PUISI UNTUK EMBUN
AKHIRNYA KITA 1
Hujan sore itu turun lebih deras dari pagi. Langit berubah kelabu pekat, seperti menahan beban yang tidak sanggup lagi disimpan. Suara air menghantam genting sekolah terdengar ramai, nyaris menenggelamkan suara bel pulang yang menggema sendirian.
Sebagian siswa berlarian menembus hujan, sebagian lain berteduh di selasar sambil menggerutu, menunggu hujan reda atau dijemput orang rumah.
Embun berdiri di bawah atap depan kelas, memeluk tasnya di dada.
Ia lupa membawa payung.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan itu. Hujan mungkin akan reda sebentar lagi. Tapi lima belas menit berlalu, hujan justru makin deras, angin mulai menggoyang ranting-ranting pohon, membuat cipratan air masuk sampai ke lantai selasar.
“Duh,” gumam Embun pelan.
Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir setengah lima. Ibunya pasti mulai khawatir.
“Belum pulang?”
Suara itu datang dari samping.
Embun menoleh. Jeno berdiri di sana, memegang payung lipat hitam yang sudah terbuka sedikit. Ujung rambutnya basah kena percikan hujan.
“Belum,” jawab Embun. “Gue nggak bawa payung.”
“Bareng aja.”
Embun ragu. “Ntar lo basah.”
“Gue bawa payung, Mbun.”
Nada Jeno santai, tapi ada sesuatu yang lembut di sana.
Mereka berdiri sejenak, mendengarkan hujan.
Akhirnya Embun mengangguk kecil.
Mereka melangkah keluar gerbang sekolah di bawah satu payung. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu warung dan kendaraan yang lewat. Air mengalir kecil di pinggir aspal, membawa daun-daun kering.
Payung itu tidak terlalu besar. Bahu mereka sesekali bersentuhan.
Embun merasakan hangat tubuh Jeno di sisi kirinya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Lo dingin?” tanya Jeno.
“Sedikit.”
Jeno menggeser payung sedikit lebih ke arah Embun, membuat sebagian bahunya sendiri terkena air hujan.
“Jeno, nanti lo basah.”
“Gapapa.”
Embun menahan senyum.
Langkah mereka melambat, menyesuaikan genangan air.
Beberapa detik berjalan dalam diam, hanya diisi suara hujan dan bunyi sepatu menginjak air.
“Mbun,” kata Jeno pelan.
“Hm?”
“Gue kemarin kepikiran omongan lo.”
“Yang mana?”
“Yang lo bilang takut kebablasan.”
Embun menelan ludah.
“Gue nggak mau lo takut sama perasaan lo sendiri,” lanjut Jeno. “Perasaan itu bukan musuh.”
“Kadang iya,” jawab Embun lirih. “Kalau salah kelola.”
“Kalau dijalanin pelan-pelan, mungkin nggak.”
Embun menatap jalanan basah.
“Lo tau kenapa gue berani nunggu?” tanya Jeno lagi.
“Kenapa?”
“Karena buat gue, lo layak ditunggu.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam pelan ke dada Embun.
Ia menoleh. Wajah Jeno terlihat tulus, tidak sedang menggombal.
“Lo nggak capek?” tanya Embun.
“Capek. Tapi lebih capek kalau nyerah.”
Embun terdiam.
Mereka berhenti sebentar di bawah pohon besar untuk menghindari cipratan air dari atap warung.
Hujan semakin deras.
“Mbun,” Jeno memanggil lagi, kali ini lebih serius.
“Kalau gue janji nggak bakal maksa lo, nggak bakal bikin lo kehilangan diri lo… lo mau nggak nyoba?”
Pertanyaan itu menggantung di udara yang lembap.
Embun menatap Jeno.
Dalam kepalanya, ketakutan dan keinginan saling tarik-menarik.
Ia teringat gosip. Teringat tanggung jawab. Teringat kemungkinan sakit hati.
Namun ia juga teringat bagaimana Jeno selalu ada. Bagaimana ia merasa aman saat bersama Jeno. Bagaimana ia tertawa lebih lepas tanpa sadar.
“Gua takut salah,” ucap Embun pelan.
“Gue juga,” jawab Jeno jujur. “Tapi kalau nggak pernah nyoba, kita nggak akan tau.”
Hening.
Hanya hujan yang berbicara. Embun menutup mata sejenak. Mengambil napas. Lalu membuka mata lagi.
“Kasih gue waktu,” katanya akhirnya.
Jeno tersenyum kecil. “Gue tunggu.”
Mereka melanjutkan langkah.
Keesokan harinya, gosip mulai terasa lebih nyata. Embun merasakan beberapa tatapan berbeda. Ada bisik-bisik kecil yang berhenti saat ia lewat. Ada senyum menggoda dari beberapa teman cewek.
