Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Shock

Hasnawati menatap cukup lama map yang terbuka di depannya. 

Bukan karena hurufnya kecil, tapi karena dadanya terasa sempit setelah membaca satu kalimat sejak ia membuka halaman itu.

Eliza Dwipayana.

Di bawahnya tertulis data singkat, rapi, seperti biodata pada umumnya.

Bekerja di Indoapril.

Usia 24 tahun.

Mahasiswi Universitas Terbuka, jurusan Ilmu Komunikasi.

Hasnawati menatap tanpa berkedip.

Tempat, tanggal lahir—tertulis lengkap. 

Seolah hidup Eliza bisa diringkas dalam beberapa baris data. Namun justru baris berikutnya yang membuat Hasnawati shock.

Ada satu keterangan tambahan, ditulis dalam tanda kurung.

(Anak asuhan sementara Panti Sini Sama Aku. Wali sementara: Kepala Panti.)

Map itu langsung terasa berat. Hasnawati masih terduduk di tepi ranjang. Punggungnya merosot, seolah tulang-tulangnya mendadak kehilangan daya topang. Tangannya menggenggam map, tapi jemarinya mati rasa.

“Pantas…” gumamnya nyaris tak bersuara.

Pantas Eliza ada di sana tadi.

Pantas sorot mata Eliza terasa begitu sayang dengan Starla. Panik setengah mati layaknya ibu kandung kala mereka menabrak Starla dulu.

Wajar rasanya bila Eliza mengasuh Starla. Dia merasa tidak memiliki orang tua sejak kecil. 

Hasnawati menelan ludah. Tenggorokannya kering.

Pikirannya mundur, beringsut pelan ke beberapa hari sebelumnya. Saat ia berdiri di aula panti, tersenyum formal, membagikan bingkisan satu per satu. Kardus-kardus disusun rapi. Nama panti itu tertera jelas di spanduk belakang.

Panti Sini Sama Aku.

Waktu itu, ia tidak berpikir apa-apa. Hanya rutinitas. Donasi. Kewajiban sosial yang sudah bertahun-tahun ia lakukan tanpa banyak perubahan.

Tapi sekarang—Hasnawati mengatupkan rahangnya. Berkelebat pertanyaan saling sikut di kepalanya, meminta diucapkan lebih dulu.

Berarti…

Starla juga di sana, malam itu?

Apakah Starla ikut menerima bingkisan itu?

Tapi kenapa dia tak melihatnya dengan anak-anak lain saat Julia membacakan dongeng?

Hasnawati menggigit bibir bawahnya. Tangannya mulai gemetar halus. Map itu hampir terlepas dari genggamannya.

“Kenapa semuanya… pas begini,” lirihnya.

Nama. Tempat. Waktu. Panti.

Semua seperti potongan puzzle yang selama ini tercecer, kini perlahan menyatu—tanpa ia minta.

Hasnawati memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan kepala yang mulai berdenyut. Tapi yang muncul justru bayangan wajah Eliza. Dan setelahnya, wajah Starla.

Ia membuka mata lagi. Mengambil napas pendek.

Tangannya bergerak mencari ponsel, mencari kontak yang beberapa waktu belakangan ini sering dihubungi olehnya. Nomor itu berdering hanya sekali sebelum diangkat.

“Halo, Nyonya.”

“Cek,” kata Hasnawati langsung, tanpa basa-basi. Suaranya rendah, tapi tegas. “Saya mau tahu kapan Eliza keluar dari panti. Sejak kapan dia hidup sendiri.”

Ia berhenti sebentar, menelan napas.

“Dan satu lagi,” lanjutnya. “Cari tahu juga… Starla sekolah di mana.”

Di seberang, suara itu mengiyakan cepat. "Apalagi, Nyonya?"

"Apa ... Ehm," suaranya tercekat, ragu-ragu. "Starla terdaftar juga sebagai anak panti? Apa Starla akan diadopsi?" 

"Rasanya tidak, Nyonya. Kan..."

"Jangan menerka sendiri!" Suara Hasnawati meninggi tanpa sadar. Tapi dia menyadari sesuatu, "Kan ... Kan, apa?"

"Kan Eliza ngurus akte kelahiran, kalau dilimpahkan ke Panti apa iya?" 

Hasnawati gelisah, menyentuh dahinya, kepala mulai pening. "Makanya cek!" tegasnya kemudian. 

"Baik."

Hasnawati mematikan sambungan. Ponsel diletakkan di ranjang, tapi matanya menatap kosong. Kepalanya terasa penuh.

Jika Eliza adalah anak asuhan panti itu... Hasnawati menekan pelipisnya pelan.

Apakah Eliza tahu?

Tentang wanita yang mendonasikan uang ke panti itu. Tentang nama yang tertera di laporan donatur.

Hasnawati berhenti berpikir. Dadanya bergetar, bukan karena tangis, dia takut. Bersalah. Dan sesuatu yang menyerupai penyesalan, tapi datang terlambat.

