Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Vonis

Malam turun dengan sunyi. Pasangan Ambrasta pun lelap.

Sementara di rumah besar Danisha, suasana tak kalah hening.

Danisha duduk di tepi ranjang mengenakan gaun tidur tapi wajahnya muram. Ia menatap cincin berlian di jarinya—bukan tanda cinta, melainkan simbol gengsi. Semua terasa hambar. Di luar pintu kamar, dua petugas berjaga, memastikan ia tidak bisa kabur.

Ibunya baru saja keluar setelah menegurnya keras. “Tidurlah, Danish. Jangan bikin masalah lagi.”

Namun Danisha justru menendang bantal, wajahnya merah padam. “Aku diperlakukan seperti tahanan. Qalesya—perempuan hina itu—dipuji, disembah, disayangi. Sementara aku? Dibelenggu!” umpatnya.

Genggaman tangannya bergetar. Pikirannya liar, membayangkan cara untuk membalik keadaan. Ia tahu masih ada orang-orang yang setia padanya, sisa jaringan yang dulu dibangun ayahnya. Satu-satunya kunci tinggal waktu.

Di sisi lain, Elan terbaring di ruang tahanan dengan kaki diperban. Bau apek sel penjara membuatnya mual. Ia masih mengutuk keras.

“Semua ini salah Wafa! Kalau saja aku kenal lebih awal, aku yang duduk di sisi Qale. Bukan dia!"

Seorang polisi yang berjaga hanya melirik malas. “Sudahlah. Tidur. Besok kau diperiksa lagi.”

Elan mendengus. Ia tahu, hidupnya hampir tamat. Tapi masih ada satu peluang—jika ia membuka rahasia Danisha, mungkin hukumannya bisa diringankan. Senyum sinis merekah tipis di wajahnya.

“Kau pikir bisa selamat, Danisha? Aku tarik kau bersamaku. Biar kita hancur sama-sama,” kekehnya sambil meringis sakit.

Di kedua tempat itu—rumah mewah dan sel sempit—dua jiwa yang tersudut justru merajut niat untuk bertahan dengan cara paling kotor.

***

Sementara itu, di rumah sakit, suasana benar-benar berbalik.

Qalesya terbangun oleh sinar redup lampu kamar rawat. Infus di tangannya masih terasa berat, tapi pandangannya langsung jatuh pada cincin di jari manis. Hatinya bergetar—ia masih seperti bermimpi.

Di sampingnya, Wafa tertidur dengan kepala bersandar, kemeja putihnya sedikit kusut. Bahkan dalam lelap, tangannya tetap menggenggam jemari Qale erat-erat.

Senyum kecil terbit di bibir Qale. Ia menyentuh wajah suaminya dengan hati-hati.

“Kenapa aku baru percaya sekarang … kalau aku juga pantas dicintai,” bisiknya lirih.

Wafa membuka mata perlahan, lalu tersenyum hangat. “Pagi, Sayang.”

Qale tersipu, buru-buru menunduk. “Kak, tidur di situ semalaman?”

“Kalau aku lepas tanganmu, takut diculik lagi,” jawab Wafa bercanda.

Tawa kecil pecah di antara mereka.

Tak lama, suster masuk membawa sarapan untuk Qale. Winda datang menyusul dengan wajah penuh syukur. Kamar itu berubah seperti ruang keluarga hangat.

Setelah mandi, Wafa menyuapi Qale dengan sabar, meski wajah istrinya sudah memerah menahan malu.

“Aku bisa sendiri,” protes Qale.

“Tapi aku mau,” jawab Wafa tegas, menatapnya dengan cinta mendalam.

Sore harinya, ketika semua sudah pulang dan hanya mereka berdua, Qale tiba-tiba berkata pelan.

“Aku takut, Kak … takut semua ini cuma sementara. Takut bahagia ini direnggut lagi.”

Wafa menepuk lembut punggung tangan Qale, lalu mengusapnya penuh kelembutan.

“Sayang … kita udah berjanji di hadapan Tuhan. Aku ingin menua bersamamu, dengan semua luka dan senyummu.”

Qale menatapnya, matanya mulai basah, tapi hati merasa damai. Ia merentangkan lengan, meminta pelukan. Wafa mengabulkan, dan Qale menempelkan keningnya di dada Wafa, mendengarkan detak jantung itu.

"Ternyata, setenang ini ya, Kak." 

"Tenang karena kamu merasa aman, Sayang?" ujar Wafa mengecup pucuk kepala Qale.

"He em. Aman." Senyum Qale terbit, kian mengeratkan pelukannya.

Keesokan paginya.

