Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Interogasi

Suasana kamar berubah mencekam. Setelah tatapan Wafa mengeras dan kepalanya memberi isyarat singkat, Bakar langsung mendekat, meraih lengan Nadia dengan kasar. Gadis itu meronta, wajahnya memucat.

“Lepas! Aku bisa jelasin—” suaranya terputus ketika Bakar menggiringnya keluar kamar. Pintu menutup rapat, meninggalkan gema langkah mereka di lorong rumah sakit.

Qale menoleh cepat pada Wafa, matanya cemas. “Kak … jangan berlebihan. Aku takut…” Jemarinya menggenggam erat tangan suaminya, seakan memohon.

Wafa menatapnya, rahangnya mengeras. “Aku janji nggak akan keterlaluan. Tapi dia harus bicara.”

Winda berdiri tegak, wajahnya masih dipenuhi amarah. “Biarkan saja. Perempuan itu sudah terlalu jauh. Kalau kita anteng nerima, nyawa kamu yang jadi taruhan.”

Dia lalu meraih botol jamu di nakas, membuka tutupnya lalu membuang isinya separuh. Winda lantas mengisinya dengan sesuatu.

Qale terdiam, hanya bisa menunduk. Di dadanya, perasaan campur aduk—takut, marah, tapi juga sebersit kasihan pada Nadia.

Sementara di ruang isolasi rumah sakit yang sepi, Bakar menekan bahu Nadia ke kursi. Ia membuka laptop, memutar rekaman CCTV yang tadi diperlihatkan pada Wafa. Wajah Elan muncul samar, berdiri bersama Nadia di parkiran.

“Kamu kenal siapa dia,” ucap Bakar datar. “Jangan coba-coba bohong. Mulutmu masih bau jamu itu.”

Nadia mengerjap, menoleh ke layar, lalu tersenyum miring. “Jadi? Apa salahnya ngobrol di parkiran?”

Bakar mendengus. Ia memajukan layar laptop, memutar bagian lain. Rekaman suara dari informan lapas terdengar—potongan percakapan Elan dengan seseorang yang datang menjenguk Lea. “Ciri-ciri tamunya mirip kamu. Rambut, tubuh, cara jalan. Masih mau menyangkal?”

Nadia membeku sesaat. Matanya gelisah, tapi senyum sinisnya dipaksakan kembali. “Kalau pun itu aku, terus kenapa? Elan cuma … kenalan.”

Bakar mendekat, suaranya rendah menusuk. “Kenalan yang nyuruh kamu bikin jamu racun untuk nyonya Bos?”

Tubuh Nadia bergetar halus. Ia menggigit bibirnya, lalu menunduk.

Dia tidak tahu detail rencana Elan. Tugasnya hanya berada di sisi Qale. 

Sementara itu, Wafa mendorong kursi rodanya ke dekat jendela kamar, tangannya terlipat. Qale bicara pelan. “Kak … kalau Nadia benar cuma disuruh orang lain, mungkin dia juga … korban?”

Wafa menoleh, menatap wajah istrinya. Ada kilatan ragu dalam sorot matanya, meski marah masih membara. “Sya, lihat kamu sekarang. Kalau aku terlalu lunak, besok bisa lebih parah.”

Qale menghela napas berat. “Aku ngerti … tapi jangan biarin kebencian bikin kita lupa kalau dia juga manusia.”

Kata-kata itu membuat Wafa terdiam beberapa detik.

Winda terlanjur geram, dia menyerahkan botol-botol jamu yang sudah diisi sesuatu pada Dewi, untuk diserahkan ke Bakar.

Di ruang interogasi, Bakar memukul meja keras. Nadia terlonjak kaget. “Jawab! Elan yang nyuruh kamu, kan?”

Nadia terdiam lama, lalu tertawa hambar. “Kalau aku jawab, apa jaminannya aku keluar hidup-hidup dari sini?”

Bakar menyeringai, wajahnya mendekat. “Nggak ada. Tapi kalau kamu diam, lebih cepat kamu nyesel.”

Sorot mata Nadia berubah—antara takut dan menantang. Ia lalu berbisik, hampir tak terdengar: “Elan bukan satu-satunya. Kalian bahkan belum tahu apa-apa.”

