Pocong Opa-Opa Korea

Setan Yuli Penasaran

Malam semakin larut, tetapi Bima masih terjaga, terbaring di sudut kamar Hanum. Meski dia seorang pocong, seharusnya tidur bukanlah masalah besar—tapi hatinya yang terluka karena cemburu membuatnya tak bisa tidur.
 
Mata Bima menatap tubuh Hanum yang terlelap dengan senyuman di bibirnya. Senyuman itu ... senyuman yang seharusnya hanya miliknya.
 
Namun, malam ini ada yang berbeda. Hanum sedang tertidur dengan damai dan ada yang lebih menarik perhatiannya, ya siapa lagi jika bukan saingannya 
... Lucas. 
 
Pria itu memasuki kamar dengan langkah pelan, memastikan Hanum sedang tidur nyenyak, lalu dengan hati-hati, dia membungkuk dan mengecup kening Hanum. “Aku sayang kamu, Hanum,” bisiknya penuh kelembutan.
 
Bima merasa dadanya sesak. Kalau saja dia bisa meremas tangannya, pasti sudah dihancurkan. "Dasar sok romantis! Apa dia pikir bisa bikin Hanum bahagia gitu aja?" Bima menggerutu, gemas dengan sikap Lucas.
 
Tiba-tiba, Yuli muncul dari sudut ruangan, asyik dengan popcorn hantu yang entah kenapa selalu makan di setiap kesempatan. Yuli tertawa geli, melihat Bima yang semakin kesal.
 
“Cong Opa, lo nggak capek bucin gini? Udah, move on aja! Kenapa sih lo masih stuck di cinta segitiga kayak gini? Itu udah kayak sinetron dengan telenovela!” Yuli menepuk pundak Bima dengan senyum lebar, seolah-olah Bima akan berubah pikiran karena omongan ringan itu.
 
“Gue nggak butuh saran lo, Yul!” Bima membalas dengan tatapan tajam, meskipun hatinya terbakar cemburu. “Gue cuma mau pastiin Hanum bahagia, ngerti nggak?”
 
Yuli mengangguk dengan ekspresi setengah tertawa, setengah serius. “Tapi lo nggak lihat, Hanum tuh bahagia-bahagia aja tuh sama Lucas! Lo harusnya lihat deh, hidup lo lebih banyak drama dari pada kita nonton drama korea ....”
 
Bima mendengus. “Ya, karena hidup gue adalah drama, Yul,” jawabnya dengan nada datar. “Gue harus pastiin kalau Lucas nggak ngaco sama Hanum.”
 
Menyadari bahwa dia tidak akan menang dalam debat ini, Bima melayang keluar jendela dengan rasa kesal. Dari atas atap rumah, Bima memandang bulan yang bersinar redup, tapi hatinya gelap penuh kekecewaan.
 
 
Bima terdiam lama di atas genteng. Merenung, memikirkan semua yang terjadi. Kecewa, terluka dan cemburu ... itu semua hanya kata-kata yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Betapa tragis kematian yang tidak berujung ini. Dia terjebak dalam kenangan cinta yang sudah berakhir, sementara Hanum sudah melangkah maju tanpa dirinya.
 
Namun, Bima tidak sendirian dalam perasaan patah hati itu. Dari arah pohon besar di seberang rumah, terdengar suara isakan. Bima menoleh dan matanya langsung tertuju pada sosok hantu wanita berbaju merah yang duduk dengan sendu di atas dahan pohon besar.
 
“Eh, lo siapa?” tanya Bima, agak penasaran, meskipun tetap terdengar sinis.
 
“Aku ... Ranti,” jawab hantu itu dengan suara serak, suaranya penuh luka. “Aku ... aku ditinggalkan pacarku. Dia selingkuh sama sahabatku sendiri sebelum aku mati.”
 
Bima mendengus dan memutar matanya. “Duh, kenapa sih lo curhat ke gue? Gue lagi mikirin urusan sendiri nih—lagi pusing banget, loh.”
 
“Karena kamu terlihat seperti orang yang ngerti banget gimana rasanya patah hati,” jawab Ranti, menatap Bima dengan penuh harapan. “Tolong bantu aku balas dendam ke dia. Aku cuma mau dia menderita sedikiiiiiit aja.”
 
Bima hampir terjatuh dari tempatnya melayang. “Lo pikir gue ini pembalas dendam hantu? Gue aja sendiri nggak ngerti urusan gue. Yaudah, lo carilah hantu-hantu lain buat bantuin lo.”
 