“Mbun, katanya lo kemarin pulang bareng Jeno ya?” tanya seorang teman iseng.
Embun tersenyum canggung. “Kebetulan aja hujan.”
“Oh gituuu…” nada itu penuh makna.
Embun menghela napas. Di sisi lain, Jeno juga tidak luput dari godaan teman-temannya.
“Wih, Jen. Udah gandengan sama ketua OSIS nih?” ejek salah satu temannya.
“Ngaco lo,” balas Jeno sambil tertawa kaku.
Namun di dalam hati, ia sedikit bangga.
Sore itu, Jeno menunggu Embun di depan perpustakaan. Ia membawa sebuah buku kecil bersampul biru.
“Ini apaan?” tanya Embun.
“Buku catatan. Buat lo.”
“Buat apa?”
“Buat nulis apa aja yang lo mau. Biar lo nggak nyimpen semua di kepala.”
Embun membuka halaman pertama. Di situ tertulis dengan tulisan tangan Jeno: Kalau suatu hari lo capek jadi kuat, tulis aja di sini.
Embun terdiam beberapa detik.
“Makasih,” katanya pelan.
Jeno tersenyum. Momen kecil itu mengendap lama di hati Embun.
Malamnya, Embun membuka buku itu di kamarnya. Ia menulis beberapa kalimat pendek tentang rasa takut, tentang harap, tentang ragu.
Untuk pertama kalinya, ia menulis nama Jeno di sana.
Dadanya terasa hangat.
***
Gosip itu bergerak lebih cepat dari hujan. Embun baru benar-benar menyadarinya saat ia masuk kelas pagi itu. Beberapa pasang mata langsung menoleh. Ada yang pura-pura sibuk membuka buku, ada yang berbisik sambil menutup mulut, ada pula yang tersenyum penuh arti.
Biasanya Embun cuek. Tapi hari ini dadanya terasa sedikit lebih berat. Ia duduk di bangkunya, mengeluarkan buku pelajaran, mencoba fokus.
Namun telinganya tetap menangkap potongan-potongan suara.
“Katanya kemarin mereka pulang bareng...”
“Iya, di bawah satu payung katanya.”
“Romantis amat…”
Embun menelan ludah.
Ia bukan takut pada gosip semata. Ia takut pada perubahan. Takut hidupnya tidak lagi sederhana seperti dulu.
Bel masuk berbunyi.
Pelajaran dimulai, tapi pikirannya tidak sepenuhnya hadir.
Sesekali matanya melirik ke arah Jeno yang duduk beberapa baris di depan. Punggungnya terlihat tenang, seolah dunia baik-baik saja.
Padahal Embun tahu, Jeno juga sedang berjuang di dalam dirinya.
Waktu istirahat, Joy menghampiri Jeno.
“Jen,” katanya sambil menyeringai, “lo sekarang artis sekolah ya?”
Jeno mendengus. “Apaan sih.”
“Serius. Gosip lo sama Embun udah keliling satu sekolah.”
Jeno terdiam sesaat. “Biarin.”
Joy menatapnya lebih tajam. “Lo beneran serius sama dia?”
Jeno mengangguk pelan. “Iya.”
Joy menepuk bahu Jeno. “Berani juga lo.”
“Kenapa?”
“Embun itu bukan cewek sembarangan. Banyak yang ngincer. Banyak drama.”
Jeno tersenyum kecil. “Justru itu.”
Sementara itu, Embun duduk di bawah pohon bersama seorang sahabatnya, Rara.
“Lo kenapa kelihatan gelisah?” tanya Rara sambil membuka bekalnya.
Embun menghela napas. “Kayaknya semua orang ngeliatin gue.”
“Ya iyalah. Lo sama Jeno lagi hot.”
Embun meringis. “Gue nggak suka jadi bahan omongan.”
“Lo takut suka sama dia, ya?”
Pertanyaan itu menusuk.
Embun tidak langsung menjawab.
“Bukan takut suka,” katanya akhirnya. “Takut kehilangan kendali.”
Rara menatapnya penuh pengertian. “Kadang hidup memang nggak bisa kita kontrol terus, Mbun.”
Embun terdiam.
Hari demi hari berjalan dengan ritme yang sama.
Jeno tetap setia menunggu.
Kadang hanya berdiri di dekat kelas Embun. Kadang menemani sampai gerbang. Kadang mengirim senyum kecil dari jauh.
Tidak memaksa. Tidak menekan. Namun kehadirannya konsisten. Dan justru itulah yang perlahan menggerogoti pertahanan Embun. Ia mulai menunggu kehadiran Jeno tanpa sadar. Mulai kecewa jika Jeno terlambat. Mulai mencari-cari wajah itu di kerumunan siswa.
***