RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL

1. BERITA YANG MENGEJUTKAN

Tepuk tangan bergemuruh saat sesi ceramah Ustadzah Farah berakhir.  Convention Hall yang penuh berisi ribuan pelajar terasa sangat ramai. Semua mengelu-elukan nama Farah, seorang ustadzah muda yang cantik dan pintar.

“Ustadzah Farah siapa yang punya…” Terdengar lagu untuk Farah pun mulai dinyanyikan.

“Yang punya, kita semua.”  Gemuruh tepuk tangan para pelajar itu mengakhiri lagu yang mereka nyanyikan untuk Farah sebelum akhirnya mereka dengan rapi keluar dari tempat itu.

“Duh, yang dinyanyiin jadi senyum-senyum sendiri,” goda Fitri, asisten Farah.

“Mereka terlalu menyanjungku, Fit. Aku takut saja nanti jadi takabur,” kata Farah diikuti istighfar yang beberapa kali dia ucapkan itu.

“Kita mau pulang dulu atau langsung ke the next schedule?” tanya Fitri sambil membuka layar tabletnya.  Farah menggelengkan kepalanya. Dia duduk sejenak di sofa sambil menikmati minuman kaleng dingin yang baru saja diambilnya di lemari pendingin.

“Aku diam sebentar, ya. Suer, aku lelah hayati hari ini,”pinta Farah sambil memejamkan matanya.  Fitri hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia paham betul dengan kebiasaan Farah itu.

Sepuluh menit berlalu.  Seorang lelaki muda memasuki ruangan itu dan memberi kode kepada Fitri untuk membangunkan Farah.  Gadis itu segera berdiri dan berjalan menghampiri Farah. Dia pun membangunkannya.

“Auuh, jam berapa sih Fit?  Baru juga merem,” keluh Farah sambil merentangkan kedua tangannya.

“Tuh, Darma udah ngasih kode untuk cepetan jalan,” jawab Fitri sambil membereskan peralatannya. Dia mendongak ke arah Farah yang masih sibuk dengan ponselnya.  Gadis itu tampak tersenyum sendiri sambil terus mengetikkan sesuatu.  Siapa lagi yang mengajak Farah ngobrol setelah selesai ceramah kalau bukan lelaki bernama Abbas alias Sabba.  Dia mulai melancarkan kritikan tajamnya atas ceramah yang dilakukan Farah barusan, tetapi gadis itu menanggapinya dengan santai.

“Ustadzah Farah?!” panggil Fitri lebih tegas.

“E-eh, iya. Siap komandan!” teriak Farah sambil melompat berdiri.  Fitri pun tertawa melihatnya.

Mereka bergegas keluar dari ruang istirahat yang disediakan oleh panitia.  Beriringan dua gadis cantik berbalut gamis dan hijab lebar itu berjalan melewati ruangan terbuka yang banyak berlalu lalang orang.  Farah masih sesekali mengetik sambil berjalan.

“Kamu chattingan sama siapa sih, Ra? Asyik banget kelihatannya,” tanya Fitri penasaran. Farah tersenyum sambil memasukkan ponsel ke dalam kantong gamisnya.

“Ada yang selalu kasih aku komentar jika selesai ceramah.  Komentarnya bagus dan membangun.  Aku suka saja,” jawab Farah.

“Oh, si secret admirer itu, ya?” goda Fitri yang membuat Farah tersipu malu.

“Ish, ngomong apa sih. Dia fans aku. Dahlah, jangan dibahas. Aku jadi malu nanti,” elak Farah yang membuat Fitri tertawa melihatnya.  Farah memang cantik dan banyak yang membidiknya tetapi semua terpental saat diajak berdiskusi langsung dengan gadis yang mempunyai ilmu cukup luas itu.  Dia belum benar-benar menemukan lelaki yang bisa memberikan pemahaman ataupun ilmu yang lebih dari dirinya.

Tiba-tiba ponsel Farah berdering.  Haris, kakak lelakinya yang menelepon.  Dengan segera Farah menerima panggilan itu. Tak biasanya sang kakak menghubungi seperti ini. Pasti ada sesuatu yang sangat penting.

“Assalamu’alaikum. Halo, ada apa, Mas?” sapa Farah dengan lembut.

[“Wa’alaikumussalam. Ra, kamu di mana? Cepat pulang!”] kata Haris dengan suara cemas.  Farah mengerutkan keningnya dengan heran.

“Aku masih di tempat ceramah, sebentar lagi masih mau jalan ke tempat ceramah yang lain. Memangnya ada apa, sih Mas?” tanya Farah bingung.  Terdengar Haris mengembuskan nafasnya dengan cukup keras.  Farah pun menjadi bertambah bingung.

