Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Marahan
Udara senja mulai turun saat Qale muncul kembali di area pameran. Rambutnya digerai seadanya, wajahnya pucat karena belum istirahat sejak siang. Dua gadis part-time menyambut riang, tapi sorot mata Qale kosong.
Qale tidak melihat Wafa di stand. Hatinya tambah kesal. Sebab dalam kepalanya masih bergema, ~ngapain ngasih nomer aku ke dia?
Dia langsung duduk di belakang meja kasir, bertanya pada dua pekerjanya lalu melihat catatan penjualan. Qale menghitung semua omset hari ini juga apakah ada barang yang habis.
Elan menghampiri, dia menunjukkan beberapa hasil jepretannya sore ini pada Qale.
"Belum gue sortir. Poinnya lo suka, gak?" tanya Elan pada beberapa foto.
"Suka. Aku percayakan padamu," jawab Qale singkat. Dia kembali fokus pada laporan salah satu anak part-time.
Wafa melihat kedatangan Qale dari kejauhan. Hatinya menghangat. Pria itu memutar kursi rodanya hendak menghampiri, tapi lajunya tertahan saat melihat ekspresi Danisha yang sangat datar.
"Mau kemana, Fa?"
Wafa menunjuk ke arah stand Qale. "Ke dia," jawabnya singkat sambil melaju lagi.
"Ngapain?" cecar Danisha mengikuti Wafa dari belakang.
Wafa berhenti, mneyerongkan posisinya lalu menatap Danisha. "Bukan urusanmu. Dia tanggung jawabku," tegas Wafa, tak berkedip. "Jangan ganggu dia, Nis."
Danisha balik menatap Wafa, lalu melihat ke arah stand Qale. Wafa pergi, dia pun kembali ke tempatnya.
“Aku bantu packing, ya,” ucap Wafa saat melihat Qale sibuk berkemas sebab sebentar lagi stand akan tutup.
"Nggak usah," balasnya tanpa menatap Wafa.
Secepat itu saja Wafa tahu, istrinya sedang marah.
Elan berdiri di samping mereka memperhatikan. “Qale, gue pulang duluan. Besok ke sini siangan.”
Qale mengangguk cepat. “Hem, makasih," ucapnya singkat.
Setelah Elan pergi, Wafa mencoba membuka obrolan. “Kamu kenapa?”
“Nggak apa,” sahut Qale singkat, tangannya sibuk melipat kardus.
“Syaaa…” Wafa menahan napas. “Kalau kamu kesal soal siang tadi–”
“Siapa yang kesal?” sela Qale cepat, menunduk makin rendah. “Kan hanya bagian dari masa lalu.”
Wafa terdiam, dadanya seperti tertumbuk. Dia salah paham. Tangannya ingin meraih pergelangan Qale, tapi perempuan itu buru-buru berdiri.
“Udah Maghrib. Kalian tolong lekas masukkan sisa croissant ke kotak, rapikan pembungkus juga lainnya.” Qale menurunkan tirai belakang, menguncinya. Menata kursi sejajar di bagian samping lalu mengecek semua laci sebelum pergi.
Qale berbalik, meraih dompetnya dan menjinjing tas croissant, lalu ke depan stand, berdiri seakan tak peduli. Wafa nyaris memanggil, tapi lidahnya kelu.
Dua gadis part-time itu menurunkan tirai penutup depan stand membuat Wafa sedikit menjauh. Lalu Qale melangkah pergi.
Bakar menghadang Qale. Dia merentang lengan sehingga Qale berhenti. "Izinkan saya, Nyah," pintanya saat akan mengambil jinjingan dari tangan Qale.
"Tolong minggir, Pak," ucap Qale dingin.
Bakar menggeleng. "Silakan," katanya, mengajak Qale masuk ke mobil. "Tolong bantu agar gaji saya tetep utuh, Nyah," sambung Bakar, memelas.
Sorot mata Qale meredup, dia menghela napas sebelum mengikuti kemauan Bakar.
Wafa muncul, tersenyum cerah karena Bakar membantunya. Dia mempercepat laju kursi rodanya.
Di dalam mobil, Qale duduk di kursi belakang. Sengaja tak duduk di depan. Bakar melirik melalui kaca spion, memahami semuanya tanpa perlu penjelasan.
