Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Fitnah
"Mau apa dia?" tanya Wafa sinis pada Ria.
Ria mengangkat bahu, lalu mundur ke belakang Qale. Dia takut dengan Wafa jika sudah mode garang seperti ini.
Qalesya membujuk pelan agar Wafa mau menemui barang sejenak. Pria itu mendengus, luluh dengan tatapan memohon sang istri.
Tangis seorang perempuan paruh baya pecah di depan toko, membuat suasana siang itu mendadak kacau. Beberapa pengunjung yang sedang memilih croissant berhenti, menoleh penasaran.
“Fa! Tolong keluar, Nak! Ibu butuh bicara sama kamu!” suara itu serak sambil terisak.
Qalesya mengusap lengan Wafa. Matanya beralih pada wajah yang masih menunduk, berusaha tenang, tapi rahangnya mengeras.
“Kak…” Qale memanggil pelan.
“Aku tahu,” sahut Wafa singkat, nadanya berat.
Wafa terdiam lama, lalu bangkit. Langkahnya mantap, meski jelas terlihat gugup. Qale menyusul di sampingnya, memberi kekuatan lewat genggaman tangan.
Mereka keluar. Ria tampak kikuk melayani pembeli di meja kasir. Sementara Rini, mengalihkan perhatian pelanggan dengan mempromosikan varian rasa Croissant andalan Anak Lipat.
Qalesya menarik lengan ibu Danisha ke meja paling ujung. Memintanya duduk tenang.
Nadia masih di dalam, malas karena tatapan dan lirikan kepo dari mata pengunjung yang makin banyak.
Qale menghela napas panjang. Ia tahu, Wafa tidak ingin berhadapan dengan beliau. Namun, membiarkan wanita ini menangis di depan toko juga akan mempermalukan mereka berdua.
“Kalau Anda begini, nama baik tokoku bisa rusak,” bisik Qale, matanya menatap lembut ibu Danisha. "Ada apa, Nyonya?" imbuh Qale.
Ibu Danisha langsung terisak lebih keras. Ia berlutut, meraih kaki Wafa. “Fa … maafin Danisha, Nak. Ibu yang salah tidak mencegahnya. Tolong kasih kesempatan…”
Orang-orang mulai berbisik. Qale yang melihatnya langsung berdiri, menunduk pada pengunjung.
“Mohon maaf, Bapak Ibu. Silakan lanjut belanja. Ini urusan keluarga.” Nada suara Qale tenang tapi tegas.
Wafa meraih lengan wanita ini agar berdiri. “Anda mempermalukan diri sendiri, Nyonya.”
Deg.
Tatapan ibu Danisha nanar, Wafa memanggilnya nyonya. Bukan ibu apalagi mama. Qalesya pun menoleh ke arah suaminya, heran dengan sikap Wafa.
Dengan berat hati, ibu Danisha bangun. Qale memintanya duduk kembali. Tangisnya belum berhenti, membuat suasana di dalam toko makin runyam.
“Fa…” suara itu lirih, penuh luka. “Mama dari lapas. Danisha sakit. Dia shock dan tertekan di dalam sana,” cicitnya pilu.
Wafa menatap kosong. Nafasnya berat, menahan gejolak emosi.
"Mama juga sendirian di rumah. Cuma Danisha yang Mama punya, Fa." Ibu Danisha meraih tangan Wafa dari atas meja, menggenggamnya erat.
Qalesya mulai risih. Sikap ibu Danisha tampak berlebihan dimatanya.
"Aku juga cuma punya satu rahim Anda tidak kasihan padaku?" sindir Qale.
Ibu Danisha mengabaikan Qale. Dia terus memohon pada Wafa.
"Biarkan Nisha belajar dari tindakannya," kata Wafa dingin. Dia menarik tangannya yang digenggam ibu Danisha.
Qale beranjak menuju pintu. Dia jengah. Malas menanggapi drama. Tapi saat Qale menarik tuas panelnya, ibu Danisha menunjukkan foto-foto Danisha di penjara.
Wafa bangun, tapi lagi-lagi ditahan wanita itu. "Liat, Fa. Nggak kasian? Demi masa lalu kalian," katanya lagi.
"Maaf." Wafa melerai cekalannya dan melangkah keluar toko.
Tangis ibu Danisha semakin menjadi. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Tapi, saat Qale akan mengikuti suaminya. Suara ibu Danisha terdengar lagi.
