PUISI UNTUK EMBUN
Terlambat
“Aish ya ampun, kesiangan lagi deh.” Embun mengumpat di sela napasnya yang terengah. Gadis itu tahu dia sudah terlambat masuk sekolah. Sayangnya, Embun cukup malas untuk berlari. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi andai saja dia mau berangkat ke sekolah lebih pagi sedikit lagi.
Tapi namanya juga Embun. Jarak dari rumahnya ke sekolah itu biasa ditempuh dalam waktu 30 menit jika naik angkot. Embun masuk jam 7.15, dia baru naik angkot sekitar jam 7 kurang beberapa menit. Otomatis akan terlambat, kecuali angkot yang dia tumpangi memacu kendaraannya ugal-ugalan.
Turun dari angkot, Embun masih harus berjalan kaki menuju gerbang sekolah yang jaraknya sekitar 300 meter. Bisa dibayangkan, berapa lama waktu yang harus Embun persiapkan kalau ingin masuk tepat waktu. Kedua orang tuanya sudah sangat bosan menemui guru BP karena tingkah Embun yang hampir tiap hari terlambat. Padahal, Embun dan kedua adiknya sudah bangun sejak subuh lalu disuruh bersiap untuk sekolah. Dua adik Embun yang sekolahnya lebih jauh dan harus pindah angkot dua kali saja enggak pernah terlambat.
Selama kelas 1 SMA saja, orang tua Embun sudah delapan kali dipanggil ke sekolah. Semuanya karena alasan yang sama: terlambat. Satu-satunya yang masih bisa menolong Embun untuk tidak dikeluarkan dari sekolah itu adalah karena Embun dikenal sangat aktif dalam organisasi. Embun sudah terpilih sebagai wakil sekretaris OSIS ketika dia baru 3 bulan duduk di kelas 1. Dia juga sudah beberapa kali memenangkan lomba pidato dan lomba baca puisi mewakili sekolahnya.
Nilai akademik Embun juga tergolong cukup bagus. Dia selalu masuk lima besar di kelasnya. Wali kelas Embun saat kelas 1 hanya bisa mengusap dada dengan kelakuan gadis ajaib ini. Sekarang Embun sudah kelas 2. Dia terdaftar di kelas 2.3. Baru masuk minggu kedua dan dia sudah terlambat lima kali. Untungnya, selama ini Embun selalu diloloskan untuk masuk ke dalam gedung sekolah oleh si Babeh. Panggilan keren untuk satpam di sekolah mereka. Lelaki paruh baya itu sangat mengenal Embun. Selain baik dan aktif di sekolah, Embun juga kalau terlambat selalu sendirian. Enggak pernah bawa teman apalagi pasukan. Jadi ketika suasana sepi, Babeh bisa membuka gerbang dengan leluasa dan Embun pun masuk tanpa banyak pertanyaan.
Bukan itu saja, setiap seminggu sekali Embun selalu memberikan upeti berupa satu bungkus rokok kesukaan si Babeh. “Tidak ada makan siang gratis”, itu slogannya Babeh. Sama-sama diuntungkan sih.
“Hhhhhh... Kali ini gue beruntung. Terlambat tapi bisa bareng sama elo.” Sebuah suara terdengar dari samping kanan Embun. Tampak Jeno sedang menjejeri langkahnya yang terburu-buru.
“Tumben lo kesiangan?” Embun bertanya heran. Meski seluruh sekolah tahu kalau Jeno ini si biang kerok, tapi seingat Embun, Jeno enggak pernah terlambat.
“Wah lo perhatian juga ya sama gue. Sampai tahu kalau gue enggak pernah terlambat.” Jeno nyengir menggoda Embun.
“Enggak usah ge er gitu. Gue cuma basa basi.” Embun mengerling ketus. Matanya seolah siap menerkam Jeno.
Tak bisa dipungkiri, Embun memang kerap memperhatikan Jeno yang namanya tidak pernah ada di buku data siswa yang terlambat.
“Ya ampun, lo jadi cewek galak banget ya. Kita baru seminggu sekelas loh.” Ucapan Jeno ibarat bensin yang sedang menyiram api. Mereka memang sekelas.
Fakta itu yang Embun enggak suka. Hari pertama dia masuk kelas 2.3 dan tahu ada Jeno di sana, Embun langsung menghadap Bu Sirait sebagai wali kelas. Embun minta pindah kelas. Tentu saja permintaannya ditolak mentah-mentah. Embun tidak bisa memberikan alasan yang tepat kenapa harus pindah. Meski dongkol, Embun tidak mungkin mengatakan dia pindah karena ada Jeno di kelas itu. Bisa panjang urusannya.
