Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Siapa Sebenarnya Wafa?

Beberapa menit kemudian Wafa sudah kembali tenang. Qale masih sibuk melayani antrean, seluruh croissant sisa nyaris habis.

“Tutup stand jam empat,” kata Wafa.

“Tapi ini lagi rame,” sanggah Qale pelan.

“Yang rame bukan pembeli … tapi orang penasaran.” Wafa menghela napas. “Mulai besok, stand kita nggak lagi boleh difoto sembarangan.”

Qale menelan ludah, masih deg-degan. Namun saat Wafa menggenggam tangannya tadi, dia merasa lebih kuat daripada sebelumnya.

“Aku nggak mau kamu jadi tontonan lagi, Sya,” gumam Wafa.

“Tontonan?”

“Anak Lipat harus jadi panggungnya, biar semua orang lihat … kamu wanitaku.”

Qale mendongak perlahan, melihat mata kanan Wafa tak berkedip padanya. Dada Qale menghangat. Badai baru mungkin belum selesai … tapi setidaknya, mereka telah memilih berdiri di sisi yang sama.

Sehari setelah kejadian di stand, suasana toko Anak Lipat muram. Croissant dan onbitjkoek tersusun rapi di etalase, tapi pintu kaca hanya sesekali berdenting masuknya pembeli.

Qale berdiri di balik kasir, berkutat dengan daftar bahan baku. Ia pura-pura sibuk, padahal pikirannya melayang-layang. Tubuhnya ada di toko, tapi perasaannya tertinggal di stand semalam.

“Sepi, Kak?” tanya Ria. "Stand gimana? Hari ni terakhir, kan?"

“Iya, mungkin efek videonya kemarin. Orang-orang jadi pengin nonton dramanya, bukan beli kuenya,” Qale tersenyum hambar.

Ria lalu membuka ponsel. “Udah baca ini, belum?” Ia menunjukkan berita dari portal lokal.

[‘Onbitjkoek viral, kisah cinta segitiga di balik kedai kopi Anak Lipat?’]

Artikel itu memuat rekapan postingan Elan, potret Danisha, bahkan menuliskan nama lengkap Qale.

“Bagus ya,” Qale tertawa pahit. “Padahal kuenya yang dibuat, tapi gosipnya yang laris.”

Ria menggigit bibir, iba sekaligus kesal. “Mungkin saatnya ngomong ke publik, Kak.”

“Ngomong apa? Aku bukan siapa-siapa. Bukan artis,” jawab Qale lirih.

Ria menggeser pelan isi galerinya, hasil screenshot dari portal berita online. Wajahnya cemas saat melihat Qale yang melirik pada foto yang dia tunjukkan.

"Ini, ehm, dia ... model, ternyata. Makanya viral. Maaf, Kak. Hubungan kalian apa, pacaran? Danisha itu mantannya, kah?" cecar Ria penasaran.

"Oh." Qale hanya mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.

Belum sempat Ria membalas, pintu terbuka. Wafa masuk dengan jas casual rapi warna cream. Wajahnya tegas, gerakannya cepat.

“Sayang,” katanya, tertuju pada Qalesya.

Pengunjung yang baru selesai memilih kue, segera dilayani Ria. Dia tersenyum cerah sambil menggenggam tangan Qale sebentar sebelum meminta Qale pergi dari meja kasir.

Keduanya lalu keluar, duduk di teras toko. 

Wafa mengatakan bahwa besok, kemungkinan ada pekerja di luar akan merenovasi bagian depan toko. Bakar sudah meminta izin pada pemilik ruko.

"Totalkan saja, Kak. Semoga uangku cukup." Qale sudah berniat melakukan itu tapi begitu banyak hal berseliweran di otaknya sehingga tak sempat dipikirkan lebih lanjut.

"Aku kirim konsepnya ke kamu, ya. Tinggal pilih dan duduk manis," balas Wafa.

Qale melihat seksama, bertanya, lalu memilih satu nuansa clean yang menurutnya lebih cocok dengan situasi sekitar yang panas dan berdebu. 

Wafa lantas mengirimkan pada Bakar agar menyiapkan semua seperti yang Qale mau. Setelah urusan renovasi selesai, dia membahas hal lainnya.

