Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Lunas
“El?”
Eliza menoleh pelan. Kepalanya masih pening, dadanya terasa sempit. Di hadapannya, Indra tiba-tiba berdiri, mengenakan kemeja abu-abu dan ID card rumah sakit yang tergantung di lehernya. Wajahnya tampak kaget, matanya menelusuri Eliza dari ujung rambut sampai tangan yang masih menggenggam resep.
“Kamu kenapa ada di sini?” tanya Indra. “Ini RS besar, El.”
Eliza menelan ludah. “Starla sakit.”
Indra terdiam. Alisnya langsung berkerut. “Sakit?” ulangnya pelan. “Sampai dirawat?”
Eliza tidak langsung menjawab. Tangannya refleks meremas kertas resep itu. Matanya turun ke lantai.
“Kenapa nggak bilang?” suara Indra meninggi sedikit, heran bercampur cemas. “Sejak kapan dirawat?”
“Dua hari lalu,” jawab Eliza lirih.
Indra menghela napas panjang. Pandangannya jatuh ke resep di tangan Eliza. Ia mengulurkan tangan. “Itu apa?”
Eliza ragu sebentar, lalu menyerahkannya.
Indra membaca cepat. Wajahnya berubah. Rahangnya mengeras. “Ini obat tambahan?”
Eliza mengangguk kecil.
“Administrasinya gimana?” tanya Indra lagi, kali ini suaranya lebih pelan.
Eliza diam. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Indra menatapnya lama. “El,” katanya akhirnya, “ini nggak murah.”
“Aku tahu,” jawab Eliza cepat. “Aku… lagi mikir.”
Dia dan Bu Gendhis tidak menduga akan separah ini. Obat klinik tak mempan, ini satu-satunya rumah sakit bagus yang berdiri di wilayah ini. Jaraknya agak jauh memang, tapi tidak ada pilihan lain.
Indra menghela napas lagi. “Berapa totalnya?”
Eliza menunduk, kepalanya menggeleng pelan. ”Segitu." Dia tak kuasa menyebut angka, takut dikira macam-macam oleh Indra.
Indra terdiam. Beberapa detik kemudian, ia meraih ponselnya. “Aku telepon atasan dulu.”
"Eh!" Eliza mendongak. “Jangan, Pak.”
Indra berhenti, menoleh. “Kenapa?”
Eliza menunduk. “Aku nggak enak. Tapi sudah telpon kepala toko minta bantuan tapi...”
Indra menatapnya lurus. “Anakmu lagi sakit.”
Kalimat itu membuat Eliza terdiam. Matanya panas, tapi ia menahan agar air mata tak muncul. Enggan terlihat cengeng di depan atasannya.
Indra menjauh beberapa langkah, berbicara singkat di telepon. Dia menjelaskan pada seseorang dan tidak lama, ia menutup panggilan.
“Aku ajukan pinjaman,” katanya. “Atas namaku.” Alasannya, dirinya tidak bisa menjadi penjamin pinjaman jika atas nama Eliza.
Eliza langsung menggeleng. “Jangan.”
“Kamu nyicil,” sambung Indra tanpa ragu. “Potong gaji, transfer ke aku setiap bulan.”
Eliza terdiam. Kepalanya kosong. Itu bukan solusi yang ringan, tapi satu-satunya yang bisa dia ambil.
“Iya,” katanya akhirnya. Suaranya hampir tak terdengar.
Indra mengangguk. “Sekarang segera urus administrasinya.”
*
Di lorong lain, Hasnawati berjalan-jalan pelan memakai kursi roda ditemani suster. Saba sedang keluar sebentar, dan ia memilih keluar kamar, sekadar melihat-lihat.
Namun, saat melihat ke seberang, loket administrasi. Hasnawati menepuk punggung tangan suster agar berhenti.
Hasnawati mencermati, seorang perempuan berdiri dengan tubuh lesu. Terlihat kurus dan pucat. Tangannya menggenggam selembar kertas.
Eliza.
Tidak mungkin ia keliru. Matanya masih awas. Dia masih ingat cara perempuan itu menunduk, cara ia berdiri.
"Pasti soal Starla," gumamnya.
Hasnawati memejam sebentar. Tarikan napasnya dalam, berat. Ia lalu membuka mata, menoleh ke suster di sampingnya.
“Suster,” katanya pelan, menunjuk ke arah loket tanpa menoleh lagi. “Pasien anak itu… walinya perempuan bernama Eliza, ya?”
Suster menoleh. “Ehm, mau saya pastikan dulu?” jawab suster, di seberang bukan bagiannya. Itu kawasan kamar anak.
Hasnawati mengangguk kecil. “Kalau biaya perawatan anak itu… bisa nggak kalau saya yang tanggung?”
