RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL
4. SEBUAH PILIHAN SULIT
“Hei! Apa yang kamu lakukan di sini, Farah?!” teriak bundanya histeris sambil berlari dan berusaha merebut plastik klip itu dari tangan Farah. Spontan Farah mengangkat tangannya. Tetapi gadis yang mempunyai tinggi badan tak jauh beda dengan bundanya itupun tak bisa berkelit lagi. Dengan mudah bundanya merebut plastik itu.
“Jangan sembarangan menyentuh barang-barang Bunda,” ujar Khairunissa dengan gusar. Dia pun segera memasukkan kembali plastik itu ke laci dan menguncinya. Farah tentu saja sangat terkejut melihat kenyataan itu.
“Bunda. Bunda make?” tanya Farah perlahan-lahan. Antara bingung, kecewa dan sedih berkecamuk di dalam dadanya. Farah melihat bundanya kembali duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap kosong ke arah jendela. Bibirnya tersungging senyuman tipis yang cenderung terasa sinis.
“Kamu nggak usah ikut mikirin Bunda. Kenapa kamu nggak ikuti saja jejak kakak kamu, Ra?” Khairunissa bertanya balik dengan sebuah lirikan tajam. Farah menghela nafas dalam. Dia tidak bisa menyalahkan sang bunda sepenuhnya. Farah pun menggelengkan kepalanya.
“Farah tidak mungkin meninggalkan Bunda. Farah akan selalu mendampingi Bunda, bagaimana pun keadaan kita,” jawab Farah sambil berjalan perlahan menghampiri sang bunda. Namun wanita yang dipanggilnya bunda itu hanya menatap sangsi sambil mencibirkan bibirnya.
“Sudahlah, Ra. Keluarlah dan jangan hiraukan Bunda,” usir Khairunissa sambil menepis tangan Farah yang hendak memeluknya. Farah merasa sangat sedih melihatnya. Dia masih berusaha membujuk bundanya untuk menjauhi narkoba.
“Farah akan menjauh, tetapi Bunda jangan konsumsi pil-pil itu lagi, ya?” pintanya dengan penuh kesungguhan. Khairunissa hanya tertawa sumbang mendengarnya. Kepalanya menggeleng dan tatapannya marah meminta agar Farah segera keluar. Akhirnya gadis itupun tidak bisa untuk tidak memenuhi permintaan bundanya.
“Mbok, tolong awasi Bunda, ya. Farah masih punya cukup tabungan, tetapi Farah akan coba minta bantuan paman atau bibi untuk bisa mendapatkan pekerjaan lain,” ujar Farah kepada Simbok.
“Baik, Non. Simbok akan menjaga Nyonya jika Non Farah keluar,” jawab Simbok dengan tatapan nelangsa ke anak majikan yang selama ini memang selalu baik kepadanya.
Namun apa yang diinginkannya ternyata tidak semudah itu. Kenyataan bahwa ayahnya didakwa sebagai koruptor dan pezina telah membuat saudara mereka menjauh bahkan banyak yang tidak mau mengakui hubungan persaudaraan itu.
“Kami malu untuk terlibat dengan keluarga kalian. Koruptor adalah perbuatan nista apalagi berzina hingga mempunyai anak seperti itu,” ujar salah seorang pamannya saat Farah datang berkunjung.
“Lebih baik kamu segera pergi sebelum ketahuan para pemburu berita. Bisa-bisa kami ikut ketiban sial gara-gara kedatangan kamu, Ra,” usir sang bibi sambil berdiri dan mempersilakan Farah untuk segera keluar dari rumahnya.
Farah hanya bisa tersenyum kecut tanpa berani membantahnya. Mau dijelaskan seperti apapun, toh berita di berbagai media telah menghakimi ayahnya. Farah berjalan gontai menuju rumahnya yang berada cukup jauh dari halte bis. Farah masuk ke halaman rumahnya disambut suara bentakan yang cukup mengejutkan dirinya.
“Cepat bayar atau serahkan barang berharga yang masih kamu miliki!” Terdengar sebuah bentakan keras yang disahuti dengan suara memohon ampun dari bundanya. Farah pun segera berlari dan melihat sang bunda sudah tersungkur di lantai sambil memohon ampun.
“Bunda,” teriak Farah sambil berlari dan membantu Khairunissa berdiri.
“Maaf, ada apa ya?” tanyanya sambil memandang penuh selidik ke arah dua orang preman yang berdiri di depannya. Kedua lelaki berbadan kekar itu menatapnya sambil tersenyum menyeringai. Satu dengan lainnya tampak saling memberi kode lewat bola matanya.
“Saya minta kalian berdua segera pergi dari rumah ini,” ujar Farah tanpa rasa takut sedikitpun. Tiba-tiba saja tangan sang bunda memegangi lengannya dengan kencang.
