Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Fakta Akurat
Hasnawati menarik tangan Saba, memaksanya duduk di sisi ranjang sebelum ia benar-benar pergi. Pegangannya lemah, tapi Saba menurutinya.
Belum sempat Saba bicara, pintu kamar terbuka. Suster masuk tergesa karena alarm infus berbunyi sejak tadi. Hasnawati melepaskan genggamannya.
“Maaf, Nyonya,” kata suster panik melihat darah naik ke selang infusan.
“Sudah tidak apa-apa,” jawab Hasnawati pelan. “Hari ini saya pulang.”
Suster memeriksa sebentar, lalu melepas jarum infus dari tangan Hasnawati. Kapas ditekan, plester dipasang rapi. Setelah itu, Pak Sarip masuk membawa map administrasi.
“Tinggal tanda tangan keluarga,” katanya singkat.
Saba berdiri, menandatangani tanpa banyak bicara. Pikirannya masih tertinggal di satu kalimat : Mama tahu di mana bayi itu.
Setelah urusan selesai, kamar kembali lengang. Pak Sarip dan suster pamit. Tirai kembali bergerak pelan terkena angin.
Hasnawati menarik napas panjang. Kali ini lebih tenang. Seolah keberanian barunya ikut terpasang bersama plester di tangannya.
“Mama juga tahu,” katanya pelan, “kalau kamu sedang mencari tahu soal Wulan.”
Saba menoleh. Tidak terkejut apalagi menyangkal, laporan orng suruhannya mengatakan demikian.
“Kamu sudah sampai mana?” tanya Hasnawati hati-hati.
Saba duduk kembali meski tak lagi tegak seperti sebelumnya.
“Sudah sampai makamnya, Ma,” jawabnya lirih.
Nama itu membuat suaranya melemah. Wulan satu-satunya titik yang membuatnya rapuh.
Hasnawati menggeser duduk ke ujung ranjang, mendekati Saba. “Soal bayinya,” tanyanya pelan, “kamu menduga seseorang kah?”
Saba mengangguk. “Ada. Tapi belum lengkap.”
Ia menatap ibunya. “Mama tahu sesuatu, kan?”
Hasnawati mengangguk pelan. Air mata kembali jatuh, dia sudah tak mungkin menahan lebih lama lagi. Takut Saba makin membencinya.
Ia meraih map cokelat dari laci meja samping brangkar. Map itu terlihat lusuh, seperti sering dibuka dan ditutup.
“Ini… dari orang-orang Mama,” katanya, menyerahkannya dengan dua tangan.
Saba menerimanya. Tangannya sempat berhenti sesaat sebelum membuka. Jantungnya berdebar, seolah menyiapkan diri untuk menerima sesuatu yang mungkin dia tunggu-tunggu.
Ia membuka map itu perlahan. Satu per satu lembaran terbuka. Data diri Eliza, Starla dan catatan lainnya.
Dan di bagian bawah, tertulis sebuah keterangan yang sedang ia cari. Jantung Saba berdentum keras. Tangannya gemetar halus.
Ia mendongak.
Hasnawati menunduk. Tangannya diremas kuat di atas pangkuan. Bibirnya bergetar menahan tangis. Hanya air mata yang jatuh, seperti mengakui segalanya tanpa perlu banyak kata.
“Saba…” suaranya nyaris habis. “Mama nggak berani bilang tanpa bukti.”
Saba menatap lagi berkas itu. Dadanya terasa sesak. Ia duduk diam, memegang map itu seolah baru saja menemukan harta yang paling berharga.
Dan Hasnawati tahu, sejak detik itu, hubungan mereka tidak bisa kembali ke titik sebelum kebenaran ini dibuka.
Suaranya tercekat. “Ma… Mama yakin?”
Hasnawati mengangkat wajahnya. Matanya sembab. Ia mengangguk sekali lalu kembali menunduk, seolah tak sanggup menatap anaknya lebih lama.
Saba menengadah, memejamkan mata. Tangannya meremas map itu sampai ruas jarinya memutih.
Hasnawati kian sesenggukan. “Maafin Mama, Saba…”
Kata itu menghantam dada Saba lebih keras dari apa pun. Air mata menetes dari sudut matanya—diam, tanpa suara.
Di kepalanya, rasa syukur dan keterkejutan bertabrakan. Ada sesuatu yang akhirnya menemukan jalannya … tapi di sisi lain, hatinya kian terluka.
Ia menatap ibunya. Perempuan yang selama ini ia sayang. Tampak kuat, kini terlihat rapuh, runtuh oleh waktu dan rasa bersalah.
Pintu kamar sempat terbuka. Pak Sarip melongok. Begitu melihat Hasnawati menangis, ia mundur perlahan dan menutup pintu kembali tanpa suara.
Saba berdiri. Dadanya terasa penuh. “Entah… entah gimana nanti,” katanya pelan. “Aku mau sendiri dulu, Ma.”
“Saba…” lirih Hasnawati, nyaris tak terdengar.
Saba menunduk sebentar. “Maaf. Lekas sehat, Ma.”
