Bima terbangun dengan napas tersengal-sengal, tubuhnya terasa aneh berat dan kaku. Matanya terbuka, tapi yang dia lihat bukan wajah cerah dunia, melainkan tanah.
Banyak tanah. Bahkan lebih banyak tanah dari pada yang bisa dia hitung.
"Kenapa gue di sini? Kok gue bisa di bawah tanah gini?" Bima gemetar. Dia meraba tubuhnya tak ada lagi aksesoris manusia yang dikenalnya. Hanya ada kain kafan putih yang rapat, mengikat seluruh tubuhnya seperti perban sialan.
Dia menendang-nendang sekuat tenaga, berharap bisa bebas dari kuburnya, tapi yang keluar justru suara suuittt yang lucu banget, kayak suara angin lewat di antara kain. “Eh, ini beneran ... gue jadi pocong?!” teriaknya, panik. Setiap kali dia bergerak, kain kafannya melilit dan membuatnya kesulitan bergerak. Seperti mencoba berlari dengan balon udara di kaki.
"Oi! Siapa yang ganggu kuburan saya?!" sebuah suara terdengar dari atas.
Bima menoleh, mengerutkan kening. "Pak, tolong ... saya kenapa, ya? Saya di mana ini? Kenapa saya ada di sini? Tolong! Saya nggak mau mati!" teriaknya penuh harap, meski suaranya cuma terdengar oleh dirinya sendiri.
Dari lubang kubur, muncullah sosok pocong tua dengan kain kafan yang sudah lusuh, wajahnya penuh keriput dan suara kasar seperti orang yang sudah bertahun-tahun berurusan dengan dunia arwah.
"Eh, kamu ... baru dateng, ya?" suara itu bikin Bima langsung kaget. "Hati-hati, kamu baru mulai jadi pocong, jangan terlalu banyak gaya, nanti repot sendiri."
Bima memandang pocong tua itu, seolah menunggu jawaban logis. “Saya ... saya bukan pocong, Pak! Saya ... Bima! Gue nggak mau jadi pocong, Pak! Gue cuma mau hidup lagi!" teriaknya.
Pocong tua itu cuma tertawa kecil. "Anak muda ... udah otaknya cetek, bunuh diri seenak jidat, ya jangan harap bisa hidup lagi. Mending nikmatin hidup baru di sini aja."
Bima menggerutu, coba bangkit lagi meskipun langkahnya kayak bebek yang lagi belajar terbang. "Ini absurd banget! Gue cuma pengen ngomong sama Hanum! Pacar gue! Gue cinta banget sama dia! Plis, jangan nikah dulu," teriaknya dengan nada seolah-olah Hanum bisa dengerin dari dunia arwah.
Tapi entah kenapa, tanah yang tadinya terasa berat tiba-tiba jadi ringan, kayak di film-film. Dengan sisa-sisa kekuatan, Bima mulai menggali jalan keluar.
Dengan tubuh pocong yang kaku dan canggung, Bima akhirnya berhasil melompat keluar dari kuburnya. “Akhirnya! Gue bisa keluar!” teriaknya, meskipun tubuh pocongnya terlonjak-lonjak kayak anak ayam yang baru belajar jalan.
Bima mendongak dan melihat sekelilingnya, dunia yang sama sekali nggak seperti yang dia bayangkan. Langitnya nggak biru, malah kayak semburat pink cerah, seolah-olah dunia ini baru aja diwarnai pakai spidol.
Gedung-gedung tampak terbalik, ada hantu-hantu yang terbang dengan cara yang nggak waras. Ada yang terbang kebalik, ada yang meloncat-loncat sambil ngakak, ada yang makan es krim di udara. Semua hal yang harusnya aneh, jadi biasa aja di dunia arwah.
“Ah, ini semua arwah, kan? Gue kira cuma gue doang yang kayak gini. Ternyata dunia arwah emang begini, ya? Gila sih!” Bima geleng-geleng kepala, merasa seolah-olah masuk ke dunia yang paling kocak yang pernah ada.
