RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL
3. VONIS AYAH DAN KENYATAAN HIDUP SANG BUNDA
Khairunissa, ibu Farah, tampak sumringah. Setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya, dia segera duduk di pinggiran tempat tidur sambil memegang bungkusan itu dengan erat. Tangannya membuka laci nakas. Sebuah gunting pun dia gunakan untuk membuka bungkusan itu.
Netranya berbinar ceria. Bibirnya membentuk lengkungan senyum yang aneh. Perlahan dia mengambil beberapa plastik klip yang ada di kotak itu kemudian menyimpan sisanya dengan rapi di dalam laci.
Wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu segera mengambil segelas air putih dan mulai menelan beberapa pil yang baru saja diambilnya dari salah satu bungkusan plastik klip itu.
Benar. Ibu Farah mengkonsumsi narkoba!
Hal itu luput dari penglihatan Farah. Tentu saja karena gadis itu harus bolak balik ke pengadilan untuk mengikuti jalannya persidangan. Dia cukup maklum kenapa bundanya tidak mau ikut.
Sudah seminggu sejak menerima paket itu, Farah merasa ada yang aneh dengan bundanya. Pagi itu Farah kembali makan pagi seorang diri di meja makan yang cukup luas.
“Makan kok pake nglamun to, Non Farah,” tegur Simbok sambil meletakkan segelas air putih di dekat piring Farah.
“E-eh. Enggak kok, Mbok,” elak Farah sambil tersenyum malu.
“Lha itu kelihatan banget kalau ngalamun lho, Non. Mikirin apa sih, Non?” tanya Simbok yang merasa ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa keluarga juragannya itu. Farah menggelengkan kepalanya sambil menatap pintu kamar Khairunissa, bundanya.
“Bunda masih saja mengunci diri seperti itu ya, Mbok?” tanyanya sedih. Simbok mengangguk sambil ikut menatap pintu kamar itu.
“Apakah Bunda masih sering menerima paket misterius itu, Mbok?” tanya Farah lagi sambil menatap tajam ke arah wanita tua itu.
“Iya, Non. Dua kali paket itu datang setelah yang pertama dulu itu,” jawab Simbok lirih. Farah hanya bisa menghela nafas berat. Entah apa yang ada di pikirannya.
Farah pun segera mengakhiri sarapan dan bergegas ke kamar bundanya. Dia mengetuk perlahan sambil berusaha membuka pintu. Tidak terkunci. Sesuatu yang cukup aneh karena akhir-akhir ini pintu itu selalu terkunci dari dalam jika Farah mencoba membukanya.
“Bun,” panggil Farah sambil berjalan masuk ke kamar. Dilihatnya sang bunda sedang duduk diam di pinggir tempat tidur sambil memandang keluar jendela. Farah tersenyum dan perlahan menghampiri wanita yang selalu hangat itu.
“Bun, Bunda sakit?” tanya Farah saat menyadari wajah ibunya yang sama sekali jauh dari kata sehat. Kedua mata ibunya terlihat sangat cekung dan sekelilingnya menghitam. Wajah cantik yang biasanya berseri itupun terlihat sangat layu dan suram.
Dalam kurun waktu sebulan perubahan sang bunda sangat signifikan. Farah hampir saja tak mengenali lagi wanita yang selama ini selalu mampu menghadirkan kehangatan di rumah. Farah menghela nafas dalam sambil beristighfar dalam hati.
“Ya Allah, apa yang kulakukan sehingga aku tak menyadari kondisi Bunda yang semakin memprihatinkan seperti ini?” batinnya merasa bersalah.
“Bun. Kita ke dokter yuk. Bunda sepertinya kurang sehat,” ajak Farah perlahan. Tetapi sambutan yang diperolehnya sungguh diluar dugaan.
“Kamu pengen Bunda cepet mati?” cecar Khairunissa sambil menatap marah ke arah anak gadisnya itu.
“Kamu mau ajak Bunda ke dokter biar tubuh Bunda disuntik macam-macam obat? Nanti Bunda jadi pingsan. Trus mati? Begitu?” seru ibu Farah dengan nada yang meninggi. Farah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak. Tidak begitu, Bunda,” elak Farah sambil berusaha menenangkan ibunya. Dia merengkuh tubuh sang bunda. Saat itu Farah menyadari kalau tubuh yang berada dalam pelukannya sudah tidak seperti dulu. Tubuh itu cukup banyak berkurang berat badannya.