“Mas?! Mas Haris?!” panggil Farah sambil menghentikan langkah kakinya saat kebetulan dia melihat siaran berita yang terpampang di televisi berukuran lebar yang menempel di dinding ruangan itu.  Pandangannya tercekat ke sana.  Dadanya berdegub kencang. Netranya membelalak kaget bercampur sedih dan bingung menjadi satu.

Breaking news di televisi memberitakan tentang penangkapan seorang pejabat publik yang selama ini dikenal sangat bersih, Jafar Iskandar.  Lelaki itu masih terlihat mengenakan kemeja putih dengan dasi yang telah dilepas dan tangan terborgol. Dugaan korupsi dan penggelapan uang publik terdengar di sela-sela pemberitaan itu.  Lelaki itu adalah ayah Farah!  Gadis itu terdiam kelu dengan tatapan nanar.

“Mas. A-aku tahu. A-ku paham,” tutur gadis itu kemudian dengan terbata-bata. 

Wajah Farah berubah pucat.  Fitri memandangnya dengan iba. Dia pun segera menarik tangan Farah.

“Itu! Itu ayahnya Ustadzah Farah!” teriak seseorang sambil menunjuk ke arah Farah.  Sontak semua orang yang ada di ruangan itu mengarahkan pandangannya ke arah Farah yang  berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.  Suara kecaman, hinaan ataupun  prihatin terdengar bagaikan dengungan lebah. Mereka baru melihat beritanya sekilas, tetapi sudah berbicara seolah mereka mengetahui semua isi berita itu.

“Astaghfirullohal ‘adzim. Mereka kok bisa-bisanya main tuduh, padahal beritanya belum tentu benar,” omel Fitri sambil membuka pintu mobil.  Darma segera melajukan mobilnya.  Farah meminta mereka untuk kembali ke rumah dan membatalkan sesi ceramah selanjutnya.

“Tolong kamu bicara dengan panitianya. Sampaikan permintaan maafku yang sedalam-dalamnya,” ucap Farah dengan suara parau.  Fitri hanya bisa mengangguk tanpa berani membantahnya.

Jalanan di depan rumah Farah ternyata sudah dipenuhi oleh banyak wartawan.  Mereka memberitakan secara langsung kejadian itu. Farah dengan cepat turun dan berlari masuk ke dalam rumahnya meskipun dikejar oleh para wartawan. 

“Bunda!” seru Farah saat melihat ibunya terdiam di depan televisi sambil menggenggam ponselnya.  Dia menoleh dan menatap Farah dengan airmata yang masih berlinang.

“Bunda, apa yang terjadi?” tanya Farah sambil memeluk ibunya. 

“A-ayah kamu, Ra. Ayah kamu,” desis ibunya lirih.

“Bunda tidak percaya. Ayah kamu tidak pernah melakukan korupsi seperti yang mereka tuduhkan!” teriak ibunya histeris.

“Bun, sudah. Istighfar, Bunda. Allah pasti sedang menguji kita. Kita harus kuat. Ya, Bun,” bisik Farah mencoba menenangkan ibunya.  Netranya menatap Haris, kakaknya yang berulang kali membanting gagang telepon rumah.  Akhirnya dia pun mencabut kabelnya dan duduk di sebelah Farah.

“Apa yang bisa kita lakukan, Mas?” tanya Farah sesaat setelah sang bunda tenang.  Haris menatap adik satu-satunya itu dengan bingung. Bahkan dia pun tak bisa menerima kenyataan ini. Lelaki muda itu menggelengkan kepalanya.

“Entahlah,” jawabnya lirih. Farah menghela nafas dalam.

“Sebaiknya kita tenang saja dulu.  Kita tunggu pengacara yang ditunjuk untuk Ayah datang menemui kita. Nanti kita dengar penjelasannya,” kata Farah. Haris tampak menganggukkan kepalanya.

“Benar. Lebih baik kita diam dulu sampai keadaan menjadi lebih tenang,” ujarnya kemudian.  Simbok datang membawakan segelas minuman dingin untuk ibu Farah. Wanita itupun meminumnya dan terlihat lebih tenang.

“Bunda, ayo ke kamar saja. Farah temani deh. Minumnya dibawa saja nggak apa-apa. Yuk, Bun,” ajak Farah sambil membantu sang bunda berdiri.  Di antara mereka bertiga, Khairunissa, bunda Farah memang yang terlihat paling shock.

Mereka berjalan beriringan meninggalkan ruang tengah. Namun belum juga keluar dari ruangan itu, kembali terdengar suara reporter yang menyampaikan berita tentang ayah Farah, Iskandar Jafar.  Farah dan ibunya seketika itu menghentikan langkahnya dan memutar badan melihat ke arah televisi. 

Terdengar dentingan benda yang pecah.  Ternyata gelas yang dipegang ibu Farah  terjatuh sesaat setelah mendengar berita itu.  Farah dengan sigap memegangi ibunya yang melorot dan pingsan.

“Bunda!!”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!