Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Album foto
Qalesya berdiri kaku. Album foto di meja masih tertutup rapat, tapi bayangan gambar-gambar di dalamnya terus menghantui.
Di sisi lain, ibu Danisha masih tersenyum tipis. Seolah puas melihat retakan kecil yang mulai terbentuk.
“Sudahlah, Qalesya. Kamu lihat sendiri siapa suamimu sebenarnya. Dia dulu milik Danisha.”
“Omong kosong!” Suara Nadia lagi. Langkahnya cepat, wajahnya merah menahan amarah. Ia berdiri di samping Qale, menatap tajam ibu Danisha. “Anda hanya memelintir masa lalu untuk menutupi aib anakmu sendiri!”
Qale menoleh cepat pada Nadia. “Tapi… fotonya?”
Nadia menatapnya penuh empati. “Foto bisa menipu, Mbak. Itu hanya potongan momen,” bisiknya menguatkan Qale.
Qale menggigit bibir, hatinya semakin gamang. Kata-kata Nadia masuk akal, tapi gambaran mesra di album itu tetap menorehkan luka.
Wafa akhirnya membuka suara, nada suaranya berat. “Sya, dengar aku. Masa lalu itu sudah lama berlalu. Aku nggak akan membiarkan kebohongan mereka menghancurkan kita.”
“Tapi kenapa dia bawa bukti seperti itu? Kenapa nggak dari dulu Kakak cerita padaku?” Qale balas dengan suara bergetar. “Aku capek kalau harus terus menerka-nerka. Aku nggak mau jadi orang yang tahu belakangan, Kak.”
Wafa menutup mata sejenak, menahan napas panjang. Ia tahu, satu kalimat salah saja bisa semakin menghancurkan hati Qale.
“Aku nggak pernah menganggapmu pelengkap, Sayang.” Suaranya rendah tapi mantap. “Kamu tempat aku pulang, yang membuatku ada sampai sekarang.”
Qale memejam, air matanya jatuh. Tapi keraguan masih menggelayut. Ia menggeser posisinya, melangkah, seakan ingin lari dari percakapan yang menyakitkan ini.
Nadia menahan lengannya. “Mbak Qale, jangan pergi dulu. Biarkan Pak Wafa jelaskan.”
Wafa melangkah mendekat, kali ini dengan tegas. Ia tidak memaksa menggenggam Qale, tapi berdiri di hadapannya. Mata keduanya bertemu—kecewa penuh tanya.
“Aku akan cerita semuanya,” ucap Wafa lirih. “Tapi bukan di sini. Hanya kita berdua.”
Ibu Danisha menyeringai tipis, merasa sudah cukup menanamkan racun. Ia bangkit sambil menenteng album itu. “Percuma, Fa. Kamu bisa memanipulasi kata, tapi gambar tak bisa bohong. Cepat atau lambat, Qalesya akan sadar.”
Wafa menoleh dengan tatapan dingin. “Pergi dari sini. Jangan pernah datang lagi.”
Wanita itu mendengus, lalu beranjak keluar. Isak tangisnya berubah menjadi seringai tipis, tapi kali ini tak lagi mendapat simpati.
Toko kembali hening. Rini menunduk di balik etalase, Ria pura-pura sibuk dengan mesin kasir. Hanya tersisa ketegangan di udara, antara Qale dan Wafa.
Qalesya menggenggam tangannya sendiri, bingung harus marah atau percaya. “Aku… aku butuh waktu.”
Wafa menatapnya dalam-dalam. “Kamu boleh marah, boleh ragu, boleh benci aku kalau memang harus. Tapi satu hal jangan pernah kamu lupakan—aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang,” tegas Wafa lagi.
Qale menunduk, jalannya gontai ke arah dapur. Dia berkemas ingin pulang.
Nadia mengikutinya ke belakang, lalu menyentuh punggungnya lembut. “Mbak Qale. Jangan biarkan orang lain menguasai hatimu dengan kebohongan.”
Dan di ruang toko yang sepi itu, Qalesya hanya terdiam beberapa saat. Antara percaya dan hancur, ia menunggu malam datang—menunggu Wafa membuka kebenaran yang selama ini disembunyikan.
***
Setelah dari toko Anak Lipat, ibu Danisha pergi ke Lapas.
Suasana ruang jenguk lapas siang itu penuh dengan bisik-bisik dan derap langkah. Aroma cat tembok kusam bercampur bau besi karatan dari jeruji, mendominasi udara ruangan.
