Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Pulang, yuk!
"Haaaaiiii, Al!" seru Qale semringah, senyum itu … senyum yang sudah lama tak pernah Wafa lihat ditujukan padanya.
"Mau makan atau pulang?" tanya Aldo, tersenyum manis.
"Mau balik. Sama siapa?" Qalesya balik bertanya. Keduanya terlibat obrolan seru sesaat. Qale tak mengenalkan Wafa meski Aldo sempar beberapa kali meliriknya.
Langkah Qale jadi tanda bahwa obrolan mereka berakhir. Keduanya akan bertemu lagi esok hari di toko setelah Qale pulang ngampus.
Wafa mendengus pelan saat kursi rodanya mendahului Qale. Dia kesal.
Sampai di dalam mobil pun Qale asik sendiri. Tersenyum sesekali melihat layar ponsel. Membuat Wafa menempelinya.
"Asik amat, Sya." Wafa melihat istrinya sedang ngerumpi soal dosen mereka di kampus tadi.
Qale masih diam. Dia mengetuk dua kali di permukaan ponselnya lalu layar pun meredup. Pandangannya fokus ke arah samping, melihat jalanan.
"Sya!" ulang Wafa. Namun hanya membuat Qale menoleh padanya tanpa bicara.
Wafa memandang sejenak, lalu merebahkan punggungnya ke jok. Dia tak melanjutkan, daripada Bakar mengejeknya nanti.
Sesampainya di rumah. Qale langsung beres-beres dan tidur membelakangi suaminya. Dia malas bicara dengan Wafa sampai keesokan harinya.
***
Siang itu, toko masih lengang. Qale sedang memeriksa catatan pesanan ketika suara pintu terbuka pelan. Seorang lelaki berpostur tegap dengan kemeja kampus masuk dengan senyum ramah.
“Qale?”
Qalesya menoleh. Wajah itu langsung ia kenali. Aldo, ketua BEM kampus, yang pernah beberapa kali menyapanya.
“Ngopi sambil ngemil, Al?” tanya Qale sambil tersenyum, ekspresinya lebih hangat daripada biasanya saat bersama Wafa.
Aldo menggeser ranselnya, lalu mengeluarkan berkas. “Boleh, pilihkan ya. Kita ngobrol di luar bentaran kali, ya," sambungnya sebelum bergeser ke kasir.
"Ok, croissant Ori dan espresso less sugar?"
"Sip." Aldo mengacungkan jempolnya.
Qale mengantar baki itu sendiri. Lalu duduk berhadapan dengan Aldo.
"Di kampus ada acara wisuda dua pekan ke depan. Kami butuh snack box untuk rapat persiapan, gladi resik, dan puncak acara. Total sekitar seribu croissant. Bisa nggak?”
Mata Qale membesar. Jumlahnya luar biasa besar, tapi senyum lega merekah di wajahnya. Akhirnya, ada tantangan nyata, ada kesibukan yang membuatnya lupa sejenak dari riuh masalah rumah tangganya.
“Tentu bisa. Aku atur produksinya mulai besok.”
Aldo tersenyum puas. “Syukurlah. Kami percaya sama kualitas tokomu. Jadi … terima kasih sudah mau bantu.”
Qale mengangguk sambil mencatat varian rasa yang Aldo mau. Rasa bahagia memancar dari sorot matanya.
Beberapa teman kampus dan seorang dosen, datang menyusul. Mereka panitia juga bendahara acara penting itu.
Wafa baru datang, dia langsung masuk dan duduk di dekat kasir, memperhatikan dari dalam. Rahangnya mengeras. Tatapan tajamnya tak pernah lepas dari cara Qale tertawa kecil, caranya bicara santai pada Aldo, bahkan cara Qale menunduk serius menulis pesanan.
Ada rasa asing yang meremas dada Wafa—cemburu. Tapi gengsinya membuat ia diam. Ia hanya mengetuk-ngetuk roda kursinya pelan, menahan emosi.
"Pak, serius amat," kekeh Ria saat menyuguhkan satu kopi dan onbitjkoek kesukaannya.
Wafa tersenyum simpul. "Kalau senyum gitu tuh, matanya terlihat normal," ujarnya.
"Masih terapi, kan? Kebayang kalau udah gak sipit sebelah, cantik bet, mana rambutnya ikal pula. Gemes," kata Ria tertawa kecil kala kembali ke belakang etalase.
Wafa mengangguk cepat, lalu menyeruput kopinya. Masih mengamati ekspresi Qale.
Tak lama, teman kampus Qale pamit. Aldo melambaikan tangan sambil bilang, “Saya tunggu progresnya ya.”
Qale mengantarnya sampai trotoar, lalu melambaikan tangan. Senyum yang begitu lepas. Senyum yang jarang sekali ia tunjukkan pada Wafa akhir-akhir ini.
