Langit mendung menggantung di atas rumah besar keluarga Hanum. Setelah meninggalkan Lucas dan rumah mereka, Hanum melangkah berat menuju pintu rumah orang tuanya. Di kepalanya, ia membayangkan pelukan hangat ibunya yang penuh penghiburan atau suara tegas ayahnya yang selalu mampu memberinya rasa aman. Tapi ia salah besar.
Pintu dibuka oleh pembantu rumah tangga yang segera memanggil ibu Hanum. “Nyonya, Hanum datang,” katanya dengan suara gemetar, seolah-olah sudah tahu apa yang akan terjadi.
Ibu Hanum muncul di pintu dengan tatapan tajam. Bukannya menyambut, wajahnya justru penuh kemarahan.
“Kamu ngapain ke sini, Hanum?” tanya sang ibu dengan nada dingin.
Hanum menunduk, mencoba menahan air matanya. “Bu, aku ... aku nggak tau harus ke mana lagi. Lucas ... dia selingkuh, Bu.”
Alih-alih rasa simpati, ibunya hanya mendengus. “Dan itu salah siapa, Hanum? Kamu nggak bisa menjaga rumah tanggamu sendiri?”
Hanum terkejut. “Bu, ini bukan salahku! Lucas yang—”
Hanum memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Dan aku juga nggak bisa lagi berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja.”
“Berpura-pura? Kamu pikir kami peduli soal itu?” Ny. Wulandari mendengus. “Yang kami pedulikan adalah keluarga kita tetap berdiri. Kalau kamu nggak bisa menjaga pernikahanmu, jangan harap kami akan menyambutmu kembali!”
“Bu!” Hanum terpana. Kata-kata ibunya seperti tamparan yang membakar pipinya. “Aku melakukan semua ini karena kalian. Aku menikah dengan Lucas karena kalian yang memintaku! Aku berpura-pura mencintainya, melayaninya, manis terhadapnya dan aku membohongi diriku sendiri, hanya demi kalian!”
Tiba-tiba suara berat ayahnya, Tn. Kusuma, memecah suasana. “Hanum!” teriaknya dari ruang tengah. Ia berjalan mendekat, wajahnya merah padam. “Kamu pikir pengorbananmu sia-sia? Kamu pikir kita meminta ini tanpa alasan?”
Hanum menatap ayahnya, tubuhnya gemetar menahan amarah. “Ayah, aku kehilangan segalanya karena ini. Aku kehilangan cinta sejatiku, aku kehilangan Bima!”
Nama itu. “Bima.” Bima yang sejak tadi melayang tak jauh dari mereka, mendengar dengan jelas. Tubuhnya membeku. Ia tak percaya mendengar namanya disebut dengan begitu penuh emosi.
“Bima?!” bentak Tn. Kusuma. “Anak itu tidak punya apa-apa untuk menyelamatkan kita! Kamu lupa? Waktu itu perusahaan kita di ambang kehancuran. Jika bukan karena Lucas, kita tidak akan memiliki apa-apa sekarang!”
Hanum menatap ayahnya dengan mata penuh kebencian. “Jadi semua ini demi uang, demi perusahaan? Aku harus mengorbankan hidupku, perasaanku, hanya untuk itu kan? Tanpa memikirkan kebahagiaanku sedikit saja!"
“Ini bukan cuma soal uang, Hanum,” sela ibunya. “Ini soal martabat keluarga. Kalau kita kehilangan itu, kita kehilangan segalanya!”
Hanum tertawa getir, air matanya kembali mengalir. “Martabat? Martabat kalian hancur saat kalian menjualku untuk Lucas!”
***
Kilasan masa lalu.
Bima dan Hanum dulu adalah pasangan yang tak terpisahkan. Mereka memiliki mimpi bersama, bahkan berencana menikah dalam beberapa tahun ke depan. Namun, semuanya berubah ketika bisnis keluarga Hanum menghadapi krisis besar.
“Kami hampir bangkrut, Hanum,” kata Tn. Kusuma suatu malam. “Satu-satunya cara untuk menyelamatkan ini adalah menikahkanmu dengan Lucas.”
Hanum terkejut. “Ayah, aku tidak mencintainya. Aku mencintai Bima!”
“Kamu pikir cinta itu cukup untuk hidup?!” bentak Tn. Kusuma. “Kamu tidak hidup hanya untuk dirimu sendiri, Hanum. Kamu adalah bagian dari keluarga ini dan ini adalah tanggung jawabmu!”
