Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Wanita baik

Eliza terdiam sepersekian detik. Motor tetap melaju pelan.

“Belum,” jawabnya akhirnya. “Om Indra belum punya anak.”

Starla tampak berpikir. Kepalanya bersandar di punggung Eliza. “Kenapa?”

Eliza tersenyum tipis. “Mungkin belum waktunya.”

“Oh.” Starla mengangguk, lalu diam sebentar. Angin sore membuat suaranya terdengar kecil. “Kalau belum punya anak… Om Indra kesepian nggak?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk lembut.

Eliza menarik napas. “Kadang orang dewasa juga bisa kesepian,” katanya jujur. “Tapi biasanya mereka cari cara sendiri biar nggak sedih.”

“Kayak makan es krim?” Starla mengangkat kepala sedikit.

Eliza tertawa pelan. “Bisa jadi.”

Starla ikut terkikik. Lalu suaranya berubah lebih lirih. “Kalau gitu… Om Indra senang ya kemarin?”

Eliza tidak langsung menjawab. Ia teringat tawa Indra di kedai es krim, caranya mendengarkan Starla tanpa memotong, tanpa menggurui.

“Kayaknya sih senang,” katanya akhirnya.

Starla mengangguk puas. “Soalnya Starla juga senang.”

Kalimat itu membuat dada Eliza menghangat sekaligus cemas. Anak sekecil itu belum tahu apa-apa, tentang perasaan orang dewasa yang rumit. Ia hanya jujur pada apa yang ia rasakan.

Motor berhenti di depan kos. Bu Gendhis sedang duduk di kursi plastik, mengupas bawang sambil menonton sinetron dari ponsel.

“Lho, kok cepet pulangnya?” tanyanya. “Rapornya gimana?”

“Alhamdulillah, Bu,” jawab Eliza sambil menurunkan Starla. “Baik.”

Starla langsung menghampiri Bu Gendhis. “Nek, aku dapet gambar bintang.”

“Wih!” Bu Gendhis tertawa. “Pinter, toh.” Dia mengusap pipi Starla lalu menciumnya gemas. 

Starla terkikik, dia lalu masuk ke kamarnya, dan keluar lagi setelah ganti baju. Bersamaan dengan Eliza yang akan berangkat kerja.

*

Malamnya, setelah Starla tidur, Eliza duduk sendiri di lantai. Raport diletakkan di samping map cokelat.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Indra. Eliza menatap layar ponsel itu lama. Tiga titik muncul, lalu hilang. Muncul lagi. Indra sedang mengetik.

Indra bertanya apakah hari ini Starla rewel, bertanya soal ayah? sebab dia mendengar keponakannya mengambil raport harus dengan sang ayah. 

"Tanya tapi aman kok. Anakku pintar. Dia ngerti penjelasanku." Tulis Eliza.

Di seberangnya, Indra benar-benar terdiam. Ia duduk di ruang tamu rumah kakaknya, raport ponakannya masih terbuka di meja. Ia menarik napas, lalu mengetik lagi.

["Iya, kelihatan kok. Starla anak pintar."]

Eliza membalas cepat. "Dia tipe mikir dulu baru ngomong."

Indra tersenyum tanpa sadar. Ia bisa membayangkannya—anak kecil yang lebih banyak mengamati daripada menuntut.

Jarinya berhenti di atas layar. Kalimat berikutnya ia susun dan hapus beberapa kali, sampai akhirnya menemukan nada yang tidak terdengar sok tahu.

["Aku cuma kepikiran satu hal, El.

Kalau suatu hari ada acara sekolah yang harus ada ayah… dan kamu nggak enak nolaknya."]

Beberapa detik berlalu tanpa balasan. Eliza masih duduk bersila di ambang pintu kamar, menatap Starla yang tidur pulas. Nafas anak itu teratur, wajahnya damai.

"Maksud Bapak?"

Indra di sana menghela napas pendek, sambil menulis, ["Aku bisa nemenin. Datang, duduk, pulang. Nggak perlu panggil apa-apa. Cuma biar Starla nggak merasa beda."]

Hening lagi.