Ruang pengadilan dipenuhi wartawan dan beberapa keluarga. Wafa datang masih memakai kursi roda. Dia tak ingin Lea dan Danisha tahu kondisi yang sebenarnya.

Danisha datang dengan wajah tegang, meski berusaha menjaga gengsi. Di sebelahnya, Elan duduk dengan kaki diperban, sementara Lea tampak santai meski tatapannya kosong.

Hakim memandang mereka satu per satu sebelum membuka sidang.

“Saudari Danisha, Saudara Elan, dan Saudari Lea, hari ini kita membacakan putusan perkara terkait perencanaan kejahatan terhadap Qalesya Namari Hasna.”

Pengacara Danisha berdiri, menyerahkan berkas. “Yang Mulia, klien saya mengajukan banding. Namun, sebagai pertimbangan meringankan, saya sarankan mereka menulis surat permohonan maaf untuk korban.”

Hakim mengangguk tipis. “Apakah Saudari Danisha setuju?”

Danisha mengangkat dagu angkuh. “Saya tidak melakukan kesalahan. Untuk apa saya minta maaf pada dia?”

Ibunya yang hadir di ruang sidang langsung menunduk dalam-dalam, dia memohon pelan, “Danish … tolong, Nak. Akui saja, minta maaf. Jangan keras kepala begini.”

Namun Danisha memalingkan wajah, bibirnya terkatup rapat penuh gengsi.

Elan memilih menulis secarik kertas permohonan maaf, meski kalimatnya singkat dan hambar. Berbeda dengan Danisha, ia sadar banding tanpa penyesalan hanya akan memberatkan hukumannya.

Hakim kemudian memanggil saksi-saksi. Nadia masuk lebih dulu, suaranya tegas meski sesekali bergetar.

“Saya melihat langsung bagaimana Danisha bersekongkol dengan Elan, berusaha melukai Qalesya. Semua rencana itu memang disengaja.”

Setelahnya, Lea dipanggil. Gadis itu melangkah masuk dengan santai, senyum tipis menghiasi wajah. Ia menjawab semua pertanyaan tanpa beban, seolah tidak ada yang salah dengan tindakannya.

Hakim akhirnya mengetuk palu terakhir.

Elan divonis hukuman penjara sesuai tindakannya, dengan sedikit keringanan karena menulis permohonan maaf.

Danisha tetap dinyatakan bersalah, meski hukumannya tidak seberat tuntutan karena pertimbangan usia ibunya yang sepuh. Namun karena menolak menulis permintaan maaf, hakim menutup kesempatan pengurangan lebih lanjut.

“Saudari Lea, karena turut serta merencanakan kejahatan, maka hukuman tambahan enam bulan masa tahanan dijatuhkan kepada Anda.”

Wajah Lea memucat. Ia melirik Hasan, berharap ayahnya menoleh, namun Hasan tetap menatap lurus ke depan, tak sekali pun memberi perhatian.

Selesai sidang, Hasan mendekati Lea hanya untuk berkata pelan, “Kamu harus belajar hidup tanpa ayahmu. Kalau nanti bebas, harta yang sudah dibagi waris akan tetap jadi hakmu. Tapi Ayah tidak akan lagi tinggal di sana.”

Lea terdiam, wajahnya mendadak kosong. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kehilangan. Dia melihat Hasan mengalihkan wajah, ada sakit di hatinya.

Wafa yang mendengar dari samping, hanya tersenyum tipis. Ada rasa lega melihat Hasan mulai berani bersikap tegas.

Di luar gedung, Wafa mendekati Hasan.

“Pak, tinggal bersama kita saja.”

Hasan menggeleng perlahan. “Tidak, Fa. Ayah ingin pulang ke desa. Di sana hatiku lebih tenang. Titip Lesa,” katanya dengan nada tenang.

Wafa terdiam, lalu mengangguk hormat.

Sorot lampu kamera wartawan memburu wajah Danisha yang menunduk kaku, Elan yang tertatih, dan Lea yang muram.

Setelah kembali ke rumah sakit. Qale menggenggam tangan Wafa. Hatinya bergetar, tapi lega. “Semua sudah selesai, ya…” bisiknya.

Wafa menoleh, menatap istrinya penuh cinta. “Iya, Sayang. Hari ini mereka mendapat jalan buntu. Sementara kita…” ia mengecup kening Qale lembut, “…kita baru mulai.”

Di luar gedung, hujan turun pelan. Bagi sebagian orang, itu tanda muram. Tapi bagi Qale dan Wafa, itu justru terasa seperti doa dari langit—membersihkan luka, mengawali hidup yang baru.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!