Pocong Opa-Opa Korea

Lucas

Setelah drama tadi, telepon Hanum berdering. Nama Lucas muncul di layar ponselnya. Hanum sempat ragu untuk mengangkat, tapi akhirnya ia menarik napas panjang dan menjawab dengan suara dingin.
 
“Halo?” sapanya.
 
“Halo, Hanum ...,” suara Lucas terdengar pelan, seperti orang yang baru saja berlatih jadi pembawa acara radio.
 
“Ada apa? Kamu mau kabur lagi?” Hanum menimpali dengan nada ketus.
 
“Enggak, sayang ... dengar dulu. Aku mau minta maaf atas semuanya. Aku nggak seharusnya ninggalin kamu tado, aku mau ajak kamu makan malam di Hotel Pelangi. Aku pengen kita bicara dari hati ke hati.”
 
Hanum terdiam. Lucas terdengar serius kali ini. “Makan malam? Di hotel?” tanyanya, setengah tidak percaya.
 
“Iya, aku akan jemput kamu jam tujuh. Aku janji ini akan berbeda.”
 
Setelah Lucas menutup telepon, Hanum langsung tertegun di sofa. Sementara itu, Bima yang mendengar semua percakapan itu dari balik jendela langsung melayang ke arah Yuli.
 
“Lo denger itu, Yul? Dia ngajak Hanum makan malam romantis!” seru Bima, wajahnya penuh cemburu.
 
Yuli tertawa cekikikan sambil memutar-mutar rambutnya. “Cong Opa, lo cemburu ya? Lucu banget ngeliat pocong bucin kayak lo.”
 
“Gue nggak cemburu. Gue cuma ... nggak mau Hanum kecewa lagi,” elak Bima, meskipun jelas sekali ekspresinya seperti suami yang istrinya ketahuan chatting sama mantan.
 
 
---
 
Pukul tujuh malam, Lucas tiba di depan rumah Hanum dengan mobilnya. Ia mengenakan jas rapi dengan dasi biru, sementara Hanum, dalam gaun hijau lembut yang sederhana, tampak memukau. Sebuah buket mawar merah melengkapi suasana romantis yang Lucas coba bangun.
 
“Aku tahu aku salah,” kata Lucas dengan nada tulus, “tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Malam ini spesial, untukmu istriku.”
 
Hanum menunduk, malu-malu. “Kamu serius? Jangan sampai ada drama lagi.”
 
Lucas tersenyum, menggenggam tangan Hanum sebelum membukakan pintu mobilnya. “Kamu akan lihat.”
 
Di belakang mereka, Bima mengawasi dengan wajah masam. Ia melayang mengikuti mobil Lucas dari jarak aman. Di sebelahnya, Yuli sudah siap dengan es krim hantu kesayangannya.
 
“Cong Opa, lo ikut mereka? Serius? Mereka kan cuma mau dinner romantis,” sindir Yuli sambil tertawa.
 
“Gue nggak suka ini, Yul. Lucas nggak pantas buat Hanum,” balas Bima. “Gue harus pastikan dia nggak macam-macam.”
 
“Ah, drama lagi, deh!” Yuli melayang santai di sebelah Bima. “Tapi lumayanlah, gue ikut biar seru.”
 
 
---
 
Dalam perjalanan menuju hotel, Bima terus melayang di atas mobil, menggerutu sepanjang jalan. 
 
Namun, ia terkejut saat melihat jalanan kota penuh dengan hantu-hantu aneh yang berkeliaran.
 
Ada hantu berbadan seperti ular tapi mengenakan jas pesta, melambaikan ekornya sambil berkata, “Mau ke pesta, Bang? Aku bisa ikut nebeng?”
 
Di sudut lain, ada kuntilanak duduk di halte bus sambil meminum kopi dalam gelas besar. Ia melambai pada Bima dan berkata, “Cong, lo mau kopi? Gratis nih buat pocong ganteng.”
 
Bima mengabaikan mereka dan terus melayang mengikuti mobil. Tetapi, di sebuah lampu merah, ia hampir bertabrakan dengan hantu bertubuh seperti bola bulu besar yang melompat-lompat sambil bernyanyi lagu dangdut.
 
“Apaan ini, kota lagi festival hantu?” gerutu Bima.
 
Yuli tertawa keras. “Cong Opa, lo lucu banget paniknya! Ini kota, pasti banyak yang mati penasaran. Santai aja!”
 
“Gue nggak peduli, Yul. Gue cuma mau tahu apa Lucas serius sama Hanum,” balas Bima dengan nada penuh cemburu.
 
