Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Gambar itu sama

Eliza bingung harus menjawab apa. Dia paham betul maksud Indra.

“Bingung, Pak,” katanya akhirnya, cengengesan. Bukan bercanda, lebih seperti menghindar.

Indra mendesah pelan. “Ya sudah. Pulang sana.”

“Oke.” Eliza melangkah pergi.

“El.”

Langkah Eliza terhenti. Ia menoleh. “Ya?”

“Pikirkan saranku tadi,” kata Indra, suaranya lebih rendah. “Kamu sebetulnya tahu betul maksud aku.”

Eliza tertegun. “Eh… kok gitu?”

Indra sudah setengah membalikkan badan. “Harusnya begitu.” Ia berhenti sebentar. “Nanti kita bicarakan lagi.”

Eliza membeku di tempatnya berdiri. Ia menelan ludah kasar.

Kok seenaknya?

Menikah sama kamu, kan maksudnya itu?

Tanpa menunggu lagi, Eliza melangkah cepat menuju motornya. Mesin dinyalakan. Ia pulang dengan sisa tenaga hari ini.

Sesampainya di kosan, suasana tenang. Starla masih tertidur pulas.

“Baru mandi sama makan, terus langsung tidur,” kata Bu Gendhis pelan. “Habis sakit, bawaannya ngantuk terus emang.”

“Iya, nggak apa-apa,” jawab Eliza.

Ia masuk kamar, mandi cepat, lalu bersiap untuk kuliah online. Bu Gendhis ikut berbaring di sisi Starla, satu tangannya otomatis mengusap punggung kecil itu, berjaga sambil setengah terlelap.

Eliza duduk di depan meja lipat, laptop sudah menyala. Sambil menunggu dosen masuk, ia membuka email.

Satu pesan baru.

Mata Eliza membesar. Kartu Keluarga barunya sudah jadi.

Ia menutup mulutnya sendiri, lalu bertepuk tangan kecil, nyaris tanpa suara. Senyumnya mengembang—lega, bahagia, haru bercampur jadi satu.

Starla resmi tercatat. Ada namanya. Ada keterangan statusnya.

Namun kebahagiaan itu hanya sebentar. Pikiran Eliza melompat lagi—ke Indra. Lamaran?

Masa secepat itu jatuh cinta, sih? Nggak ada pedekate, nggak ada cerita manis kayak di sinetron? Eliza menghela napas panjang.

Hidupnya memang tidak pernah berjalan dengan alur yang sederhana.

***

Jam kuliah dimulai.

Eliza memaksa fokus, mengejar materi yang tertinggal, lalu meminta izin pada dosen untuk mengerjakan tugas susulan. Dua jam penuh ia hadir aktif—mencatat, bertanya, menyimak, mengejar ketinggalannya.

Saat kelas berakhir, Eliza tak langsung beranjak. Ia melanjutkan dengan tugas-tugas yang masih bisa dicicil. Satu per satu, diselesaikan.

"Udah bayar mahal, jangan sampai kalah sama malas, El."

Pukul sepuluh malam. Eliza menutup laptopnya, mengembuskan napas panjang.

Tangannya meraih ponsel, membaca pesan grup toko, dan membalas seperlunya. Setelah itu, ia rebahan di lantai beralas tikar tipis, menatap langit-langit kamar.

“Akhirnya semua selesai,” gumamnya. “Besok ke sekolah Starla.”

Pluk.

Eliza menoleh. Tas Starla terjatuh dari kolong meja. Beberapa buku ikut berserakan. Ia bangkit, memungut satu per satu, merapikannya kembali.

Sebuah buku gambar masih terbuka.

Eliza terdiam. Ia menggeleng pelan, senyum kecil menyelinap di sudut bibirnya.

“Padahal habis gambar ya, Nak. Kamu sekolah… eh, langsung sakit,” katanya lirih.

Ia hendak menutup buku itu, tapi matanya tertahan pada satu gambar. Napasnya tercekat.

Garis sederhana, tapi ada sesuatu di sana. Sosok wanita berdiri sendiri, menunduk.

Eliza teringat satu pertanyaan yang dulu ingin ia ajukan pada Suster Nafa. Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan memotret gambar itu.

Lama ia memandangi layar. “Kayak sedih banget sih ya,” gumamnya.

Ia menelan ludah. “Siapa kamu?” bisiknya pada gambar itu. “Kok anakku ngegambar kamu… kayak bayangan hidup?”

Huft.

Eliza menutup buku gambar, merapikan semuanya, lalu kembali rebahan di lantai. Pinggang dan seluruh badannya terasa linu, pegal, lelah yang akhirnya terasa setelah seharian ditahan.

Pandangan Eliza beralih ke kasur. Bu Gendhis dan Starla masih terlelap, bernapas teratur, tenang. Eliza memejamkan mata sejenak.