Malam itu, Hanum terjepit di antara pilihan yang menghancurkan hatinya. Ia tahu, menolak berarti menghancurkan keluarganya. Tapi menerima berarti meninggalkan Bima, satu-satunya pria yang ia cintai selama bertahun-tahun.
Ketika ia memberi tahu Bima tentang keputusannya, pria itu hancur. “Hanum, lo nggak harus ngelakuin ini. Gue bisa bantu lo! Gue bisa kerja lebih keras, apa pun, asal lo tetap sama gue!”
Tapi Hanum hanya bisa menangis. “Bima, ini bukan soal kita. Ini soal keluargaku. Aku nggak punya pilihan.”
Bima menatapnya dengan mata penuh luka. “Lo selalu punya pilihan, Hanum. Lo cuma nggak milih gue.”
Dan itulah malam terakhir mereka bersama. Bima, yang tak sanggup menghadapi kenyataan itu, mengakhiri hidupnya sendiri.
***
Hanum tersungkur ke lantai ruang tamu, tubuhnya berguncang karena tangis. “Aku kehilangan dia ... aku kehilangan Bima demi kalian. Tapi lihat apa yang aku dapatkan! Lucas mengkhianatiku dan sekarang kalian malah menyalahkanku? HIDUPKU HANCUR!!!"
Bima, yang mendengar semua itu, merasa jiwanya bergetar. “Jadi ... dia tahu. Dia tahu gue mati karena dia,” gumamnya pelan.
Ny. Wulandari mencoba mendekati Hanum, tetapi nada suaranya tetap dingin. “Sudah cukup, Hanum. Jangan bertingkah seperti korban. Kamu tahu dari awal ini semua adalah tanggung jawabmu.”
Hanum mendongak, wajahnya penuh amarah. “Tanggung jawabku? Kalian yang memaksaku! Aku rela meninggalkan Bima, berpura-pura mencintai Lucas, hanya demi kalian! Tapi sekarang aku harus menghadapi semuanya sendiri?”
“Sudah cukup, Hanum!” bentak Tn. Kusuma. “Kamu pikir hidup ini hanya tentang perasaan? Kamu harus kuat!”
Hanum berdiri, menatap kedua orang tuanya dengan mata merah karena menangis. “Aku sudah cukup kuat, Ayah. Tapi kekuatan itu sekarang habis. Aku nggak mau lagi hidup dalam kebohongan ini. Kalau kalian lebih peduli pada Lucas dan perusahaan dari pada aku, maka aku bukan lagi bagian dari keluarga ini!”
Ia berbalik dan berjalan keluar rumah, meninggalkan kedua orang tuanya yang terdiam.
Bima mengikuti Hanum, melayang di belakangnya. Ia merasa hatinya remuk, tapi di saat yang sama ia merasa lega. Ia tahu sekarang bahwa Hanum tidak pernah melupakan dirinya. “Hanum, lo nggak sendirian,” bisiknya, meski ia tahu wanita itu tak bisa mendengarnya.
Di luar, Hanum terduduk di jalan setapak. Hujan mulai turun, mengguyur tubuhnya yang gemetar. “Bima ... aku minta maaf. Kalau aja aku bisa memilih, aku pasti nggak akan pernah ninggalin kamu.”
Bima mendekat, ingin memeluknya, meski ia tahu itu mustahil. “Gue selalu di sini, Hanum. Gue nggak pernah ninggalin lo.”
Hujan semakin deras, menyembunyikan air mata Hanum yang terus mengalir. Tapi di dalam hatinya, ia merasakan kehadiran seseorang. Kehadiran yang membuatnya merasa, meski hanya sekejap, ia tidak sepenuhnya sendiri.
Hanum menutup wajah dengan jemari, "Apa gue udah gila?" ucap Hanum dengan dirinya sendiri. Sebab ia terus menerus merasakan kehadirian Bima di sampingnya.
"Apa ini cuma perasaanku saja?" Hanum mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit. "Ya Allah andai saja ada kesempatan ke dua, ingin rasanya aku hidup kembali menata hari bersama Bima ... berdua ... yah! Berdua saja! Tanpa adanya gangguan lain."
Setelah perkataan itu tiba-tiba hujan deras datang dengan petir yang menggelegar. Hanum berlarian untuk menepi.
Tepat di halte kosong Hanum meneduh dan duduk berpangku tangan. Tiba-tiba ia terkejut bukan main saat melihat ke sebelah kanannya. "BIM-BI .. MA?"