Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Saba tahu
Dari mushola dia tak langsung masuk. Eliza ketiduran di kursi tunggu luar kamar rawat inap.
Kepalanya bersandar ke dinding, jaket tipis menutup bahu. Tangannya masih menggenggam ponsel. Matanya sembab, bulu matanya masih basah. Napasnya bercampur sisa isakan. Sesekali tersengal.
Di ujung lorong, Saba menekan tombol lift. Tapi angkanya tak bergerak. Ia melirik jam, sudah lewat 2 menit. Ia menghela napas, memutar badan, memilih lift satunya di lorong seberang.
Langkahnya terhenti.
Di deretan kursi tunggu itu, ia melihatnya. Perempuan kemarin saat di loket pelayanan kamar.
Dia memperlambat langkah, hampir ragu untuk lanjut. Tapi suara gesekan sepatu membuatnya bergerak.
Wanita ini terbangun.
Matanya membuka setengah, lalu fokus perlahan. Begitu melihat Saba berdiri beberapa langkah di depannya, tubuhnya refleks menegang.
“Oh…” suaranya serak, masih setengah sadar. “Hai.”
Saba berhenti. “Hai.”
Ada jeda. Hening yang canggung, seperti dua orang yang tahu mereka seharusnya tidak berbincang, tapi terlanjur kenal meski sekilas.
“Masih…” Saba ragu sepersekian detik. “Masih panas?”
Eliza mengangguk pelan. Tangannya meremas ujung jaket. “Iya.”
Saba hendak mengatakan sesuatu lagi, ketika suara lain menyela.
“Mbak El.”
Bu Gendhis muncul dari pintu kamar. Wajahnya kusut, matanya sembab, tapi langkahnya cepat.
“Starla nyariin,” katanya lirih tapi mendesak.
Deg.
Nama itu menggema di telinga Eliza. Dia langsung berdiri. “Iya, Bu.” Ia menoleh sekilas ke arah Saba. “Maaf. Permisi.”
Langkahnya cepat masuk ke kamar dan pintu tertutup kembali.
Saba berdiri mematung beberapa detik. Starla.
Nama yang semalam ia dengar di mushola. Apakah dia yang berdoa sampai sesenggukan itu?
Saba menarik napas dalam, lalu melanjutkan langkah turun ke parkiran. Membuka mobil. Mengambil rokoknya yang masih tersegel dari dashboard. Ia menatapnya sesaat, ragu, lalu kembali melangkah ke atas.
*
Hasnawati sudah siuman ketika Saba masuk ke kamar. Matanya terbuka meski wajahnya pucat.
“Mama…” Saba langsung mendekat. “Alhamdulillah Mama siuman. Enakan belum, Ma?”
Hasnawati tidak langsung menjawab.
Tatapannya bergerak mencari. Menyapu ruangan. Lalu berhenti tepat ketika melihatnya.
“Saba,” suaranya pelan, tapi tegas. “Tolong cari tahu… apakah di rumah sakit ini ada pasien bernama Eliza.”
Saba mengerutkan kening. Eliza?
Nama itu menggantung di kepalanya. Terasa familiar.
“Kenapa dia, Ma?”
Hasnawati menoleh perlahan. Ingatannya masih lemah, tapi sorot matanya tajam, seperti baru saja menemukan kekuatan bahwa dia harus segera mencarinya.
“Cari saja dulu,” katanya singkat. “Nanti Mama jelaskan.”
Saba mengangguk, meski otaknya dipenuhi rasa penasaran. Dengan tenang, dia mengirim pesan cepat ke Albana, asprinya.
Sementara itu, ponsel Hasnawati di samping bantal bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Nomor asing.
Hasnawati melirik layar. Tangannya bergerak hendak meraih tapi Saba lebih cepat. Ia mematikan layar, meletakkan ponsel itu menghadap ke bawah di atas meja.
“Sehat dulu, Ma,” katanya lembut tapi tak bisa ditawar. “Nanti saja.”
Hasnawati menatap ponsel itu lama. Ia tahu, panggilan itu bukan sekadar telepon. Itu jawaban yang ia tunggu sejak semalam.
Saba lalu menyuapi Hasnawati perlahan. Nasi hangat, sedikit demi sedikit. Ia memastikan ibunya menelan dengan baik sebelum menyodorkan air dan obat.
“Pelan-pelan, Ma,” katanya.
Hasnawati menurut. Matanya setengah terpejam. Setelah obat diminum, tubuhnya kembali lemas. Tak lama, napasnya teratur dan dia tertidur.
Saba menarik selimut hingga ke dada ibunya. Ia berdiri sebentar di samping ranjang, memastikan Hasnawati benar-benar nyaman. Lalu berbalik, membuka laptop, mulai bekerja.
