PUISI UNTUK EMBUN
RUMAH YANG TIDAK RAMAI LAGI 1
Rumah Yeni sore itu seperti menahan napas.
Bukan sepi yang kosong, bukan pula sunyi yang damai. Tapi sunyi yang terasa seperti sisa-sisa suara ribut yang belum benar-benar pergi. Dinding-dindingnya masih menyimpan gema bentakan, pintu-pintu seperti masih mengingat getaran dibanting, dan udara terasa berat, seolah ada debu tak kasatmata yang menggantung di setiap sudut.
Embun bisa merasakannya begitu melangkah masuk.
Ia berdiri sejenak di ambang pintu ruang tengah, menyesuaikan diri dengan suasana. Bau minyak kayu putih bercampur aroma kopi tubruk dari dapur. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Acara kuis sore terdengar seperti suara latar yang terjebak di ruangan kosong.
Jeno masuk di belakangnya, menutup pintu perlahan. Biasanya pintu rumah Yeni selalu dibiarkan terbuka lebar, membiarkan suara tetangga, tukang lewat, dan anak-anak main kelereng masuk tanpa diundang. Tapi hari ini pintu itu tertutup rapat, seperti garis batas antara dunia luar dan dunia yang sedang retak di dalam.
“Sepi amat,” bisik Jeno.
“Iya,” jawab Embun pendek.
Yeni muncul dari kamarnya. Langkahnya pelan, seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang tapi belum benar-benar sadar. Rambutnya dikuncir asal, beberapa helai jatuh menutupi kening. Kaos lusuh kebesaran membuat tubuhnya tampak lebih kecil dari biasanya.
“Lo dateng?” tanya Yeni. Nada suaranya bukan keberatan, lebih ke heran.
Embun mengangguk. “Iya. Pengen ngecek lo beneran udah mendingan apa belum.”
Jeno nyengir. “Sekalian ngincer cemal-cemil. Di rumah gue biskuit udah abis.”
Yeni terkekeh kecil, tapi tawanya nggak penuh.
“Duduk,” katanya sambil menunjuk sofa.
Mereka bertiga duduk mengitari meja kayu yang permukaannya penuh bekas goresan dan noda minuman lama. Meja itu saksi bisu banyak hal: PR yang dikerjakan bareng, kartu remi yang sering mereka mainkan, tumpahan teh manis saat tertawa terlalu keras.
Sekarang meja itu terasa asing.
Embun melirik sekeliling. Foto keluarga masih tergantung rapi di dinding. Foto itu diambil entah kapan, mungkin beberapa tahun lalu. Yeni kecil berdiri di tengah, senyum lebarnya menunjukkan gigi depan yang dulu sempat ompong. Ayah dan ibunya berdiri di kanan-kiri, wajah mereka tampak utuh, lengkap, seolah dunia tak pernah retak.
Embun menahan napas.
Ia tiba-tiba merasa seperti sedang menatap sesuatu yang sudah berubah tapi fotonya belum sempat diperbarui.
“Lo keliatan masih pucet,” kata Embun, mengalihkan perhatian.
“Sedikit,” jawab Yeni. “Pusingnya udah lumayan ilang. Tinggal capek aja.”
“Makanya jangan kebanyakan begadang,” celetuk Jeno. “Nonton MTV sampe subuh.”
Yeni nyengir tipis. “Ngomong doang lo.”
Obrolan awal berjalan ringan, seperti biasanya. Mereka membahas guru matematika yang terkenal galak. Tentang rencana pensi yang katanya bakal ngundang band ibu kota. Tentang gosip anak kelas sebelah yang ketahuan pacaran di taman kota.
Jeno selalu jadi sumber komentar nyeleneh.
“Gue heran, orang pacaran kok kayak maling,” katanya. “Ngumpet-ngumpet, deg-degan, padahal cuma pegangan tangan.”
Embun menyahut, “Ya elolah. Zaman kita mana bebas kayak sinetron.”
Yeni tertawa kecil.
Tapi tawanya cepat hilang.
Seperti seseorang yang lupa caranya tertawa tanpa mikir.
Embun memperhatikan perubahan itu. Tatapan Yeni sering kosong, melayang entah ke mana. Tangannya memainkan ujung kaos tanpa sadar. Bahunya sedikit tegang.
Insting Embun, yang biasa dipakai buat membaca situasi rapat OSIS atau konflik antar siswa, menangkap sinyal yang sama sekali bukan soal fisik.
Ada sesuatu yang menggerogoti dari dalam.
“Ni,” panggil Embun pelan.
“Hm?”
“Lo sebenernya kenapa?”
Yeni mengangkat bahu. “Kenapa apaan?”
“Lo nggak kayak biasanya.”
“Biasanya gue apaan?”
“Bawel. Ribut. Nggak bisa diem lima menit.”
Jeno nyeletuk, “Iya. Kalau lo diem lama gini, kuping gue malah sepi.”
Yeni tersenyum tipis, tapi nggak membantah.
“Kadang orang capek ngomel juga,” jawabnya.
“Capek kenapa?” desak Embun, nada suaranya lembut tapi tegas.
Yeni menunduk. Jari-jarinya saling mengait.
