Petinju Tercepat di Dunia Kekacauan
1. Pertandingan Terakhir
Suara gemuruh penonton di arena terasa seperti dengungan lebah yang menyakitkan di telinga Arya. Bau keringat, minyak pijat, dan aroma tajam dari asap rokok di sudut tribun memenuhi udara yang pengap. Ia duduk di bangku sudut, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu tidak beraturan sebelum ronde pembuka dimulai.
"Minumlah, ini untuk keberuntunganmu," bisik Maya tepat di samping telinganya. Suara wanita itu lembut, namun ada nada yang tidak biasa, sebuah getaran dingin yang menyelinap di antara kata-katanya. Maya menyodorkan botol plastik kecil berisi cairan bening yang tampak menyegarkan di bawah cahaya lampu arena yang temaram.
Arya menatap botol itu sejenak, mencari tanda-tanda keraguan dalam mata Maya, namun ia hanya menemukan senyum tipis yang tampak tulus. Ia tidak menaruh curiga sedikit pun. Baginya, Maya adalah satu-satunya orang yang tetap berdiri di sisinya sejak ia memulai karier dari sasana kumuh hingga mencapai puncak kejayaan ini.
ini adalah pertandingan terakhirnya untuk mencapai gelar petinju yang tak terkalahkan. Dia ingin pensiun setelah ini dan menjalani kehidupan biasa bersama kekasihnya itu. sudah lelah rasanya menjadi seorang petinju.
Ia meneguk cairan itu dengan cepat, membiarkan rasa dingin mengalir di tenggorokannya yang kering. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: kemenangan. Ini adalah laga terakhirnya, sebuah persembahan sebelum ia menggantung sarung tinjunya dan meninggalkan dunia yang penuh dengan kekerasan ini untuk mencari ketenangan.
Satu ronde lagi, hanya satu ronde lagi, batinnya sambil mengencangkan tali sarung tinju. Ia ingin menutup kariernya dengan kepala tegak, sebagai sang juara yang tak terkalahkan, bukan sebagai petinju yang meredup karena usia. Namun, rasa dingin yang ia rasakan setelah meminum cairan itu mulai terasa berbeda.
Lonceng pertandingan berbunyi, memecah ketegangan yang menyelimuti arena. Arya melangkah ke tengah ring dengan langkah yang biasanya ringan dan mematikan. Namun, saat kaki pertamanya menyentuh kanvas, dunia di sekitarnya mulai berputar secara tidak wajar. Lantai ring seolah bergoyang seperti gelombang laut yang ganas.
Rasa mual yang hebat tiba-tiba menghantam lambungnya, sebuah gelombang panas yang naik dari perut hingga ke kerongkongan. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, tetapi oksigen seolah menolak masuk ke paru-parunya. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup debu panas yang mencekik.
Di sudut matanya, ia melihat Maya berdiri di barisan depan, tepat di balik pagar pembatas. Wanita itu tidak lagi tersenyum. Tatapannya kosong, dingin, dan sangat asing, seolah-olah ia sedang menyaksikan sebuah pertunjukan tragis yang sudah ia tulis skenarionya sendiri. Maya tidak bergerak, hanya menatap dengan ketenangan yang mengerikan.
Perutnya melilit hebat, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas organ dalamnya dengan kekuatan penuh. Keringat dingin mulai membanjiri punggungnya, membasahi kaus singlet yang ia kenakan. Fokusnya yang biasanya setajam silet kini mulai kabur, tertutup oleh kabut hitam yang menyesakkan.
Lawannya, seorang petinju Amerika bertubuh raksasa, mulai bergerak maju. Langkah kakinya terdengar berat dan mengancam di atas kanvas. Sang lawan menyeringai, melihat Arya yang tampak limbung dan kehilangan keseimbangan. Bagi penonton, ini tampak seperti Arya yang sedang melakukan taktik tipuan, namun Arya tahu ini adalah kehancuran.
Aku tidak bisa berdiri. Tubuhku... tubuhku bukan milikku lagi.
Pikiran itu melintas cepat di benaknya saat ia merasakan denyut nyeri di setiap inci sarafnya. Ia mencoba mengepalkan tangan, tetapi jarinya terasa lemas dan tak bertenaga. Cahaya lampu sorot yang menyilaukan kini terasa seperti jarum-jarum panas yang menusuk langsung ke kornea matanya.
Ketakutan mulai merayap di antara rasa sakitnya. Bukan takut akan kekalahan, melainkan takut akan rasa malu yang akan menimpanya jika ia tumbang begitu saja tanpa perlawanan. Ia tidak ingin dunia melihat sang juara runtuh karena kelemahan fisik yang tidak masuk akal di tengah laga paling penting dalam hidupnya.
Langkah kaki sang lawan semakin dekat. Suara napas beratnya terdengar jelas di tengah kebisingan penonton yang mulai riuh karena melihat Arya yang tampak goyah. Arya tahu, jika ia tetap di sana, ia hanya akan menjadi samsak hidup bagi pria itu. Ia harus melakukan sesuatu, apa pun itu, untuk menyelamatkan sisa harga dirinya.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Arya memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Ia tidak bergerak maju untuk menyerang, melainkan berbalik arah. Ia mengabaikan teriakan wasit yang memerintahkannya untuk tetap dalam posisi bertarung. Ia mengabaikan tatapan bingung dan ejekan dari penonton yang menganggapnya pengecut.
Ia berlari, menyeret kakinya yang terasa seberat timah menuju tepi ring. Setiap langkah adalah perjuangan melawan rasa ingin muntah yang terus membuncah di pangkal tenggorokan. Ia hanya memiliki satu tujuan di kepalanya saat ini: mencapai kamar mandi sebelum seluruh isi perutnya tumpah di hadapan ribuan mata yang menanti kehancurannya.
Perutnya terus melilit, tujuannya hanya satu. Muntah!