Kalau Eliza tahu... Kalau Eliza berpikir sepertinya, apakah dia dan Starla akan menghilang juga? 

Hasnawati menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa tidak siap menghadapi kebenaran—apa pun bentuknya.

***

Di tempat lain, di sudut rak yang sempit, Eliza menatap layar ponselnya dengan dada berdesir.

"Bu… panas Starla sudah turun belum?"

Balasan itu datang tidak lama kemudian. ["Naik turun, Mbak El… aku iki yo bingung. Gak tau kenapa, dia gak mau minum sama sekali. Aku kuatir, tadi sudah tak bawa ke klinik."]

Eliza membaca cepat. Jarinya dingin. "Terus?" ketiknya, hampir tanpa jeda.

["Dikasih obat, tapi kok gak mempan, Mbak El. Gimana iki…"]

Eliza menutup mata. Napasnya tersendat. Jam di dinding menunjukkan waktu satu jam sebelum tutup toko. Pulang cepat hampir pasti ditolak.

Tapi dadanya terasa seperti diremas. Ia berjalan tanpa arah ke gudang belakang. Di antara rak-rak kosong dan kardus, Eliza berjongkok. Bahunya turun naik, isaknya muncul tanpa suara.

Kepala toko yang baru masuk gudang, melihatnya dari pintu.

“El?” panggilnya, mendekat. “Kenapa kamu?”

Eliza mengusap wajah cepat-cepat, tapi air matanya tak bisa ditahan. “Anak saya… demamnya nggak turun sejak pagi, Pak.” Suaranya gemetar. “Saya mau bawa ke dokter lagi sebelum tutup.”

Kepala toko menatapnya beberapa detik. Lalu menghela napas pelan.

“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Pulang aja. Toko juga mulai sepi.”

Eliza menoleh cepat. “Beneran, Pak?”

“Iya. Sana cepat...”

Tidak menunggu dua kali, Eliza menyambar tas dan jaketnya. Tangannya gemetar saat memegang kunci motor. Beat karbu andalannya menyala dengan suara kasar yang familiar.

Ia melaju. Terlalu cepat. Angin menerpa wajahnya, tapi ia tak peduli. Yang ada di kepalanya hanya satu : Starla.

Tak lama, ia tiba di kos. Begitu membuka pintu, jantung Eliza berdegup kencang, melihat pemandangan pilu.

Bu Gendhis berdiri di tengah kamar, menggendong Starla yang terkulai. Wajah ibu kosnya itu basah oleh air mata.

“Mbak El…” isaknya pecah. “Piye iki… putuku…”

Eliza berlari. Tangannya langsung menempel di dahi Starla. “Astaghfirullah…” napasnya tercekat. “Panas banget…”

Bibir Starla kering, pecah-pecah. Matanya terbuka separuh, berair, seperti mencari sesuatu.

“I-buuu…"

Eliza menunduk cepat. Air matanya jatuh ke pipi Starla. “Iya, Nak. Ini ibu. Ibu pulang…” suaranya bergetar, terbata.

Bu Gendhis menyodorkan botol minum dengan tangan gemetar. “Coba mbujuki, Mbak El. Mungkin mau sama ibunya.”

Eliza mengangguk cepat. Botol itu ditempelkan ke bibir Starla. “Minum ya, sayang. Sedikit aja…”

Starla menuruti. Meneguk pelan. Sangat pelan.

“Alhamdulillah…” Bu Gendhis mengusap matanya yang basah.

Namun detik berikutnya—

“Huek—”

Starla muntah. Air yang baru diteguknya tumpah kembali. Tubuhnya bergetar kecil.

“I-bu…” Starla tersenyum samar.

Eliza menggeleng, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dia tahu makna tatapan itu, dia tahu bagaimana endingnya. 

Mata Eliza kian buram, badannya gemetar halus. Dia menatap Starla yang tak berkedip melihatnya. 

“Nggak, Nak… jangan gini…” ucap Eliza lirih, bercampur isakan.

“Starla, nduk!” Bu Gendhis panik. Tubuh kecil itu makin lemas di dekapannya.

“Starlaaaa!” Eliza mengguncang badan Starla ketika mata sayu putrinya mulai menutup pelan.

Eliza menepuk pipi Starla. Lalu mengguncang bahu Bu Gendhis. “Bu, naik motor. Sekarang.” Ia menarik Bu Gendhis ke luar. “Naik, Bu! Naaaiiikk!”

Bu Gendhis menangis, tapi tetap naik. Tangannya memeluk Starla erat.

“Nduuuk… Nduuukk…”

Motor melaju, meninggalkan halaman kos yang tiba-tiba terasa ramai karena sebuah kepanikan.

Dan di kejauhan, tanpa mereka tahu, ada seorang perempuan lain—yang malam sebelumnya juga tak tidur—yang nasibnya sedang beringsut menuju titik yang sama.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!