Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Banding Danisha
Malam berikutnya.
Setelah makan malam, para penghuni lapas bersantai sejenak di lapangan.
Danisha bertemu Lea. Gadis itu duduk di rumput, melihat rekan-rekan selnya bermain voli.
“Aku ada ide,” ucap Lea tiba-tiba. Matanya menyipit, penuh kebencian. “Qalesya itu rapuh. Dia trauma keguguran. Dia punya mimpi dan kita bisa manfaatin itu.”
Danisha menelan ludah. “Apa?”
“Bayar dulu,” Lea menyeringai. “Kalau kau mau aku bantu, kau harus kasih setengahnya, sekarang.”
“Aku nggak bisa sembarangan minta uang. Kau pikir gampang?” Danisha mencoba menolak, tapi suaranya terdengar ragu.
Lea mencondongkan tubuh. “Kalau begitu, aku bisa cari jalanku sendiri. Dan percayalah, kalau aku bicara … semua orang akan tahu siapa Danisha sebenarnya,” ujarnya pelan masih menyeringai.
Ancaman itu menggantung di udara. Danisha meremas jemari, menggigit bibirnya.
"Maksudmu?"
Lea terdiam, hanya sudut bibirnya yang melengkung senyum tipis.
"Jangan sampai mereka tau kamu seorang model yang nunggu keputusan banding," tuturnya berbisik. "Kamu bisa jadi santapan empuk," lanjut Lea, kini menoleh ke arah Danisha.
Glek! Danisha tak berkutik.
Keduanya terdiam, seolah menikmati jalannya permainan voli.
Akhirnya, setelah keheningan panjang, Danisha menghela napas berat. “Baiklah. Aku akan pikirkan caranya.”
Lea tersenyum puas. “Gitu dong.”
Danisha meneguk air minum yang dia bawa dari kantin, tapi wajahnya pucat pasi. Putusan banding menunggunya esok hari, dan kini ia justru terikat pada permainan kotor Lea.
***
Suasana ruang sidang pagi itu tegang. Seorang pria paruh baya dengan jas abu-abu masuk dengan wajah serius, membawa map tebal.
“Hari ini putusan banding dibacakan,” katanya singkat.
Danisha terdiam. Tangannya bergetar di bawah meja, sementara wajahnya dipaksa tetap tenang. Ia tahu—semua orang menunggu reaksinya. Bagaimana pun, ia harus tampil seolah baik-baik saja.
Dalam hatinya, Danisha diliputi kecemasan. Lea. Nama itu berputar-putar di kepalanya. Gadis labil yang tahu terlalu banyak rahasia. Lea bisa menghancurkan semuanya dengan satu kalimat saja.
[“Jangan sekali-kali dekat sama dia,”] pesan ibunya semalam kembali terngiang. [“Lea itu ular berbisa. Kamu akan terjebak seterusnya.”]
Danisha menggigit bibir. Ia tahu ibunya benar. Tapi ia juga tahu, Lea tidak semudah itu disingkirkan.
Di luar ruang sidang, derap langkah terdengar saat majelis hakim memasuki ruangan. Semua berdiri. Jantung Danisha seperti dipukul dari dalam. Sang hakim membuka berkas, menatap hadirin, dan mulai membacakan putusan banding.
“Mengadili…”
Danisha menggenggam ujung rok dengan erat, senyumnya dipaksakan tetap terjaga.
Danisha berdiri dengan wajah pucat di ruang sidang. Hakim mengetukkan palu, suara tegasnya menggema.
“Permohonan banding ditolak. Putusan sebelumnya—enam tahun penjara—tetap berlaku.”
Hening sejenak, lalu terdengar bisik-bisik di ruangan. Ibu Danisha panik. Sementara Danisha sendiri hanya terdiam, matanya merah, penuh kekecewaan.
Enam tahun. Tanpa alasan jelas. Semua kerja keras, semua uang yang dihabiskan, sia-sia.
Di lapas. Lea yang diam-diam mengikuti jalannya sidang dari para sipir, menyeringai tipis. “Kamu nggak punya pilihan sekarang," lirihnya.
Kalea berjalan santai menuju selnya. Bayangan hidup makmur di lapas kembali terbayang.
Hari ini dia menunggu Mun atau Hasan, jika keduanya tidak datang, Lea punya cadangan sumber dana. Danisha.
Menjelang sore, Danisha kembali ke lapas. Wajahnya sembab langkahnya gontai. Lea menyambutnya di pintu sel.
Danisha melihat Lea sekilas, dia malas menyapa dan langsung merebahkan dirinya di ranjang per tipis.
"Hey, murung amat," sapa Lea akhirnya, bersandar di pintu jeruji.
"Aku capek," jawab Danisha.
"Setidaknya jika cepat dilakukan, capekmu bakal ada gunanya," kekeh Lea masih berdiri bersedekap.
