Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Kekonyolan Wafa
Malam itu, rumah terasa lebih hangat dari biasanya. Qale duduk di ruang tamu dengan Winda, pura-pura fokus pada acara televisi. Padahal pikirannya masih penuh dengan wajah Danisha—tatapan bingung saat ia mendengar nama Lea.
Pintu depan terbuka. Wafa baru pulang kerja, dasi sudah terlepas, kemeja separuh terbuka. Senyum lebar sempat menghiasi wajahnya, tapi langsung memudar ketika melihat Qale bersama Winda.
“Tumben nonton di sini, Sya?” tanyanya singkat.
“Mama pengen ngobrol bentar sama Qale. Kamu mandi dulu sana, lelah banget mukanya.” Winda bangkit, menepuk bahu putranya, lalu ke ruang makan.
Begitu tinggal berdua, Wafa berjalan mendekat. Tatapannya lekat, membuat Qale terdiam.
“Kamu tadi ke mana?” suaranya pelan tapi menekan.
Qale mengedip cepat, menelan ludah. “Ke luar sama Pak Bakar … sebentar aja.”
“Sebentar? Hampir setengah hari kamu pergi.” Wafa duduk di sampingnya, menunduk, menatap wajah Qale dari jarak nyaris menempel. “Apa sih yang kalian rahasiain dari aku?”
Qale menggeleng cepat. “Nggak ada, Kak … beneran.”
Wafa menghela napas panjang, kemudian meraih tubuh Qale ke dalam pelukannya. “Aku nggak suka. Kamu tuh milikku, Sya. Meskipun pergi sama Bakar.”
Nada posesifnya bikin dada Qale berdegup lebih cepat. Ia tahu Wafa mencintainya, tapi juga tahu cintanya berubah jadi semacam belenggu.
“Mulai sekarang … kalau kamu pergi, aku ikut. Titik.” Suara Wafa dalam, tegas.
Qale menggenggam jemarinya. “Tapi …”
Belum sempat ia melanjutkan, Wafa menempelkan bibirnya di dahi Qale, lembut namun menekan. “Jangan bikin aku cemburu, Sayang. Kamu tahu aku bisa gila kalau terjadi sesuatu padamu.”
Qalesya mengangguk. Dia mengikuti Wafa yang menariknya naik ke lantai dua.
Malam itu Wafa benar-benar tak membiarkan Qale keluar kamar. Ia menuntut keintiman seolah ingin memastikan bahwa hanya dirinya yang ada dalam hidup Qale. Qale kelelahan, tapi dalam diam ia memilih pasrah, menenangkan diri dengan berpikir : aku masih harus sembunyikan semua ini … demi kebaikan.
Esok Paginya.
Winda mengetuk kamar Qale, membawakan sarapan. Begitu pintu terbuka, ia langsung melihat menantunya masih bergelung di dalam selimut.
“Ya ampun, Qale … kamu lagi-lagi kayak orang habis kerja rodi,” ucap Winda sambil menghela napas.
Qale nyengir malu. “Kak Wafa … ya gitu deh, Ma.”
Belum sempat ia menambahkan, Wafa muncul dari belakang, masih mengancing kemeja kerjanya. Ia menatap Qale posesif, lalu menoleh ke Winda.
"Istriku dilarang capek-capek, Ma. Cuma aku yang boleh bikin dia lelah.” Wafa lalu mengecup pipi Qale di depan ibunya, seolah menandai kepemilikannya.
Winda hanya menghela napas, "Jangan keterlaluan dong, Fa. Istrimu juga punya kegiatan lain selain uh ah doang," kekeh Winda saat melihat leher menantunya banyak tanda pink di sana sini.
Wafa tergelak, dia memeluk Qale yang tertutup selimut rapat. Mengecupi wajahnya sebelum menyuapinya sarapan.
Winda geleng kepala. Dia keluar kamar, menyembunyikan keresahannya. Ia tahu, ada rahasia besar yang belum diceritakan Qale pada Wafa. Dan cepat atau lambat, hal itu bisa membuat Wafa marah.
Siang itu ruang kerja Wafa terasa tegang. Tirai jendela setengah tertutup, membuat cahaya hanya masuk samar. Bakar berdiri tegap di hadapan meja kerja, sementara Wafa duduk bersandar dengan tangan terlipat di dada.
Tatapannya menusuk, senyumnya tipis tapi sarat dengan tekanan.
“Kamu akhir-akhir ini sering ngilang sama istriku.” Suara Wafa dalam, berat, namun tenang. “Kamu pikir aku nggak curiga?”
Bakar menarik napas, menahan diri agar tak terbawa emosi. “Saya ngilang bukan karena mau ngerebut Nyonyah dari Anda, Bos. Saya bantuin dia beresin urusan yang kotor itu.”
