Petinju Tercepat di Dunia Kekacauan
6. Bantu Kami, Utusan Dewa!
Dentuman perang terus mengguncang ibu kota Fenris. Api membakar beberapa menara pertahanan di kejauhan, sementara teriakan para prajurit bercampur dengan suara benturan baja yang tidak pernah berhenti sejak pagi.
Puteri Naria terengah-engah.
Darah mengalir dari luka di bahunya dan beberapa bagian zirah peraknya telah retak akibat pertarungan yang tak kunjung usai.
Namun meski tubuhnya kelelahan, matanya masih menyala penuh tekad.
"Puteri! Mundur!"
Seorang ksatria berteriak sambil menebas seorang musuh yang mencoba menyerangnya dari samping.
Naria mengangguk.
Saat ini, bertahan hidup jauh lebih penting daripada mempertahankan harga diri. Pasukan Fenris yang tersisa segera membentuk formasi perlindungan sambil mundur menuju gerbang kedua istana.
Mereka bergerak cepat. Sementara di belakang mereka, lautan pasukan musuh terus mengejar tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk bernapas.
"Naikkan Gerbang Besi Kedua!"
Suara komandan penjaga menggema.
Beberapa prajurit segera menarik tuas raksasa yang tersembunyi di dalam dinding benteng.
GRRRRRRRR! Suara logam berat bergema. Tanah bergetar. Kemudian sebuah gerbang besi hitam raksasa perlahan muncul dari bawah tanah.
Gerbang itu jauh lebih tebal daripada gerbang utama yang telah dihancurkan sebelumnya.
Puluhan roda mekanis kuno berputar keras saat dinding logam setinggi puluhan meter naik dan menutup jalur masuk menuju istana.
BRAAAANG!
Gerbang kedua akhirnya terkunci. Pasukan musuh yang sedang menyerbu langsung menghantam dinding besi tersebut. Namun mereka gagal menembusnya.
Sorak lega terdengar dari pihak Fenris.Setidaknya mereka berhasil membeli sedikit waktu.
Naria menghela napas panjang.Tubuhnya terasa sangat berat. Sudah berhari-hari dia bertarung hampir tanpa istirahat. Jika bukan karena tekad mempertahankan kerajaan, mungkin dia sudah tumbang sejak lama.
Saat itulah dia melihat Henson berdiri tidak jauh darinya. Dan di samping penyihir tua itu berdiri seorang pria dengan pakaian yang sangat aneh. Pria itu mengenakan pakaian yang sama sekali tidak mirip penduduk Fenris. Tidak ada zirah. Tidak ada pedang. Tidak ada tongkat sihir. Hanya pakaian asing yang terlihat sederhana.
Arya. Utusan yang dipanggil melalui ritual kuno.
Naria memperhatikannya beberapa saat. Jujur saja, dia kecewa.
Inikah harapan terakhir Fenris?
Pria biasa yang bahkan terlihat kebingungan melihat medan perang?
"Apa ini orang yang kau panggil?" tanya Naria kepada Henson.
Penyihir tua itu mengangguk mantap.
"Benar, Yang Mulia."
Naria menghela napas.
"Dia tidak terlihat seperti pahlawan."
Arya mendengarnya. Namun dia tidak marah. Karena sebenarnya dia juga berpikir hal yang sama. Dia bukan pahlawan. Dia hanya seorang petinju.
Henson melangkah maju. "Yang Mulia, ritual ini tidak pernah gagal selama ratusan tahun. Orang yang dipanggil pasti memiliki kemampuan yang memenuhi syarat sihir pemanggilan."
Naria menyilangkan tangan. "Lalu apa kemampuan hebatnya?"
Henson menatap Arya.
"Kecepatan."
Arya sedikit terkejut.
Henson melanjutkan. "Sihir pemanggilan mencari seseorang yang memiliki kesesuaian dengan ramalan."
"Ramalan itu menyebutkan seorang pejuang yang bergerak lebih cepat dari mata manusia."
"Dan hanya dia yang mampu mengubah takdir Fenris."
Naria kembali menatap Arya. "Kau benar-benar secepat itu?"
Arya tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan hidupnya kepada mereka.
Di dunia asalnya, kecepatan bukanlah sihir. Bukan pula mukjizat. Itu hasil latihan bertahun-tahun.
Henson berkata dengan penuh keyakinan. "Aku yakin dia adalah orang yang dimaksud dalam ramalan."
"Kalau begitu..." gumam Naria.
Puteri itu terdiam beberapa saat. Matanya memandang para prajurit yang terluka. Para ksatria yang kelelahan. Rakyat yang ketakutan. Kerajaannya sedang sekarat. Fenris berada di ujung kehancuran. Lalu perlahan, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan para ksatria terjadi.
