Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Kontribusi Hasan
Winda terkekeh melihat ekspresi Hasan. Dia lalu ke atas, mengetuk kamar Qale dan mengajaknya makan siang.
Saat Winda mengetuk satu kali, pintu bercat putih itu terbuka. Qale muncul dengan wajah segar. Rambutnya setengah kering membuat Winda menyimpul senyum.
"Kirain keluar 3 hari kemudian," kekeh Winda sambil menarik lengan menantunya.
Qale menunduk malu. Apakah penampilannya begitu kontras? Atau ada tanda jejak Wafa di tubuhnya dan terlihat Winda?
"Perasaanku gak enak," gumam Qale, meraba lehernya.
"Mama pernah muda," sambung Winda saat mereka menuruni tangga.
"Ish, Maa."
Hasan semringah melihat putrinya muncul. Mereka lantas makan malam, bercengkrama sampai Wafa pulang sore hari.
Qale meminta Hasan menginap karena ayahnya terlihat lelah. Hasan pun setuju, dia juga ingin menjenguk Lea esok pagi. Sudah nyaris satu bulan dia tak melihat putri sulungnya itu.
Suara-suara lirih kembali terdengar di kamar Qale sepanjang malam. Entah pakai kekuatan apa, tenaga Wafa seperti tak ada habisnya. Lagi-lagi Qale terkapar tak berdaya.
***
Keesokan harinya.
Siang itu udara terasa pengap. Gudang tua di pinggiran kota yang lama tak terpakai jadi lokasi pertemuan rahasia. Bau debu bercampur karat besi memenuhi ruangan, membuat suasana makin tegang.
Bakar berdiri di tengah, menatap tiga orang yang duduk dengan tangan terikat di kursi kayu reyot. Wajah mereka pucat, sebagian lebam, jelas bekas dihajar anak buah Bakar.
Qale berdiri di sisi pintu, wajahnya pucat. Kelelahan masih jelas terlihat dari sorot matanya, tapi ia memaksakan diri hadir ditemani Nadia.
Bakar, dengan tatapan tajam dan nada berat, mendekat ke arah mereka.
“Nyah, ini mereka,” suara Bakar pelan ketika Qale masuk, langkahnya ragu.
Qale menahan napas. Jantungnya berdegup kencang saat pandangannya menyapu wajah para pria itu. Ada satu yang ia kenali, yang dulu memesan dan mengambil croissant pesanan komunitas.
“Itu kamu…” Qale mendekat, suaranya dingin. “Kamu yang bawa pesanan ke acara komunitas itu kan?"
Pria itu menunduk, tak berani menatap.
Bakar memberi isyarat. Salah satu anak buahnya menarik paksa rambut pria itu, memaksa wajahnya menghadap Qale.
“I-ya… tapi saya cuma diperintah,” katanya gemetar.
“Siapa yang perintah?” desak Bakar, nadanya berat.
Pria itu melirik dua temannya. Salah satunya langsung bersuara, ketakutan. “Kami cuma jalankan order. Ada yang bayar lewat rekening bodong. Nominalnya gede. Suruh tukar isi croissant jadi basi, foto, terus sebar ke media.”
“Media? Maksudnya akun buzzer itu?” sela Qale cepat.
Pria itu mengangguk. “Iya, Bu … kami nggak tahu siapa di baliknya. Cuma ada satu nama yang kami dengar…”
Semua mata menoleh.
“Nama itu … Sasmita.”
Deg!
Qale membeku di tempat. Nama itu meluncur seperti palu godam yang jatuh tepat di dadanya. Ia menoleh pada Bakar, wajahnya penuh gejolak.
Bakar menghela napas panjang, lalu menoleh ke anak buahnya. “Pastikan mulut mereka dikunci. Jangan sampai info ini bocor keluar. Kita main diam-diam dulu.”
Qale masih terpaku. Tangannya mengepal. “Jadi benar … ada hubungannya dengan Lea. Danisha pindah ke lapas Lea, lalu ini. Semua nyambung.”
Bakar menepuk bahu Qale, mencoba menenangkan. “Nyah, sabar. Belum tentu Lea yang langsung gerak. Bisa saja lewat orang suruhan. Kita butuh bukti lebih.”
Tapi Qale menatap lurus ke arah para pelaku. “Aku nggak akan biarkan siapapun injak-injak hidupku lagi.”
Hening sejenak. Gudang tua itu seakan menahan rahasia besar yang baru terbuka sebagian.
Qale menghela napas, lalu berbisik pada Bakar. “Jangan bilang Kak Wafa dulu.”
Bakar menatapnya serius, melihat ke arah perut Qale. Dia kuatir. “Baik, Nyah. Tapi ini medan berbahaya.”
Qale menatap sekali lagi ke arah para pelaku, lalu duduk di sana. Ada tekad baru di wajahnya.
Hari itu, ia sadar musuh di balik bayangan ternyata orang terdekatnya sendiri. Bakar lantas melanjutkan interogasinya.