“Katakan apa yang kami minta!” perintah preman dengan kumis tebal yang melintang di atas bibirnya itu kepada Khairunissa.
“Bunda, mereka ngapain di sini?” tanya Farah lirih sambil melirik ke bundanya.
Bukannya menjawab, bundanya malah semakin kencang mencengkeram lengannya. Farah menoleh dan terkejut melihat badan bundanya yang tiba-tiba saja kaku dan tersungkur jatuh. Khairunissa berteriak memelas dan mengiba kepada kedua orang preman itu.
“Tolong. Berikan aku barang itu,” ratapnya sambil berusaha meraih kaki salah satu dari mereka.
“Cih, dasar tidak tahu malu. Bayar dulu utang kamu yang kemarin berikut bunganya,” jawab lelaki berkepala pelontos sambil tersenyum licik. Farah hanya bisa menatap heran ke arah mereka. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Memangnya Bunda berhutang sama mereka? Untuk apa, Bun?” cecar Farah sambil berusaha menolong Khairunissa berdiri. Bukannya menjawab, wanita setengah baya itu justru kembali menepis tangan Farah yang hendak menolongnya. Sambil tertatih dia kembali meratap dan menghiba kepada kedua lelaki itu.
"Aku akan membayarnya. Anakku ini akan menjualkan beberapa cincin emasku. Percayalah,” ujarnya dengan tangan yang gemetar. Kedua lingkaran di sekitar matanya pun telah menghitam. Pipinya terlihat sangat tirus dengan bibir yang pucat.
“Bos minta kamu untuk bayar dulu, baru kami bisa memberikan apa yang kamu minta barusan,” jawab lelaki berkumis itu tanpa rasa kasihan sedikitpun. Khairunissa menggelengkan kepalanya. Farah hanya diam melihat itu semua.
“Farah, kamu masih punya simpanan ‘kan?” tanya Khairunissa tiba-tiba. Farah tentu saja terkejut mendengarnya. Bagaimanapun uang itu sudah Farah rencanakan untuk kebutuhan hidup mereka nanti. Dengan terpaksa Farah menggelengkan kepalanya. Namun matanya tidak bisa berbohong. Kedua preman itu tersenyum senang melihatnya.
“Kalau kamu tidak mau membayar hutang ibumu, dia akan kami seret ke hadapan bos kami,” ujarnya sambil menarik tangan Khairunissa dengan kasar.
“Nyonya. Jangan bawa pergi Nyonya, Pak,” seru Simbok sambil berusaha menarik tangan Khairunissa. Wanita setengah baya itu hanya bisa menatap nanar ke arah Farah dan Simbok tanpa bisa berkata apa-apa.
Farah kembali dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Menjalani hidup ke depan tanpa memegang uang ataukah membiarkan bundanya disiksa oleh para begundal itu.
“Ah, kenapa pilihan ini sangat tidak mengenakkan?” keluhnya sambil berlari mengejar kedua preman yang masih saja berusaha menyeret sang bunda.
“Dasar anak tidak berguna. Mestinya dia bayar saja hutang kamu sebagai ibunya. Beres ‘kan?” cerca salah seorang preman itu sambil melotot ke arah Khairunissa. Wanita itu hanya diam tanpa menghiraukan cercaan mereka. Kepalanya terasa pening. Langkahnya pun tak lagi menapak dengan baik. Tubuhnya terhuyung ke sana dan ke mari mengikuti tarikan tangan kedua preman itu.
“Hei! Jangan tidur!” bentak preman berkepala plontos dengan tatapan marah saat melihat Khairunissa terpejam namun tubuhnya mendadak kaku. Dia kembali kejang. Sontak kedua preman itu melepaskan pegangannya. Bunda Farah tersungkur dengan tubuh kelojotan tak karuan.
“Bunda!” teriak Farah dengan histeris. Dia pun menghambur ke arah bundanya. Namun dengan cepat salah seorang preman itu menangkap tubuhnya. Dia menahan Farah untuk bisa menolong sang bunda.
“Lepaskan!” teriaknya marah sambil berusaha melepaskan diri. Dua preman itu hanya tertawa melihatnya.
“Kami akan melepaskan kamu jika kamu bayar dulu hutang ibumu itu. Cepat!” sergah preman itu dengan tatapan licik. Farah membelakakan matanya. Dia menoleh ke arah sang bunda yang sepertinya perlu penanganan dokter dengan segera.
“Maafkan Farah, Bunda,” gumam Farah sedih sambil memalingkan kembali wajahnya.
Dengan lantang, dia pun mengatakan sesuatu yang membuat kedua preman itu terkejut dengan keputusan yang diambilnya.