Bima dan Yuli terus melangkah keluar dari rumah kenangan itu. Langkah mereka pelan, tapi Yuli bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari aura Bima. Biasanya Bima suka bercanda, tapi sekarang wajahnya seperti sedang menahan seluruh beban hantu satu RT.
Saat mereka tiba di sebuah gang kecil yang gelap, Yuli tiba-tiba sadar bahwa Bima tidak lagi ada di sebelahnya.
"Cong Opa! Bima! Jangan ngilang dong! Ini bukan sinetron dan gue juga gak siap jadi tokoh utama di novel horor ini!" serunya panik.
Dia terus mencari, bahkan sampai bertanya pada hantu ninja yang sedang push-up di tengah jalan. "Bang, lo liat pocong kurus mukanya manyun lewat sini gak?"
Hantu ninja itu melompat berdiri dengan gerakan teatrikal. "Enggak, Mbak. Tapi saya liat ada pocong nangis di balik pohon pisang sana."
Tanpa basa-basi, Yuli melesat ke arah pohon pisang yang dimaksud. Dan benar saja, di bawah bayangan daun pisang, Bima duduk memeluk lututnya, sarung pocongnya kusut seperti kain yang lupa disetrika.
"Cong Opa!" Yuli mendekat dengan langkah besar. "Lo ngapain di sini? Gue nyariin lo kayak orang hilang! Lo bikin gue olahraga dadakan, tau gak?"
Bima mendongak perlahan, matanya basah seperti pocong yang baru nonton drama Korea episode terakhir. "Yul … gue gak kuat lagi ...."
"Apaan lagi sekarang?" Yuli memutar matanya. "Jangan bilang lo galau lagi gara-gara Hanum!"
Bima mengangguk pelan. "Gue kangen dia, Yul. Gue pengen ketemu dia lagi. Tapi gimana caranya? Kita beda dimensi. Gue di dunia hantu, dia di dunia manusia. Gue rasa gue gak akan pernah bisa move on .…"
Yuli memutar bola matanya lebih keras sampai nyaris copot. "Cong Opa, lo tuh pocong, bukan pemeran utama di film mellow drama! Dengerin gue, ada milyaran cewek di dunia, baik yang hidup maupun yang udah jadi hantu! Lo bisa pilih salah satu. Tinggal lirik, kelar!"
"Mmm termasuk yang ada di dekat lo."
"Tapi gak ada yang kayak Hanum …," gumam Bima dengan tatapan kosong.
Yuli mendesah. "Oke, gue capek denger curhatan lo. Jadi gini aja, kalau lo mau banget ketemu dia, gue bakal bantu. Tapi lo harus janji gak bikin gue repot lagi!"
Mata Bima langsung berbinar seperti pocong yang baru dapat bonus bulanan. "Lo serius? Lo beneran mau bantu gue?"
"Ya udah, serius!" Yuli mengangguk mantap. "Tapi caranya mungkin bakal sedikit gila."
Bima langsung berdiri dengan semangat. “Apa aja gue siap, Yul! Gue mau banget ketemu Hanum lagi!”
Yuli berpikir sejenak, lalu tersenyum licik. “Oke, Cong Opa. Kita bakal nyelundup ke mimpinya Hanum. Itu satu-satunya cara lo bisa ketemu dia tanpa melanggar aturan dimensi.”
Bima tampak bingung. “Nyelundup ke mimpi? Lo yakin itu bisa?”
Yuli mengangguk dengan mantap. "Percaya aja sama gue. Gue ini tour guide hantu paling gaul, CATET!"
Tanpa menunggu jawaban Bima, Yuli menarik tangannya dan membawa dia ke sebuah tempat aneh di tengah kota. Sebuah bangunan seperti bioskop tua, dengan tulisan besar di atas pintunya: "CINEMA DIMENSI: TEMPAT MENEMBUS MIMPI".