Dengan langkah canggung, dia melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba, dari kejauhan, dia melihat sosok yang sangat ia kenal. Hanum! Pacarnya! Hanum sedang berdiri di depan toko bunga, tampak menunduk dengan wajah yang penuh rasa bersalah. Bima bergegas ingin mendekat, tapi ada yang menghalanginya.
"Bima!" teriak Hanum, tanpa melihat ke sekeliling. “Aku harus bisa move on. Aku harus bahagia. Kamu nggak ada lagi, Bima,” katanya sambil memegang bunga mawar dengan wajah penuh kesedihan. “Kamu tahu kan, Bima? Aku harus hidup tanpa kamu. Maafin aku.”
Bima terdiam, hatinya nyeri. “Hanum, kamu nggak salah, aku yang salah...!” gumamnya dengan suara serak, meskipun tak ada satu pun manusia yang mendengarnya.
Tapi baru saja Bima ingin mendekat, tiba-tiba terdengar suara lain.
“Duh, anak muda! Jangan teriak-teriak di sini. Udah jadi pocong kok masih banyak gaya!” kata pocong tua, Pak Hadi, yang muncul dengan wajah santai dan alis yang seolah ingin ngomong, “Jangan banyak tingkah deh!”
“Aduh, Pak Hadi! Jangan ganggu gue, dong! Gue lagi sedih nih!” Bima protes, meskipun kesedihannya cuma dirasain sama dirinya sendiri.
Pak Hadi mengangkat alis, "Kalo kamu teriak terus, bisa ketahuan orang loh, arwah tuh harus belajar diam. Begini nih, kamu bisa liat dunia hantu kayak apa?" Pak Hadi menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba dunia sekitar Bima berubah total.
Dunia arwah ini jadi semakin absurd. Semua hantu yang melihat Bima langsung kebingungan. "Pocong Korea!" teriak hantu-hantu di sekitar Bima, seolah-olah Bima baru saja menjadi selebritas dunia arwah.
“Pocong Korea?! Apa-apaan sih ini?!” Bima kaget, merasa dunia ini sudah nggak bener.
Di antara kerumunan, ada pocong lain yang mulai menggoda. "Pocong Korea, keren banget! Lo baru jadi pocong aja udah gaya banget! Gue sih kalo jadi pocong Korea, langsung jadi influencer!" teriak pocong itu, sambil melambaikan tangannya seolah sedang naik panggung.
Bima hampir mati gaya. “Apa-apaan sih ini?! Gue cuma mau kasih tahu Hanum!”
Tiba-tiba, muncul kuntilanak dengan daster putih panjang. Namun, yang bikin Bima terkejut adalah... dalam sekejap, kuntilanak itu berubah total.
Daster putihnya berubah jadi crop top modis dengan aksesori ala Syahrini—kacamata hitam besar, lipstik merah menggoda, dan rambut yang terurai sempurna.
Kuntilanak itu melangkah anggun, seperti model catwalk, dan berdiri di depan Bima. "Eh, Pocong Korea! Aku harus banget foto bareng kamu! Kamu pasti hits di dunia arwah, kan? Tips jadi pocong keren kayak gini gimana, sih?"
Bima cuma bisa melongo. “Kenapa semua jadi gila begini?!”
Kuntilanak itu terus berbicara tanpa henti, "Gini ya, Pocong Korea, aku follower dari akun Instagram hantu-hantu yang nge-trend. Aku udah liat foto kamu, keren banget, deh!"
Bima bingung, setengah mati. “Lo juga... ngapain sih dandan kayak gitu? Lo kan kuntilanak, ngapain sih jadi ala Syahrini?”
Kuntilanak itu tertawa, "Iya dong! Lo nggak tau? Dunia arwah sekarang harus ikut tren! Kalo nggak, bisa dicap kuntilanak ketinggalan zaman!"
