Bima mulai merasa seperti raja fashion dunia arwah. Semua hantu di sekitarnya seperti sudah siap mengikuti audisi Haunted Fashion Show. Dengan semangat tinggi, Bima melangkah ke Tuyul pertama, yang lagi nyolong dari kantong seorang hantu yang malah tidur.
“Eh, bro! Gue mau make-over lo jadi lebih kece!” kata Bima sambil nyamperin si Tuyul, yang lagi sibuk lari-lari kecil sambil nenteng duit receh.
Tuyul itu nengok dengan wajah panik, “Lo ngapain sih? Jangan-jangan lo mau jadiin gue pacar lo kayak di drama Korea?!”
“Wah, jangan khawatir! Lo bakal jadi model, tapi model yang serius, bukan model peramal! Coba deh, gue kasih kemeja putih dan dasi kupu-kupu,” kata Bima sambil ngeluarin peralatan yang kayaknya lebih cocok buat anak-anak yang mau kondangan.
Tuyul itu mulai menolak, “Tapi gue kan lagi nyolong! Gue kan mau jadi mafia tuyul, bukan pengen kondangan!”
Bima tertawa terbahak-bahak. “Lo jangan khawatir, lo bakal jadi Mafia Keren dengan kemeja ini!” Bima dengan bangga mengikatkan dasi kupu-kupu ke leher Tuyul. Tuyulnya cuma bisa bengong, dengan kemeja putih yang tampak kaku kayak dia lagi buat presentasi di kantor.
"Bro, lo jadi kondangan banget!" kata Bima sambil nyengir. Tuyul itu langsung lari ke sana kemari, kelihatan seperti anak TK yang nggak ngerti apa-apa tentang acara formal.
Lanjut ke Genderuwo, Bima merasa kali ini dia harus serius. Genderuwo itu kan biasanya gede banget, berbulu hitam, menyeramkan. Tapi Bima punya ide liar.
“Bro, lo mesti tampil lebih... glowing! Kita cukur habis bulu lo, biar lo kayak pakai body lotion, licin banget,” kata Bima sambil ngeluarin silet.
Dengan penuh keberanian, Bima mulai mencukur bulu-bulu tebal di tubuh Genderuwo yang besar itu, hasilnya, Genderuwo jadi seperti bola bulu yang kebanyakan diolesin lotion. “Gila, gue sekarang kayak selebriti arwah yang habis perawatan! Bisa jadi body goals di dunia hantu nih!” kata Genderuwo dengan gaya percaya dirinya yang makin absurd.
Bima terkekeh, "Sekarang lo tuh kayak genderuwo yang siap-siap buat foto di Instagram!"
Dan giliran Kuntilanak, yang dasternya panjang itu. “Gue ganti model ya? Gimana kalau lo coba pake daster yang ada rumbai-rumbainya? Biar makin kece!” Bima dengan santai menyarankan, sambil mencukur beberapa bagian dasternya dan menambahkan rumbai-rumbai di ujungnya.
Kuntilanak yang awalnya bingung, akhirnya terlihat seperti lagi ready to perform di konser dangdut malam hari. “Gue jadi kayak penyanyi dangdut versi arwah ya?” kata Kuntilanak dengan senyum lebarnya. “Gue jadi tren baru di dunia arwah nih!”
Saat semuanya sudah selesai, Kuntilanak Merah muncul dengan wajah merah padam. “INI APA?! LO BIKIN KAMI JADI BADUT HALLOWEEN GAGAL, BIMAAAA!!!” teriak Kuntilanak Merah, sampai terdengar seperti petir menyambar di tengah malam.
Bima, yang udah ngakak setengah mati, cuma bisa jawab, “Red, nggak usah marah gitu! Lo kan jadi kayak penyanyi TikTok yang viral!”
Kuntilanak Merah semakin marah, tapi itu malah membuat suasana semakin absurd. “Bima, lo nggak ngerti! Kami ini hantu, bukan influencer TikTok yang mikirin outfit buat konten viral!”
Bima tertawa sambil ngangkat bahu, “Ya udah, lo kan bisa jadi influencer hantu dengan outfit baru lo itu!”
Pak Hadi yang ngeliat kehebohan ini cuma geleng-geleng kepala. "Bima, lo udah bener-bener bikin mereka jadi lebih... hidup daripada hantu pada umumnya."
Bima cuma nyengir. "Paling nggak, gue bisa jadi stylist terkenal di dunia arwah! Para hantu pada ngantri buat pake jasa gue!"
Pak Hadi cuma bisa ngakak. “Ya, lo udah jadi trendsetter hantu, Bima! Dunia arwah akan ngomongin lo terus, nih!”
Dengan hati yang ringan, Bima merasa dia udah sukses. "Gue bakal jadi desainer arwah pertama, yang bener-bener ngehits!"
Bima pun mulai merasa seolah-olah dia sudah menemukan panggilan hidupnya. Dunia arwah ternyata bukan cuma soal serem-sereman, tapi juga soal fashion! Semuanya tampak berjalan lancar sampai tiba-tiba muncul sekelompok pocong yang kelihatan bingung, seakan baru aja keluar dari almari.
“Bro, lo pada nggak mau coba outfit baru? Berubah jadi warna warni contohnya?” tanya Bima sambil menunjuk pocong yang terikat kain putih itu.
Salah satu pocong yang kelihatan paling tua dengan wajah penuh keriput ngelirik ke Bima dan bilang, “Gimana sih lo, Bim? Kami tuh udah terikat sama tradisi! Kita ini pocong, bukan pocong yang bisa berubah jadi warna-warni kayak pelangi!”
Bima tertawa kecil, "Yah, gue ngerti sih. Tapi, coba lo bayangin, kalau lo pake warna pastel, bisa-bisa lo jadi pocong yang lebih instagrammable loh!"
Pocong itu cuma bisa geleng-geleng kepala, tapi akhirnya setuju juga. Bima pun mulai memainkan cat warna, memberi pocong-pocong itu lapisan warna-warni yang bikin mereka terlihat seperti karakter kartun yang terjebak di dunia hantu.
Satu pocong jadi warna pink cerah, satu lagi kuning dan satu lagi biru muda. Mereka tampak seperti parade pocong yang lagi foto-foto di studio.
"Jadi gimana? Keren, kan?" tanya Bima, dengan gaya sombong seperti seorang desainer dunia.
Pocong-pocong itu langsung ngelirik satu sama lain, lalu jawab dengan canggung, "Ya ... kalau lo bilang keren, sih ... kami percaya aja deh yang penting bisa kayak lo, kayak opa opa korea kata kuntilanak tobrut disini."
Tiba-tiba, Pak Hadi yang lagi santai di pojokan juga ikut angkat bicara. "Lo benar-benar udah bikin mereka jadi lebih hidup, Bima. Jadi, mereka ini kayak pocong fashionista yang mau ke mall?"
Bima ngangguk bangga. "Betul banget, Pak! Sekarang semua hantu bisa tampil gaya, bahkan kalau mereka cuma mau nongkrong di kuburan!"