PUISI UNTUK EMBUN
RIUH YANG KITA SEBUT SEKOLAH 3
Lapangan basket sore itu masih panas oleh sisa matahari yang menggantung malas di ufuk barat. Aspal mengeluarkan aroma khas yang sedikit menyengat, bercampur dengan bau keringat dan debu sepatu olahraga. Suara pantulan bola menggema ritmis, seolah menjadi soundtrack tetap bagi sebagian siswa yang menjadikan lapangan sebagai tempat pelarian dari tugas, aturan, dan rutinitas kelas.
Joy masih bertahan di tengah lapangan, meski sebagian besar anak-anak sudah bubar. Kaosnya basah oleh keringat, rambutnya sedikit lepek, tapi matanya tetap menyala penuh konsentrasi. Ia menggiring bola sendirian, mempraktikkan gerakan yang sama berulang-ulang, seakan ada sesuatu yang belum puas ia capai hari itu.
Dari pinggir lapangan, Ronald memperhatikan dengan alis terangkat. Ia sudah tiga kali memanggil Joy, tapi tidak digubris.
“JOY!” teriak Ronald akhirnya, agak kesal.
Joy berhenti, menoleh. “Apaan sih, ribut amat?”
“Lo tuh nggak capek apa? Dari tadi latihan mulu.”
Joy memantulkan bola sekali lagi sebelum berjalan mendekat. “Kalau mau jago, ya harus capek.”
Ronald menyodorkan botol minum. “Minum dulu, bos.”
Joy menerima botol itu dan menenggak isinya setengah, napasnya masih agak terengah. Ia duduk di pinggir lapangan, menatap ring basket dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Lo kenapa sih belakangan kayak kejar setan?” tanya Ronald sambil ikut duduk.
Joy mengangkat bahu. “Nggak kenapa-kenapa.”
Ronald mendengus kecil. “Jawaban paling bohong sedunia.”
Joy tersenyum tipis. “Banyak yang berharap sama gue.”
“Lah itu kan bagus.”
“Bagus, tapi berat.”
Ronald terdiam, menunggu Joy melanjutkan.
Joy menatap lapangan kosong. “Kalau gue main jelek dikit aja, langsung pada ribut. Pelatih ngomel, anak-anak kecewa, penonton nyinyir. Semua pengen gue selalu sempurna.”
Ronald menoleh, menatap Joy lebih serius. “Lo juga manusia, bukan mesin.”
Joy terkekeh hambar. “Coba bilang itu ke mereka.”
Tak lama kemudian, Riana muncul dari arah koridor, membawa dua bungkus gorengan dan minuman plastik.
“Eh, kalian masih di sini?” katanya.
“Ini orang nggak tau capek,” jawab Ronald.
Riana menyerahkan satu bungkus gorengan ke Joy. “Makan dulu, atlet.”
Joy menerima sambil tersenyum kecil. “Makasih.”
Riana duduk, menatap Joy dengan ekspresi lebih lembut dari biasanya. “Lo keliatan cape, tau.”
Joy terdiam beberapa detik. “Kadang gue pengen jadi anak biasa aja.”
Ronald tertawa kecil. “Anak biasa mana yang dipanggil bossanova?”
Joy ikut tertawa, tapi tawanya cepat meredup.
“Lo serius?” tanya Riana.
Joy mengangguk. “Gue capek selalu dituntut jadi yang paling jago.”
Riana menggigit gorengannya pelan. “Tapi lo juga suka basket, kan?”
“Iya. Justru itu yang bikin ribet. Gue nggak mau rusak gara-gara tekanan.”
Ronald menepuk bahu Joy. “Lo nggak sendirian, Bro.”
Beberapa anak lain lewat, menyapa Joy dengan penuh kagum. Joy membalas dengan senyum ramah, meski setelah mereka pergi, wajahnya kembali datar.
Jeno muncul dari kejauhan, menghampiri mereka. “Wih, nongkrong rame.”
“Gabung aja,” kata Ronald.
Jeno duduk. “Joy, besok katanya ada seleksi tim antar sekolah, ya?”
Joy mengangguk. “Iya.”
“Lo siap?”
Joy menarik napas panjang. “Harus siap.”
“Kalau kalah?” tanya Jeno iseng.
Joy melirik tajam. “Jangan doain yang jelek.”
Mereka tertawa, tapi di balik candaan itu ada ketegangan yang tidak sepenuhnya hilang.
Sore makin meredup, cahaya matahari berubah jingga. Lapangan perlahan kosong. Joy berdiri, menggiring bola sekali terakhir sebelum memasukkannya ke tas.
“Gue balik dulu,” katanya.
Ronald berdiri juga. “Bareng.”
Riana ikut berdiri. “Ayo.”
Mereka berjalan keluar lapangan, melewati lorong yang mulai sepi. Suara langkah mereka menggema ringan.