Suster terlihat terkejut sesaat, lalu tersenyum sopan. “Bisa, Nyonya. Mau langsung diproses?”
“Sekarang,” jawab Hasnawati singkat.
Ia meraih ponselnya. Jarinya sedikit gemetar saat menekan nomor yang sangat ia hafal.
“Sarip, sudah sampai mana,” katanya begitu sambungan terangkat.
"Parkiran, Nyaah."
“Tolong antar ke bagian administrasi dekat kamar sekarang.” Untung sejak pagi dia sudah meminta Sarip mengambilkan dompetnya di rumah.
Hasnawati menutup telepon, lalu kembali menatap ke arah Eliza. Perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama. Lalu pergi setelah membawa sesuatu, obat Starla.
Hasnawati menghela napas panjang. Dia kemudian didorong ke loket administrasi. Petugas pun mulai menjelaskan rincian biaya.
Hasnawati mendengarkan tanpa menyela.
“Baik,” katanya akhirnya. “Saya bayar, nanti ada pria paruh baya yang ke sini, namanya Pak Sarip, ya," jelasnya.
Petugas mengangguk, mulai memproses. Hasnawati diminta menunggu sebentar.
Belum sempat selesai, suara seorang perempuan terdengar dari belakang.
“Bayar apa, Ma?”
Hasnawati menoleh.
Julia berdiri di sana, alisnya terangkat, tatapannya tajam mengarah ke loket suster lalu ke Hasnawati.
Julia datang tergesa, diikuti Pak Sarip yang menenteng dompet kulit cokelat milik Hasnawati.
Langkahnya terhenti saat melihat mertuanya berdiri di depan loket administrasi.
“Tidak ada yang memberitahu kalau Mama dirawat,” kata Julia, nadanya datar tapi jelas menyimpan kaget. “Aku baru tahu dari Pak Sarip.”
Hasnawati menoleh sekilas. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi.
“Iya,” katanya ringan. “Mendadak. Kamu kan masih tidur jam segitu.”
Julia mengangguk malu, tapi matanya masih beralih pandang antara Hasnawati dan suster yang mendorong kursi roda.
“Mama kenapa?” tanyanya cepat. “Dan itu…” Pandangannya kembali ke loket. “Mama bayar punya siapa?”
Hasnawati tidak menjawab.
Ia justru mengambil dompet dari tangan Pak Sarip, membukanya sebentar, lalu menyerahkannya kembali. “Tolong selesaikan,” katanya singkat.
Julia makin gelisah. “Ma—”
“Julia,” potong Hasnawati pelan, tapi nadanya cukup membuat Julia diam. “Kamu ke sini nggak bawa apa-apa, ya?”
Julia tertegun. “Maksud Mama?”
“Mertuamu sedang sakit,” lanjut Hasnawati tanpa menatapnya. “Tapi kamu datang tangan kosong.”
Wajah Julia langsung berubah. Panik kecil menyelusup ke matanya. “Aku… aku nggak tahu kan dan buru-buru, Ma.”
“Beli roti di kantin,” kata Hasnawati. “Sekalian minum. Mama pengen ngemil enak.”
“Oh—iya, iya,” Julia buru-buru mengangguk. “Aku ke bawah dulu.”
Ia berbalik cepat, langkahnya tergesa menyusuri lorong menuju lift, seperti takut terlambat melakukan sesuatu yang seharusnya sudah ia lakukan sejak awal.
Hasnawati menunggu sampai Julia benar-benar menghilang dari pandangan. Baru setelah itu ia menoleh ke Pak Sarip.
“Sudah?” tanyanya.
“Sudah, Nyonya,” jawab Pak Sarip pelan. “Biaya anak itu sudah saya bayarkan.”
Hasnawati mengangguk. “Sus, tolong kembali ke kamar.”
Mereka berjalan menuju lorong seberang. Mereka nyaris sampai ke pintu kamar ketika sebuah suara terdengar dari belakang.
“Bayar apa, Pak?”
Langkah Pak Sarip terhenti. Supir Hasnawati ini melangkah mundur, kepalanya tertunduk.
Deg.
Hasnawati memejamkan mata sepersekian detik sebelum berbalik. Ia sudah tahu, cepat atau lambat, ini akan sampai ke telinga Saba. Ia hanya tak menyangka secepat ini.
Saba berdiri beberapa langkah dari mereka. Jasnya masih rapi, Wajahnya tenang seperti biasanya.
“Ma?” panggilnya lagi. “Bayar apa?”
Hasnawati menatap anaknya. Sorot matanya tegas, tapi ada sesuatu yang bergetar di dadanya.
.
.