Sore harinya, ketika toko hampir tutup, seseorang datang terburu-buru. Nadia. Wajahnya pucat, matanya resah. Ia langsung menyodorkan sebuah amplop cokelat pada Qale.
“Ini … kamu harus lihat. Ada rekaman tambahan. Tapi hati-hati, aku pun sekarang dalam bahaya.”
Qale menatap bingung. “Nadia, maksudmu apa?”
Gadis itu tak sempat menjawab panjang. Ia hanya menunduk, lalu pergi cepat seolah takut ada yang mengikuti.
Qale menggenggam amplop itu erat. Dadanya berdegup keras. Rasa bebas yang tadi ia temukan saat berbicara dengan Aldo, kini bercampur lagi dengan beban masa lalu yang belum selesai.
Malam tiba. Qale merebahkan diri di kamar, tapi pikirannya tak bisa tenang. Ia sudah bulat untuk pindah ke rumah ayahnya. Ia ingin keluar dari bayang-bayang Wafa.
Namun, ketika menutup mata, bayangan Wafa kembali hadir. Ingatan tentang tangan hangat lelaki itu menepuk tengkuknya saat ia tersedak di rumah makan kemarin. Bagaimana ia menuntunnya minum, memijat leher, dan menatapnya dengan cemas.
Degup itu kembali hadir. Kenapa hatiku masih bisa bergetar untuknya?
Qale menepis wajah Wafa dari benaknya, lalu menarik selimut rapat saat mendengar gagang pintu dibuka dari luar. Wafa akan masuk ke kamar, pikirnya.
***
Keesokan harinya, Hasan terlihat pucat tapi dia memaksakan diri menjenguk Lea.
Sesak di dadanya makin parah. Dengan napas terengah, ia akhirnya berani bertanya pada putrinya itu.
“Lea … jawab Ayah. Apa benar kamu bekerja sama dengan Nadia … mencelakai Lesa?”
Lea mendengus, pura-pura tersinggung. “Ayah ini kenapa sih? Semua salah-salahin aku. Nadia itu yang keterlaluan, Yah."
"Jangan bohongi Ayah, Lea," ucap Hasan, suaranya mulai berat. Dia mengusap dadanya pelan. "Kamu pake uang dari Ayah, pinjaman dari Qale buat bayar Nadia, kan?" Entah darimana keberanian Hasan muncul, berkata seperti itu pada Lea.
Lea menggebrak meja.
"Hidup di penjara itu keras, Yah, mahal. Biar nggak stres, nyuci baju, makan, salon kecil-kecilan … semua butuh biaya. Jadi jangan tuduh aku!”
Hasan membeku. Ucapan Lea menancap tajam. Rasa bersalah menghantam dadanya. Benarkah uang yang dulu Qalesya kumpulkan, justru dipakai untuk membiayai hal-hal remeh sementara anaknya sendiri menderita?
"Ayah pelit, gitu aja itungan sama Aku. Kewajiban Qale lah, bantu aku. Jangan mau kalau disuruh bayar! Sama orang tua kok itungan. Gitu tuh, kelakuan anak dari bini kesayangan, huh?" sambar Lea langsung bangkit dan meninggalkan Hasan di ruang jenguk.
“Ya Allah …,” bisiknya sambil menutup wajah. Dia pun bangun, langkahnya gontai menuju mobil.
Malam itu, di teras, Wafa memandangi langit. Kursi rodanya terparkir di sudut gelap. Ia menunduk, meremas jemarinya sendiri, menyiapkan kata-kata terakhir.
Kalau ini kesempatan terakhirku … aku harus lakukan dengan hormat.
Pintu depan tiba-tiba terbuka, Qale keluar mencari sandal rumah ayahnya. Ia terhenti. Pandangan matanya bertemu dengan Wafa yang menatapnya penuh kerendahan hati.
“Sya … pulang, yuk.”
Hening sesaat. Qale terdiam. Ada perasaan yang berputar tak karuan.
Dari dalam rumah, suara Mbak Mun terdengar . “Non, Tuan sudah saya kompres,” katanya.
Qale menoleh pada Wafa. "Ayah sakit."
Lelaki itu maju perlahan, roda kursinya berdecit di lantai. Wafa menarik istrinya masuk ke kamar. Pintu menutup rapat.
Dan sebelum Qale sempat bertanya apa pun, Wafa langsung menariknya ke dalam pelukan. Bibirnya menempel di bibir Qale dengan penuh kerinduan yang tertahan begitu lama.
Degup Qale kembali meledak. Kali ini, ia tak bisa lagi menyangkal.
"Aku menginginkanmu," bisik Wafa serak.
Bibir mereka berpisah sejenak. Qale terengah, tangannya sempat mendorong dada Wafa—namun lemah. Dalam hatinya, ia membenci kenyataan bahwa pelukan itu justru membuatnya merasa rindu.
Deg! Deg!
.
.