Joy menatap langit. “Kadang gue takut suatu hari orang-orang cuma inget gue pas gue jago.”
Ronald tersenyum. “Tenang. Kita inget lo pas lo nyebelin juga.”
Riana tertawa. “Betul.”
Joy ikut tertawa, kali ini lebih lepas.
Di dalam dirinya, tekanan itu belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya ia tidak merasa sendirian menghadapinya.
***
Lorong sekolah mulai lengang ketika matahari turun semakin rendah. Cahaya jingga menembus jendela-jendela tinggi dan membentuk bayangan panjang di lantai keramik yang mulai kusam oleh usia dan langkah kaki ribuan siswa selama bertahun-tahun. Ronald dan Riana berjalan berdampingan tanpa banyak bicara, membawa tas masing-masing, sementara Joy sudah lebih dulu berpamitan karena harus mengejar angkot.
Awalnya mereka hanya berjalan biasa, tapi suasana pelan-pelan berubah jadi agak canggung, seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakan tapi sama-sama menunggu siapa yang memulai.
“Eh, Ri,” Ronald membuka suara akhirnya, “tadi lo lama juga nonton latihan Joy.”
Riana melirik sekilas. “Terus kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma nanya.”
Riana berhenti berjalan. “Lo kenapa sih belakangan jadi aneh?”
Ronald ikut berhenti. “Gue aneh apanya?”
“Ya gitu. Banyak nanya. Kayak mau interogasi.”
Ronald menggaruk kepala. “Bukan interogasi.”
Riana menyilangkan tangan. “Terus?”
Ronald terdiam sebentar, mencari kata. “Gue cuma… pengen tau aja.”
“Tau apa?”
“Tau lo ngapain, sama siapa, suka apa.”
Riana menatap Ronald agak lama. “Sejak kapan lo peduli begitu?”
Ronald tertawa kecil, gugup. “Ya dari dulu.”
Riana mendengus. “Bohong. Dulu lo cuek.”
Ronald mengangkat bahu. “Mungkin sekarang gue nggak mau cuek lagi.”
Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik. Riana menoleh ke jendela, pura-pura memperhatikan bayangan cahaya.
“Lo kenapa tiba-tiba ngomong gitu?” tanya Riana pelan.
Ronald menarik napas. “Karena… gue nggak suka kalau lo terlalu deket sama cowok lain.”
Riana menoleh cepat. “Hah?”
Ronald merasa pipinya agak panas. “Ya, gue kesel aja.”
Riana menyipitkan mata. “Lo cemburu?”
Ronald langsung defensif. “Enggak!”
“Barusan lo bilang nggak suka.”
“Itu beda.”
Riana tertawa kecil. “Lucu deh lo.”
Ronald menghela napas pasrah. “Iya, iya. Mungkin gue cemburu.”
Riana tersenyum samar. “Kenapa?”
Ronald mengangkat bahu. “Gue juga bingung.”
Mereka berjalan lagi pelan-pelan. Suasana menjadi lebih hangat, meski masih ada rasa kikuk.
“Ri,” kata Ronald lagi, “lo pernah kepikiran nggak sih… kita ini apa?”
Riana berhenti lagi. “Maksud lo?”
“Kita temenan, iya. Tapi kadang rasanya beda.”
Riana menatap Ronald dalam-dalam. “Lo ngerasa gitu juga?”
Ronald mengangguk pelan. “Kadang.”
Riana terdiam lama. “Gue takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut kalau nanti malah ribut, terus nggak temenan lagi.”
Ronald mengangguk mengerti. “Gue juga kepikiran itu.”
Riana tersenyum kecil. “Ternyata kita sama-sama penakut.”
Ronald tertawa. “Iya.”
Mereka kembali berjalan. Di ujung lorong, suara tawa anak-anak lain masih terdengar samar.
“Ron,” kata Riana pelan, “kalau suatu hari kita berubah, lo masih mau jadi temen gue?”
Ronald menoleh. “Mau. Mau banget.”
Riana tersenyum lebih lebar.
Langit mulai berubah warna, tanda sore benar-benar datang. Mereka keluar gerbang sekolah bersama, berdiri sebentar di pinggir jalan.
“Angkot lo yang mana?” tanya Ronald.
“Yang biru.”
“Gue yang merah.”
Mereka berdiri menunggu. Beberapa angkot lewat, suara klakson bersahut-sahutan.
“Ri,” Ronald memanggil lagi sebelum berpisah, “makasih ya.”
“Makasih kenapa?”
“Udah jujur.”
Riana tersenyum. “Sama-sama.”
Angkot biru berhenti. Riana naik, melambaikan tangan kecil.
Ronald membalas lambaian itu dengan senyum lebar, merasa ada sesuatu yang berubah, meski belum sepenuhnya jelas bentuknya.
***