Puteri Naria menurunkan pedangnya. Kemudian dia berlutut dengan satu kaki. Para ksatria terkejut.
"Yang Mulia!"
"Puteri!"
Wajah mereka berubah pucat. Seorang puteri kerajaan tidak pernah merendahkan dirinya kepada orang asing. Namun Naria melakukannya. Harga dirinya tidak lagi penting. Fenris lebih penting.
Naria mengangkat kepalanya dan menatap Arya. Matanya yang indah dipenuhi kelelahan sekaligus harapan terakhir.
"Tolong..." Suaranya terdengar lirih. "Selamatkan Fenris."
Arya membeku.
Naria melanjutkan. "Aku memohon bantuanmu, Utusan Dewa."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Semua mata tertuju pada Arya.
Menunggu jawabannya.
Namun yang muncul di benaknya bukanlah Fenris. Bukan Naria. Bukan perang. Melainkan wajah Maya. Wajah wanita yang pernah dicintainya. Wanita yang menghancurkan hidupnya. Ingatan itu terasa begitu menyakitkan. Racun. Pengkhianatan. Kekalahan. Penghinaan.
Semua kembali menghantam dirinya sekaligus. Arya menundukkan kepala.
Lalu perlahan menggeleng. "Aku tidak bisa."
Wajah Henson berubah.
Naria juga terkejut.
"Apa?"
Arya mengepalkan tangannya. "Aku bukan pahlawan. Aku gagal menyelamatkan diriku sendiri. Aku bahkan tidak bisa melihat pengkhianatan orang yang paling kupercaya."
Matanya dipenuhi kemarahan. Kemarahan pada dirinya sendiri.
"Kalau aku tidak bisa menyelamatkan hidupku sendiri... Bagaimana mungkin aku menyelamatkan sebuah kerajaan?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka tidak memahami luka yang sedang dibawa Arya.
Namun mereka bisa melihat penderitaan di matanya.
Tiba-tiba—
BOOOOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh benteng.
Tanah bergetar hebat.
Para prajurit hampir kehilangan keseimbangan.
Semua orang menoleh ke arah gerbang kedua.
Di sana, cahaya merah menyala terang.
Seorang pendekar pedang musuh berdiri di depan gerbang raksasa.
Pedangnya memancarkan energi merah darah.
"Ha ha ha!"
Tawanya menggema.
"Apa hanya ini pertahanan Fenris?"
Energi merah berkumpul di bilah pedangnya.
Semakin besar.
Semakin mengerikan.
Kemudian dia mengayunkan pedang itu.
SLAAAAASH!
Gelombang energi raksasa melesat.
BRAAAAAK!
Gerbang besi raksasa bergetar keras.
Retakan besar mulai muncul di permukaannya.
Wajah para ksatria berubah pucat.
"Mustahil..."
Pendekar pedang itu mengangkat senjatanya sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Setiap serangan membuat retakan semakin besar.
Naria memandang ke arah gerbang itu.
Lalu tersenyum pahit.
Arya sudah menolak.
Harapan terakhir Fenris telah hilang.
Kalau begitu...
Dia hanya bisa bertarung sampai akhir.
Puteri itu berdiri kembali.
Mengangkat pedangnya.
"Siapkan seluruh pasukan."
Para ksatria menggertakkan gigi.
Mereka tahu apa artinya.
Pertempuran terakhir.
Perang yang tidak mungkin dimenangkan.
Sementara itu Arya masih berdiri diam.
Menatap semua yang terjadi.
Dalam pikirannya, dua suara saling bertabrakan.
Suara pertama berkata untuk menyerah.
Bukankah hidupnya sudah hancur?
Bukankah dia sudah kalah?
Namun suara lain terus berbisik.
Kau benar-benar akan lari lagi?
Kau akan kalah untuk kedua kalinya?
Kepalan tangannya semakin erat.
Maya telah menghancurkannya sekali.
Apakah sekarang dia akan membiarkan dirinya dihancurkan lagi oleh rasa takut?
CRAAAAAAASH!
Suara mengerikan menggema.
Gerbang besi kedua akhirnya pecah.
Potongan logam raksasa beterbangan ke segala arah.
Sorak kemenangan musuh mengguncang langit.
Pasukan pemberontak menyerbu masuk seperti gelombang banjir yang tidak terbendung.
Pada saat itulah Arya mengangkat kepalanya.
Matanya berubah tajam.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, semangat petarung yang pernah membawanya menuju puncak dunia kembali menyala.
Dia melangkah maju.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Dan dalam hatinya, sebuah keputusan akhirnya dibuat.
Dia tidak akan kalah lagi.