Bima menelan ludah. "Ini beneran bakal berhasil?"
“Cong Opa, tenang aja. Gue pernah masuk ke mimpi ex gue pake tempat ini,” jawab Yuli sambil nyengir. “Sayangnya, mimpinya isinya cuma ayam goreng doang, tapi gue yakin mimpi Hanum bakal lebih berkesan.”
Mereka masuk ke dalam bioskop itu. Di dalam, seorang hantu tua berjanggut panjang sedang duduk di depan sebuah proyektor raksasa. Dia mengangkat alisnya saat melihat mereka masuk.
"Selamat datang di Cinema Dimensi. Siapa yang ingin kalian temui?"
"Bisa gak kita masuk ke mimpinya manusia?" tanya Yuli sambil menunjuk Bima. "Dia mau ketemu mantannya. Tapi ini penting, serius, bukan buat nonton drakor."
Hantu penjaga itu mengangguk pelan. "Bisa, tapi ada syaratnya. Kalian hanya punya waktu sepuluh menit di dalam mimpi. Setelah itu, kalian akan ditarik kembali ke sini. Jika tidak, kalian akan terjebak di sana selamanya."
“Gampang,” jawab Yuli. “Cong Opa ini atlet lari di masa hidupnya, kan? Dia pasti bisa balik tepat waktu.”
Bima melotot. "Yul, gue bukan atlet lari. Gue aja napas ngos-ngosan tadi naik tangga rumah gue!"
Tapi sebelum Bima sempat protes lebih lanjut, Yuli sudah mendorong dia masuk ke dalam layar proyektor. Layar itu berputar-putar seperti portal waktu dan sebelum mereka sadar, mereka sudah berada di sebuah taman bunga yang indah. Di sana, Bima melihat Hanum, duduk di bangku taman dengan wajah yang terlihat tenang.
"Hanum …," bisik Bima pelan dengan penuh haru.
Namun, saat dia melangkah mendekat, Hanum menoleh, menatapnya dari atas ke bawah, lalu … tertawa.
“Bima? Kamu kenapa pakai sarung begini? Ini taman bunga, bukan tempat perlombaan pocong balap sarung.”
Bima panik. "Yul! Ini kenapa gue masih pake sarung pocong?!"
Yuli yang sedang ngumpet di balik pohon hampir mati lagi karena terus menerus tertawa. "Cong Opa, ini mimpi! Penampilan lo itu mencerminkan diri lo yang sebenarnya. Jadi ya … terima nasib!"
Hanum bangkit dari bangku dan berjalan mendekati Bima. "Tapi serius, Bima. Kenapa kamu di sini? Kamu gak seharusnya datang .…"
Bima menelan ludah, tenggorokannya serasa kering meski secara teknis dia sudah mati dan nggak butuh minum. “Aku… aku di sini karena kangen sama kamu, Hanum,” katanya dengan suara gemetar persis seperti pertama kali ia bertemu Hanum saat masih hidup.
Hanum mendekat dengan tatapan penuh selidik, lalu menunjuk sarung pocong yang masih melilit tubuh Bima. “Tapi, kenapa kamu tampil kayak gini? Ini taman bunga, bukan acara Halloween.”
Bima berusaha melepaskan sarungnya, tapi percuma. Pocong memang nggak didesain untuk gampang buka-bukaan. Sementara itu, Yuli, yang masih sembunyi di balik pohon, sudah terkapar tertawa tanpa suara.
“Cong Opa, lo tuh sekarang kayak karakter tambahan di novel horor komedi!” bisik Yuli dari jauh sambil terbahak.
“Yul! Jangan cuma ketawa! Lo kan yang bawa gue ke sini. Kasih gue kostum lain, kek!” gerutu Bima.
Yuli akhirnya bangkit dari persembunyian, mengendap-endap ke arah Bima dan menarik sebuah bunga mawar besar dari taman. “Nih, pake ini sebagai aksesoris. Siapa tahu jadi kelihatan lebih elegan.”