“Aku kasih kalian dua pilihan,” ucapnya dingin sambil mengeluarkan sebilah parang dari balik jaket kulitnya. “Ngaku … atau kaki kalian satu per satu aku potong. Lalu aku kirim ke keluarga masing-masing. Mau lihat ibu kalian nangis terima potongan tubuh kalian?”
Tiga orang itu serempak bergetar. Salah satu dari mereka berusaha bersuara, tapi suaranya tercekat.
Bakar menendang kursi hingga si pria hampir terjungkal.
“Jawab!” bentak Bakar.
Akhirnya, pria berambut cepak itu merintih, “I-itu … kami cuma disuruh.”
Qale mengepalkan tangannya. Ia menahan diri agar tidak emosi.
Nadia melangkah maju. Ia sudah siap dengan ponselnya. Kamera menyala, merekam wajah para pelaku dari sudut jelas.
“Kalian ulangi semuanya. Jelaskan apa yang kalian lakukan. Dan minta maaf. Biar jagat Indonesia tahu siapa kalian sebenarnya,” perintahnya tajam.
Dengan tubuh gemetar, mereka satu per satu bicara. Mengakui peran masing-masing: yang memesan croissant, yang menukarnya, dan yang menyebarkan kabar bohong hingga menciptakan fitnah besar.
“Lebih keras!” desak Bakar. Ia mengibaskan parang hingga berkilat di bawah sinar lampu redup.
Tak ada pilihan lain. Mereka pun menulis permohonan maaf di atas kertas, tangannya gemetar. Nadia merekam seluruh prosesnya. Kamera menangkap ekspresi ketakutan yang nyata.
Namun, saat satu nama disebut, Bakar langsung bergerak cepat. Ia menutupinya dengan kain, memastikan identitas orang besar di balik layar tetap tersembunyi dari publik.
“Cukup.” Bakar akhirnya menurunkan parangnya. “Simpan semua video ini. Kita bawa pulang.”
Malam itu, Qale dan Bakar pulang membawa hasil rekaman. Qalesya terlihat lelah dan langsung masuk ke kamar.
Hasan yang masih menginap di rumah menyambut dengan tatapan penuh tanya. Tapi, tak tega mengganggu lebih jauh. Putrinya baru saja sehat.
Hasan menunggu waktu tepat di sore hari, sebelum Wafa pulang. Kesempatan ngobrol dengan Qale cuma sebentar sebab Wafa akan langsung mengurung Qale di kamar.
Setelah asar.
Qale menyerahkan ponsel kepada ayahnya.
Hasan menonton video itu tanpa bersuara. Hanya helaan napas berat terdengar dari dada tuanya.
“Sekarang jelas, Yah,” Qale berucap pelan. “Tapi tolong … jangan sampai Kak Wafa tahu.”
Hasan menepuk bahu putrinya, memberi isyarat bahwa ia mengerti. Tak lama Wafa pulang, Hasan menyerahkan ponsel, menyapa menantunya sebentar lalu jalan-jalan dengan Bakar.
Esoknya, Hasan mendatangi lapas. Seperti biasanya, ia masuk ruang kunjungan dengan wajah tenang, meski hatinya penuh resah.
Lea ada di sana, duduk dengan tatapan penuh amarah. Hasan mencoba membujuk, memberi wejangan agar ia berhenti mengacaukan hidup orang lain. Namun Lea hanya tersenyum sinis, pura-pura tak peduli.
Hasan kemudian minta dipertemukan dengan Danisa. Gadis itu duduk diam, wajahnya murung.
“Danisha,” suara Hasan berat, “jauhi Lea. Demi keselamatanmu sendiri.”
Danisha terdiam. "Siapa kamu?"
“Anakku Lea. Dia itu … gila,” Hasan menggelengkan kepala, nada getir terdengar jelas. “Kalau kamu terus di dekat dia, kamu juga akan hancur. Percaya atau tidak terserah ... lepaskan saja. Fokus memperbaiki diri, meringankan hukuman, lalu keluar dan menata hidup. Masih ada masa depan untukmu.”
Danisha ingat wajah ini. Dia pernah melihatnya satu kali di persidangan Elan dulu.
Mata Danisha berkaca-kaca. Dalam hatinya, ia tak menyangkal kebaikan Hasan. Lelaki itu penuh kasih, mirip dengan Qale. Sementara Lea… justru kebalikan dari itu. Namun saat Hasan berdiri dan pergi, pikirannya kembali berkecamuk.
Begitu keluar ruang kunjungan, ia mendapati Lea berdiri di luar, menunggu.
“Ngapain lagi si tua itu bujukin kamu?” Lea menyeringai, bibirnya penuh ejekan. “Kamu percaya dia? Hah?”
Danisha tercekat. Hatinya terhimpit antara kebaikan yang baru saja ia dengar, dan bayangan gelap yang selalu Lea tawarkan.
Sementara Hasan, melangkah dengan harapan. Ini adalah kontribusi terkecil darinya untuk Qale. Dia yakin Danisha masih bisa dibujuk oleh kelembutan.
.
.