Eliza membaca kalimat itu berulang. Ada bagian dirinya yang ingin langsung menutup pembicaraan. Tapi sadar, mungkin, Indra hanya bermaksud baik.

Akhirnya ia membalas. "Terima kasih, Pak. Tapi untuk sekarang… Starla baik-baik saja."

Jawaban Eliza terbaca sopan oleh Indra dan dia menghargainya. Namun Indra tidak pergi. Ia memilih melunak.

["Aku ngerti. Anggap aja aku cadangan. Kalau suatu hari kamu capek jelasin hal yang sama berkali-kali."]

Eliza tersenyum tipis membaca itu. Ia mengetik balasan terakhir malam itu. "Kalau hari itu datang, aku kabari."

Indra membalas dengan cepat. ["Siap."]

Ponsel diletakkan. Eliza mematikan lampu. Ia berbaring di samping Starla, satu tangannya melingkar di tubuh kecil itu.

Sementara di tempat lain, Indra tidak sedang ingin menjadi apa-apa. Ia hanya tidak ingin seorang anak merasa sendirian… ketika dunia mulai bertanya terlalu banyak.

***

Ponsel Eliza bergetar lagi. Nama Suster Nafa muncul di layar.

["Eliza, besok saya mau ke makam almarhumah yang dulu titip pesan minta didoakan rutin. Kalau kamu sempat, ikut ya."]

Eliza membaca pelan, napasnya tertahan sebentar. Nama itu—meski jarang disebut lengkap—selalu membawa rasa yang sama, sunyi, tapi hangat.

Ia membalas singkat. "Iya, Sus. Aku ikut." Ponsel diletakkan lagi.

Eliza memandang ke arah jendela. Malam sudah kian larut, suara motor sesekali lewat, seperti hidup yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun siap.

Wanita itu… Eliza tahu kisahnya. Seorang perempuan yang datang ke panti dalam kondisi lemah, dibawa bidan dari kampung seberang.

Melahirkan dengan sisa tenaga. Bertahan hanya dua pekan setelahnya. Tidak ada keluarga yang datang menjemput, tidak ada ahli waris. Hanya satu permintaannya sebelum pergi... 

Didoakan.

Dan satu keputusan yang membuat semua orang terdiam, di saat-saat terakhirnya—seluruh hartanya diserahkan untuk panti.

Katanya, hidupnya sudah tak bermakna. Tidak punya ahli waris. Tidak ingin ditemukan siapa pun.

Namun, justru dari uang itulah, Panti “Sini Sama Aku” berdiri lebih layak. Dinding yang dulu lembap kini dicat terang. Kamar mandi direnovasi. Tempat tidur diganti. Anak-anak tidak lagi antre panjang hanya untuk air bersih.

Eliza beberapa kali datang ke makam itu. Tidak pernah lama. Hanya berdiri, menunduk, mengirim doa yang ia hafal di luar kepala. Ia selalu merasa perempuan itu tidak benar-benar sendiri, setidaknya, tidak sepenuhnya dilupakan.

Ia menoleh ke arah Starla yang tertidur. Wajah kecil itu tenang. Besok, Eliza ingin mengajaknya.

Bukan untuk menjelaskan kematian, tapi untuk mengenalkan makna mengingat. Tentang berbakti dalam bentuk yang sederhana—mendoakan orang yang pernah berbuat baik, meski tak dikenal dekat.

Dan diam-diam, ada niat lain yang lebih personal, lebih rapuh. Eliza ingin membiasakan Starla mendoakannya kelak. Bukan karena takut mati, tapi karena tahu, perpisahan adalah bagian hidup yang pasti datang, entah cepat atau lambat.

Setiap kali nama wanita itu terlintas, dada Eliza selalu menghangat lalu sedih bersamaan.

Apakah hidupnya akan berakhir serupa? Pergi tanpa pasangan, tanpa saksi, hanya doa-doa kecil yang mungkin terselip di sela kesibukan orang lain?

Eliza menutup mata. Jika itu yang terjadi, ia berharap Starla akan mengingatnya. Tidak dengan tangis berkepanjangan. Cukup satu doa pendek, yang dibaca pelan—seperti ia mendoakan perempuan baik hati itu malam ini.

"Apa permintaanku ini serakah, Tuhan?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!