“Pulang ke toko, Pak," ujar Qale datar.
Wafa mengangguk pelan. “Iya.”
Sepanjang perjalanan, tak ada yang bicara. Qale hanya memandangi jalan yang gelap. Kenapa hatiku sakit begini? mencoba menguatkan diri. Ini cuma perjanjian, Qale. Kalaupun berakhir, takdirnya memang begitu…
Sampai akhirnya ponselnya bunyi lagi—nomor tak dikenal itu.
[“Fix ya, besok jam 10. Aku tunggu di dekat coffee corner. Kita bahas pelan-pelan tentang dia."]
Qale menatap layar itu lama. Jarinya gemetar. Saat akan membalas, mobil berhenti di depan toko.
“Aku turun di sini, Pak. Makasih.”
Tanpa menunggu Wafa, Qale membuka pintu belakang dan masuk ke dalam toko.
Wafa mendengus, "Berat keknya ini."
Bakar mengangguk. "GenZ ngamuk, didikan voc juga bakalan nyerah," kekeh Bakar. "Mending ngaku salah aja, Bos. Iya iya iya gitu, sebab wanita selalu benar."
Wafa menghela napas sebelum turun, dibantu Bakar.
Di dalam Anak Lipat, lampu remang dan sisa bau mentega menyambutnya. Qale gegas mengepel lantai depan agar Wafa tidak masuk karena lantai basah.
“Kirain mau nginep di rumah Mama,” kata Wafa di depan pintu.
“Nggak,” jawab Qale singkat masih mengepel. “Pulang sana, udah malam.”
Wafa memahami perubahan suasana hati Qale. “Jangan lama-lama ngambeknya, ya.” Ia mengetuk pelan pintu toko sebelum berpamitan.
Begitu Wafa pergi, Qale terduduk di depan bangku kosong. Sunyi. Sesunyi pikirannya yang sibuk memutuskan : Balas pesan Danisha… atau abaikan?
Dia membuka galeri ponsel, memandangi foto pernikahan yang tampak kaku. Ada perasaan hangat menyusup—diikuti rasa takut luar biasa : Bagaimana kalau semua kebersamaan ini cuma jeda sebelum Wafa kembali pada yang benar-benar ia cintai?
Tangannya mengetik balasan, meski hatinya berat dan berantakan.
[“Besok jam 10. Aku dateng.”] Pesan terkirim.
Qale memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia sadar—ingin tahu kebenaran versi Danisha … meskipun bisa jadi malah menghancurkan dirinya sendiri.
Sementara itu, di mobil yang melaju menuju rumah, Wafa masih memeluk ponselnya. Pesan Qale tadi siang masih terngiang di kepalanya.
~Ngapain ngasih nomor aku ke dia?
Aku tidak pernah—Wafa berpikir. Kepalanya tertunduk.
“Pikirin baik-baik, Bos,” suara Bakar memecah keheningan. “Besok mungkin Nyonya akan membuat keputusan sendiri … dengan atau tanpa Anda.”
Wafa mengerjap. “Maksudmu?”
“Kalau Danisha datang lagi … dan Anda bersikap seperti tadi … saya nggak yakin Nyonya mau bertahan,” kata Bakar, menunjuk dada dengan wajah serius.
Wafa menutup wajah dengan tangannya. Untuk pertama kali, ia takut kehilangan.
Bakar memarkir mobil di halaman. “Mau balik ke toko?"
Wafa terdiam lama, menatap rumah Winda, lalu memandangi foto Qale yang sedang tertidur di ponselnya. Qale cemburu karena Danisha. Rasanya asing … tapi Wafa suka.
“Balik ke toko,” bisiknya lirih. “Sekarang.”
Bakar mengangguk, membelokkan stir, dan mobil bergerak kembali ke arah tempat yang sama—tempat seorang istri mungkin mulai berpikir, siapa yang akan tetap ia perjuangkan … dan siapa yang harus ia lepaskan.
"Jangan diemin aku, Sya." Wafa membatin. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba dia tersadar satu hal.
"Dia ... Dia ... eeh, apa ini soal ...." Wafa menepuk jidatnya. "Bodoh, Fa!"
.
.