Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Eliza Shock
Eliza membelalak. Bergantian melihat Saba dan tulisan di tangannya. “T-tunggu…” suaranya tercekat. “Ini… hasil lab?” ucapnya terbata.
Saba mengangguk.
Eliza menutup amplop itu lagi, tangannya bergetar. “Pak Saba… ini maksudnya apa?”
Saba menoleh, menatap lurus. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. “Starla anakku.”
Dunia Eliza rasanya berhenti sebentar. “T-tidak,” Eliza menggeleng cepat. “Nggak bisa sembarang bilang begitu—”
“Hasilnya jelas,” potong Saba, suaranya tetap tenang. “Aku nggak datang buat ribut-ribut atau main rebut. Aku datang mau bicara baik-baik.”
Eliza berdiri setengah, panik. “Kalau ini sampai ke orang lain—”
“Makanya aku ketemu kamu dulu,” kata Saba cepat. Ia ikut berdiri, tapi menjaga jarak. “Aku nggak mau ngambil Starla paksa.”
Eliza menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terus… Anda maunya apa?”
Saba terdiam sebentar. Kata-kata Hasnawati terngiang lagi. “Aku mau masuk ke hidup Starla,” katanya akhirnya. “Pelan-pelan. Lewat kamu.”
Eliza mengepalkan tangan. “Dan kalau aku nolak?”
Saba menarik napas. “Kamu masih punya waktu. Tapi dengar ini dulu.” Ia mencondongkan badan sedikit, suaranya diturunkan. “Bantu aku masuk… dan kamu tetap punya akses dekat dengan Starla. Aku nggak akan misahin dia gitu aja dari kamu.”
Eliza menelan ludah. “Kalau aku nggak mau bantu?”
Saba menatapnya lama. Ada kejujuran di matanya. “Cepat atau lambat, kebenaran ini akan terungkap. Dan di waktu itu… kamu bisa kehilangan kesempatan.”
Eliza terduduk lagi. Kepalanya pusing. Tangannya menggenggam amplop itu erat-erat. “Ini ancaman?” tanyanya lirih.
“Ini kenyataan,” jawab Saba lembut. “Aku nggak mau jadi musuhmu, Eliza.”
Air mata Eliza jatuh satu. Cepat-cepat ia usap. “Anda ngerti nggak,” suaranya bergetar, “Starla itu hidupku.”
Saba mengangguk. “Dan itu sebabnya aku datang ke kamu. Bukan ke pengacara. Bukan ke pengadilan.”
Eliza terdiam lama. Angin pagi menggeser daun-daun kering di sekitar kaki mereka. “Aku perlu waktu,” katanya akhirnya.
“Aku tahu,” jawab Saba. “Aku tunggu.”
Eliza berdiri. Menyimpan amplop itu di tasnya. “Sebelum aku masuk kerja,” katanya pelan, “aku cuma mau bilang satu hal.”
Saba menatapnya.
“Kalau Anda sakiti Starla,” suara Eliza bergetar tapi tegas, “aku akan lawan Anda, sekaya apa pun kalian.”
Saba mengangguk pelan. “Kalau aku sakiti dia,” katanya lirih, “aku juga nggak akan maafin diriku sendiri.”
Eliza pergi tanpa menoleh lagi. Saba berdiri sendirian di taman itu, menatap punggungnya menjauh.
Begitu keluar dari taman, Eliza berhenti di trotoar, menunduk, menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat meraih tas.
“Ya Allah…” bisiknya. “Ini beneran kejadian?”
Ia membuka sedikit amplop itu lagi. Nama Starla. Kata match yang terasa seperti palu menghantam dada.
Eliza menutupnya cepat-cepat. Starla anaknya Saba. Kalimat itu berputar-putar di kepala, menabrak semua kenangan yang ia punya.
Cara Starla memanggilnya ibu. Kala anak itu tidur sambil memeluk bajunya. Dan ketika menangis kalau Eliza telat pulang.
“Terus aku nanti gimana?” gumamnya lirih.
Ponselnya bergetar. Nama Indra muncul di layar. Eliza mengusap wajah dulu, memastikan suaranya cukup stabil sebelum mengangkat. “Halo, Pak.”
“Kamu udah berangkat kerja?” tanya Indra.
Eliza menelan ludah. “Iya… bentar lagi, masih di jalan.”
“Suaramu lain. Kamu kenapa?”
Eliza menatap jalanan di depannya. Lalu berkata pelan, nyaris berbisik, “Pak… kalau suatu hari Starla harus milih… menurut Bapak, anak sekecil itu bakal milih siapa?”
Di seberang sana, Indra terdiam. “El…” suaranya berubah serius. “Ada apa sebenernya?”
