Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Investigasi Wafa
Niscala Corp siang itu masih ramai. Lampu-lampu putih memantulkan cahaya dingin di dinding kaca. Kursi roda Wafa melaju masuk tanpa basa-basi, Bakar mengikuti di belakang. Beberapa staf buru-buru menunduk, menyadari aura dingin yang dibawa bos mereka.
“Anggita, ke ruanganku,” suara Wafa berat, tak memberi ruang tawar.
Sekretaris itu tergopoh menutup laptopnya dan mengikutinya ke ruang dirut. Begitu pintu tertutup, Wafa bersandar ke meja, menatap tajam ke arah wanita itu.
“Ceritakan padaku. Dari mana sebenarnya kau dapat CV Nadia?”
Anggita menelan ludah. “B-bukankah sudah saya jelaskan, Pak? Ada teman—”
“Teman siapa?” potong Wafa cepat, suaranya meninggi.
Anggita gelagapan. “Saya … saya lupa namanya. Tapi dia bilang Nadia butuh kerjaan. Saya cuma menolong, Pak. Sungguh.”
Bakar mendengus. “Lupa namanya, tapi berani taruh di meja saya? Jangan main-main, Git.”
Wafa mendekat, menunduk, menatap mata sekretarisnya yang mulai berair. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau gelisah bukan karena ‘lupa’. Tapi karena takut.”
Anggita mulai terisak. “Saya tidak tahu apapun, Pak … saya cuma nolong.”
“Kalau kamu masih bungkam, justru kamu yang akan kehilangan segalanya.” Wafa mendekat makin rapat. “Jadi, apa benar Danisha yang menyuruhmu? Teman dekatmu itu?”
Deg!
Tubuh Anggita menegang. Ia menutup mulutnya cepat, tapi sorot matanya jelas, ia panik.
Wafa menyeringai tipis. “Jawabanmu sudah cukup. Dengarkan baik-baik, Git. Mulai sekarang, kau pilih : temanmu atau pekerjaanmu. Dan satu hal lagi—” suaranya turun menjadi ancaman dingin, “jangan sampai Danisha tahu aku mengorek ini darimu. Sekali kau bocorkan, kau yang akan kuhabisi lebih dulu.”
Anggita tercekat, wajahnya pucat pasi.
Wafa tak menunggu lagi. Ia berbalik, keluar ruangan.
"Pak!" Suara Anggita memanggil. Tapi Bakar menghalangi.
"Tunggu nasib, Neng. Baek-baek dah," kata Bakar, melenggang pergi menyusul Wafa.
Mereka kemudian meluncur ke kantor Danisha. Wajah Wafa menegang, dia membuka kancing lengan kemejanya lalu menggulungnya ke atas.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba. Wafa masih ingat letak kantor mantan pacarnya. Dia pun melenggang ke sana.
Di ruang tamu luas Danisha, aroma parfum elegan memenuhi udara. Wanita itu masih secantik dulu, berdiri dengan percaya diri menyambut kedatangan Wafa.
“Hai, Faa…” Senyumnya tipis, penuh arti. “Kangeeeeeenn.”
“Aku tidak punya banyak waktu,” potong Wafa datar. “Aku hanya ingin bertanya. Kamu masih berhubungan dengan teman lamamu itu?”
"Siapa?"
Wafa menyungging senyum. "Pura-pura lupa. Elan," ucapnya datar.
Senyum Danisha goyah sesaat. “Elan? Entah. Sudah lama tak ada kabarnya.”
Wafa maju, mencondongkan tubuh di depan Danisha. “Bagaimana dengan Anggita? Sering bertemu akhir-akhir ini?”
“Ya … beberapa kali, urusan kerjaan,” jawab Danisha mantap meski eskpresinya datar.
Wafa menatapnya lekat-lekat. “Kerjaan? Atau sekongkol mengintimidasi istriku?”
Danisha sontak membeku. Matanya membesar, dan itu cukup menjadi jawaban bagi Wafa.
“Jadi gosip itu benar,” Danisha melanjutkan, suaranya tajam. “Saat UMKM, ibu bilang ketemu kamu. Cerita soal gosip pernikahan yang ‘rahasia’.”
Wafa tersenyum sinis. “Kalau gosip bisa dijadikan kenyataan, kenapa tidak?" balasnya santai, melipat tangan di depan dada.
"Tinggalkan dia, Fa. Aku akan resmikan sekalian. Kau terlalu tinggi untuk seorang perempuan cacat dengan mata abnormal seperti dia. Lihatlah—kumal, tak sepadan denganmu.”
Wafa diam, menatap lekat Danisha. "Dan kamu merasa setara?"