Tapi Ranti tetap saja menatap Bima dengan tatapan penuh harapan, seolah-olah dia sudah kehabisan pilihan. “Tolong, pocong ganteng. Aku cuma ingin sedikit keadilan.”
 
Bima merasa dirinya dipaksa untuk memberi jawaban. “Duh, udahlah. Gue nggak mau bantuin lo,” jawabnya sambil melayang menjauh, meninggalkan Ranti yang kembali menangis di atas pohon.
 
****
 
 
Keesokan paginya, Lucas tampak terburu-buru keluar dari rumah. Dia mengecup kening Hanum yang masih terlelap, mengucapkan kata-kata lembut, “Aku pergi ke kantor dulu, ya. Jangan lupa sarapan.”
 
Hanum hanya mengangguk malas, setengah sadar dan dari sudut ruangan lain, Bima yang sudah siap untuk mengikutinya tak ingin ada yang terlewat.
 
“Lo mau ngapain sekarang?” tanya Yuli yang selalu tiba-tiba muncul di samping Bima, mendengar percakapan itu.
 
“Gue mau pastiin dia nggak macem-macem,” jawab Bima dengan tegas, melayang cepat mengikuti langkah Lucas.
 
Lucas melaju dengan mobilnya, menuju jalan yang familiar.
 
Namun, entah kenapa tiba-tiba mobilnya berbelok ke arah yang berbeda, berhenti di depan sebuah hotel yang cukup mewah. Dari dalam mobil, Bima bisa melihat seorang wanita muda dengan gaun merah muda yang melambai riang ke arah Lucas.
 
“Lucas!” seru wanita itu dengan suara ceria.
 
“Liana!” balas Lucas dengan senyuman lebar, terlalu lebar untuk ukuran seorang suami yang seharusnya sudah berkomitmen. Mereka berpelukan mesra, seolah dunia ini milik mereka berdua. Tanpa rasa bersalah! 
 
Bima hampir saja jatuh dari tempatnya melayang. “Apa-apaan ini? Dia bohong sama Hanum?” Bima terkejut, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
 
Yuli yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak. “Drama banget, Cong! Kayak K-drama gitu. Gue suka banget sama drama ini!”
 
Bima menggeram dan menepuk dahi. “Gue nggak mau tau apa yang terjadi. Gue harus ikut campur.”
 
Bima melayang mengikuti mereka, mengamati dari jauh. Lucas dan Liana masuk ke dalam hotel, berjalan dengan langkah santai, tidak terburu-buru. Bima semakin merasa dunia ini berputar dengan cara yang tidak dia inginkan.
 
 
Kemudian, terlihat Lucas dan Liana duduk bersama di sebuah meja pojok hotel, tertawa lepas seperti pasangan yang baru jatuh cinta. Liana meraih tangan Lucas, menggenggamnya dengan penuh kelembutan, seolah dunia di sekitar mereka tidak ada artinya.
 
“Jadi, gimana? Rencana kita berjalan sesuai jadwal?” tanya Liana dengan tatapan penuh arti.
 
“Tenang saja, semuanya akan selesai dalam beberapa minggu,” jawab Lucas, nada suaranya penuh keyakinan. “Setelah itu, aku bisa bebas, dan kita bisa hidup bahagia.”
 
Bima yang mengintip dari pintu hotel merasa pusing. “Apa maksudnya rencana itu? Apa yang mereka bicarakan? Ini kayaknya lebih rumit dari yang gue pikirkan.”
 
Yuli, yang tiba-tiba muncul di sampingnya dengan ekspresi serius, berkata, “Gue rasa lo harus turun tangan, Cong Opa. Ini udah semakin kacau.”
 
Bima merasa hatinya dipenuhi rasa marah. “Lo pikir gue bakal diem aja? Dia harus bayar atas apa yang dia lakukan!” jawabnya dengan suara serak penuh amarah.
 
Di tengah percakapan Yuli dan Bima mereka terperanjat dengan suara rintihan dari dalam.
 
Bima langsung masuk ke dalam kamar hotel, lalu dia balik lagi keluar. 
 
"Ehh ada apaan sih?" Yuli gantian masuk penasaran.
 
"Astaghfirullah ...." Yuli keluar dengan wajah yang tertutup tangan
 
Lucas ternyata begitu cepat mengambil kesempatan, ia sudah meniduri Liana, Menyusuri setiap titik sensitif milik Liana. Membuat Liana merintih menikmati.
 
Dan Lucas dengan gagah dan sadar mengingkari rumah tangganya.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!