Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Tahap akhir

Ruang pelayanan itu tidak terlalu luas. Dindingnya pucat, sedikit kusam. Suara keyboard bersahutan, seakan petugas sedang berlomba memasukkan data.

Eliza duduk di kursi plastik biru. Telapak tangannya dingin meski cuaca di luar siang terik.

Di depannya, map cokelat berisi kelangsungan dokumen hidup seseorang terbuka setengah.

“Ini sudah tahap akhir ya, Bu,” kata petugas itu sambil membalik lembar demi lembar, disusun rapi. Suaranya netral, seperti sedang membacakan tagihan bulanan.

Eliza mengangguk. Tenggorokannya kering.

“Kita cocokkan lagi datanya,” lanjut petugas itu. “Dasar pencatatan penemuan bayi… surat dari Capil ada, keterangan dari puskesmas pun sesuai… kelurahan ada.” Petugas itu berhenti sejenak, menatap lembar berikutnya.

Jari Eliza saling bertaut di pangkuan.

“Soal saksi, ini betul?” Petugas menunjuk satu halaman.

“Iya,” jawab Eliza cepat. “Bu Gendhis, pemilik kos. Pak Brata juga. Tetangga kamar kos sebagai saksi tambahan.”

Petugas mengangguk, memberi tanda ceklis kecil dengan pulpen. Lalu map itu didorong perlahan ke arah Eliza.

"Sekarang, silakan isi dan tanda tangan di sini. Nama anak … dan nama Ibu.”

Pulpen terasa lebih berat dari biasanya. 

Eliza menunduk. Mengambil napas. Lalu menulis. Huruf pertama ditarik pelan, nyaris gemetar.

Starla Vali Dwipa.

Nama itu ia tulis perlahan, seperti sedang mengukir sesuatu yang tak boleh salah. Napasnya tertahan sampai titik terakhir selesai.

Di bawahnya, ia menulis namanya sendiri.

Eliza Dwipayana.

Dia menatap dua nama itu. Berdampingan di atas kertas—resmi, hitam di atas putih. Tidak ada kata adopsi. Tidak ada catatan panjang. Hanya keterangan: anak temuan. Tapi di hati Eliza, itu jauh lebih dari sekadar administrasi.

Tangannya bergetar saat menyerahkan kembali berkas itu. Di sela-sela kertas, ia menyelipkan amplop tipis—hampir tak terlihat.

Petugas menerimanya tanpa kata. Hanya menatap sekilas, lalu menutup map.

“Akta bisa diambil dua minggu lagi, Bu.”

Dua minggu.

Eliza mengangguk. Saat berdiri, lututnya terasa lemas, tapi dadanya sedikit lebih ringan.

Eliza melangkah keluar dari kantor catatan sipil dengan map cokelat di dada. Matahari siang menyilaukan, membuatnya harus menyipitkan mata. Tapi kali ini, silau itu tak menyakitkan. Rasanya sinar terang setelah lorong panjang yang gelap.

Ia menuntun motornya pelan, helm belum dipakai. Tangannya masih gemetar.

Dua minggu lagi.

Ia mengulang kalimat itu dalam hati, seperti doa kecil yang tak berani diucapkan keras-keras.

Di perjalanan pulang, pikirannya melayang ke amplop coklat berisi uang hasil penjualan cincin di tasnya. Masih tersisa banyak, dan akan dia simpan untuk kebutuhan pendidikan Starla nanti.

Saat di lampu merah, dia melihat seorang ibu yang sedang tawar menawar alot di kios penjual emas pinggir jalan. Eliza pun teringat sesuatu.

Dia berbelok ke kiri, arah pasar dan berhenti di depan toko emas kecil. Bukan karena ingin membeli sesuatu untuk dirinya.

Anting Starla yang lama, mulai menekan daun telinga. Bekasnya suka merah jika dipakai terlalu lama. Itu, pemberian patungan warga dulu. Penuh niat baik, tapi sudah waktunya diganti. 

Matanya tertuju pada anting kecil berbentuk bunga. “Yang kecil, Bu,” kata Eliza pada penjaga toko. “Buat anak.”

Model sederhana. Tidak mencolok. Tidak berlebihan. Tapi cukup pantas untuk telinga mungil Starla.