Meeting. Menjawab panggilan beruntun. Membaca email masuk.
Kepalanya sibuk, tapi satu nama terus muncul di sela-sela pikirannya. Eliza.
Dan satu nama lain, yang baru ia dengar semalam. Starla.
Tepat jam makan siang, ponsel Saba berdering. Ia melihat layar. Nomor orang suruhannya.
“Bos,” suara di seberang terdengar hati-hati.
Saba menutup laptop. “Ya. Gimana?”
“Ada titik terang, Bos.” Jeda sebentar. “Kami ngasih suster senior itu uang. Akhirnya dia mau cerita.”
Saba menegakkan badan. “Cerita apa?”
“Wulan… dulu dibawa ke panti, namanya Sini Sama Aku.”
Deg.
“Oleh siapa?” tanya Saba cepat.
“Oleh bidan dan perangkat desa.”
“Dan…?”
Suara di seberang sana terdengar lebih rendah. “Pantinya sekitar lima belas kilometer dari klinik itu, Bos.”
“Masih ada pantinya?” tanya Saba, sambil melonggarkan dasinya.
“Masih. Tapi kami belum bisa ambil data.”
“Kenapa?”
“Kepala panti lagi nggak ada. Staf lain nggak mau buka apa-apa. Katanya rahasia.”
Saba menghela napas pendek. “Kamu yakin itu alasan mereka? Kamu kayak baru pertama kali melakukan hal macam ginian,” lanjut Saba sinis.
Di ujung panggilan, orang itu diam sesaat. “Kami padatkan infonya besok, Bos. Maaf.”
Saba menutup mata sejenak. Lalu berkata, lebih pelan, tapi jelas. “Cari tahu… apakah Wulan sempat ganti identitas.”
“Baik, Bos.”
“Dan kalau dia dibawa ke panti…”
Saba berhenti sebentar. Napasnya tertahan. “…di mana alamat Wulan sekarang.”
“Siap.”
Panggilan hendak ditutup, tapi Saba menahan. “Satu lagi,” katanya.
“Iya, Bos?”
“Waktu Wulan dibawa ke panti itu…” Suaranya tidak setegas tadi. “Apa ada orang lain yang dibawa bersamanya?”
Di seberang, sunyi.
“Itu juga akan kami cek, Bos.”
Telepon terputus. Saba menatap layar ponselnya lama. Tangannya perlahan mengepal.
"Panti Sini Sama Aku, sepertinya tak asing," gumam Saba, melirik ke jendela. Angin siang masuk, menyeka keringat kecil yang muncul di dahinya akibat berita barusan.
Menjelang sore hari, Albana datang membawa map cokelat tipis. Wajahnya datar, tapi matanya memancarkan keyakinan.
“Ini data pasien RS, Bos,” katanya sambil meletakkan map di meja.
Saba membukanya. Membaca cepat. Alisnya langsung berkerut.
“Ini… Eliza bukan pasien,” katanya.
Albana mengangguk santai. “Iya. Dia wali.”
Saba menatapnya. “Pasiennya siapa?”
Albana menunjuk halaman kedua. “Itu, tuh. Aku udah tulis. Tinggal dibaca aja. Masih nanya.”
Saba mengangkat kepala, menatap tajam asprinya itu. Sejenis mahluk tulang lunak yang dipaksa jadi tulang betis. “Gak sopan,” katanya dingin. “Untung kamu masih pakai jas.”
Albana nyengir, sudah berdiri sambil meraih tablet. “Kalau nggak?”
“Aku pakein lipstik,” lanjut Saba ringan.
“Aw. Serem,” Albana terkekeh, sambil menyiapkan rapat daring singkat sore ini.
Suara gaduh keduanya membuat Hasnawati membuka mata.
Albana langsung diam. Senyumnya lenyap seketika. Tablet di tangannya turun sedikit.
Hasnawati menatapnya sekilas. "Lagian, Saba… kamu masih miara yang kayak ginian?” katanya tenang.
Albana menelan ludah. Tidak berani membalas. Wanita ini banyak berjasa ke semua orang, batinnya. Sangat kontras dengan suaminya, killer. Ia menunduk sedikit. “Maaf, Nyonya.”
Saba kembali menatap map di tangannya. Satu nama tercetak jelas. Starla.
Ia terdiam.
“Starla?” gumamnya pelan. “Itu kan…”
Kalimatnya menggantung. Matanya memejam, seolah baru meletakkan puzzle terakhir, menjadi utuh.
Hasnawati menangkap perubahan itu. “Tadi apa?” tanyanya perlahan, "Saba, bilang apa barusan?"
Saba tidak langsung menjawab. Tangannya mencengkeram map sedikit lebih erat.
"Saba!"
.
.