Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Satu lapas
Qale terbangun lebih dulu. Wafa masih tertidur di kursi, laptopnya dibiarkan menyala dengan lembar presentasi terbuka. Qale menatap layar itu—berisi strategi komunikasi untuk direksi, lengkap dengan analisis risiko yang ditulis rapi.
Perlahan, Qale menutup laptop itu. Ia mendekat, merapikan semua peralatan di atas meja lalu menyelimuti tubuh Wafa dengan selimut tipis.
“Apa menikahiku menambah bebanmu, Kak,” gumamnya pelan.
Wafa bergerak sedikit, lalu matanya terbuka. “Sya, belum tidur?” suaranya serak.
“Udah bentar tadi. Cuma bangun lagi,” jawab Qale.
Wafa bangun, lalu menariknya duduk di sisi ranjang. “Jika semua ini selesai. Honeymoon sebulan ya, Sayang.”
Qale tersenyum mengangguk, tapi dalam hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal. Lea. Nama itu menempel seperti bayangan yang enggan pergi.
Wafa menyibak selimut, keduanya lalu berbaring memeluk.
"Kak," bisik Qalesya.
"Ehm."
"Aku mau jenguk Kak Lea besok," pintanya pada Wafa.
Kecupan kecil mendarat di pelipis kanan Qale. "Buat apa, Sayang?"
"Entah, hatiku mengatakan harus ke sana," jawabnya sambil memeluk Wafa.
"Kalau gitu, ditemani Dewi," balas Wafa, sambil menguap.
Qalesya mengangguk saat Wafa menarik selimut hingga menutupi bahunya.
Keesokan pagi.
Bakar datang membawa beberapa dokumen. Ia meletakkannya di meja toko Anak Lipat.
“Nyah, ada temuan baru. Video deepfake itu dibuat di studio. Saya sudah temukan orang yang menyebarkannya pertama kali.”
“Siapa?” Qale menahan napas.
Bakar membuka laptopnya lalu menggulir ke sebuah aplikasi dan mencari usernamenya. Satu akun muncul di sana. Tidak ada postingan sama sekali di bionya.
"Kosong?" tanya Qale heran.
“Seorang buzzer bayaran. Akunnya terkait dengan jaringan yang pernah dipakai beberapa oknum, untuk event tahunan atau pesta demokrasi," tutur Bakar lengkap.
Ria ikut bertanya, "brati … ada dana besar masuk dong? serem amat? Apa jangan-jangan Danisha,” jelas Ria sambil menggaruk kepalanya.
"Hush, hati-hati fitnah," sambar Qale menyenggol lengan rekannya ini.
"Bisa jadi, tapi saya belum dapat buktinya," pungkas Bakar.
Nadia yang baru saja datang ikut menyahut, “Tapi kenapa harus menyerang lewat toko? Kalau mau menjatuhkan Mbak Qale atau Pak Wafa, kenapa nggak langsung aja?”
Bakar menatap mereka serius. “Karena mereka tahu titik lemahnya ada di sini. Anak Lipat adalah nyawa Nyonyah. Kalau Nyonyah hancur, Bos Wafa goyah, perusahaan diambang bahaya. Mereka maunya begitu.”
Qale mengepalkan tangan. “Nggak. Aku nggak akan kasih mereka menang. Toko ini tetap buka. Aku nggak mau menjadi kelemahan suamiku,” katanya bersemangat.
Hari ini dirinya tak sempat mengunjungi Lea di lapas. Qale sibuk membuat konten klarifikasi juga menaikkan postingan croissant yang tertunda.
Dia pergi kuliah seperti biasanya. Menulikan telinga juga bersikap sedikit cuek menjadi pilihan Qale. Dia tak ingin salah langkah yang bisa membuat posisi Wafa terjepit.
Malamnya, Qale dan Wafa duduk berdua di balkon rumah. Angin berembus, membawa aroma hujan yang akan turun sebab langit malam ini terasa lebih gelap dari kemarin.
"Kak, mereka masih menyudutkanmu?" kata Qale tiba-tiba.
"Santai itu sih, Sya. Jangan dipikirkan oke?" ujarnya saat merangkul Qale.
"Kalau aku ikut ke rapat direksi, gimana?” sambung Qalesya lagi.
Wafa menoleh cepat. “Sya, jangan. Itu bukan tempatmu. Mereka akan menyerang habis-habisan.”