Bakar menegang. “Maksudmu siapa?”

Nadia menatapnya tajam, bibirnya menyunggingkan senyum getir. “Aku mau bicara… tapi hanya sama Pak Wafa.”

Dewi masuk, membawa botol jamu milik Nadia. Mata gadis itu melebar, wajahnya kembali pucat meski senyum tipis menyungging di sudut bibirnya.

"Mau cekoki aku lagi, huh?" tantang Nadia pada Dewi yang bersedekap.

Dewi diam, menyeringai tipis lalu menatapnya lurus. Tidak habis pikir, ada saja sampah seperti ini di sekitar orang-orang baik.

Bakar kembali ke kamar membawa kabar itu. Wafa mendengarkan, wajahnya kian tegang. Winda menggeleng tak percaya, sementara Qale mencengkeram ujung selimutnya, gelisah.

“Aku yang dia mau,” ucap Wafa akhirnya, suaranya dingin. “Kalau itu cara satu-satunya buat dapat kebenaran, aku akan temui dia.”

Qale langsung memegang tangannya erat. “Kak, jangan sendirian. Aku takut ada jebakan.”

Wafa menunduk menatap Qale, lalu mengusap puncak kepalanya lembut. “Tenang. Aku janji nggak akan gegabah.”

Keduanya lantas kembali ke ruang isolasi. Nadia semringah. Tapi Wafa langsung memasang wajah kaku.

"Siapa? Danisha?" kata Wafa.

Sedetik, wajah polos itu tampak kaget tapi rupanya dia sudah terlatih sehingga bisa menguasai dirinya lagi. Nadia masih diam, hanya seringai yang muncul. 

Wafa lantas melihat ke arah Dewi. Gadis itu mendekati Nadia, memaksa membuka mulutnya dan mencekoki dengan isi botol jamunya.

Nadia berontak, gelagapan. Wajahnya basah, cairan itu pun mengotori bajunya.

"Iya atau tidak!" desak Wafa.

Nadia masih diam. Dewi pun langsung mengulang hal yang sama padanya hingga berulang 3 kali. 

"Bodoh. Dia enak-enakan, kamu tersiksa sendirian di sini." 

Wafa lalu meminta Bakar memutar satu video. Nadia gusar ketika melihat layar laptop. Tubuhnya berontak, dia berteriak. 

"Kalian apakan dia?" serunya pada Wafa.

"Aman. Dia juga perempuan, kan? Gimana kalau nyobain seperti yang dialami istriku?" Wafa berkata pelan, masih dengan ekspresi datar.

"Jangan sentuh adikku!" 

Wafa pernah meminta Bakar menyelidiki semua orang yang berada di sekeliling Qale. Nadia dugaan terkuat, dia menerima sejumlah uang lumayan besar.

"Dapat berapa dari Danisha? 100 juta, 200 juta?" 

Video di layar memperlihatkan adik Nadia sedang duduk mengerjakan tugas di suatu tempat. Di belakangnya tampak pria berpenampilan mesum.

Nadia masih diam. 

"Para pria di belakang adikmu sedang lapar. Sementara Danisha? ... pikirkan lagi. Aku memberimu waktu 10 detik." 

Satu. Dua. Tiga. Delapan. 

Wafa meminta Bakar bersiap memberitahu anak buahnya di sana.

Sembilan. Sepuluh. Bakar menghubungi seseorang. Tuut. Tampak di layar, dua pria mulai bangkit dan akan menghampiri adiknya yang sedang duduk sendirian.

Nadia gusar. Dia berteriak, "STOP!" 

Bakar mematikan ponselnya. Wafa pun bicara lagi. 

"Apa yang Danisha janjikan padamu?"

Nadia menangis. "Sekolah adikku, utang pinjol juga rumah." 

Wafa masih diam. "Lea. Apa hubunganmu dengannya?" 

Nadia mengangkat dagunya

"atau Deni?" 

Sorot mata Nadia menegas. Wafa melihat Nadia, menyimpan sesuatu soal kakak Qalesya itu.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!