 
---
 
Sesampainya di hotel, Lucas memimpin Hanum masuk ke restoran mewah di lantai atas. Meja mereka dihiasi lilin dan bunga mawar, dengan pemandangan lampu kota yang berkilauan di malam hari. Pelayan membawakan menu spesial, dan Lucas terlihat benar-benar berusaha membuat Hanum nyaman.
 
“Hanum,” kata Lucas sambil menggenggam tangannya, “aku tahu aku nggak sempurna. Aku sadar aku terlalu pengecut, tapi aku janji akan lebih baik mulai sekarang. Kamu adalah segalanya untukku.”
 
Hanum menatap Lucas, matanya berkaca-kaca. “Lucas, aku juga mau kita mulai dari awal. Tapi jangan tinggalin aku lagi, ya?”
 
Lucas mengangguk. “Aku janji.”
 
Di sudut ruangan, Bima melayang dengan wajah penuh cemburu. Ia tidak tahan melihat Lucas menggenggam tangan Hanum dengan begitu lembut.
 
“Apa-apaan ini? Mereka kayak adegan drama Korea!” gerutunya.
 
“Cong Opa, lo mau ikutan pegangan tangan juga? Tapi sama gue,” goda Yuli sambil memeluk lengan Bima.
 
“Yul, lo jangan ganggu gue!” bentak Bima, meski wajahnya terlihat semakin suram.
 
Saat Lucas mencoba menyuapi Hanum dengan potongan steak, Bima memutuskan untuk bertindak. Ia melayang ke arah meja mereka dan mencoba membuat lilin di tengah meja itu padam. Namun, lilin justru menyala semakin terang.
 
“Cong Opa, apa lo lupa? Ini restoran mahal, lilinnya pasti ada pelindungnya!” Yuli cekikikan di belakang Bima.
 
Bima kesal, tapi ia tidak menyerah. Ketika Lucas berdiri untuk menuangkan anggur, Bima meniup angin kencang sehingga anggur itu tumpah ke jas Lucas.
 
“Eh, maaf, Hanum. Aku nggak sengaja,” ucap Lucas buru-buru, mencoba membersihkan tumpahan itu.
 
“Lucas, nggak apa-apa. Kita panggil pelayan saja,” kata Hanum, tersenyum lembut.
 
Kejadian itu tidak cukup untuk menghentikan suasana romantis mereka. Lucas kembali duduk, dan kali ini ia mendekatkan wajahnya ke Hanum.
 
Bima, yang melihat itu, langsung panik. “Yul, gue harus ngelakuin sesuatu! Mereka nggak boleh ciuman!”
 
“Kenapa? Lo cemburu?” goda Yuli.
 
“Jelas iya!” Bima melayang ke arah pelayan dan membuat nampan penuh makanan jatuh ke lantai dengan suara keras. Seluruh restoran menoleh, membuat Lucas dan Hanum terkejut.
 
“Kayaknya ada yang aneh di sini,” kata Lucas sambil melirik sekeliling.
 
Hanum menggeleng, mencoba menenangkan dirinya. “Mungkin cuma pelayan yang nggak sengaja. Sudahlah.”
 
Bima yang tidak puas. Ia terus mencoba berbagai cara untuk mengganggu, seperti menggerakkan tirai jendela dan membuat lilin lain mati. Tapi semua usahanya hanya membuat Yuli semakin tertawa.
 
 
---
 
Setelah makan malam selesai, Lucas dan Hanum kembali ke mobil untuk pulang. Di dalam mobil, Lucas menggenggam tangan Hanum erat-erat.
 
“Aku nggak akan pernah ninggalin kamu lagi,” bisiknya lembut. “Aku janji akan selalu ada untukmu.”
 
Hanum tersenyum kecil, merasa hatinya mulai luluh. Namun, ketika Lucas mencoba mencium keningnya, tiba-tiba wiper kaca mobil bergerak sendiri meskipun cuaca sedang tidak hujan.
 
Lucas mengerutkan kening. “Apa-apaan ini?”
 
Hanum tertawa kecil. “Mungkin mobilnya lagi ngambek.”
 
Di atas mobil, Bima memukul kepalanya sendiri. “Ah, gue harus coba cara lain!”
 
Ketika mobil berhenti di lampu merah, hantu-hantu kota yang aneh tadi muncul lagi. Kali ini mereka berkumpul di trotoar, ada yang bermain bola dengan kepala mereka, ada juga yang bernyanyi seperti paduan suara gereja.
 
