PUISI UNTUK EMBUN
Menanti Jawaban
Tentu saja Hendra dan Joy kapok. Hanya mereka berdua yang berpikir keras. Penghuni 2.3 lainnya malah sibuk ngobrol, baca komik, atau main handphone. Setelah kejadian itu, Hendra dan Joy sepakat memilih untuk membuat mata mereka tetap melotot daripada membiarkan teman-teman menikmati kebebasan mereka.
Jeno sibuk membangunkan Joy. Tak lama, Hendra berjalan cepat menuju ke tempat Joy juga. Seva, Niken, Jimmy dan Satria yang masih ada di sana menyingkir tanpa suara. Kalau tiga orang itu sudah kumpul, lebih baik cari aman dengan menjauhi mereka. Obrolan ketiganya seringkali membuat kepala geleng-geleng dan tensi darah naik dengan tiba-tiba.
***
Tentang penghuni 2.3, boleh dikatakan luar biadab. Entah siapa yang menyusun komposisi isi kelas ini. Dari rasio perbandingan siswa dan siswinya saja sudah tidak imbang. Di sini ada 27 murid laki-laki dan 13 perempuan. Padahal lima kelas yang lain, semuanya didominasi perempuan. Wajar kalau kelas ini membutuhkan tangan besi Bu Sirait.
Lalu di kelas ini, ada tiga orang ketua organisasi siwa yang cukup disegani. Embun si Ketua OSIS, Jeno yang Ketua Pencinta Alam, dan Satria yang Ketua Rohis. Ada juga beberapa orang yang punya otak di atas rata-rata. Sebut saja Eni si juara olimpiade Matematika atau Wiwik yang sejak kelas satu selalu menjadi juara umum saat pembagian raport. Jangan lupakan Joy si atlet basket nasional atau Ama yang menjadi leader di tim softball.
Urusan berantem juga kelas 2.3 jagonya. Hendra yang terkenal tukang tawuran, Annah si jagoan dari Merpati Putih, di barisan belakang juga ada barisan prajurit Merpati Putih lainnya, sebut saja Indah, Budi, Niken, Rian, dan Dodi. Belum lagi anggota KIR, PMR, dan Paskibraka yang melengkapi keragaman di 2.3. Tak heran jika ada acara sekolah, kelas ini menjadi satu-satunya kelas yang bisa dikatakan kosong karena sibuk menjadi panitia atau suporter kalau ada lomba.
Contohnya saat Eni mengikuti olimpiade Matematika, tanpa koordinasi lagi, Rizqi mengkondisikan agar semuanya bisa berangkat memberikan dukungan untuk Eni. Dan Eni memang menang, tapi dia harus ikut dijemur di lapangan sepulang sekolah. Ya, ternyata mereka pergi meninggalkan sekolah tanpa ada ijin dari guru piket. Tentu saja Eni komat kamit mengucapkan sumpah serapah atas kelakuan teman-temannya.
Kali lain, Rizqi yang dibuat takjub. Selesai jam pelajaran ketiga, Rizqi mengantarkan Ayu pulang karena demam. Saat kembali ke sekolah, kelas 2.3 sudah kosong. Semua dihukum lari mengelilingi lapangan basket sampai 25 putaran. Alasannya? Beberapa anak laki-laki mengolok-olok Bu Rosi dengan sebutan kentung. Suara itu terdengar jelas sama Bu Rosi yang sudah ada di depan pintu kelas. Akhirnya Bu Rosi tidak jadi mengajar dan menyuruh anak-anak lari keliling lapangan.
Rizqi yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menelan kedongkolannya. Dia ikut lari karena dia juga bagian dari kelas itu. Sesudahnya, Rizqi masih harus menghadap ke guru BP dan kupingnya sampai panas mendengar omelan beberapa guru.
Mau yang lebih ajaib lagi? Kelakuan Hendra yang merayu Seydi setiap hari. Nama lengkapnya Sri Diana, tapi Hendra menciptakan panggilan sayang Seydi. Gara-gara itu, resmilah Sri Diana berganti nama jadi Seydi. Tidak tanggung-tanggung, di depan guru pun Hendra kerap melemparkan rayuan gombalnya. Meski Seydi selalu naik pitam dan marah-marah, Hendra tidak pernah menggubrisnya. Beberapa kali Seydi minta pindah kelas, sayangnya tidak pernah dikabulkan. Seydi sudah kehabisan cara menghentikan Hendra. Saking sudah kehabisan akal, Seydi cuma bisa menangis karena tidak tahu lagi harus gimana. Seydi yang menangis malah membuat Hendra makin senang menggodanya.
