PUISI UNTUK EMBUN
Banyak Telinga
Embun akhirnya tahu, di sekolah ini angin pun bisa bicara. Kabar tentang Jeno yang mengajaknya pacaran sudah tersebar hampir ke semua kelas. Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam, beberapa orang riuh menanyakan kabar itu kepadanya. Bahkan saat istirahat kedua pun Embun tidak bisa leluasa makan di kantin seperti biasa. Ada yang bisik-bisik sambil menatapnya (ini dari golongan adik kelas), ada juga yang langsung menghampiri Embun dan menanyakan apa benar dia pacaran dengan Jeno. Sebagian merasa prihatin kenapa Embun bisa pacaran dengan Jeno. Sisanya mengucapkan selamat tanpa bertanya kebenaran kabar itu.
Saking kesalnya, Embun pergi meninggalkan soto yang belum dimakannya begitu saja. “Buat lo.” Embun menunjuk soto itu ke arah Hervin. Tentu saja disambut tawa suka cita oleh Hervin yang baru saja masuk kantin.
Untung Hervin belum sempat bertanya apa-apa ke Embun. Andai mulutnya sudah mengeluarkan suara tentang Jeno, pasti soto itu nggak akan jadi miliknya.
Embun melangkahkan kakinya setengah menghentak. Ruang OSIS menjadi tujuan akhirnya untuk menghabiskan waktu istirahat kedua. Banyak tatapan yang seolah bertanya di sepanjang selasar sekolah yang dia lewati. Tapi melihat muka Embun yang seperti ingin menerkam siapa saja di depannya, membuat mereka urung bertanya.
Braaakkkk. Embun membuka pintu ruang OSIS dengan keras. Adji, Ari, dan Rahma, yang sedang ada di sana sampai terlonjak kaget.
“Nggak usah nanya apa-apa. Gue lagi nggak pengen diganggu.” Embun seakan tahu arti tatapan ketiga pengurus OSIS itu.
Dia mengambil kursi lalu duduk bersandar sambil memejamkan mata. Entah mimpi apa Embun semalam. Ajakan Jeno untuk berpacaran aja sudah sesuatu yang horor, ini si Jeno malah pake acara kirim pesan sampai ketahuan sama Bu Isda dan bikin heboh seluruh kelas.
Semua orang juga tau, kalau mulut para penghuni kelas 2.3 itu semuanya gak ada saringan. Kabar apapun yang sekiranya bakalan bikin heboh, pasti langsung disebarkan hanya dalam hitungan menit.
Alhasil ya seperti sekarang ini. Dari kelas 2.1 sampai kelas 2.6 nyaris sudah tahu semua. Mau ditaruh di mana muka Embun? Masa iya dia berpacaran dengan Jeno? Sampai matahari terbit dari Barat juga kayaknya nggak mungkin itu terjadi. Siapa Embun dan siapa Jeno sudah jelas.
***
“Lo seriusan bro?” Hendra menatap tajam ke wajah Jeno.
“Apanya?” Jeno masih asyik menikmati sepiring mie ayam di depannya seolah tidak terganggu dengan pertanyaan Hendra. Jika Embun sedang melampiaskan marahnya, Jeno kini lebih tampak sedang disidang oleh beberapa temannya.
“Bego dipiara. Tadi pas lo berangkat otak lo dibawa nggak?” Kali ini Rio yang merasa gemas.
“Gue tinggal di lemari.” Jeno menjawab asal.
“Lo yang ngajak si Embun pacaran itu bener apa nggak?” Suara Hendra naik dua oktaf. Sontak beberapa kepala di kantin itu menoleh ke arah mereka. Sepertinya bukan karena suara Hendra yang memang sudah biasa terdengar seperti itu, mereka malah penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Jeno.
“Serius lah. Masa iya gue nggak serius.” Suara Jeno yang terdengar datar malah memberikan efek luar biasa bagi yang mendengarnya. Jeno jatuh cinta? Kepada Embun? Keajaiban dunia harus bertambah satu lagi.
“Nggak mungkin.” Joy mendesis.
“Emang kenapa kalau gue ngajak Embun pacaran?” Jeno melemparkan tanya kepada Joy.
“Lo harus cuci otak.” Joy memberikan saran.