“Cong Opa, lo nggak mau nyoba bikin parade hantu buat ngerusak malam romantis mereka kan? Kalo iya ... Lo gila!” Yuli tertawa terbahak-bahak.
 
“Gue nggak bisa liat mereka bahagia tanpa gue, Yul,” jawab Bima muram.
 
Bab: Makan Malam dan Parade Hantu Kota
 
 
---
 
Pukul tujuh malam, Lucas tiba di depan rumah Hanum dengan mobilnya. Ia mengenakan jas rapi dengan dasi biru, sementara Hanum, dalam gaun hijau lembut yang sederhana, tampak memukau. Sebuah buket mawar merah melengkapi suasana romantis yang Lucas coba bangun.
 
“Aku tahu aku salah,” kata Lucas dengan nada tulus, “tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Malam ini spesial, untuk kamu.”
 
Hanum menunduk, malu-malu. “Kamu serius? Jangan sampai ada drama lagi.”
 
Lucas tersenyum, menggenggam tangan Hanum sebelum membukakan pintu mobilnya. “Kamu akan lihat.”
 
Di belakang mereka, Bima mengawasi dengan wajah masam. Ia melayang mengikuti mobil Lucas dari jarak aman. Di sebelahnya, Yuli sudah siap dengan es krim hantu kesayangannya.
 
“Cong Opa, lo ikut mereka? Serius? Mereka kan cuma mau dinner romantis,” sindir Yuli sambil tertawa.
 
“Gue nggak suka ini, Yul. Lucas nggak pantas buat Hanum,” balas Bima. “Gue harus pastikan dia nggak macam-macam.”
 
“Ah, drama lagi, deh!” Yuli melayang santai di sebelah Bima. “Tapi lumayanlah, gue ikut biar seru.”
 
 
---
 
Parade Hantu di Kota
 
Dalam perjalanan menuju hotel, Bima terus melayang di atas mobil, menggerutu sepanjang jalan. Namun, ia terkejut saat melihat jalanan kota penuh dengan hantu-hantu aneh yang berkeliaran.
 
Ada hantu berbadan seperti ular tapi mengenakan jas pesta, melambaikan ekornya sambil berkata, “Mau ke pesta, Bang? Aku bisa ikut nebeng?”
 
Di sudut lain, ada kuntilanak duduk di halte bus sambil meminum kopi dalam gelas besar. Ia melambai pada Bima dan berkata, “Cong, lo mau kopi? Gratis nih buat pocong bucin.”
 
Bima mengabaikan mereka dan terus melayang mengikuti mobil. Namun, di sebuah lampu merah, ia hampir bertabrakan dengan hantu bertubuh seperti bola bulu besar yang melompat-lompat sambil bernyanyi lagu dangdut.
 
“Apaan ini, kota lagi festival hantu?” gerutu Bima.
 
Yuli tertawa keras. “Cong Opa, lo lucu banget paniknya! Ini kota, pasti banyak yang mati penasaran. Santai aja!”
 
“Gue nggak peduli, Yul. Gue cuma mau tahu apa Lucas serius sama Hanum,” balas Bima dengan nada penuh cemburu.
 
 
---
 
Makan Malam Romantis
 
Sesampainya di hotel, Lucas memimpin Hanum masuk ke restoran mewah di lantai atas. Meja mereka dihiasi lilin dan bunga mawar, dengan pemandangan lampu kota yang berkilauan di malam hari. Pelayan membawakan menu spesial, dan Lucas terlihat benar-benar berusaha membuat Hanum nyaman.
 
“Hanum,” kata Lucas sambil menggenggam tangannya, “aku tahu aku nggak sempurna. Aku sadar aku terlalu pengecut kemarin, tapi aku janji akan lebih baik mulai sekarang. Kamu adalah segalanya untukku.”
 
Hanum menatap Lucas, matanya berkaca-kaca. “Lucas, aku juga mau kita mulai dari awal. Tapi jangan tinggalkan aku lagi, ya?”
 
Lucas mengangguk. “Aku janji.”
 
Di sudut ruangan, Bima melayang dengan wajah penuh cemburu. Ia tidak tahan melihat Lucas menggenggam tangan Hanum dengan begitu lembut.
 
“Apa-apaan ini? Mereka kayak adegan drama Korea!” gerutunya.
 
“Cong Opa, lo mau ikutan pegangan tangan juga? Tapi sama gue,” goda Yuli sambil memeluk lengan Bima.
 
“Yul, lo jangan ganggu gue!” bentak Bima, meski wajahnya terlihat semakin suram.
 
