RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL

5. BUNDA TERTANGKAP TANGAN

“Aku tak akan mengeluarkan uang sepeser pun jika Bunda sampai kenapa-napa karena ulah kalian ini,” ancamnya dengan serius.  Kedua orang preman itu terkejut mendengarnya. Sungguh sebuah perkataan yang bahkan tidak pernah terlintas di pikiran mereka. Sontak suara tawa meremehkan pun terdengar dari kedua bibir mereka.

“Kamu ini hanya gadis ingusan yang mencoba menggertak kami,” ucap preman berkumis tebal sambil menatap Farah dengan pandangan meremehkan.

“Terserah kalian. Tapi aku akan membayar hutang Bunda kalau kalian ijinkan aku membawa Bunda ke rumah sakit sekarang,” tukas Farah memberikan sebuah alternatif pilihan.

“Kenapa kita tidak tanya saja kepada ibumu itu, Cantik?” tanya preman itu lagi sambil berusaha menjawil dagu Farah. Gadis itu segera berkelit dan menoleh ke arah Khairunissa. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan lemah.

“Tidak usah ke rumah sakit. Bunda mau ke kamar saja,” ujarnya lemah. Simbok pun segera membantunya berdiri dan memapah masuk ke kamar. Tak ada alasan bagi Farah untuk tidak membayarkan hutang bundanya. Dia pun segera mentransfer sejumlah uang kepada preman itu.

“Bagus. Ini baru bunganya saja. Lain hari kami akan kembali kemari untuk menagih pokok pinjamannya,” ujar lelaki kasar itu sambil berjalan meninggalkan Farah yang tertegun mendengarnya.

“Ya Allah ya Rob. Sebanyak inikah yang dihabiskan Bunda untuk mengkonsumsi barang-barang laknat itu?” gumam Farah sambil menggelengkan kepalanya.

“Sudahlah. Uang bisa dicari, yang penting Bunda saat ini aman dulu,” katanya dalam hati sambil merebahkan diri di atas sofa.

Hari-hari selanjutnya Farah disibukkan dengan upayanya mencari pekerjaan.  Hampir semua kenalan ayah dan bunda menolak kedatangannya. Demikian pula dengan beberapa kenalannya sendiri yang selama ini dirasa cukup dekat. Semua kebaikan yang dulu ada bagai lenyap ditelan bumi. Farah tak lebih seperti seonggok kotoran yang harus dibuang jauh-jauh.

Sore itu Farah kembali pulang dengan langkah gontai. Tabungannya telah terkuras untuk menutupi hutang bundanya. Untung masih tersisa setidaknya cukup untuk beberapa bulan ke depan jika mereka benar-benar berhemat.

Seperti biasa, rumah dalam keadaan sepi.  Farah langsung menuju kamar bundanya. Dia bingung dan heran saat melihat kamar sang bunda yang kosong. Dari Simbok, Farah akhirnya mengetahui kalau bundanya sedang keluar karena dijemput oleh beberapa orang temannya.

“Teman?” tanya Farah heran.

“Teman seperti apa, Mbok? Teman yang mana?” tanyanya lagi dengan rasa penasaran.

“Perasaan tidak ada lagi teman Bunda yang mau mengenalnya. Jadi teman yang mana ini, Mbok?”

Simbok hanya menggelengkan kepalanya saja. Bahkan dirinya pun tidak melihat teman yang dibilang Khairunissa tadi karena majikannya itu pergi begitu saja dan tak ada seorang pun yang turun dari mobil yang berhenti di depan gerbang.

Farah melirik ke jam dinding dan menyadari kalau maghrib akan segera tiba. Sampai lepas adzan isya, Khairunissa masih juga belum datang. Kecemasan mulai melanda Farah. Gadis muda itu juga bingung, kemana hendak mencari karena bundanya tidak membawa ponsel.

Farah pun terkantuk di kursi tamu dan terlelap tanpa disadarinya.  Hingga akhirnya dia terbangun saat mendengar dering telepon yang cukup keras. Farah berlari menerima panggilan itu.  Seketika raut wajahnya berubah saat mendengar apa yang disampaikan oleh si penelepon.

“Astaghfirullohal ‘adzim. Benar, dia bunda saya, Pak,” kata Farah terbata. Simbok yang ikut terbangun hanya bisa menatap bingung ke arahnya.

“Mbok, Bunda kena masalah lagi. Sekarang aku hendak menjemputnya. Simbok jaga rumah, ya,” ujarnya sambil bergegas mengambil tas.