“Justru itu. Aku harus hadapi. Aku harus minta maaf langsung. Kalau aku bersembunyi, mereka makin yakin aku sumber bebanmu.” Qale memandangi balik wajah suaminya, ada semangat mengilat di manik mata sipit ini.
Wafa menghela napas, menatap dalam ke mata istrinya. “Kamu nggak salah. Kenapa harus minta maaf?”
“Karena aku nggak mau jadi alasan orang meragukanmu,” jawab Qale lirih.
Wafa terdiam lama. Akhirnya ia mengusap pipi Qale. “Kamu keras kepala ya … tapi aku bangga. Besok kita hadapi sama-sama.”
Keduanya lalu saling memeluk, menikmati malam sebelum tangan Wafa kembali usil menjelajah gaun tidur Qalesya.
Keesokan pagi.
Ruangan direksi kembali penuh dengan tatapan kaku. Qale masuk bersama Wafa. Ia berdiri tegak, meski jantungnya berdegup kencang.
“Saya Qalesya ingin menyampaikan permohonan maaf tentang peristiwa kemarin yang menyeret nama perusahaan."
"Kami akan menyelesaikan ini sendiri. Anak Lipat bukan tanggung jawab perusahaan Ambrasta Corp, melainkan saya pribadi.”
Direksi saling pandang. Beberapa mengangguk tipis, sebagian lain tetap dingin.
Qale juga menambahkan, “Dan saya tegaskan bahwa kebenaran akan segera kami buktikan. Tolong beri waktu.”
Sesi rapat itu penuh ketegangan. Tapi setidaknya, Qale sudah menegakkan kepala. Ia keluar ruangan dengan napas lega—meski dalam hati masih bertanya,
“Kenapa semua ini terasa berlebihan? Anak Lipat kan perkara kecil seharusnya tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan sebesar ini.”
Di luar ruang rapat, Bakar menunggu Qale. Dia diminta Wafa untuk mengantarkan nyonya mudanya ke lapas, mengunjungi Lea sebelum pulang ke toko.
Qale langsung ke ruangan sipir meminta izin penjengukan. Dia ingin sekali melihat kondisi Lea setelah Hasan tak menjenguknya beberapa pekan lalu. Bayangan Lea masih menempel di benaknya, menuntut jawaban.
Setelah menunggu beberapa menit. Wanita berkacamata hitam itu muncul.
Lea menyeringai tipis sambil membenarkan posisi kacamatanya sebelum duduk.
"Ngapain?"
"Galak amat, dikasih makan apa sih? Cabe ya?" Kekeh Qale.
Brak!
"Ngeledek ya lu! Pulang sana. Kukira ayah yang datang taunya ulet bulu," ketus Lea menunjuk wajah Qale.
Qale mengetuk meja. Tatapannya lurus ke arah Lea. "Masih dipake aja kacamatanya, kan udah jadi rahasia umum kalau nggak buta," kekeh Qale kali ini dengan nada sinis.
Lea memajukan posisi duduknya, lalu berbisik, "Tau apa kamu, huh? jangan banyak bacot! Kamu diem aja udah bikin aku muak," ucapnya tajam.
Qalesya tak kalah gertak. Dia pun ikut memajukan tubuhnya. "Bagus kalau gitu. Akan aku pastikan muak menjadi menu utama di hidupmu, Kalea."
Masih dengan nada sinis, Qale melanjutkan. "Entah kenapa, hatiku mengatakan bahwa kamu penyebab segala kerumitan ini. Tapi gapapa, aku justru berterima kasih karna karma baikmu teralihkan untukku," tutur Qale pelan.
Lea meradang. "Tunggu aku bebas," ucapnya singkat.
Qale mengangguk. "Aku tunggu, Kak. Pastikan dirimu sehat di dalam sini, ok?" Dia bangkit, baginya sudah cukup.
Pernyataan Lea meski tidak secara langsung, sudah membuat Qale yakin bahwa Lea pasti ada hubungannya dengan ini.
Qale keluar dari sana. Saat berjalan di lorong dengan Bakar. Tiba-tiba otaknya berpikir sesuatu. Qale berhenti.
"Pak?"
Bakar ikut berhenti, menoleh ke arah nyonya mudanya. "Ya?"
"Danisha, di lapas mana ya?" tanya Qale dengan tatapan kosong.
Deg!
Keduanya saling pandang. Bakar langsung menghubungi seseorang dan jawabannya membuat mereka tercengang satu sama lain.
.
.