“Aku baru dari Dinas UMKM. Mereka mau ajak Anak Lipat buat isi stand utama di pameran nasional bulan depan,” ujar Wafa tanpa basa-basi.

Qale memutar duduknya. “Hah? Tapi … lagi begini? Apa nggak makin jadi gosip?”

“Justru karena gosip.” Wafa menatap Qale. “Kita atasi bukan dengan sembunyi, tapi berdiri lebih tinggi. Kamu bakal diajak tampil resmi di press release mereka pekan depan.”

Qale terdiam. Ketakutan memenuhi dadanya. “Aku … nggak sanggup ditatap banyak mata.

“Aku tahu,” ucap Wafa pelan sembari menarik kursi Qale mendekat. “Ada aku, Sya.”

Kalimat itu menusuk lembut, membuat senyum manis Qale terbit. Tapi sebelum ia sempat merespons, notifikasi DM Instagram muncul berkedip di ponselnya.

@anonymous.id :

["Masa lalu nggak bisa kamu tutupin pakai croissant, Qalesya…"]

Jantung Qale berhenti sepersekian detik. Nafasnya tercekat.

“Sayang?” Wafa sudah memperhatikan perubahan ekspresi istrinya.

“Nggak,” Qale menggeleng cepat. “Nggak apa-apa.”

“Kalau ada apa-apa bilang. Ini bukan hanya urusanmu, tapi kita,” kata Wafa tegas.

Qale tersenyum tipis, tetapi hatinya kuatir. Wafa lantas mengajaknya ke toko bahan bangunan. Memilih kursi juga tanaman segar maupun artificial untuk bagian teras toko.

Sore harinya, usai stand tutup, Ria menyuruh Qale pulang lebih dulu. Namun Qale malah sibuk dengan dua anak part-time yang selesai tugas hari ini. Dia membayar mereka, juga memberikan bingkisan tambahan sebab sudah bekerja dengan baik.

Setelah itu, Qale diundang ke tenda panitia. Diberikan sertifikat peserta juga hadiah apresiasi karena omset stand Anak Lipat masuk urutan 10 besar. 

Wafa hanya menemani dari jauh. Sosoknya tidak terlalu menarik perhatian. Dia duduk tenang di belakang, diam-diam mengagumi.

Setelah penutupan, Qale menghampiri suaminya. Dia tak sengaja mendengar samar-samar suara Wafa sedang menjawab telepon. Suaranya rendah, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“Iya, aku tahu reputasinya bisa tercoreng lagi. Dan kalau aku ikut tampil, mungkin sementara saham akan anjlok ... tapi patut dicoba. Aku nggak keberatan, kok.”

Qale membeku. Kata-kata itu berdenging. Nggak keberatan tampil? Saham anjlok, memang siapa Wafa? reputasiku bisa hancur? Ia menutup mulutnya sendiri, tidak berani menguping lebih dekat.

Wafa masih melanjutkan, belum menyadari ada Qale. “Beri aku waktu … aku akan cari cara agar semua berjalan baik."

Otak Qale berputar cepat. Dalam kebisuan, ia melangkah mundur dengan napas tercekat.

Jadi … Wafa masih merahasiakan sesuatu darinya? Dan mungkin, benar kata Elan. Dia bersandiwara lagi?

Ponsel di genggamannya kembali bergetar.

DM anonim : [“Tidak pernah ada ibu peri untuk anak sial.”]

Tangan Qale bergetar. Saat itu Wafa sudah berada di sampingnya, menatap lembut.

“Pulang ke Mama malam ini, ya,” ucap Wafa, menarik jemari Qale menuju parkiran.

Qale diam. Hatinya menggunung penuh tanda tanya. Siapa sebenarnya lelaki di sampingku ini ... dan apakah aku siap menerima semuanya?

Wafa meraih punggung tangannya, lalu mengecupnya seolah segalanya baik-baik saja.

Tapi Qale … untuk pertama kalinya tidak berani menatap balik.

Wafa mengerut, dia tidak tahu Qale sempat mendengar separuh obrolannya tadi. "Sayang, kenapa?" ucapnya lembut sambil menatap wajah datar Qalesya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!