Farah segera memesan ojek online dengan tujuan kantor polisi.  Dia langsung menuju ke tempat yang telah disebutkan di telepon tadi. Seorang polisi memberikan penjelasannya. Bunda Farah dan beberapa temannya tertangkap tangan sedang berpesta narkoba di sebuah klub malam.  Saat ini mereka sedang dikumpulkan di sebuah ruangan menunggu hasil periksa urin.

“Ya Allah, selamatkan Bundaku,” doa Farah dalam hati. Dia hanya bisa mengangguk pasrah saat polisi itu memberikan penjelasan panjang lebar.  Intinya, Farah harus setuju jika bundanya harus direhabilitasi.

“Kondisi ibunya cukup parah.  Kalau dibiarkan akan berdampak fatal.  Karena itu setelah kondisinya dinyatakan stabil, beliau akan dipindahkan ke pusat rehabilitasi sosial agar bisa pulih secara total,” jelas salah seorang polisi yang baru saja keluar dari ruang tunggu di dalam sana. Farah hanya kembali bisa menganggukkan kepala dengan pasrah.

Dari balik kaca Farah menyaksikan sang bunda yang meringkuk di sudut ruangan dengan pandangan ketakutan.  Ingin rasanya Farah berlari ke arah bunda dan memberikan pelukan hangat sebagaimana biasa mereka lakukan selama ini.

Sudut matanya mulai tergenang airmata. Dia pun kembali melangkah dengan gontai meninggalkan kantor polisi itu. Pergi meninggalkan bundanya dengan perasaan yang bercampur aduk tidak karuan.

Rumah yang sepi menjadi semakin sunyi tanpa kehadiran bunda.  Farah hanya bisa menangis dalam diam dan menghibur diri dengan memperbanyak dzikir dan bacaan Al Qur’an.  Hanya dengan itulah hatinya menjadi tenang.  Dia belajar untuk ikhlas.

Namun ketenangan rupanya tidak terus berpihak kepada gadis malang itu.  Pagi ini Farah belum juga sarapan saat mendengar suara ribut di pintu depan.

“Ada apa, Mbok?” tanya gadis itu sambil melihat ke arah luar.  Dua orang lelaki dan seorang wanita tampak berdiri sambil berkacak pinggang dan berbicara kasar kepada Simbok.  Farah pun segera menengahinya.

“Nah ini dia yang kita cari,” kata wanita berbaju merah sambil menunjuk Farah dengan jari telunjuknya.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu,” sapa Farah dengan sopan.

“Sudah nggak usah sok sopan seperti itu. Kamu sekarang ngaku saja, di mana Bapak kamu sembunyikan uang hasil korupsinya itu?” tanyanya tanpa basa basi.  Tentu saja Farah terkejut mendengarnya.

“Nggak usah sok kaget. Bapak kamu pasti sudah menyuruh kamu untuk mengamankan uang itu, ‘kan?” tanya si lelaki berkacamata minus yang berdiri di sebelah wanita itu sambil menatap tajam ke arah Farah.

“Cepat transfer uang itu kepada kami. Gara-gara kasus Bapak kamu, kami harus menanggung kerugian yang tidak sedikit,” lanjutnya lagi. Farah hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Belum selesai satu masalah, sudah datang masalah lain lagi ya, Allah,” gumamnya dalam hati sambil berusaha untuk menenangkan hatinya.

“Maaf, tetapi saya benar-benar tidak tahu apa yang Ibu dan Bapak katakan tadi,” kata Farah terbata dengan perasaan aneh.

“Ayah saya bukan koruptor. Berita itu bohong, tolong jangan percaya begitu saja,” lanjutnya dengan kedua netra yang mulai tergenang airmata.

“Palu hakim telah diketok. Bapak kamu telah dinyatakan sebagai koruptor. Itu bukan berita bohong, Nona,” tukas lelaki tadi dengan pandangan kesal.

“Sebaiknya kita masuk dulu. Silakan Pak, Bu,” ajak Farah yang masih berusaha untuk tetap sopan. Meskipun kesal dan marah, mereka bertiga pun akhirnya mengikuti langkah Farah.

“Jadi, seperti apa yang saya katakan tadi bahwa saya memang tidak mengetahui apapun tentang uang yang Bapak dan Ibu minta,” kata Farah sambil menatap ketiga tamunya dengan jujur.  Mereka saling menoleh dan tertawa. Wanita itu berdiri dan berjalan mendekati Farah.

Sebuah kalimat dia katakan dengan jelas di telinga Farah yang membuat gadis itu terperangah kaget dengan dada yang tiba-tiba terasa sangat sakit.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!