Saat Lucas mencoba menyuapi Hanum dengan potongan steak, Bima memutuskan untuk bertindak. Ia melayang ke arah meja mereka dan mencoba membuat lilin di tengah meja itu padam. Namun, lilin justru menyala semakin terang.
 
“Cong Opa, apa lo lupa? Ini restoran mahal, lilinnya pasti ada pelindungnya!” Yuli cekikikan di belakang Bima.
 
Bima kesal, tapi ia tidak menyerah. Ketika Lucas berdiri untuk menuangkan anggur, Bima meniup angin kencang sehingga anggur itu tumpah ke jas Lucas.
 
“Eh, maaf, Hanum. Aku nggak sengaja,” ucap Lucas buru-buru, mencoba membersihkan tumpahan itu.
 
“Lucas, nggak apa-apa. Kita panggil pelayan saja,” kata Hanum, tersenyum lembut.
 
Namun, kejadian itu tidak cukup untuk menghentikan suasana romantis mereka. Lucas kembali duduk, dan kali ini ia mendekatkan wajahnya ke Hanum.
 
Bima, yang melihat itu, langsung panik. “Yul, gue harus ngelakuin sesuatu! Mereka nggak boleh ciuman!”
 
“Kenapa? Lo cemburu?” goda Yuli.
 
“Jelas iya!” Bima melayang ke arah pelayan dan membuat nampan penuh makanan jatuh ke lantai dengan suara keras. Seluruh restoran menoleh, membuat Lucas dan Hanum terkejut.
 
“Kayaknya ada yang aneh di sini,” kata Lucas sambil melirik sekeliling.
 
Hanum menggeleng, mencoba menenangkan dirinya. “Mungkin cuma pelayan yang nggak sengaja. Sudahlah.”
 
Namun, Bima tidak puas. Ia terus mencoba berbagai cara untuk mengganggu, seperti menggerakkan tirai jendela dan membuat lilin lain mati. Tapi semua usahanya hanya membuat Yuli semakin tertawa.
 
 
---
 
Kepulangan Penuh Drama
 
Setelah makan malam selesai, Lucas dan Hanum kembali ke mobil untuk pulang. Di dalam mobil, Lucas menggenggam tangan Hanum erat-erat.
 
“Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu lagi,” bisiknya lembut. “Aku janji akan selalu ada untukmu.”
 
Hanum tersenyum kecil, merasa hatinya mulai luluh. Namun, ketika Lucas mencoba mencium keningnya, tiba-tiba wiper kaca mobil bergerak sendiri meskipun cuaca sedang tidak hujan.
 
Lucas mengerutkan kening. “Apa-apaan ini?”
 
Hanum tertawa kecil. “Mungkin mobilnya lagi ngambek.”
 
Di atas mobil, Bima memukul kepalanya sendiri. “Ah, gue harus coba cara lain!”
 
Ketika mobil berhenti di lampu merah, hantu-hantu kota yang aneh tadi muncul lagi. Kali ini mereka berkumpul di trotoar, ada yang bermain bola dengan kepala mereka, ada juga yang bernyanyi seperti paduan suara gereja.
 
“Cong Opa, lo bikin parade hantu buat ngerusak malam mereka? Lo gila!” Yuli tertawa terbahak-bahak.
 
“Gue nggak bisa liat mereka bahagia tanpa gue, Yul,” jawab Bima muram.
 
 
---
 
 
Sesampainya di rumah, Lucas mengantar Hanum sampai ke atas ranjang. 
 
Perilaku Lucas memang romantis tetapi Hanum masih memikirkan malam yang baru saja terjadi. “Lucas memang perhatian, tapi ada sesuatu yang aneh. Aku merasa ... seperti ada yang menjagaku selain dia,” bisiknya pada dirinya sendiri.
 
Bima, yang melayang di sudut ruangan, menatap Hanum dengan tatapan sedih. Yuli mendekatinya dengan seringai jahil.
 
“Cong Opa, lo sadar nggak? Lo bucin banget,” katanya.
 
Bima hanya tersenyum tipis. “Gue cuma mau dia bahagia, Yul. Itu aja.”
 
Yuli menepuk bahu Bima. “Lo emang pahlawan cinta sejati, Cong. Tapi lo juga harus sadar, lo udah mati.”
 
Malam itu, Hanum tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan. Sementara Bima, meskipun hatinya hancur, tetap setia menjaga wanita yang ia cintai, meski ia tahu cinta itu tidak akan pernah terbalas. 
 
Ia membelai rambut Hanum, cinta pertamanya yang kini sedang dipelukan lelaki lain.
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!