“Kadang badan sembuh, tapi kepala belum,” katanya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi maknanya berat.
Jeno berhenti menyandarkan punggung. Ia menatap Yeni lebih serius.
“Maksud lo?” tanyanya.
Yeni menarik napas panjang. Matanya menatap lantai, bukan pada mereka.
“Gue nggak sakit badan doang.”
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Televisi masih menyala, tapi suaranya seperti datang dari dunia lain.
Dari dapur terdengar bunyi panci dipindahkan, suara langkah orang dewasa sebentar, lalu senyap lagi. Kehadiran orang tua di rumah itu terasa samar. Ada, tapi jauh, seperti dua dunia yang terpisah tembok tipis.
“Bokap nyokap gue ribut terus,” kata Yeni akhirnya. Suaranya pelan, nyaris berbisik.
Embun menelan ludah.
“Ribut soal apa?” tanya Jeno.
“Macem-macem. Duit. Kerjaan. Hal kecil yang dibesar-besarin. Hal gede yang dipendem lama.”
Yeni menghembuskan napas. “Kayak kaset rusak. Diputer ulang terus.”
Embun mengangguk. Ia bisa membayangkan suara kaset pita yang macet, memutar potongan lagu yang sama berulang-ulang sampai bikin kepala pening.
“Terus…?” dorong Embun perlahan.
Yeni menutup mata sebentar, seperti mengumpulkan keberanian.
“Mereka mau cerai.”
Kalimat itu jatuh seperti benda berat yang dilempar ke lantai kayu.
Tidak ada suara pecah, tapi getarnya terasa sampai ke dada.
Jeno terdiam. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak punya komentar.
Embun refleks meraih tangan Yeni.
“Udah… dibicarain ke lo?” tanya Embun.
Yeni mengangguk pelan. “Gue denger sendiri. Malem-malem. Mereka pikir gue tidur.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Sejak itu gue nggak bisa tidur nyenyak. Kepala gue pusing. Perut gue mual. Badan gue panas. Dokter bilang cuma kecapekan.”
Yeni tersenyum pahit. “Padahal yang capek bukan badan doang.”
Air mata jatuh satu-satu, membasahi punggung tangannya.
Embun langsung memeluknya, tanpa banyak kata.
“Ni…”
Tangis Yeni pecah perlahan, seperti hujan yang turun dari langit mendung terlalu lama.
“Gue takut rumah gue pecah,” katanya di sela isak. “Gue takut pulang sekolah nanti cuma ketemu tembok kosong. Nggak ada suara ribut, tapi juga nggak ada suara ketawa.”
Jeno menunduk. Dadanya terasa sesak, meski ia bukan yang mengalami.
“Gue malu cerita ke siapa-siapa,” lanjut Yeni. “Takut dikasihani. Takut dijadiin bahan gosip anak kelas. Lo tau sendiri mereka doyan ngerumpi.”
Jeno mengangguk pelan. “Iya. Salah dikit langsung naik ke papan pengumuman gosip.”
Yeni terkekeh kecil di sela tangis.
“Gue pura-pura sakit biar bisa diem di kamar, pake headset, nutup suara ribut mereka,” katanya lagi. “Kalau gue nggak denger, gue bisa pura-pura semuanya masih normal.”
Embun mengusap punggung Yeni perlahan.
“Lo nggak salah apa-apa, Ni.”
“Gue tau. Tapi tetep sakit.”
Kalimat itu jujur dan sederhana.
Tidak ada teori.
Tidak ada solusi instan.
Hanya rasa.
Mereka bertiga terdiam lama. Televisi akhirnya dimatikan oleh seseorang dari dapur, membuat keheningan terasa lebih nyata.
Angin sore masuk lewat jendela, menggerakkan tirai tipis.
Embun masih memeluk Yeni, membiarkannya menangis sampai napasnya lebih teratur.
Jeno duduk agak dekat, tangannya bertumpu di lutut, sesekali mengusap wajah sendiri, seperti ikut merasakan beban itu.
“Lo takut pilih siapa?” tanya Jeno akhirnya, suaranya pelan.
Yeni mengangguk. “Takut banget. Mau ke bokap, kasian nyokap. Mau ke nyokap, kasian bokap. Kayak disuruh milih tangan kanan atau kaki kiri.”
Embun menghela napas panjang. “Kadang orang dewasa juga nggak tau caranya beresin hidup mereka sendiri.”
Yeni mengangguk.
“Padahal dari kecil mereka nyuruh kita jadi pinter, jadi bener, jadi sabar,” lanjut Yeni lirih. “Tapi mereka sendiri berantakan.”
Kalimat itu mengandung kepedihan yang terlalu dewasa untuk usia mereka.
Langit di luar mulai berubah warna. Sore menua.
Lampu ruang tengah dinyalakan, menyiram ruangan dengan cahaya kuning temaram.
Yeni tampak sedikit lebih tenang, meski matanya masih sembab.
Ia mengusap wajah. “Maaf jadi drama.”
“Ngaco,” sahut Embun cepat. “Ini bukan drama.”
“Ini hidup,” tambah Jeno.
Yeni tersenyum kecil.
***