Ibu Danisha duduk berhadapan dengan putrinya. Tatapannya penuh rencana, sementara Danisha menyender santai ke kursi dengan senyum lebar.
“Jadi, mereka goyah, Ma?” tanyanya dengan nada puas.
Ibu Danisha mengangguk, meletakkan tas di pangkuan. “Album itu cukup membuat Qalesya shock. Tinggal kita tunggu waktu, Wafa pasti terdesak.”
Danisha terkekeh, tawanya terpantul ke dinding ruang jenguk. “Bagus. Kalau rumah tangga mereka hancur, aku bisa bebas dengan mendekati Wafa lagi. Banding ini hanya soal waktu. Hakim akan kasihan.”
Sebuah suara berat menyela. “Selamat siang. Maaf, Nona Danisha ... perkara banding itu tidak menjamin bebas,” kata pengacaranya yang baru masuk, membawa berkas di tangan.
Pria itu duduk dengan wajah dingin. “Tapi kalau Anda bisa tunjukkan itikad baik, permohonan maaf ke Qalesya akan meringankan. Tulislah surat seperti Elan.”
Danisha menoleh cepat, wajahnya berubah masam. “Meminta maaf? Pada perempuan itu? Tidak. Aku nggak akan merendahkan diri.”
Ibu Danisha menyentuh lengannya. “Pikirkan baik-baik, Nak. Kalau hukumanmu dipotong, kita bisa lebih cepat membalas dendam.”
Danisha mendorong tangan ibunya pelan, tapi senyumnya kembali merekah. “Tidak usah, Ma. Aku lebih suka melihatnya hancur dulu, baru nanti aku keluar. Itu lebih manis.”
Belum sempat tawa puasnya mereda, terdengar keributan kecil di luar ruang jenguk. Seorang sipir lewat sambil menggiring perempuan berkacamata gelap menutupi hampir setengah wajahnya. Jalannya tertatih, tangannya meraba dinding.
Danisha melirik, alisnya terangkat. “Dia kenapa? Napi juga?” tanyanya pada sipir.
Sipir mendengus, “Katanya buta. Padahal pura-pura. Perempuan itu licik, banyak akalnya.”
Danisha menyeringai tipis. Matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. “Menarik…” gumamnya. Ia lalu menoleh pada ibunya. “Maa, terus awasi Wafa. Laporkan setiap kegiatan Qale juga. Aku harus cari celah.”
Ibu Danisha ragu. “Tapi kalau ternyata Wafa tetap bertahan sama istrinya?”
Danisha baru hendak menjawab, ketika sebuah suara asing menyela dari belakang.
“Apa? Wafa? Qale? Kalian siapanya mereka?”
Deg.
Danisha menoleh cepat. Suara itu milik perempuan berkacamata gelap tadi. Senyumnya melebar aneh, membuat bulu kuduk meremang.
“Kamu… kenal mereka?” tanya Danisha curiga.
Perempuan itu hanya tertawa—serak, dalam, penuh misteri. Tangannya terulur, seolah ingin meraba udara.
“Setan lagi-lagi bantu aku,” katanya dengan suara lirih masih menyeringai. “Mau kamu apakan mereka, hah? Aku penasaran.”
Mata Danisha berkilat. Ia meraih ponsel ibunya, membuka foto Wafa dan Qalesya yang tadi ditunjukkan. Lalu mendekatkannya ke arah perempuan itu.
“Kamu kenal mereka? Katakan.”
Perempuan itu meraba layar ponsel dengan ujung jarinya, lalu tertawa lebih keras. “Kenal atau tidak, bukan urusanmu. Tapi aku tahu, orang sepertimu tak mungkin ikhlas membiarkan mereka bahagia.”
Danisha menahan napas. Perempuan ini aneh, katanya buta, tapi seolah bisa mengenali gambar. Aura yang dipancarkannya membuatnya ingin terus mendekat. Ternyata ini yang dimaksud sipir dengan "pura-pura buta dan licik."
Akhirnya, ia menjulurkan tangan. “Aku Danisha. Kamu siapa?”
Keheningan merayap. Danisha menelan ludah. Ada sesuatu di balik tawa wanita ini yang membuatnya yakin.
Perempuan itu meraih tangan Danisha dengan cengkeraman dingin. Bibirnya melengkung, menyebutkan nama samar—
“Panggil aku….”
.
.