Danisha menarik napas panjang. Dia duduk di sisi ranjang. Menatap Lea dari atas sampai bawah.
Penampilan tenang tapi hati dan otaknya tidak waras. Wajah lugunya, siapapun takkan mengira jika Lea sakit mental.
"Apa idemu," tanya Danisha.
Lea masuk ke sel, duduk sebelahan dengan Danisha. Dia lalu membisikkan sesuatu. Tapi hanya setengah.
"Duit?" jeda Lea, menadahkan tangannya.
Danisha kesal, dia mengeluarkan amplop dari saku kemejanya. "Nih."
Senyum Lea terkembang. Dia membaui wangi uang itu lalu melanjutkan rencananya.
Danisha manggut-manggut, senyumnya muncul dan akhirnya mereka salaman tanda setuju.
***
Malam itu, Wafa pulang dengan wajah letih. Namun tidak ke rumah, ia langsung menuju toko Qale.
Qalesya sedang duduk lesu di meja kasir, merekap omset pekan ini.
“Sayang,” Wafa berjongkok, memegang tangannya. “Pulang, yuk."
Qale menggeleng. "Duluan saja, aku nginep di sini."
“Aku juga,” jawab Wafa lembut. “Kamu … rumahku.”
Qale melihat sekilas wajah Wafa. Menarik tangannya dari genggaman suaminya dan melanjutkan pekerjaan.
Wafa memutari etalase, mengambil minyak kayu putih dari laci obat di kolong meja. Dia berdiri ke belakang Qale dan mulai memijat pelan pundak Qale.
Awalnya Qale menolak, tapi Wafa mendekapnya dan mengecup pucuk kepalanya.
"Rileks Sayang," lirihnya.
Wafa menceritakan kegiatannya hari ini. Memancing Qale bicara. Soal menu baru, omset, promo dan kemasan.
Perbincangan yang Qale sukai hingga tak terasa keduanya berbincang sampai larut. Hingga akhirnya, Wafa kelelahan. Ia duduk di kursi panjang toko, kepalanya miring, matanya memejam.
Qale menatap lama wajah letih itu. Rasa trenyuh merambati dadanya. Ia melangkah mendekat, merebah di samping Wafa, lalu perlahan memeluknya. Hangat tubuh pria itu membuatnya tenang. Perlahan, Qale pun ikut terlelap dalam pelukan suaminya.
Wafa hanya pura-pura tidur. Setengah jam kemudian, dia membopong Qale ke kamar belakang. Memeluknya erat sebelum benar-benar terlelap.
Keesokan paginya, suasana canggung menyergap. Baju atasan Qale terbuka, tangan Wafa menyelinap masuk dan memegang dada kirinya.
Dia menggeliat, tapi malah desahan halus yang keluar. Membuat Wafa terjaga.
"Sepekan lagi ya, Sayang?" gumam Wafa di telinga Qale membuatnya meremang.
"Eegghh, Kaaakk." Lagi-lagi desahan keluar. Qale lalu menutup mulutnya, sementara Wafa terkekeh.
"Kamu bangunin dia, Syaaa."
Masih merasakan desir di perutnya, Qalesya melepas paksa tangan Wafa dari dadanya. Dia lalu bangun dan lari ke kamar mandi. Napasnya naik turun, wajahnya merona malu. Dia juga mulai menginginkan Wafa.
Mereka sarapan dalam diam. Satu merasa malu, satu lagi senang menggoda.
Tak lama, Bakar datang dengan membawa bukti.
“Ini, Bos. Foto-foto itu editan. Saya sudah cocokkan metadata dan sumber file.”
Sejurus itu, Nadia pun datang. Ia memberi kesaksian serupa. “Saya berusaha meski nggak seakurat Pak Bakar," tegas Nadia.
Qale mendengar semuanya, perlahan dadanya terasa lega. Meski belum sepenuhnya hilang, kepercayaan pada Wafa mulai tumbuh lagi.
Ia melihat ke arah suaminya yang hanya diam memperhatikan penjelasan dua orang di hadapannya.
“Gimana, Sya?” ucap Wafa menepuk punggung tangan Qale lalu membawanya ke atas pangkuan. "Masih ragu?"
Qalesya hanya mengangguk, tapi sorot matanya menghangat.
Beberapa menit kemudian, Wafa bersiap ke kantor. Qale melihat Bakar berbisik, membuat wajah Wafa langsung terlihat serius.
"Aku pergi dulu, Sayang," pamit Wafa, menarik pinggang Qale lalu mengecup bibirnya.
"Ada apa sih?"
Wafa menatap lama wajah mungil Qale. "Nanti nyusul ke kantor aja ya," pintanya sebelum pergi.
Qale menahan lengan suaminya. "Kok hatiku gak enak, Kak?"
.
.