Danisha mengetatkan rahang. Posisinya berdiri mulai goyah. Tangannya memegang sisi meja.
“Dia istriku.” Suara Wafa tegas, dan lantang, membuat Danisha terdiam sesaat.
Wafa lalu berbalik, melangkah ke pintu. Namun sebelum pergi, dia menoleh sekali lagi, matanya menusuk. “Semoga kamu nggak terlibat, Nisha … aku akan melakukan hal yang sama padamu. Entah siap atau tidak untuk kau tanggung akibatnya.”
Pintu tertutup keras. Danisha terdiam, namun tangannya bergetar di samping tubuhnya. "FUCK!"
***
Malam itu, Wafa dan Bakar menuju rutan. Mereka meminta bertemu Lea, tapi wanita itu menolak.
“Tidak mau. Aku tidak kenal kalian,” katanya dingin pada sipir, dari balik jeruji.
Wafa tak memaksa. Ia hanya bertukar pandang dengan Bakar, lalu pergi.
Tujuan berikutnya, kediaman mertuanya.
Hasan sedang duduk di kursi kayu, wajahnya letih. Begitu Wafa datang, ia tertegun.
“Kamu … datang,” suaranya serak. "Lesa?" Dia mencari sosok putrinya di belakang Wafa.
"Nyonya di rumah sakit, Tuan," ujar Bakar, mewakili Wafa.
Hasan membola, wajahnya mengerut kuatir. "Sakit apa?" cicitnya pelan.
Bakar tak menjawab, tangan Wafa terangkat tanda agar dirinya diam.
“Pernah ketemu Nadia, Pak?” Wafa langsung bertanya tanpa basa-basi.
Hasan membeku. Matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar. “Faa … jaga Lesa. Jangan biarkan dia terluka lagi. Itu saja yang kuminta.”
Air mata jatuh dari pipinya. Ia tidak menambah penjelasan, seolah takut kalau kata-katanya didengar angin malam.
Wafa mengepalkan tangan. “Baik. Tapi ingat, Pak … aku tidak akan tinggal diam kalau ada yang menyentuhnya lagi.”
Hasan mengangguk, dia menghampiri menantunya lalu menepuk pelan lengan Wafa. Seolah meminta agar memaklumi bahwa posisinya sulit.
Begitu banyak orang di kepalanya. Wafa merasa penyelidikannya cukup. Dia memutuskan pulang ke rumah sakit.
Sementara di rumah sakit. Qale membuka mata, pucat tapi sadar. Winda mengusap mata Qale dengan kapas basah, lalu menaikkan tempat tidur Qale.
"Masih sakit, Nak?" tanya Winda pelan.
"Nggak begitu, Ma." Qale berbisik lemah.
Pintu kamar terdorong, dua sosok terlihat masuk. Qale menyimpulkan senyum.
Begitu melihat istrinya siuman, Wafa langsung melaju ke brangkar, menaikkan posisi kursi rodanya agar bisa mendekap tubuh Qale—sejauh yang bisa terjangkau tanpa melukai. “Syukurlah, Sya … kau sadar.”
Qale tersenyum samar, meski lemah. “Aku baik-baik saja…”
Wafa menutup mata, membiarkan napasnya lega. Namun di dalam dadanya, ada ketakutan lain yang tak bisa ia ungkapkan.
Penjelasan Winda soal hasil diagnosa Qale, membuatnya was-was. Jika racun itu merusak rahim istrinya, bagaimana dengan masa depan mereka? Bagaimana dengan pewaris keluarganya?
Ia menggenggam jemari Qale lebih erat. “Aku tidak peduli dengan yang lain. Aku akan lawan siapa pun yang berani menyentuhmu.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah hari-hari penuh ketegangan, Wafa bisa bernapas sedikit lebih lega.
Namun pikirannya belum selesai. Bayangan Danisha, Elan, Nadia … dan sosok yang lebih besar di balik semua ini… masih mengintai.
Menjelang tengah malam, Qale terlelap. Winda mengajak Wafa bicara di sofa.
"Jadi ulah siapa?"
Wafa menatap ibunya lekat, antara tega dan tidak. "Tebak, Ma."
Winda menggeleng pelan, tidak ada siapapun dalam benaknya. Tapi tatapan Wafa terlihat sendu. Dia mencoba meraba isyarat putranya.
"Danisha?"
Wafa menyandarkan punggung ke sofa, lemas. Seolah itu jawabannya. Sementara Winda menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Tapi, Bos, kan bel--" Bakar menyela, membuat Winda menoleh ke arahnya.
.
.