Saat membayar, Eliza menatap benda kuning berkilau itu lama.

'Ini hakmu, Starla,' batinnya. 'Ibu cuma jagain.'

Wajah Eliza puas, membayangkan Starla bakal girang ketika dia memakaikannya nanti.

Masih ada waktu sebelum ke toko. Sisa uang Starla ia bawa ke bank. Eliza membuka tabungan berjangka. Karena belum ada akte, terpaksa memakai namanya.

“Tapi ini punya kamu,” bisiknya, seolah anak itu bisa mendengar. “Ibu takut makainya.”

Keluar dari Bank, notifikasi gaji masuk di ponselnya. Eliza menarik napas panjang. Ia menuju kios yang menjual baju serba 35 ribu.

Dia membeli mukena kecil untuk Starla—bahannya lembut, warna pink kesukaan putrinya. Dua stel baju main menyusul. Tidak mahal, tapi bersih dan pantas. Semua dimasukkan rapi ke tas kain.

Akte akan jadi dua minggu lagi.

Kalimat itu kembali berputar di kepalanya saat melanjutkan perjalanan. Eliza berhenti di pinggir jalan. Helm masih terpasang, tapi air matanya lebih dulu jatuh.

Tangannya mencengkeram setang motor. “Terima kasih, ya Allah…” suaranya parau. “Aku mampu lewatinnya.”

Tangisnya pecah sesaat. Bukan tangis sedih, tapi lelah dan cemas yang akhirnya lega. Ia lantas menyeka wajah, dan menyalakan motor lagi.

Langkah berikutnya: ATM.

Eliza menarik napas panjang sebelum menekan PIN. Nominal biaya semester muncul di layar. Jarinya ragu sepersekian detik—lalu menekan YA.

Saldo tersisa menipis. “Gimana nanti,” gumamnya. “Aku cari tambahan.”

Keluar dari ATM, haus menyerang tiba-tiba. Eliza berhenti di depan kios kecil, membeli es teh. Gelas plastik dingin itu menenangkan telapak tangannya.

Di sebelah kios, toko alat tulis kecil menarik perhatian Eliza. Rak-raknya penuh warna. Eliza melangkah masuk tanpa rencana.

Dia berkeliling pelan. Matanya tertumbuk pada krayon dan pensil warna berbentuk sayuran—wortel, terong, brokoli. Crayon dengan ujung bulat. Lucu. Murah dan ramah anak.

Eliza memegang satu, tersenyum tipis membayangkan tangan-tangan kecil murid TK.

Anak TK pasti suka, pikirnya.

"Kalau wali murid nitip jualan di kantin… boleh nggak ya?"

Ide itu tumbuh pelan. Besok, ia akan bertanya saat mengantar Starla sekolah. Eliza membayar, menyimpan barang-barang itu di tas. Hatinya sedikit lebih ringan saat keluar toko.

Di rumah kos, Starla sudah menunggu. “Ibu!” serunya begitu Eliza masuk.

Eliza tersenyum lebar, lelahnya luruh. “Sini.” Dia langsung merogoh tasnya dan menunjukkan benda itu.

Starla melihat anting baru itu di telapak tangan Eliza. Matanya membulat. “Buat aku?”

“Iya."

Starla memeluk Eliza erat. “Makasih, Ibu.” 

Satu kata itu saja sudah cukup. Eliza mengusap kepalanya. Lalu memasangkan ke telinga Starla. 

Selanjutnya, mukena dan dua stel baju menyusul dibuka Eliza. Sorot mata putrinya berbinar, menjadi penyemangat Eliza siang itu yang harus pergi lagi untuk bekerja.

Malam datang seperti biasanya. Saat Eliza pulang, Starla sudah tertidur, tas barunya dipeluk.

Eliza duduk di sampingnya, memandangi wajah kecil itu lama.

"Akte belum jadi. Hidupku dengan Starla belum aman. Tapi, akan ibu siapkan jalanmu satu-satu, Nak."

Eliza bangkit, bersih-bersih diri lalu mematikan lampu. Dia berbaring, memeluk Starla. Saat akan memejamkan mata, cemas melintas di benaknya.

"Kalau suatu hari ada yang datang… mengaku lebih berhak atas dirimu, apakah ibu masih cukup kuat mempertahankanmu, Starla?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!