“Farah sayang sama Bunda. Farah nggak mau Bunda sakit. Farah hanya ingin Bunda kembali sehat seperti dulu,” bisik Farah sambil menepuk punggung ibunya dengan perlahan. Khairunissa diam saja tanpa bereaksi apapun. Farah melepaskan pelukannya dan mengusap airmata yang masih saja menetes di kedua pipinya.
“Bunda nggak mau ke dokter,” gumam sang bunda lirih dengan tatapan kosong ke arah jendela.
“Bunda nggak mau ke dokter.” Terus saja Khairunissa menggumamkan kalimat itu dengan suara yang semakin lama semakin terdengar tidak jelas. Tangan Farah pun dikibaskan dengan kasar saat gadis itu berusaha untuk memegang kedua tangannya.
“Pergi sana. Bunda nggak mau diganggu!” bentaknya sambil berusaha mendorong Farah keluar dari kamar.
“Tapi, Bun,” kata Farah sambil berusaha bertahan di kamar bundanya. Dia mencoba untuk kembali mengajak sang bunda ke dokter, tetapi wanita malang itu terus berusaha mendorongnya keluar. Farah pun akhirnya keluar dari kamar orangtuanya.
“Apa yang harus kulakukan untuk menyadarkan Bunda, ya Allah,” ratapnya dalam hati. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja. Pesan yang biasanya sampai menumpuk, sekarang terlihat hanya satu dua saja. Itupun biasanya hanya pesan promosi yang lewat. Farah membukanya dengan malas. Tetapi netranya seketika membulat lebar saat membaca pesan yang ada di sana.
“Innaloha ma’ashshobiriin. Aku yakin kalau kamu pasti kuat menghadapi semua cobaan saat ini.”
Farah tersenyum membacanya. Hatinya pun seketika terasa sangat adem. Dia segera membalasnya.
“Terima kasih, Sabba. Insyaalloh aku kuat,” balas Farah.
Sabba alias Abbas adalah sosok yang selama ini selalu mengirim kritik dan saran atas ceramah Farah. Sosok yang mampu membuat debaran aneh di hati Farah, tetapi selalu dikesampingkan karena memang Farah tidak ingin menodai hatinya untuk urusan cinta anak muda seperti layaknya para gadis muda di masa kini.
Hari ini adalah sidang terakhir ayah Farah. Gadis itupun tetap menghadiri sidang meskipun sudah tahu akan seperti apa hasilnya. Dengan berbesar hati, dia mengikuti jalannya sidang hingga selesai. Vonis hukuman selama dua puluh lima tahun pun dijatuhkan kepada Jafar Iskandar, sang ayah. Rona kesedihan dan ketidakberdayaan terpancar dari raut wajah lelaki yang dengan cepat terlihat jauh lebih tua dari umurnya itu. Dia menatap Farah, anak gadis satu-satunya yang tercekat dengan netra yang tergenang airmata.
“Ikhlaskan Ayah, Farah. Kalau memang ini yang harus Ayah tempuh, Ayah akan berusaha kuat menanggungnya,” kata Jafar melalui pesan yang dikirim oleh pengacaranya kepada Farah. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku yakin kalau Ayah tidak bersalah. Aku akan terus mencari dalang dari semua masalah ini. Dia harus membayar mahal atas semua kebahagiaan yang telah terenggut saat ini,” gumam Farah dalam hati. Dia menghela nafas dalam.
“Astaghfirulloh,” ucap Farah lirih. Dia menghela nafas dalam dan menggelengkan kepala saat menyadari niatnya yang kurang benar itu.
“Maafkan hambamu ini ya Allah. Aku akan berusaha ikhlas tetapi aku tidak rela jika Ayah difitnah seperti ini,” batinnya lagi.
Apalah daya meskipun Farah bertekad untuk mencari dalang penyebar fitnah itu, tetapi kini dia tetap harus rela melihat ayahnya digelandang masuk ke mobil tahanan untuk dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan sesuai keputusan hakim.
Farah tiba di rumah dan melangkah gontai menuju kamar sang bunda. Bagaimanapun juga, dia tetap akan memberitahu vonis yang diterima sang ayah. Perlahan Farah mengetuk pintu dan masuk. Namun dia tidak melihat bundanya di sana. Kedua manik matanya justru terarah ke laci yang terbuka. Beberapa plastik klip beserta isinya terlihat menyembul. Farah mendekat dan terperanjat kaget saat melihat pil-pil yang tak seharusnya dikonsumsi sang bunda.
“Astaghfirulloh. Apa yang telah terjadi dengan Bunda selama ini?” batinnya pilu.
Tepat saat itu, terdengar langkah kaki bundanya masuk. Khairunissa berteriak histeris saat melihat Farah berpaling ke arahnya sambil memegang plastik klip berisi narkoba.