"Fa. Setidaknya Danisha pernah merasakan sakitnya keguguran juga. Jadi, derita istrimu adalah upah dosamu dulu," ucapnya kali ini.
Qalesya membola, langkah Wafa terhenti. Qale mendekati ibu Danisha. "Apa maksud Anda?"
Senyuman sinis itu pernah Qale lihat. Seperti milik Danisha.
"Anakku pernah hampir menikah dengan Wafa, Danisha meminta pertanggung jawaban dia tapi Wafa tidak mau. Akhirnya Danisha stres dan keguguran." Suaranya tampak tegas dan percaya diri.
Qale menoleh ke arah Wafa yang masuk lagi ke toko. Tatapannya meragu. "Kak?" tanya Qale lirih.
Wafa bertanya cepat. “Apa maksud Anda, Nyonya?”
Ibu Danisha menatap Qale lama, lalu menoleh bergantian pada Wafa. Bibirnya bergetar, kalimatnya keluar dengan penuh tekanan.
“Qalesya berhak tahu … kejadian yang sebenarnya.”
Hening.
Qale tertegun, darahnya serasa berhenti mengalir. Wafa juga terpaku, matanya mendadak gelap.
Belum sempat Wafa menjawab, ibu Danisha mengeluarkan sebuah album dari tasnya. Ia meletakkannya di meja, lalu mendorong ke arah Qale.
“Lihatlah ini.”
Qale ragu, tapi dia mendekat. Tangannya membuka halaman pertama. Matanya langsung membesar. Foto-foto lama—Wafa dan Danisha—tersenyum di sebuah kafe, tertawa bersama di taman kota, hingga potret mereka berbaring berdampingan dengan tatapan mesra.
Halaman demi halaman, Qale membolak-balik dengan tangan bergetar. Setiap lembar terasa seperti pisau yang menusuk dadanya.
“Cukup!” Wafa membentak, suaranya parau. Ia ingin meraih album itu, tapi Qale lebih dulu menutupnya rapat dan menjauhkannya.
Qale lantas menatap Wafa, matanya berkaca-kaca. “Kalau memang begitu, apa aku hanya pelengkap, Kak?” gumam Qale getir.
Wafa terdiam. Bibirnya terbuka ingin menjelaskan, tapi kata-kata seolah terhenti di tenggorokannya.
Sementara ibu Danisha menyeringai samar, lalu bersandar di kursi. “Kamu lihat sendiri, Qalesya … dia dulu milik Danisha. Kamu hanya pengganti.”
Hening.
Qale memejam, menarik napas panjang dan meletakkan album itu di meja. Lalu melangkah mundur, seolah ingin lari dari semuanya.
Wafa melangkah maju, hendak meraih Qale. Tapi Qale sudah menoleh, lirikannya penuh luka.
“Kak … jangan dekati aku dulu.” Suaranya pelan, tapi tajam.
Wafa terdiam, hanya bisa menatapnya dengan rahang mengeras.
Suara riuh mesin kasir yang tadi sibuk melayani pembeli serasa lenyap. Hanya degup jantung Qale yang terdengar begitu keras di telinganya sendiri.
Benarkah? Hubungan mereka berdua sejauh itu? pikir Qale. Ia ingin bertanya, tapi lidahnya kelu.
“Omong kosong!” tiba-tiba suara Nadia terdengar dari balik tirai dapur. Ia berdiri geram di sana, matanya tajam menatap ibu Danisha. “Itu fitnah! Jangan campur aduk masa lalu untuk menutupi kesalahan anakmu!”
Ibu Danisha justru tersenyum getir. “Fitnah? Ini fakta!”
Qale menggenggam sandaran kursi erat, tubuhnya bergetar. Ia memandang Wafa dengan mata penuh tanda tanya.
“Kak … apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Wafa membuka mulutnya, tapi sebelum satu kata pun keluar, ibu Danisha menunduk, lalu berkata lirih, “Kalau kamu nggak percaya, tanyakan sendiri pada suamimu. Dia yang paling tahu apa yang terjadi malam itu.”
"DIAM!" sentak Qale pada ibu Danisha. "Aku tidak bicara padamu!" Tatapnya sinis.
Dan di tengah toko yang makin hening, hanya suara napas yang terdengar, bercampur dengan detak jantung Wafa yang memburu—menyisakan jurang baru di antara dirinya dan Qale.
.
.