Begitulah sebagian keseruan yang terjadi setiap hari di XI.3. Maka, ketika Jeno terang-terangan mengajak Embun pacaran, kehebohan itu makin bertambah. Jeno si ketua PA dan salah satu biang onar di sekolah, naksir Embun yang ketua OSIS dan tentu saja dianggap hebat oleh seluruh isi sekolah tak terkecuali guru-guru. Tentunya bukan hal yang mudah untuk jadi ketua OSIS.
***
Bel pulang sekolah terdengar merdu mengalahkan nada orkestra. Jeno merapikan tasnya lalu berjalan santai ke belakang kantin Mbak Eti. Di sana biasanya anak-anak Pencinta Alam (PA) kumpul hampir setiap hari untuk latihan panjat dinding. Sekilas ekor mata Jeno melihat bayangan Embun memasuki ruang OSIS. Meski ingin, tapi Jeno mengurungkan niatnya untuk mendekati Embun. Jeno tahu Embun sedang sangat sibuk. Perhelatan acara Bulan Bahasa yang mengundang penyair legendaris Taufik Ismail tentu menguras semua energi Embun.
Tahun lalu, saat mereka duduk di pinggir lapangan basket, Embun pernah mengatakan mimpinya bisa bertemu dengan Taufik Ismail. Beberapa orang menganggap itu sesuatu yang mustahil. Tapi Jeno melihat keyakinan yang sangat mendalam di mata Embun. Binar itu semakin terang ketika Embun menceritakan puisi-puisi Taufik Ismail.
Kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir Embun itu menjadi awal mula Jeno menduga bahwa beberapa puisi misterius yang dia baca di majalah dinding sekolah adalah karya Embun. Tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa Jeno sangat menyukai sastra. Jeno sendiri terlalu gengsi untuk mengakuinya. Menurutnya, itu sangat bertentangan dengan imej Jeno selama ini.
Aku Di Sini
Oleh: Serenada Senja
Purnama ketiga
Aku masih mencoba setia
Cinta tanpa kata
Rindu tanpa temu
Semuanya masih tentang kamu
Tak ada pesan yang setiap saat aku harapkan
Tak terlihat bayangan yang selalu aku nantikan
Aku kehilangan jejak
Ketika semua terhalang jarak
Kamu lenyap
Aku masih berharap
Kamu melangkah pergi
Tapi aku masih di sini
Itulah puisi pertama yang menghentikan langkahnya dan membuat Jeno melabuhkan matanya di depan mading. Jeno membacanya berulangkali. Puisi itu terselip di pojok dinding mading. Nyaris tersembunyi jika tidak dilihat dengan seksama. Diketik sederhana di kertas A4 yang dibiarkan polos tanda ada hiasan sedikit pun. Siapa Serenada Senja? Jeno mulai penasaran.
Jeno berpikir keras menebak siapa yang berlindung dibalik nama Serenada Senja. Dia menulis puisi lalu menempatkannya terpisah jauh dari posisi majalah dinding mingguan yang dibuat bergiliran antar kelas.
Setelah itu, Jeno selalu menyempatkan diri mampir dan melihat majalah dinding. Berharap akan menemukan si pemilik nama Serenada Senja. Sudah hampir dua bulan dia melakukan itu, tetap saja misinya mengalami kegagalan. Puisi-puisi itu masih ada. Meski posisinya acapkali berpindah, tapi tetap saja tidak pernah menjadi bagian dari edisi majalah dinding minggu itu. Si penulis juga tidak memiliki waktu yang pasti kapan dia akan meletakan puisinya.
Jeno selalu datang lebih awal dari siswa lainnya. Sebelum pukul setengah tujuh Jeno sudah menampakan batang hidungnya. Andai dia tidak memiliki julukan si pembuat onar, sudah pasti dia menjadi salah satu siswa kesayangan guru-guru. Siapa sangka kalau Jeno memiliki otak cemerlang. Sayang, otaknya nyaris tidak pernah diberdayakan. Kalah oleh rasa malas yang lebih dominan.
***