“Urusan siapa?” Wafa mencondongkan tubuhnya, suaranya pelan tapi tajam. “Lea?”
Bakar terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Iya. Ada antek-anteknya yang masih gerak. Danisha juga …”
Belum selesai ia bicara, Wafa menepuk meja dengan telapak tangan. “Ratain.”
Bakar mengangkat alis. “Ratain?”
“Iya.” Wafa menatap lurus. “Aku nggak peduli caranya. Siapa pun yang coba sentuh istriku, yang bikin hidupnya sengsara, ratain aja. Jangan kasih ampun.”
Hening sejenak. Bakar menimbang, lalu mengangguk. “Baik.”
Ia lalu membuka tas kecilnya, mengeluarkan sebuah tablet, menyalakan layar, dan meletakkannya di meja Wafa. “Semua laporan sudah aku kumpulin. Video, rekaman suara, transaksi, sampai CCTV lokasi persembunyian mereka..”
Wafa mencondongkan tubuh, menatap layar. Rekaman bergulir : wajah-wajah antek Lea yang terekam sedang rapat di gudang, suara samar pembicaraan mereka tentang “menggertak Qale lagi,” lalu bukti transaksi uang tunai yang disamarkan lewat rekening orang lain.
Bakar menambahkan, “Mereka pikir masih bisa main-main di belakang kita. Aku juga sudah tandai siapa penghubung loyal Lea selama ini.”
Klik. Bakar membuka file berisi daftar nama, alamat, dan catatan singkat.
Wafa tersenyum tipis, wajahnya dingin. “Bagus, Damkar.”
“Ada satu lagi.” Bakar menampilkan sebuah video singkat soal pengakuan pelaku.
Wafa hanya mengangguk. “Biarkan. Putus akses Lea saja. Itu penting.”
Wafa bersandar lagi, kali ini ekspresinya berubah. Ia mengambil kalender meja, membolak-balik halaman, lalu menandai tanggal-tanggal dengan spidol merah. Senyumnya samar, binar matanya terasa lain.
Bakar memperhatikannya. “Ngapain, Bos?”
“Hitung hari,” jawab Wafa pendek. Bibirnya melengkung, entah kenapa ia tampak puas melihat tanggal-tanggal yang dilingkari.
Bakar menyipitkan mata. “Hitung hari buat apa? Oh … jangan bilang lagi … nunggu panen.”
Wafa berhenti menulis, menoleh. “Maksudnya?”
Bakar nyengir. “Ya itu. Kayaknya kebanyakan bercocok tanam sama Qalesya," katanya menggoda. "Hati-hati, Bos. Tanaman kalau kebanyakan air malah busuk. Apalagi kalau nggak kena sinar matahari.”
Wafa melongo, dahinya mengernyit. “Masa sih? Bisa gitu?”
“Iya lah.” Bakar makin usil, menahan tawa. “Bayimu bisa ogah tumbuh gara-gara over disiram.”
Seketika wajah Wafa pucat. Ia buru-buru menutup kalender dan menatap Bakar serius. “Astaga … jangan bercanda, Damkar! Itu beneran?”
Bakar ingin tertawa lepas, tapi ditahannya. “Coba aja search,” imbuhnya dengan wajah dipaksa serius.
Wafa diam, berpikir. “Nggak mungkin ah.”
Bakar sudah tak mampu menahan tawa. Dia puas melihat wajah polos Wafa. Bakar buru-buru keluar ruangan.
Tak dia hiraukan panggilan Wafa yang memintanya mengaturkan jadwal konsultasi dengan dokter kandungan.
"Astaga … polos banget sih. Apa semua calon ayah begitu ya? Sedikit nganu?”
Wafa berdecak kesal di kantornya lalu berdiri. “Aku harus pastiin sendiri kalau gini.”
Tak butuh lama, Wafa benar-benar ke dokter kandungan, menanyakan dengan wajah serius : apakah pertumbuhan bayi bisa terganggu kalau suami-istri terlalu sering berhubungan?
Dokter sampai menahan senyum. “Tidak, Pak. Asal kondisi istri sehat, justru bagus untuk hormon bahagia ibu dan janin.”
Wafa keluar dari ruang praktek dengan wajah lega sekaligus kesal. Ia langsung menelpon Bakar, suaranya meledak.
“Damkaaaaaaar!! Aku rela keliatan bego nanya ke dokter segala!”
Bakar di seberang telepon terbahak keras, sampai air matanya menyembul di sudut netra.
Untuk sesaat, candaan konyol itu membuatnya lupa dengan tegangnya dunia yang sedang ia hadapi.
.
.