Malam semakin larut. Jam dinding di atas pintu menunjukkan hampir pukul sebelas. Lampunya redup, hanya cukup menerangi sudut kamar kos yang sempit itu. Kipas angin berputar pelan, menggeser hawa pengap yang masih tertinggal sejak siang.

Eliza masih rebahan di lantai. Ponsel tergeletak di dadanya. Rasa lelah menjalar sampai ke tulang-tulang, tapi matanya enggan terpejam.

Ia kembali membuka galeri. Gambar crayon itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dadanya terasa berat.

Semoga suster Nafa belum tidur, batinnya.

Ia mengirim foto itu. Lalu memutar lagu pelan dari playlist. Nada lembut memenuhi kamar, berbaur dengan suara napas Starla dan Bu Gendhis yang teratur dari atas kasur.

Eliza memejamkan mata, mencoba tenggelam dalam lagu. Beberapa menit berlalu. Ia hampir terlelap ketika ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

["El, ini siapa yang gambar?"]

Eliza langsung membuka mata. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Starla."

Suster Nafa memang belum tidur, dia membalas cepat. ["Yang betul?"]

Eliza bangkit setengah duduk. Punggungnya bersandar ke dinding yang dingin. Tanpa banyak pikir, ia menekan tombol panggil.

“Halo, Sus.”

“El,” suara di seberang terdengar pelan, tapi nada suaranya berubah. Lebih hati-hati. “Itu gambar kapan?”

Eliza menatap lantai, mencoba mengingat. “Malam itu, Sus. Setelah ke makam wanita baik itu.” Ia menarik napas. “Di kosan. Starla gambar itu.”

Di seberang, hening sebentar.

“Itu gambar yang pernah aku ceritakan ke Suster,” lanjut Eliza. “Aku sempat mau moto, tapi lupa. Waktu itu kan Starla langsung sakit, aku buru-buru.”

“Oh iya… iya, aku ingat,” jawab Suster Nafa. “Starla sakit, ya?”

“Iya. Hampir seminggu. Dirawat tiga hari,” ujar Eliza. “Sekarang lagi pemulihan.”

Sunyi kembali menyela. Lagu di ponsel Eliza terus berputar, tapi dia tak lagi mendengarkan.

“Sus,” Eliza bicara pelan. “Menurut Suster… gambarnya sedih nggak sih?”

Terdengar tarikan napas panjang dari seberang sana.

“El…” suara Suster Nafa merendah. “Kok Starla tahu, ya.”

Eliza mengernyit. “Tahu apa, Sus?”

“Jangan-jangan Starla benar-benar bisa lihat begituan.” 

Eliza menegakkan badan. Telapak tangannya mendadak dingin. “Maksudnya?”

“Itu mirip beliau, El.”

“Beliau siapa?” suara Eliza nyaris tak terdengar.

“Wanita baik yang kita doakan itu.”

Deg.

Eliza menelan ludah. Dadanya terasa mengempis. “Maksud Suster…?”

“Sosok yang digambar Starla itu,” lanjut Suster Nafa perlahan, “mirip seperti beliau.”

Eliza menggeleng, meski tahu Suster Nafa tak bisa melihatnya. “Tapi aku aja nggak tahu wajah beliau, Sus. Apalagi Starla.”

Hening. Lama.

“Suster masih simpan fotonya?” tanya Eliza akhirnya.

“Ada, kayaknya… tapi ramean,” jawab Suster Nafa.

Tak lama kemudian, ponsel Eliza berbunyi pelan. Sebuah foto masuk. Eliza membukanya.

Napasnya tertahan. Wajah itu. Senyum tipis. Tatapan yang sendu.

“Hah…” suaranya tercekat. “Mirip…”

Eliza menutup mulutnya. Shock. “Suster,” ucap Eliza, nyaris berbisik. “Yang di nisan itu… nama asli beliau, kan?”

“Iya,” jawab Suster Nafa. “Nama aslinya. Dan… kata suster kepala, Tuan Saba juga ke sini nanyain soal Wulan.”

“Tuan Saba?” alis Eliza berkerut. “Ngapain? Apa hubungannya?”

“Entah, El. Tapi semua di—”

Suara itu terputus.

“Sus?” Eliza menatap layar. “Di… di apa?”

Tak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian, panggilan masuk lagi, singkat.

“El, udah dulu ya,” suara Suster Nafa terdengar tergesa. “Nanti cerita lagi kalau kamu ke sini.”

Sambungan terputus.

Eliza menurunkan ponselnya perlahan. Kamar kos terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Kipas angin tetap berputar, tapi udara seolah lebih dingin.

Ia mengambil buku gambar Starla dari lantai. Membukanya di halaman yang sama.

Dengan tangan sedikit gemetar, Eliza mensejajarkan gambar itu dengan foto di ponselnya.

Deg.

Eliza menutup mulutnya, menahan napas. Matanya beralih ke arah kasur, ke tubuh kecil Starla yang terlelap tenang.

"Lalu, apa hubungannya dengan Saba, dan aku?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!