Ia melangkah keluar, membawa map itu bersamanya, meninggalkan Hasnawati yang kembali terduduk dan menangis dalam sunyi.
“Sabaaa—” seru Hasnawati.
Pintu tertutup.
Saba berhenti sesaat di depan Pak Sarip. “Jaga Mama, Pak.”
Pak Sarip mengangguk.
Saba berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya cepat, tapi pikirannya sudah kemana-mana.
Di tikungan lorong, ia berpapasan dengan Julia. Dia langsung menggelayuti lengan Saba. “Dari mana aja sih, aku kangen.”
Saba melepaskan cekalannya tanpa menoleh. Wajahnya dingin.
“Saba!” panggil Julia lagi.
Saba terus berjalan. Julia terdiam, lalu menoleh ke Pak Sarip yang berdiri tak jauh dari pintu kamar. “Ada apa? Kenapa suamiku begitu?”
Pak Sarip hanya menggeleng. “Ndak tahu, Nyah.”
Julia mengerutkan kening, lalu masuk ke kamar.
Hasnawati berdiri di sisi brangkar membereskan tas kecilnya. Matanya sembab, bekas tangis masih jelas.
“Mama kenapa?” tanya Julia ragu.
“Nggak apa-apa,” jawab Hasnawati singkat, tanpa menoleh.
Julia mendekat. “Saba ke mana?”
Hasnawati berhenti bergerak, melirik menantunya sebentar lalu kembali menunduk membereskan tasnya.
Julia memperhatikan wajah mertuanya dengan dahi berkerut. Ada tidak beres, tapi tak satu pun dari mereka bersedia memberi penjelasan.
“Mama… sebenarnya ada apa?” tanyanya lagi, sambil membantu membawa tas tangan mertuanya.
Hasnawati tak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat ketika Julia memapahnya keluar kamar rawat. Langkahnya perlahan, sisa tangis masih tertinggal di napasnya. Bahunya tegang, seolah menahan sesuatu yang belum selesai.
Perjalanan pulang terasa sunyi. Julia beberapa kali melirik Hasnawati, tapi perempuan itu menatap lurus ke depan, matanya kosong.
Sesampainya di rumah, Hasnawati langsung sadar akan satu hal. Mobil Saba tidak ada.
Dadanya berdesir, rasa cemas merayapi hatinya pelan.
“Mungkin Mas Saba masih ada urusan,” kata Julia, berusaha terdengar ringan.
Hasnawati hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah. Menutup kamarnya. Dia bilang gak ingin diganggu siapapun.
Waktu berjalan lambat, tapi Senja selalu menepati janjinya, menggeser siang. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Jam makan malam sudah lewat, tanpa kehadiran siapapun di meja makan.
Hasnawati duduk di ruang keluarga, jemarinya terus bergerak di atas sandaran kursi. Matanya beberapa kali menatap ponsel, lalu meletakkannya lagi.
“Saba belum pulang?” tanyanya pada ART.
Dia menggeleng. “Belum, Nyonya.”
Hening kembali menguar.
Tak lama kemudian, Hasnawati berdiri. “Julia ke mana?”
Asisten pribadi yang baru keluar dari dapur berhenti melangkah.
“Jawab,” suara Hasnawati menegang.
Asisten itu semakin menunduk. Tangannya saling meremas. “Nyonya muda… keluar sore tadi.”
“Keluar ke mana?”
Diam.
Hasnawati melangkah mendekat. Nada suaranya naik, menahan amarah yang sudah sejak siang ditahan rapat. “Saya tanya, ke mana!”
Asisten itu tersentak. “En—enggak bilang, Nyonya besar,” ucapnya terbata. “Tapi… tapi dia kelihatan tergesa saat ada yang menelpon. Waktu pergi, katanya sebentar.”
Deg.
Hasnawati mundur selangkah. Dadanya naik turun. Kepalanya mendadak penuh oleh bayangan yang tidak ia inginkan.
“Sejak kapan Julia pergi tanpa izin?” tanyanya pelan, tapi tajam.
“Sering Nyonya…,” jawab si asisten nyaris berbisik. “Beliau juga… suka pulang tengah malam.”
'Sering?... Saba tahu kah? Jika tahu, kenapa membiarkannya begini?'
Kemarahan Hasnawati akhirnya pecah. Tangannya menghantam meja kecil di samping sofa. Dia merasa ditinggalkan oleh orang-orang disekitarnya, satu per satu.
“Kenapa kalian diam saja!” bentaknya. “Kenapa tidak ada yang lapor!”
Asisten itu menunduk lebih dalam. “Kami takut, Nyonya besar…”
Hasnawati memejamkan mata. Napasnya gemetar. Di ruang besar itu, Hasnawati berdiri sendiri.
Biasanya dia tak pernah menanyakan kemana Julia jika sudah malam begini, sebab ada Saba. Tapi, entah kenapa hari ini ada dorongan aneh yang membuatnya menanyakan si menantu.
“Ya Allah…” bisiknya lirih. “Jangan timpakan dosa kami ke Saba."
.
.