Pocong Opa-Opa Korea

Terdampar di Dunia Manusia

Bima terdampar di dunia manusia, tepatnya di kota yang sama sekali asing baginya. Gedung-gedung tinggi, lampu neon dan jalan yang sibuk bikin dia merasa seperti karakter drama Korea yang salah tempat.

 
“Ya ampun, ini di mana lagi, sih? Kuntilanak Elsa, lo beneran nggak bisa ngusir gue ke tempat yang bener?” gerutunya sambil terus melompat-lompat di trotoar. Setiap lompatannya beberapa orang menatap dengan tatapan bingung atau langsung kabur ketakutan.
 
Sementara itu, rasa lelah mulai menyerang. "Pocong kok capek? Ini nggak masuk akal. Gue udah mati, tapi masih ngos-ngosan kayak habis lari maraton!" Bima menghentikan lompatannya sejenak untuk mengambil napas (walaupun dia nggak butuh napas, tapi tetap saja kebiasaan).
 
Di tengah kebingungannya, dia melihat pemandangan yang aneh. Di sudut sebuah gang sempit, ada sekelompok kuntilanak sedang membantu satu sama lain mengganti paku di kepala mereka.
 
“Eh, apaan tuh? Ngumpul arisan paku apa gimana?” gumamnya sambil mendekat.
 
Salah satu Kuntilanak, dengan rambut merah menyala seperti kena pewarna rambut diskonan, sedang berusaha menarik paku dari kepala temannya yang berambut biru neon. “Aduh, ini paku siapa sih yang kenceng banget pasangnya? Nih, kan! Aku nariknya sampai keringetan.”
 
Kuntilanak lain yang rambutnya dikepang dua seperti mau ikut audisi idol, mengeluh, “Kalian ini nggak ngerti gaya! Paku itu harus matching sama baju. Nih, aku baru beli paku warna rose gold. Keren kan?”
 
Bima hanya bisa melongo. Hantu di dunia manusia ternyata tak kalah lebih absurd dari dunia arwah.
 
Namun, satu Kuntilanak tiba-tiba berhenti dari kegiatannya dan menoleh ke arah Bima. Wajahnya langsung berubah penuh semangat. “CONG OPA!” teriak Kuntilanak itu sambil melayang ke arah Bima dengan kecepatan angin ribut.
 
Bima terperanjat. “Eh, apa? Cong Opa? Siapa Opa? Gue ini Pocong, bukan K-pop idol!”
 
Kuntilanak yang rambutnya bergelombang seperti habis dipermak, melayang di depan Bima sambil tersenyum lebar. “Tapi wajah kamu kayak Opa Korea banget! Liat nih, aku punya album BTS!” Dia tiba-tiba mengeluarkan album foto dari balik dasternya.
 
“Eh, Kuntilanak kok bawa album BTS?” Bima bingung sambil mundur pelan-pelan.
 
“Karena aku ARMY, Cong Opa! Dan mulai sekarang, aku bakal jadi penggemar nomor satu kamu!” ujar Kuntilanak itu dengan mata berbinar.
 
"Kenalin, aku yuli ... kuntilanak paling hits di kota ini!" 
 
Bima terdiam, mencoba memahami situasi. Kuntilanak bernama Yuli ini tidak hanya salah paham tentang statusnya sebagai Opa Korea, tapi juga sangat ... sangat antusias!
 
“Gue harus pergi,” gumam Bima sambil melompat menjauh.
 
Namun, sebelum dia sempat mencapai trotoar berikutnya, Yuli sudah melayang di hadapannya lagi. “Cong Opa, tunggu dulu! Aku punya pertanyaan penting. Kamu lebih suka lagu Butter atau Dynamite?”
 
“Gue nggak tau dua-duanya!” jawab Bima dengan nada putus asa. Dia melompat lebih cepat, berharap bisa melarikan diri.
 
Tapi, di mana Bima melangkah, di situ ada Yuli. Kuntilanak itu melayang dengan kecepatan tak wajar, bahkan lebih cepat dari bus Transjakarta yang lagi dikejar penumpang.
 
“Cong Opa, jangan kabur! Aku cuma mau ngobrol sebentar!” teriak Yuli.
 
Bima yang mulai frustrasi, mencoba taktik lain. Dia berhenti melompat dan bersembunyi di belakang sebuah mobil. “Oke, gue harus mikir cepat. Kuntilanak ini gila!”
 