Eliza memejamkan mata. “Nanti ya Pak. Aku ceritain. Sekarang… aku belum sanggup.”
“Jangan hadapin sendirian,” kata Indra pelan. “Dengerin itu baik-baik.”
Eliza mengangguk meski tahu Indra tak bisa melihat. “Iya.”
Telepon ditutup.
Eliza berdiri lama sebelum akhirnya melangkah lagi, lebih pelan. Seolah setiap langkahnya sedang menarik garis baru dalam hidupnya.
Di taman, Saba masih berdiri di tempat yang sama. Orang-orang lalu-lalang tanpa tahu apa yang barusan terjadi di sana. Saba duduk lagi. Menyandarkan punggung. Menutup mata sebentar. Ia tahu kata-katanya barusan, kejam. Bukan niatnya mengancam. Tapi kebenaran harus dibuka.
“Eliza…” gumamnya. Ada rasa bersalah yang menyusup. “Maafin aku.”
Ponselnya bergetar.
“Kamu sudah ketemu dia?” tanya ibunya tanpa basa-basi.
“Sudah.”
“Bagaimana?”
Saba menatap langit yang mulai terang. “Dia kuat, Ma.”
Hasnawati menghela napas di seberang sana. “Itu artinya nggak akan mudah.”
“Aku tahu.”
“Jangan terburu-buru,” pesan Hasnawati. “Ingat yang Mama bilang. Jangan rampas tapi dekati.”
Saba mengangguk kecil. “Aku bakal jaga itu."
Telepon ditutup.
Saba berdiri. Sebelum pergi, ia menatap sekali lagi ke arah jalan yang tadi dilewati Eliza. “Aku nggak akan ambil dia dari kamu,” katanya pelan, seolah Eliza masih ada di sana. “Tapi aku juga nggak akan diem aja.”
Malam itu, Eliza pulang lebih awal. Starla sedang duduk di lantai ruang tamu, menggambar. Begitu melihat Eliza, anak itu langsung berdiri. “Ibuuu!” teriaknya sambil berlari.
Eliza berjongkok dan langsung memeluknya. Lebih lama dan erat dari biasanya.
Starla tertawa kecil. “Ibu kenapa? Kangen ya?”
Eliza tertawa kecil juga, meski matanya basah. “Iya… kangen banget.”
Starla mengusap pipi Eliza. “Jangan sedih. Nanti Starla bikin ibu senyum.”
Eliza memejamkan mata. Dadanya sakit. Kalau suatu hari… Kalau suatu hari senyum ini bukan lagi miliknya sepenuhnya…
Eliza menahan napas. Lalu menatap wajah kecil itu. “Starla,” katanya pelan, “kalau nanti ada orang lain yang sayang sama kamu… kamu tetap mau sama ibu, kan?”
Starla mengangguk cepat. “Mau dong. Ibu kan ibunya Starla.”
Kalimat itu menghantam Eliza tepat di jantung. Ia memeluk Starla lagi. Lebih erat. Dalam hati, ia berjanji—Apa pun yang terjadi nanti, ia akan berjuang.
Eliza baru saja menidurkan Starla ketika ponselnya bergetar di meja. Satu pesan masuk. ["Kita perlu atur pertemuan bertiga. Aku, kamu, dan Starla."]
Eliza menatap layar lama sekali. Dadanya langsung sesak. Bertiga? Ia melirik ke arah Starla yang tidur miring, satu tangannya memeluk bantal.
“Eliza… jangan panik,” bisiknya pada diri sendiri.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan dari Saba. Eliza menelan ludah. Tidak diangkat. Dering pun berhenti.
Lalu masuk pesan kedua. ["Bukan sekarang ... Tapi aku mau Starla kenal aku… dari kamu."]
Eliza duduk di tepi sofa. Tangannya dingin. Kepalanya penuh suara—Indra, Saba dan satu yang paling menakutkan : bagaimana kalau Starla memilih?
Ia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. "Aku butuh waktu. Jangan datangi kosanku."
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
["Aku nggak akan datang tanpa izinmu. Tapi Eliza… hasil ini nggak bisa disembunyikan selamanya."]
Eliza memejamkan mata. Air matanya jatuh satu. Saat itu, terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok.
Eliza membeku. Menoleh ke jam—hampir sepuluh malam. Siapa?
Ketukan terdengar lagi. Lebih tegas. Tok. Tok. Tok.
Dari sampingnya, suara kecil terdengar, setengah mengantuk. “Ibu…?”
Eliza berdiri tergesa. Jantungnya berdentum. Ia melangkah pelan ke pintu, menempelkan mata ke lubang intip.
"Hah? Ngapain?"
.
.