Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Gadis itu!

Suasana toko Anak Lipat masih riuh ketika Hasan akhirnya memberanikan diri menghampiri meja kasir. Tatapannya sempat jatuh ke arah Nadia yang duduk manis di pojok ruangan. Senyum tipis gadis itu seolah bukan sekadar ramah, tapi penuh arti—seakan memperingatkan, “Jangan macam-macam, Om. Aku tahu apa yang kulakukan.”

"H-hai." Hasan membalas Nadia.

Ria semringah dari meja kasir. "Halo, Om. Duduk dulu, aku panggilkan Kak Qale," katanya masih tersenyum lebar.

Hasan mengangguk. "Ok, makasih," balasnya, duduk di kursi sudut kasir.

Qalesya muncul, langsung menghampiri ayahnya. Disusul Wafa yang menyalami sang mertua. 

"Ayah sakit?" ucap Qale kuatir meliat wajah pucat Hasan.

Hasan menggeleng pelan. “Lesa…” suaranya terdengar serak. Ia menatap putrinya dengan mata berkaca. “Kamu baik-baik saja?”

Qale sempat bingung. “Baik. Kenapa?” jawabnya, mencoba tersenyum meski ada keraguan.

Hasan mendekat, suaranya makin pelan. “Hati-hati, Nak. Pandailah jaga diri. Kadang … orang terdekat justru bisa jadi orang yang melukai kita.”

Deg!

Kata-kata itu langsung menohok hati Qale. Ingatannya melayang pada pesan anonim yang dulu sempat mengganggu pikirannya—peringatan untuk ingatan yang hilang.

Wafa yang duduk di kursi roda tak jauh dari mereka menatap Hasan dengan sorot tajam. “Ada aku, Pak, tak perlu khawatir. Nanti sesekali menginap di rumah, mungkin Sya kangen tidur di sana," imbuhnya.

Hasan terdiam lama, lalu mengangguk. Senyum getirnya tidak bisa disembunyikan. Tangannya sempat terangkat, ingin memeluk Qale, tapi ia urungkan. Akhirnya ia hanya menerima bungkusan croissant hangat dari tangan Qale.

“Terima kasih, Nak. Jaga diri baik-baik.” Hasan pamit dengan langkah berat, meninggalkan toko dengan hati resah.

Qale melihat kepergian ayahnya. Kecewa itu mulai terkikis, berganti iba mengingat beliau hanya sendirian di rumah itu.

"Kak."

"Ya?"

"Kasian," gumam Qale menunggu mobil ayahnya pergi.

Wafa mengusap lembut punggung istrinya yang berdiri di depan pintu. Merasakan hal sama.

Malam itu, Qale tiba-tiba mual. Ia berulang kali muntah sampai wajahnya pucat.

“Sya? Sayang? Kamu kenapa?” Wafa panik, menahan bahu istrinya di wastafel.

“Aku … baik, Kak. Mungkin kecapekan karena pms saja,” jawab Qale lemah, berusaha tersenyum.

Wafa ingin keluar kamar, tapi dicegah Qale. Nyaris tengah malam, bakal mengganggu istirahat penghuni lainnya.

Dia mengatakan akan tidur karena perutnya mulai terasa enak. Wafa menurut, tapi dia meminta ART membawakan termos air hangat juga water bag, untuk mengompres perut Qale.

Namun, besoknya ia tetap memaksa beraktivitas. Kampus, toko, bahkan ikut mengawasi media sosial Anak Lipat yang kini dikelola Nadia. Anehnya, dalam beberapa hari saja akun mereka melonjak tajam—interaksi meningkat pesat, seakan ada tangan ajaib yang mendorong popularitas.

Wafa mulai rewel. Meski tidak melarang ini itu, tapi Bakar yang kena imbas harus bolak balik kantor dan toko hanya demi memastikan Qale baik saja.

Sore itu, Wafa menjemput Qale paksa dari toko. "Baru mulai periodnya, Sayang. Istirahat," katanya, melihat Qale pucat di hari pertama haid.

"Iya." Tapi Qale bergeming. Melanjutkan tugas kuliahnya.

Wafa berdecak. Dia menarik jemari Qale dan meminta Bakar membawa tas juga buku-buku yang masih berantakan di kamar belakang. 

"Pulang!" 

"Ta-tapi, i-ituu."

"Diberesin sama Damkar." Dia mendorong punggung Qale keluar.

Keesokan harinya. Wafa memperhatikan satu hal. Hampir setiap hari, Nadia datang dengan wajah manis, selalu menawarkan minuman botol berbagai rasa pada Qale.

“Biar seger, Mbak,” katanya ringan. Dan Qale, sibuk dengan pelanggan, sering kali menerima begitu saja.

Seminggu berjalan, pelanggan makin ramai. Renovasi toko terbukti berhasil menarik anak muda.

Tapi malam itu, Qale tiba-tiba merasa perutnya mulas hebat. Saat ke kamar mandi untuk ganti pembalut, darah mengalir deras. Lebih banyak dari biasanya.

"Mamaa!" Dia memanggil Winda. Malu jika Wafa melihatnya di kamar mandi.

“Syaaa!” Wafa hampir jatuh dari kursinya saat mendengar Qale teriak. “Kenapa?”

“Aku… mau ganti pembalut… tapi—” suaranya terputus. Wajahnya pucat pasi. "Mamaaaa!"

Winda datang mendengar sang menantu berteriak memanggilnya. Wafa menunjuk kamar mandi, dan Winda langsung masuk.

Wafa tak mau menunggu. Ia langsung meminta Bakar' bersiap dan memaksa Qale ke rumah sakit malam itu juga.

"Haidnya sebanyak itu, Fa?" tanya Winda saat perjalanan ke rumah sakit. Qale terbaring di pangkuannya.

"Entah, aku baru tahu kan," jawabnya merasa bodoh karena tatapan Winda.

Setibanya di IGD. Qale makin lemas. Membuka mata pun berat. Dia pasrah ketika diinfus dan masuk ke kamar perawatan.

Hasil pemeriksaan sementara membuat darah Wafa mendidih—pendarahan. Dokter menyarankan pemeriksaan khusus lebih lanjut.

Sepanjang malam, Wafa diam. Tangannya menggenggam erat jemari Qale yang lemah. Tapi matanya gelap penuh amarah.

Dia memanggil Bakar dan Ria tengah malam ke rumah sakit. CCTV toko, bahkan CCTV rumah, segera diperiksa ulang.

“Cari tau siapa yang berani main-main dengan istriku. Aku ingin jawabannya secepat mungkin!” suara Wafa bergetar menahan geram.

Bakar mengangguk tegang. Ria pucat, hanya bisa menunduk. Dia bahkan baru tahu, kalau toko terpasang CCTV. Dimana letaknya, Ria tidak pernah melihat ada kamera di ceiling. Dan yang paling membuatnya shock, adalah :

"Is-tri?" cicit Ria, memastikan pendengaran.

Wafa tak melihat Ria, tapi menjawabnya, "Iya. Istriku." 

Bakar lantas menarik lengan Ria beranjak dari sana. Sesaat itu, Wafa teringat sesuatu. Potongan bayangan seorang gadis … wajahnya yang terasa familiar.

"Gadis itu…" lirih Wafa membelalakan matanya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!