang gitu ke aku?” suara Qale nyaris terdengar ketus.
Elan hanya mengangkat bahu. “Cuma … kadang penting buat tahu medan, sebelum perang dimulai.”
"Aku nggak lagi saingan sama siapapun," balasnya menatap balik Elan yang tersenyum sambil mengangguk.
Kalimat Elan menusuk diam-diam. Qale mengalihkan pandang, mencoba menenangkan hati, tapi rasa tidak nyaman sudah terlanjur bersarang. Perjanjian dilarang jatuh cinta berputar lagi di kepala—apakah dia harus melepaskan statusnya sekarang? Agar Wafa bisa kembali dengan Danisha?
Elan meninggalkan Qale dengan senyum tipis, setelah menaruh api kecil di tumpukan jerami.
Suasana stand cukup ramai, aroma kopi dan suara tawa pengunjung bercampur jadi satu. Qale menyibukkan diri mengatur rak display, sementara matanya kadang melirik ke arah Wafa yang sedari tadi diam.
Danisha kembali lagi, membawa makanan untuk semua yang ada di stand. Mereka lalu berbincang. Perempuan itu tersenyum lebar, suaranya lembut, dan entah kenapa Wafa terlihat … berbeda. Lebih hangat. Lebih santai.
Qale tak ambil pusing. Dia keliling membagikan kartu nama juga voucher diskon untuk pembelian bundling onbitjkoek juga croissant ori nya.
Ketika kembali ke stand, etalase nyaris kosong. Winda entah kemana, Wafa duduk di pojok sambil menatap handphone.
"Aku sampai siang aja, ya. Mau balik ke toko," kata Qale, sambil mengetik pesan untuk Ria agar mengirim croissant ke event.
"Tutup jam 7 ya, Mbak?" ujar anak part-time.
Qale mengangguk. "Iya, aku ke sini jelang tutup, ya." Dia meraih tasnya dari kolong meja kasir, mencatat, juga menarik uang hasil penjualan.
"Aku duluan," ucapnya melirik ke arah Wafa. Tidak menunggu jawaban, dia langsung keluar stand.
Wafa kelabakan, dia menarik tuas rem kursi rodanya. "Sya!" sebutnya buru-buru menyusul.
Qale berjalan cepat, dia enggan menunggu suaminya. Hatinya kesal.
"Sya!" panggil Wafa lagi. "Tungguin, dong. Bakar juga lagi makan siang," sambungnya.
Qale berhenti, menoleh ke arah suaminya yang sedang mendekati. "Aku sudah pesan ojol, kok. Nggak usah ikut, temani Mama saja di sini," pungkas Qale.
Dia berbalik badan dan gegas melangkah. Nyaris bertabrakan dengan Winda di belokan gang. "Mau kemana, Qale?" tanya Winda lembut, memegang tangannya.
"Ke toko, kuenya nyaris habis," jawab Qale singkat, datar tanpa senyum.
"Sya! Ya ampun, ngambek." Wafa mempercepat laju kursi rodanya. Namun, tiba-tiba.
"Faaa!"
Wafa tak menoleh ke arah suara itu karena Qale buru-buru pamit pada Winda. Istrinya malah berlari kecil keluar area pameran.
"Sya!"
Winda bingung, tapi dia malah menahan putranya saat akan mengejar Qale. "Fa, kenapa, sih?" ucapnya heran melihat ke arah Qale, lalu ke Wafa.
Dia melihat ke arah wanita yang mendekati mereka, lalu meminta Wafa untuk menemuinya.
"Maaa...." Wafa tak suka dengan cara ibunya kali ini.
Dia tiba dengan suara sedikit bergetar. "Dipanggil kok malah pergi. Ngejar siapa sih? Gadis itu? ... Siapanya kamu?"
.
.