Tapi, sebelum dia bisa menyusun strategi, suara Yuli terdengar lagi. “Cong Opa, aku tau kamu ada di balik mobil! Nih, aku kasih lihat lightstick-ku!”
 
Bima keluar dari tempat persembunyiannya sambil melotot. “Kuntilanak bawa lightstick? Lo serius banget, ya, jadi ARMY?”
 
Yuli mengangguk bangga, mengeluarkan lightstick berbentuk bola dari balik dasternya. “Ini spesial, loh. Aku sampai ngantri 12 jam buat beli!”
 
Bima menepuk dahinya. “Gue ini POCONG, Yuli. Bukan bagian dari BTS, BLACKPINK atau apa pun itu. Jadi tolong kasih gue ruang bernapas … eh, ya udah nggak bisa napas juga sih, tapi lo ngerti maksud gue!”
 
Yuli tidak menyerah. Dia melayang mengikuti Bima ke mana pun dia pergi. Bima mencoba masuk ke gang kecil, melompati pagar, bahkan sembunyi di antara tong sampah. Tapi setiap kali dia pikir dia sudah lolos, Yuli muncul lagi dengan senyum lebar.
 
“Cong Opa, aku cuma mau temenan. Jangan gitu dong!” kata Yuli sambil melayang santai di sebelah Bima yang kelelahan.
 
“Lo bukan temenan, lo ngejar-ngejar gue kayak gue tiket konser gratis!” balas Bima kesal.
 
“Aku cuma kagum sama kamu, Cong Opa. Kamu itu beda dari pocong lain. Gayamu, aura kamu, itu iconic!”
 
Bima mendengus. “Gue ini bukan selebriti, Yuli. Gue cuma pocong biasa yang lagi tersesat.”
 
Tapi Yuli tampaknya tidak peduli. “Justru itu yang bikin kamu spesial! Kamu kayak i gem! Aku suka orang-orang yang nggak mainstream!”
 
“Lo tau nggak, Yuli? Lo itu alasan kenapa sekarang gue lebih suka dunia arwah. Di sana gue nggak perlu dikejar-kejar Kuntilanak fangirl kayak lo!”
 
Bima memutuskan untuk mencoba satu trik terakhir. Dia melompat ke sebuah taman kota yang penuh dengan patung-patung aneh. Dia bersembunyi di antara patung itu, berdiri diam seperti bagian dari instalasi seni.
 
Beberapa saat berlalu dan Bima mulai merasa aman. “Akhirnya, gue bebas .…”
 
Tapi, suara Yuli terdengar lagi lebih mengejutkan. “Cong Opa! Aku tau kamu di sini!”
 
Bima menghela napas panjang. “Ya ampun, Kuntilanak ini bener-bener nggak ada matinya .…”
 
Yuli melayang mendekat, membawa sebuah poster BTS yang entah dari mana dia dapatkan. “Cong Opa, aku punya ide! Gimana kalau kita duet? Kamu jadi vokalnya, aku jadi dancernya. Kita pasti viral di dunia hantu!”
 
Bima menatap Yuli dengan ekspresi lelah. “Yuli, gue ini bahkan nggak bisa buka tangan dengan leluasa, apalagi nyanyi. Lo kira gue siapa? Jimin versi kain kafan?”
 
Yuli tertawa kecil. “Kamu lucu banget, Cong Opa. Makanya aku nggak bisa ninggalin kamu!”
 
...
 
Setelah beberapa jam kejar-kejaran, Bima akhirnya menyerah. “Oke, Yuli. Lo menang. Gue nggak bisa kabur dari lo. Jadi, apa maunya lo?”
 
Yuli tersenyum lebar. “Aku cuma mau kita jadi partner. Kamu Cong Opa, aku Kuntilanak Army. Kita bikin sejarah di dunia manusia!”
 
Bima mendesah. “Oke, tapi ada syaratnya. Lo harus bantu gue cari Hanum. Dia itu penting buat gue.”
 
Mendengar itu, Yuli langsung bersemangat. “Cong Opa, tenang aja! Aku pasti bisa bantu. Tapi … setelah itu kita bikin TikTok bareng, ya?”
 
Bima hanya bisa pasrah. “Ya Tuhan, kenapa gue harus ketemu Kuntilanak seabsurd ini?”
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!