“Lo jangan bareng gue deh. Ntar masalah buat gue.” Embun makin mempercepat langkahnya. Kini setengah berlari untuk menjauh dari Jeno.
Walaupun Babeh baik mau membukakan pintu gerbang untuk Embun, tapi Embun tahu diri, bakalan lain cerita kalau dia bersama yang lain. Apalagi sama Jeno. Embun sudah bisa membayangkan bagaimana kesalnya muka Babeh.
“Nanti yang lain sama kayak kamu. Minta Babeh bukain pintu gerbang kalau mereka terlambat.” Itu alasan Babeh kenapa hanya mau membukakan gerbang sekolah kalau Embun sendirian. Kalau terlambat ramai-ramai, ya Embun juga harus terima konsekuensi ikut dihukum.
“Ogah. Gue malah sengaja mepet sama elo biar bisa masuk. Elo kan sakti. Terlambat hampir tiap hari tapi bisa masuk terus.”
Bukan cuma Jeno yang tahu rahasia itu. Lebih dari setengah isi sekolah juga tahu kalau terlambat, lebih baik menunggu Embun supaya bisa tetap masuk ke dalam sekolah walaupun nantinya mendapatkan hukuman.
“Lo jalan di depan gue deh. Biar kita enggak kena hukuman. Kalau lo bareng sama gue, yang ada juga malah kita berdua dihukum.” Setengah hati Embun mempersilakan Jeno jalan di depannya. Cara ini masih lebih baik daripada mereka datang bersama.
“Wah gila, gue enggak nyangka banget lo bisa sebaik hati ini. Oke, gue duluan ya.” Jeno langsung berlari mendahului Embun. Gerbang sekolah sudah di depan mata mereka.
Benar saja, Jeno bisa lolos dari Babeh tanpa banyak pertanyaan. Awalnya Babeh menatap tajam ke arah Jeno, namun tatapan itu melembut ketika Babeh melihat ada Embun yang berjalan dengan buru-buru di belakang Jeno.
“Makasih ya Beh.” Embun memberikan senyum termanisnya.
“Kamu tuh ya, bisa-bisanya nyuruh Jeno duluan.” Babeh menggerutu sambil menutup gerbang.
“Daripada dihukum bareng.” Jawab Embun singkat.
Pagi itu, kelas 2.3 riuh rendah. Bu Sirait, wali kelas mereka, sedang mengabsen. Seperti biasa, suara Bu Sirait yang khas, tegas, dan sedikit melengking itu membuat suasana kelas yang tadinya ramai menjadi senyap seketika. "Embun?" panggil Bu Sirait.
"Hadir!" sahut Embun cepat, sudah duduk manis di bangkunya, seolah tidak pernah terlambat sama sekali. Pandangannya melirik Jeno di sampingnya, yang juga sudah duduk tenang. Mereka berbagi seringai kecil.
"Jeno?" lanjut Bu Sirait.
"Hadir!" Jeno menjawab, suaranya sedikit lebih rendah dari Embun.
Bu Sirait menatap Jeno dengan tatapan curiga. "Tumben kamu tidak terlambat, Jeno?"
Jeno hanya nyengir lebar. "Hari ini saya dapat hidayah, Bu."
Beberapa teman sekelas terkekeh pelan. Mereka tahu Jeno ini ahli bersilat lidah. Embun hanya menggelengkan kepala. Entah bagaimana, Jeno selalu bisa membuat keadaan sedikit lebih ringan, bahkan di bawah pengawasan Bu Sirait yang terkenal disiplin.
Pelajaran Matematika dimulai. Embun, seperti biasa, berusaha fokus. Dia tidak menyukai mata pelajaran ini. Berbeda dengan Eni dan Wiwik. Si anak kesayangan Bu Sirait, Bu Euis dan Bu Penta. Matematika, Fisika, serta Kimia mereka lahap tanpa kesulitan. Sementara itu, Jeno di samping Embun terlihat lebih tertarik pada coretan di buku catatannya daripada penjelasan Bu Sirait. Embun sesekali melirik. Jeno sedang menggambar karakter kartun dengan sangat detail.
"Jeno, apa yang kamu gambar?" suara Bu Sirait tiba-tiba menggelegar. Jeno terkesiap, buru-buru menutup bukunya.
***