Bima melotot. “Mawar?! Gue pocong, Yul, bukan anak cosplay!”
“Udah, diem aja! Pake aja dulu!” balas Yuli sambil menyematkan bunga itu di ujung sarung Bima, membuatnya terlihat seperti pocong yang sedang ikut lomba fashion show bunga-bunga.
Hanum menahan tawa, tapi jelas dia bingung. “Jadi, kamu kangen sama aku … terus kamu nekat nyelundup ke mimpi aku pakai outfit kayak gitu? Kamu makin aneh sejak … yah, kamu tahu, sejak kamu jadi pocong.”
Bima menggaruk kepala, meskipun tangannya masih terikat. “Aku cuma … aku pengen bilang sesuatu yang nggak sempat aku ucapin waktu masih hidup.”
Hanum memiringkan kepalanya. “Apa itu?”
Bima menarik napas dalam-dalam. “Hanum, aku… aku cuma mau bilang kalau aku ngerti sekarang. Aku ngerti kenapa kamu harus nikah sama orang lain di hari ulang tahun aku. Aku ngerti kamu nggak pernah benar-benar cinta sama aku. Tapi, aku mau bilang makasih. Karena kamu pernah bikin aku bahagia, meskipun sebentar.”
Hanum tertegun, matanya berkaca-kaca. “Bima … aku .…”
Sementara Hanum sibuk mencari kata-kata, Yuli melihat jam pasir yang dipasang di pojok taman. Pasirnya hampir habis!
"Cong Opa! Kita harus cabut sekarang!" teriak Yuli.
"Apa?! Tapi gue belum selesai ngomong sama Hanum!"
"Lo mau jadi arwah mimpi tersesat?! Kalau iya, gue tinggal aja lo di sini!"
Hanum menatap Bima dengan senyum lembut. "Bima, aku ngerti kamu kangen. Tapi mungkin kamu juga harus belajar untuk pergi."
Bima mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Terima kasih, Hanum. Aku akan pergi. Tapi aku … aku selalu berharap kamu bahagia."
Saat mereka hendak melompat kembali ke portal, sarung Bima tersangkut di semak-semak.
"YULI! SARUNG GUE NYANGKUT!"
"Astaga, Cong Opa! Lepasin aja sarung lo, gak bakal ada yang marah!"
"Lepas gimana?! Gue gak pake daleman, Yul!"
Setelah tarik-menarik yang dramatis, mereka berhasil keluar dari mimpi tepat waktu. Tapi begitu kembali ke Cinema Dimensi, hantu penjaga bioskop memandang mereka dengan ekspresi datar.
“Kalian bikin kekacauan, ya? Kalau nanti Hanum mimpi buruk terus menerus, jangan salahkan aku!”
Bima merosot ke lantai, masih ngos-ngosan meski jelas-jelas dia nggak punya paru-paru lagi. “Gue capek banget, Yul …”
“Lo capek? Gue yang dorong-dorong lo ke portal dan narik lo keluar, Cong Opa!” Yuli menjawab sambil membanting bunga mawar yang masih dia pegang. “Tapi, ya … lo akhirnya bisa bilang apa yang lo mau ke Hanum, kan?”
Bima mengangguk pelan. “Iya … dan gue rasa sekarang gue harus berusaha move on.”
Yuli tersenyum lebar. “Bagus! Jadi, sekarang lo mau cari gebetan baru di dunia hantu?”
Bima menghela napas panjang, menatap langit-langit bioskop yang gelap. “Nggak tahu, Yul. Tapi gue rasa gue bakal fokus sama karier dulu. Jadi pocong yang profesional dan nggak gampang galau.”
"CIYEEE, POCOOONG KARIERRR!" teriak Yuli, membuat semua hantu di Cinema Dimensi melotot ke arah mereka.