“Si Embun mau nggak jadi pacar elo?” Kali ini suara Rizqi yang terdengar.
“Ya pasti nggak lah.” Jeno lalu tertawa.
“Berarti dunia masih aman.” Hendra menghembuskan nafas lega.
“Kampret lo.” Jeno melempar sendok ke muka Hendra. Untungnya Hendra bisa menghindari lemparan itu.
“Lagian lo aneh. Kok bisa lo suka sama si Embun?” Tanya Joy.
“Dia perempuan.”
“Kucing gue juga perempuan. Lo mau sama kucing gue?” Rio menawarkan.
“Gue nggak tau kenapa gue mau Embun jadi pacar gue.”
“Bener kata Embun, lo sarap.” Chandra menimpali.
***
Sudah seminggu berlalu sejak insiden Jeno mengajak Embun pacaran. Karena tidak ada klarifikasi resmi apapun dari Embun, berita itu masih saja menjadi bola liar. Bahkan sekarang beberapa guru pun membahasnya.
Jeno bukan tidak tahu kalau Embun sempat dipanggil guru BP dan pembina OSIS. Tiga hari lalu Seva ngobrol dengannya saat sedang istirahat pertama. Kebutulan pula, Embun sudah melesat keluar dari kelas mengekori Pak Bambang. Meski Embun jarang ada di kelas, tetap saja Jeno merasa alasan Embun beberapa hari ini sering menghilang adalah untuk menghindar darinya.
“Lo tuh ya, kayaknya penasaran bener kalo nggak bikin rusuh. Segala temen gue lo gangguin.” Seva memulai omelannya ketika dia melihat Jeno duduk di bangku Nursan yang bersebelahan dengannya. Istirahat pertama biasanya memang jarang yang keluar. Kebanyakan sibuk menyalin PR yang belum sempat mereka kerjakan.
“Lah lo pikir gue bercanda? Gue serius Sevaaaa ...” Jeno memberi penekanan pada jawabannya. Dia mulai gerah karena tidak ada seorangpun yang percaya kalau dia serius mengajak Embun pacaran.
“Tampang kayak lo kapan bisa serius? Nunggu gue ubanan?” Seva mencemooh. “Tuh si Embun kemaren pas pulang sekolah sampe dipanggil Pak Amir. Dia ditanya-tanya bener apa nggak pacaran sama elo.”
“Itu sih Pak Amir aja yang kurang kerjaan ngurusin beginian segala.”
“Nggak gitu juga Donoooo... Jelas Pak Amir kebakaran jenggot. Lah si Embun itu murid kesayangannya. Pak Amir kan pembina OSIS. Ujug-ujug dia pacaran sama elo, jangankan Pak Amir, gue aja nggak mau kasih restu.” Cibir Seva.
“Gue Jeno bukan Dono woiii. Terus ngapain juga gue minta restu ke elo. Siapa elo? Kalo Embun mau, apa urusannya sama elo?”
“Buktinya? Si Embun gak mau kan?” Seva meledek sambil meleletkan lidahnya.
“Belum mau. Ntar juga dia mau kok jadi pacar gue.”
“Pede banget lo.”
“Harus dong. Kalo gue minder, gimana Embun mau sama gue?”
“Sakit kepala gue lama-lama denger ocehan elo.” Seva memijit pelipisnya pelan.
“Salah sendiri lo ngajak gue ngomong.”
Setelah itu, Jeno sibuk menghampiri Joy yang duduk di bangku paling pojok. Kalau anak-anak lain mencoba untuk bisa konsentrasi di setiap pelajaran, lain cerita dengan Joy dan Hendra. Duet maut yang duduk sama-sama di pojok tapi berseberangan jauh itu malah tandem untuk tidur di kelas.
Satu-satunya guru yang bisa menjadi pawang kedua orang itu adalah Bu Sirait. Hanya saat pelajaran matematika saja Joy dan Hendra bisa membuka mata dengan sukses selama dua jam pelajaran. Kalau guru lain akan memberikan hukuman yang membuat Joy dan Hendra senang yaitu keluar dari kelas, Bu Sirait beda. Alih-alih di suruh keluar, mereka berdua malah diminta duduk berdua di depan. Setelah itu Bu Sirait fokus mengajari mereka dan yang lain bisa bebas.
***