Para pocong lainnya juga ikut-ikutan terkagum-kagum. “Pocong Korea, lo beneran keren! Ada tips nggak jadi pocong kece gitu?” salah satu pocong berteriak sambil jepret-jepret kamera.
Bima sudah hampir gila. “Gue cuma mau ngomong sama Hanum! Lo semua kayak orang gila!”
Pak Hadi, yang melihat kekacauan ini, akhirnya menggelengkan kepala. "Gitu lah, Nak. Dunia arwah tuh nggak bisa diprediksi. Semua orang jadi gila setelah mati. Mungkin lo yang akan lebih aneh lagi di sini, Bima."
Tiba-tiba, hantu-hantu yang mengelilingi Bima semakin ramai, terpesona. “Bima, kita selfie bareng yuk!” teriak mereka sambil mendekat.
Bima merasa otaknya hampir meledak. “Aduh! Lo semua nggak ngerti apa yang gue rasain! Gue bukan seleb hantu! Gue cuma Bima yang mau kasih tahu pacar gue!”
Tapi hantu-hantu itu malah semakin mendekat, ponsel mereka siap menangkap setiap gerakan Bima. “Come on, Pocong Korea, satu selfie aja! Lo keren banget, beneran deh!” teriak mereka serempak, seolah Bima baru saja menjadi idola dunia arwah.
Bima meremas kain kafannya, frustrasi. “Ini nggak bener! Gue pengen hidup lagi! Gue cuma mau ngomong sama Hanum!”
Pak Hadi, yang melihat kekacauan ini dengan senyum sinis, akhirnya berdecak. "Nah, itu dia masalahnya. Orang arwah itu selalu ngelawan kenyataan. Dunia ini tuh dunia baru, Nak. Belajar aja ikuti arusnya, biar lo nggak gila."
"Ikuti arus?" Bima bertanya dengan penuh kebingungan, sambil mengangkat alis. "Pak, lo nggak ngerti! Gue pengen Hanum tahu! Gue nggak mau mati kayak gini, gue masih pengen hidup! Nggak bisa gitu aja!"
Pak Hadi menggelengkan kepala, "Lo pikir gampang? Arwah itu kayak selebgram bro, hidupnya cuma di-feed. Lo bakal ketemu sama banyak orang yang sama sekali nggak punya otak, kayak mereka yang lagi selfie ini."
Bima melotot, bingung sekaligus frustasi. "Beneran deh, dunia arwah kayak dunia Instagram, ya? Semua orang cuma peduli sama foto-foto dan gaya-gayaan doang."
Pak Hadi tertawa pelan. “Ya, dunia arwah lebih absurd dari dunia manusia. Jadi, kamu bisa pilih mau jadi pocong keren atau ngelawan semuanya dan tetap gila.”
Dengan tatapan penuh kebingungan, Bima merasa dunia ini semakin nggak masuk akal. "Gue ... gue nggak bisa terima ini semua! Gue mau bicara dengan Hanum! Tolong!"
Tiba-tiba, sebuah suara lain terdengar itu suara Hanum! Bima menoleh dengan harapan. Namun, kali ini, dia bisa merasakannya lebih dekat dari sebelumnya.
Hanum, yang masih memegang bunga mawar, berbalik dan melihat ke langit, seolah merasa ada sesuatu yang aneh di sekelilingnya.
“Bima, apa kamu dengar aku?” Hanum berbisik, seperti merasa Bima ada di sana. "Aku ... maafin kamu."
Bima hampir menangis dan tanpa sadar, langkah pocongnya mengarah ke arah Hanum, meskipun dunia di sekelilingnya semakin absurd.
Namun, Pak Hadi mencegahnya dengan suara keras. “Dengar, Nak. Belum waktunya."
Bima berbalik, matanya penuh kesedihan. "Aku ... nggak peduli. Aku cuma mau Hanum tahu aku masih ada. Aku masih hidup di sini."